
Yogyakarta, kota Pelajar itu menyimpan banyak memori indah untuk Wira dan Naina. Hampir satu dasawarsa, tetapi pada akhirnya perjuangan itu membawa mereka kembali, bersama dan di sini. Tidak sendiri, setelah sekian tahun terlewati, Wira dan Naina membawa serta buah cinta mereka untuk kembali ke kota Yogyakarta. Kota di mana hubungan mereka diawali.
Menginjakkan kaki lagi di kota ini, Wira berharap bisa mengembalikan kembali kemesraan di antara dirinya dan Naina yang sempat hilang, cinta yang sempat tersesat segera menemukan jalan pulang dan kembali pada pemiliknya.
Siang itu, setelah semalaman beristirahat di hotel, Wira pun membawa Naina dan Wina melintasi Jalan Malioboro.
“Nai, kita bertemu pertama kali di sini. Hampir sepuluh tahun yang lalu ... kamu ingat?” Wira memarkirkan mobilnya di tepi jalan.
Naina mengangguk. Ibu hamil itu seperti tersedot masuk ke pintu ajaib dan kembali ke masa lalu. Pertama kali ia berkenalan dengan Wira, menyatakan cinta hingga ciuman pertamanya, semua terjadi di sini.
Naina menoleh ke sebelah, beradu pandang dengan sang suami yang kini tengah menatapnya lekat dan dalam.
“Ingin mengulangnya?” tanya Wira, menyodorkan tangannya.
Ragu-ragu, Naina menyambut uluran tangan suaminya.
“Perkenalkan ... namaku Pratama Wirayudha, kamu bisa memanggilku Wira.” Pria itu tersenyum.
“Apa aku masih setampan dulu, Nai?” tanya Wira lagi.
Naina mengalihkan pandangannya keluar jendela mobil, menatap jalanan dan orang-orang berlalu lalang. Ia dulu hampir tiap hari melintas di sini, berjalan kaki menikmati debu dan teriknya matahari.
“Ya, Mas. Jauh lebih tampan yang sekarang,” sahut Naina setelah mengembalikan pandangannya. Ibu muda itu menatap dalam suaminya.
“Ayo kita ulang ciuman pertama kita, aku merindukannya,” pinta Wira tersenyum.
Naina membalas senyuman itu, tidak kalah hangatnya. “Ada Wina.” Ia berbalik ke belakang, memandang putrinya yang tampak gembira memandang mobil lalu lalang.
Wira ikut memandang ke arah yang sama, pria itu terlihat berpikir sejenak.
“Win, Ayah mau mencium Bunda. Boleh tutup matanya sebentar?” tanya Wira dengan terus terang.
Wina terlihat berpikir.
“Bunda malu kalau Wina melihatnya. Jadi bisakah Ayah minta tolong, Wina tutup mata dulu. Sebentar saja, Nak. Setelah Bunda, Ayah akan mencium Wina juga,” lanjut Wira menjelaskan.
“Mas ....”
“Ssstt ... setidaknya ini lebih baik. Dibanding ciuman pertama kita di bawah lampu jalan dan ketahuan orang-orang.” Wira mengingatkan detik-detik memalukan yang terjadi setelah ciuman pertama mereka dulu.
“Ada orang, Mas. Aku akan menciummu di kamar. Jangan di sini,” tolak Naina.
“Aku ingin di sini, Nai. Ciuman yang sama seperti dulu.”
Naina terlihat berpikir sejenak sebelum akhirnya menoleh ke kursi belakang. Gadis kecilnya sedang memejamkan mata dengan rapat. Tampak wajah cantik menggemaskan itu mengernyit.
Cup. Naina mencium Wira sesaat setelah menyeberangkan tubuhnya ke kursi sebelah. Namun, saat ibu hamil itu hendak menarik tubuhnya kembali, tangan Wira sudah menahan tengkuknya.
“Cium yang benar, Nai. Jangan asal-asalan,” pinta Wira dengan wajah memelas.
Meskipun sempat ragu-ragu, tetapi Naina menurut. Membiarkan bibirnya terbuka, Naina kembali menempelkan bibirnya ke bibir Wira. Lebih lama, lebih ikhlas dan lebih manis tentunya.
Hampir lima menit, lidah keduanya saling membelit, menumpahkan rasa yang selama ini tersimpan di dada dan tak sempat terucapkan. Kedua tangan Naina sudah bergelayut manja di tempatnya tanpa sadar, membelit erat leher Wira dengan posesif. Demikian juga Wira, ia terhanyut sembari mengusap punggung Naina dengan lembut.
“Sudah beyum?” teriak Wina dengan mata terpejam. Ia sudah tidak betah disuruh berlama-lama. Dunia gadis kecil itu gelap dengan tangan mungil kini menutup kedua matanya.
Wira tergelak. “Putrimu persis sepertimu,” bisik Wira setelah melepas ciumannya. Sebuah usapan dilabuhkannya di pipi gembul Naina.
“Aku harap jagoanku mirip denganku,” lanjutnya lagi. Usapan Wira berpindah pada perut besar istrinya.
“Ayo, kemari, Nak. Sudah giliranmu,” ucap Wira berbalik ke belakang dan menunggu Wina.
Kecupan di pipi kiri dan kanan Wina, Wira menyunggingkan senyuman dan pujian. “Anak pintar. Terima kasih untuk waktu dan kesempatannya. Ayah saaa ... yang Wina,” ungkap Wira.
“Wina ... juga ... sayang, Ayah.”
Pandangan Wira beralih pada Naina, istrinya juga sedang menatap padanya. Tatapan yang tidak biasa.
“Kenapa?” tanya Wira, menegakkan duduknya dan kembali menggenggam kemudi.
Naina menggeleng. “Aku merindukanmu, Mas,” ucap Naina tiba-tiba. Ciuman Wira mengusik kenangan yang sempat dihempaskan jauh-jauh, mengorek masa lalu yang sudah di kuburnya dalam-dalam. Yogyakarta membuatnya merangkai kembali kepingan-kepingan masa lalu yang terurai berantakan karena hantaman perceraian.
“Mulai hari ini tidak perlu ragu-ragu meminta kalau menginginkan ciumanku,” ujar Wira, mengusap bibirnya. Pria itu terlihat percaya diri, sama seperti waktu pertama kali bertemu Naina.
Naina tertegun, menatap pria di sampingnya tak berkedip.
“Aku milikmu, Nai. Kamu berhak atas diriku. Kapan pun kamu meminta, aku akan mengabulkannya. Kalau rindu pelukanku, ciumanku, dekapanku ... cukup datang dan meminta padaku. Aku akan segera memberimu semua kehangatan itu,” ujar Wira, menoleh ke samping dan mengedipkan matanya.
“Sudah lama kamu tidak mengatakan cinta padaku. Aku rindu sekali, Nai. Kamu sepertinya lupa dengan persyaratanku.” Wira kembali menggoda.
Naina menatap dalam diamnya, pandangannya tidak beralih sedetik pun dari Wira. Sejak melepas ciumannya, ibu hamil itu terus memandangi suaminya seakan takut pria itu akan menghilang.
“Aku tidak mau mengucapkannya sekarang. Aku akan mengatakannya kapan pun saat aku mau.” Naina mengungkapkan apa yang dipikirkannya. Kembali merapikan duduknya, ia menatap lurus ke depan.
Wira terkekeh. “Lalu kita mau ke mana? Ke makam orang tuamu?” tawar Wira lagi.
“Ya, Mas.”
“Besok pagi-pagi kita ke dokter, kamu membutuhkan surat dokter untuk bisa terbang kembali ke Jakarta. Tidak mungkin melahirkan di sini, kan,” ucap Wira tiba-tiba sembari menjalankan mobilnya.
Naina terdiam. Jakarta membuatnya teringat dengan peristiwa yang membawanya kembali ke tanah kelahirannya.
“Mas ....” Naina memberanikan diri bertanya setelah selama ini memendam.
“Hmm.”
“Aku melihat beritamu di media online beberapa waktu lalu ....” Naina menelan saliva. Bimbang menyampaikan isi hatinya, tetapi ia merasa harus meluruskannya sekarang.
“Dia Sheilla. Kamu pernah bertemu dengannya beberapa kali.” Wira menjawab santai. Pria itu merasakan kehangatan saat Naina melemparkan pertanyaan.
“Apa ... apa dia ....” Naina ragu-ragu, tetapi perasaannya tidak tenang walau setelah pernyataan cinta Wira dan impian pria itu akan kelanjutan rumah tangga mereka di masa depan sudah cukup meyakinkannya.
“Kamu cemburu?” todong Wira dengan senyum simpul menyiratkan perasaan bahagianya. Cemburu Naina menandakan cinta yang selama ini tidak pernah mau diakui. Wira membutuhkan itu. Berhari-hari menunggu Naina menunjukkan perasaan cemburunya, Wira bahagia saat Naina bertanya tentang Sheilla.
***