
"Apa kabar?" Wira memeluk Dennis duluan.
"Baik. Kamu sendiri?" tanya Dennis.
"Sangat baik. Ya 'kan, Sayang?" Wira menatap dan mengecup punggung tangan Naina yang digenggammya dengan penuh cinta.
"Ya, Mas." Naina tersenyum. Ia tahu, Wira tengah bersandiwara dan Naina hanya mengikuti arah permainan Wira. Mereka suami istri, tentu harus saling mendukung dalam berbagai hal.
"Ini Nola?" Tatapan Wira beralih pada gadis kecil yang duduk di ranjang mamanya.
"Ya. Sekarang dipanggilnya Angie." Dennis menjawab sembari menepuk pucuk kepala putrinya. "Panggil Om Wira, Sayang," lanjut Dennis.
Tiga tahun berpisah, tidak ada yang bisa diingat gadis kecil itu. Angie menatap Wira sembari menyembunyikan wajahnya di balik lengan Dennis. Wira terasa asing baginya meski pernah menjadi papinya di dua tahun awal kedatangannya di dunia.
"Angie masih terlalu kecil. Tidak ada ingatan yang menempel lagi padanya." Dennis mencoba menjelaskan setelah melihat reaksi putri kecilnya yang kini tengah mengintip dengan ekor mata.
Wira tersenyum, diusapnya wajah Angie sekilas. Tiga tahun mereka berpisah, Angie bertumbuh. Ia hampir tidak mengenali gadis kecil yang ditimangnya sewaktu bayi, menangis setiap ia berpamitan pulang. Pria itu masih mengingat jelas, bagaimana bahagianya Angie kecil menyambutnya setiap ia berkunjung.
"Mas."
"Hmmm."
Berbisik pelan. Naina mendekatkan bibirnya di telinga Wira. "Aku tahu ... ini tidak mudah untukmu, Mas."
Senyuman menyejukan Naina, sempat meneduhkan perasaan Wira beberapa detik, tetapi ia tersadar setelahnya.
Wira yang masih tidak melepaskan genggaman tangannya, mengajak Naina duduk di sofa. Perasaannya campur aduk, sulit diungkapkan. Kecewa, terluka, marah dan cemburu itu menyatu.
"Mas, kamu baik-baik saja?" Naina menoleh ke samping, menatap Wira yang kini tengah tertegun.
"Eh, aku baik-baik saja," sahut Wira datar.
Dari arah tempat tidur, terdengar suara Mama Wira. Perempuan itu terlalu bersemangat menyambut Dennis dan cucunya sampai mengabaikan Wira.
"Wir, kenapa tidak membawa Wina ke sini. Pasti anak itu senang bisa bertemu dengan Nola ... em Angie maksudku. Minta asistenmu menjemputnya."
Wira menatap pergelangan tangannya sekilas, memandang jam mahal yang melingkar di sana.
"Ya, Ma. Aku akan meminta sopir membawanya ke sini. Sepertinya sekarang Wina tidur siang. Ya 'kan, Sayang?" Wira melirik ke arah Dennis, ia sedang menikmati reaksi kaku pria yang berhasil mendapatkan cinta istrinya.
"Ya, Mas."
***
Gadis kecil berkepang dua itu menerobos masuk ke kamar perawatan. Di belakangnya, menyusul Rima sembari menenteng makan sore untuk anak asuhnya.
"Win, jangan lari-lari, Sayang." Rima berdecak, menatap Wina dengan kebahagiaan sederhananya. Begitu mengetahui mereka akan mengunjungi Oma di rumah sakit, Wina langsung meloncat kegirangan.
Melangkah dengan senyum tak lepas dari wajah, Wina berhenti sejenak saat bola matanya terpaku pada sosok gagah yang tengah duduk memangku gadis kecil.
"Daddy!" pekik Wina, berlari menghambur mendekati Dennis. Beberapa bulan terlewati, ingatan Wina belum sepenuhnya hilang. Gadis kecil itu mengabaikan keberadaan Wira dan Naina yang duduk tak jauh dari Dennis.
Saat langkah kaki makin dekat, Wina menyadari sesuatu. Wajah ceria itu tiba-tiba berubah cemberut. Ia cemburu pada gadis yang tengah duduk di pangkuan Dennis. Mengganti arah, Wina berjalan pelan menuju tempat Wira. Tak lama, ia meloncat naik sembari membenamkan wajahnya di dada bidang ayahnya yang masih terbungkus kemeja kerja.
"Ayah ...." bisik Wina pelan. Diam-diam, gadis mungil itu mencuri pandang ke arah pria yang selama ini dikenalnya sebagai daddy.
Dennis yang sudah sangat hafal segera menurunkan Angie. Sambil menuntun putrinya, Dennis berjalan menghampiri.
"Ini Kakak Angie, ayo kita main bersama Kak Angie," bujuk Dennis lagi.
Wina diam, tidak bereaksi. Ia menyembunyikan wajahnya di tubuh Wira.
"Tidak mau memeluk Daddy? tawar Dennis. "Nanti, main boneka bersama Kak Angie. Wina mau?" lanjut Dennis lagi.
Wina menggeleng. Naina yang duduk di samping Wira tidak bisa berbuat banyak. Sejak tadi, ia berusaha menjaga agar tidak terjadi interaksi berlebih antara dirinya dan Dennis. Ia tidak mau Wira makin kecewa.
Beberapa menit membujuk, Wina akhirnya melunak. Dengan berhias senyum di wajah polosnya, gadis kecil itu menggenggam tangan kiri Dennis, berbagi dengan Angie yang tengah menggenggam tangan yang lainnya.
Naina dan Wira duduk berdampingan, memandang Dennis dan dua orang gadis kecil yang berbagi pangkuan. Wina yang tadinya masih sungkan, mulai terlihat biasa. Bahkan, ia tidak segan-segan bersandar manja pada Dennis. Ada saja celotehan Wina, bercerita kesehariannya di sekolah.
"Mas ...."
Sejak tadi, Naina memerhatikan Wira. Suaminya itu masih menyimpan cemburu.Wajah Wira tidak bisa berdusta, walau sudah mencoba menerima.
"Mas." Naina kembali menyapa. Ragu-ragu, ibu hamil itu menggenggam tangan Wira.
"Ya, ada apa?" Wira hanya berkata datar. Tatapannya belum berpindah, masih memandang iri pada Dennis.
Sejak semua kejahatan Dennis terbongkar, Wira belum bisa memaafkan sepenuh hati walau ia berusaha untuk itu. Kecemburuan-kecemburuan yang tumbuh di hati Wira, kian membuat kata maaf itu menjauh. Ia merasa hidup tidak adil, Dennis mendapatkan semua meski sudah melakukan banyak kesalahan. Mencuri satu persatu miliknya.
Pertama, perhatian Wina. Sejak awal, hati Wira diminta menerima kenyataan kalau putrinya lebih dekat dengan musuhnya. Dan kini, hati Naina pun ikut dirampok Dennis. Tidak ada lagi yang tersisa untuknya. Kalau ada yang berani mengatakan ini keadilan, Wira bersedia menantang dan berduel untuk menentangnya. Keadilan macam apa ini.
"Mas, kamu baik-baik saja?" Naina kembali mengusik lamunan Wira.
Terlihat Naina meraih tangan Wira dan meletakan perlahan di perutnya. Bulatan kecil sedikit menonjol di perut bawah itu sanggup mengalihkan perhatian Wira.
"Nai ...." Tanpa sengaja, sapaan singkat dengan nada lembut lolos dari bibir Wira. Ia tidak paham dengan maksud Naina menunjukan perut menonjol sebesar telapak tangannya.
"Jangan cemburu pada Mas Dennis. Wina dan bayi yang di dalam rahimku adalah anakmu. Darah dagingmu, Mas. Sampai kapan pun akan jadi milikmu." Naina berbisik pelan, berusaha mengurai kecemburuan Wira yang berlebihan.
"Wina hanya sesaat melepas rindunya pada Mas Dennis, setelah puas ... dia akan kembali padamu. Memeluk dan bermanja-manja padamu lagi. Kamu ayahnya, tentu anak-anak akan mencarimu setelah puas bermain-main dengan orang luar." Naina menjelaskan.
Wira tertegun, mencerna kata-kata Naina yang terdengar sederhana tetapi sanggup membuat pikiran warasnya kembali. Menurunkan pandangannya, rasa haru tiba-tiba memeluk pria berusia 30 tahun itu dengan erat. Setelah sekian lama, Wira tidak merasakan detak jantung bayinya yang meringkuk di perut Naina, kini ia bisa mengusap perut istrinya lagi. Menyapa bayinya lewat usapan, melepaskan kerinduan yang ditahannya berbulan-bulan.
"Apa dia baik-baik saja selama ini?" tanya Wira mulai terbawa perasaan sesaat. Kata-kata Naina membuat pria itu menghempaskan ego dan menurunkan keangkuhannya sesaat.
"Baik-baik saja, Mas." Naina tersenyum. Ini kali pertama mereka bisa berkomunikasi dengan normal seperti pasangan pada umumnya. Biasanya, Wira akan menutup diri.
Deg--
Setelah sekian lama, Wira kembali menatap mata sendu Naina dengan cara biasa yang dulu ia lakukan di lima tahun pernikahan mereka. Tidak ada tatapan tajam penuh kemarahan atau kecewa seperti belakangan ini.
"Apa kamu hanya menghiburku karena merasa bersalah? Atau senyum dan perhatianmu benar-benar tulus padaku, Nai. Hanya kamu yang tahu jawabannya."
Wira membatin, tak lama kemudian ia menarik kembali tangannya dan bersikap kaku seperti biasa.
-
-
-