
Hantaman palu membentur pelan meja hakim menandakan putusnya ikatan pernikahan yang sudah dibina selama lima tahun ini. Tidak ada lagi kata suami atau status istri, semua hubungan dan jalinan yang sudah berjalan selama ini usai dalam hitungan detik. Perjalanan rumah tangga Wira dan Naina tinggal kenangan.
Wanita yang menyandang status baru itu melangkah keluar dari gedung pengadilan negeri dengan tatapan kosong. Menenteng tas tangan dengan raut datar. Pikirannya sedang melayang, meninggalkan raga. Dia sendirian saat mendengar hakim ketua membaca putusan. Wira tidak ada di sana, hanya diwakilkan pengacaranya.
Memantapkan hati menggugat cerai Wira, tetapi saat ini perih, pedih, sakit dan terluka sendiri karena perpisahan yang sudah ada di dalam genggamannya. Status janda itu sudah menjadi miliknya. Tidak tahu harus menangis atau tertawa, semua terjadi seperti yang diinginkannya. Bukankah dia sendiri yang mengharapkan perceraian ini, harusnya dia bahagia.
Berjalan dengan pikiran kosong, Naina bahkan mengabaikan panggilan Johan, pengacara Wira. Menjatuhkan tubuhnya di mobil, wanita dengan setelan dress selutut berwarna cream itu menelungkupkan wajah merana di atas setir. Menumpahkan semua rasa yang ditahannya sejak beberapa menit yang lalu. Menangis, meraung, meratapi semuanya.
“Mas, kenapa di saat semuanya sudah seperti ini ... aku merasa sedikit menyesal,” lirihnya berlinang air mata.
Naina meremas dadanya. Saat status istri Wira dicabut darinya, ia merasa seperti kehilangan jati diri. Dia merasa ada yang salah dengan keputusannya. Merasa jadi orang yang berbeda.
“Maafkan aku, Mas. Aku tahu, aku egois dan keras kepala. Aku juga mau untuk bisa menerimamu kembali, tetapi itu sulit untukku,” isak Naina, mengeluarkan semua luka yang dipendamnya selama ini.
Hampir setengah jam menangis, Naina menghentikan semua ratapan saat ponsel di tasnya berdering. Tersenyum, saat melihat nama Wira muncul di layar yang berkedip. Mengusap kasar wajah terluka yang basah air mata, Naina menghela napas berulang kali sebelum menerima panggilan mantan suaminya. Ya, sekarang Pratama Wirayudha adalah mantan suaminya.
“Ya, Mas ....” Suara lembut itu terdengar tegar, menyembunyikan tangis.
“Nai, kamu di mana?” tanya Wira dengan suara bergetar. Dia baru saja tiba di proyek, saat Johan, pengacaranya mengabarkan putusan pengadilan yang mengabulkan gugatan perceraian Naina.
“Aku ... di jalan, Mas,” sahut Naina, menggigit bibir agar suaranya tetap datar. Tidak mau terdengar rapuh.
“Nai, kamu baik-baik saja?” tanya Wira, berusaha kuat di tengah kehancuran hatinya.
Hening—
“Nai, kamu baik-baik saja?” ulang Wira setelah beberapa menit tidak mendapat jawaban.
“Ya Mas, Nai baik-baik saja.” Jawaban itu akhirnya keluar dari bibir Naina dengan susah payah.
“Kita ... bisa bertemu?” tanya Wira, terdengar canggung. Pria itu masih bingung bagaimana harus bersikap setelah mendengar sendiri hasil putusan pengadilan. Hubungannya dan Naina sudah selesai beberapa menit yang lalu.
“Baiklah, katakan Mas mau bertemu di mana? Aku akan menemuimu, Mas.”
“Em ... dua jam lagi temui aku di restoran tempat kita merayakan ulang tahun pernikahan kita yang pertama,” jelas Wira.
“Baiklah Mas.” Naina memutuskan panggilan buru-buru, tidak mau mendengar suara Wira lebih lama lagi. Matanya sudah memanas lagi, awan hitam sudah bergelayutan dan siap luruh sebentar lagi. Ia tidak mau Wira mengetahui semuanya jeritan dan tangisannya. Dia tidak mau Wira melihat luka dan sesalnya.
***
Siang itu cuaca ibu kota terik menyengat. Semilir angin tidak sanggup merendam panas, sorot sinar matahari seakan ingin membakar bumi. Naina yang tidak tahu hendak ke mana setelah meninggalkan pengadilan, memilih menunggu di restoran.
Dua gelas jus jeruk dengan sepiring roti bakar menemaninya. Menunggu hampir satu setengah jam, sampai akhirnya Wira muncul dengan senyum yang sama seperti biasanya. Dari kejauhan, pria tampan itu terlihat biasa. Tidak ada keterpurukan atau wajah terluka. Wira bersikap seakan-akan tidak terjadi apa-apa di antara mereka.
Berbeda saat mereka menjalani hari-hari di mana persidangan sedang berlangsung. Wira tampak berusaha, memohon bahkan tidak jarang menangis. Terpukul, terluka dan terpuruk setiap hari. Namun sekarang, Naina tidak menemukan ekspresi itu lagi.
“Nai, kamu sudah lama?” tanya Wira, menarik kursi di seberang meja. Pria dengan sebuah map hitam di tangan itu sempat menatap piring dengan roti bakar yang sudah diacak-acak dengan garpu dan dua gelas kaca berisi sisa-sisa jus jeruk.
“Sudah Mas. Dari pengadilan ... aku langsung ke sini,” sahut Naina tertunduk. Tidak berani beradu pandang dengan Wira.
“Maafkan aku, Nai. Kalau selama ini sudah membuatmu kecewa, terluka bahkan menangis. Aku tahu, aku banyak salah padamu.”
Ucapan Wira barusan sanggup membuat Naina tersentak. Tidak ada lagi panggilan Mas yang selalu disematkan Wira di setiap kalimatnya. Bahkan saat ini Wira terlihat berbeda.
Tidak berani beradu tatap dengan mantan suaminya. Kedua tangannya saling meremas di atas pangkuan. Sempat mencuri pandang, Wira tersenyum padanya, hangat dan manis sekali.
“Ini ... sertifikat kepemilikan rumah yang sudah dipindahkan atas namamu.” Wira menyodorkan map hitam ke hadapan Naina.
“Tetap tinggal di rumah itu, Nai. Jangan pergi ke mana-mana. Mengenai Mbok Sumi, aku akan tetap membayar gajinya, kamu jangan khawatir.” Wira berkata pelan.
Naina semakin menunduk. Rasa sedih dan terluka semakin menjadi saat mendengar kata-kata Wira. Dua tetes air mata lolos, jatuh membasah gaun creamnya. Pemandangan itu tidak lepas dari pengamatan Wira. Pria dengan setelan kerja itu tersenyum getir.
“Jangan menangis, Nai. Harusnya kamu sudah bahagia sekarang. Bukankah ini keinginanmu.” Wira menyodorkan sekotak tisu ke depan Naina, menggeser piring berisi roti bakar.
“Ya, Mas.” Tenggorokan Naina tercekat. Hanya kalimat pendek itu saja yang sanggup keluar dari bibirnya.
“Sudah, jangan menangis lagi, Nai. Semua akan baik-baik saja. Aku masih mencintaimu, tetapi kita sudah tidak bisa bersama lagi.” Wira berucap dengan tegar, menyembunyikan hatinya yang hancur sejak dua jam yang lalu.
“Ya, Mas.”
“Aku sudah mengirim sejumlah uang di rekeningmu. Kamu bisa memulai usaha, Nai. Andai kamu kesulitan keuangan, kapan saja bisa menghubungiku, Nai.”
“Ya, Mas.”
“Mulai malam ini, aku tidak pulang ke rumah lagi. Jaga dirimu baik-baik, Nai,” pesan Wira.
Sejak tadi menunduk akhirnya Naina memberanikan diri mengangkat pandangannya. Ketika netra itu beradu pandang, Naina hampir tidak sanggup mengendalikan diri. Senyum Wira begitu hangat, menenangkan.
“Mas akan tinggal di mana?” tanya Naina pelan.
Wira lagi-lagi tersenyum. “Sementara aku akan kembali ke rumah orang tuaku. Belum tahu ke depannya seperti apa.”
“Kalau ada waktu, tolong temui kedua orang tuaku. Mereka juga pasti merasa terpukul dan sedih atas perceraian kita. Pernikahan kita memang sudah selesai, tetapi di mata kedua orang tuaku, kamu tetap putrinya. Mereka menyayangimu, Nai.” Wira berkata.
“Ya, Mas.”
“Mamaku sangat terpukul dan merasa bersalah. Selama ini aku memang tidak mengizinkan mamaku menemuimu. Aku tidak ingin ucapan mama akan membebanimu dan memaksamu mengambil keputusan yang salah karena kasihan.”
“Aku pikir ... cukup aku saja yang berjuang, tidak perlu melibatkan orang ketiga, keempat. Dan ternyata perjuanganku harus berakhir seperti ini,” lanjut Wira, dengan mata berkaca-kaca. Sejak tadi terlihat kuat, Wira runtuh saat mengucapkan kalimat terakhirnya.
“Maafkan aku, Mas.”
“Lupakan saja, Nai. Aku yang paling bersalah. Temui orang tuaku, Nai. Mereka pasti sangat senang dengan kedatanganmu.”
Naina mengangguk.
“Aku tidak bisa lama-lama, Nai. Aku harus kembali ke kantor,” pamit Wira.
“Ya, Mas. Hati-hati di jalan.”
Baru saja akan beranjak pergi, Wira berbalik. “Nai, bolehkah aku memelukmu terakhir kalinya?” tanya Wira. Berdiri di hadapan Naina dengan wajah memelas.
***
TBC