Tatap Aku, Suamiku

Tatap Aku, Suamiku
S3. Tas 19


Menghabiskan tiga hari di rumah sakit, Naina bisa bernapas lega saat diizinkan pulang ke rumah. Tidak ditemukan lagi flek yang membuat panik, ia dan Wira bisa sedikit tenang. Namun, Naina tetap harus bisa menjaga diri dan tidak diizinkan bekerja terlalu berlebih.


"Mas, di dalam laci nakas ada pembalutku."


"Ya, sebentar." Wira sedang sibuk merapikan pakaian Naina dan memasukannya ke dalam tas. Tidak ada siapa-siapa di ruang perawatan, pria itu harus mengurus semuanya sendirian. Ia tidak mungkin membiarkan Naina turun tangan.


"Aku mempekerjakan dua ART untuk memasak dan membereskan apartemen, jadi kamu tidak perlu melakukannya lagi. Dan mereka akan tinggal bersama-sama kita." Wira menjelaskan sambil menata pakaian dalam istrinya ke dalam tas.


"Asisten yang lama, Mas?" Naina menegakan duduknya, menyimak.


"Aku menggantinya. Kita membutuhkan asisten yang tinggal di rumah, Nai."


Naina mengangguk. Beberapa hari terkurung di dalam kamar perawatan, Wira mengurusnya dengan telaten. Bahkan suaminya itu meninggalkan pekerjaan dan tidak pergi ke kantor sama sekali.


"Sudah siap." Wira berjalan menghampiri Naina yang sudah berganti pakaian dengan gaun hamil bermotif floral. Naina terlihat jauh lebih segar dengan polesan lipstik merah muda, menyembunyikan bibir pucatnya selama ini.


"Sudah, Mas."


"Kamu belum mengucapkannya siang ini." Wira mengingatkan, merapikan beberapa helai rambut Naina yang tergerai dan menyelipkannya di balik daun telinga.


Naina menatap jam di dinding, waktu sudah menunjukan pukul 13.30 siang.


"Aku mencintaimu, Mas."


Sepenggal kata cinta itu meluncur mulus dari bibir Naina. Dibandingkan dengan tiga hari yang lalu, sekarang ia mulai lancar dan terbiasa. Tidak canggung dan malu-malu lagi seperti pertama kali mengucapkannya.


"Terima kasih, Nai." Wira tersenyum, bahkan ingin tertawa dengan drama yang mereka lakoni. Andai ini bukan sandiwara, ia akan bahagia sekali.


Sejak kesepakatan bersama, Wira berubah banyak. Sikapnya yang biasa dingin tiba-tiba luntur. Tembok yang tadinya membentang tinggi di antara suami istri itu runtuh dalam hitungan detik. Keadaan berbalik. Naina bisa sedikit lega, walau kata cerai dari Wira masih melayang di pikirannya setiap saat.


Ibu hamil itu belum siap dan tidak pernah siap untuk bercerai. Namun, kalau Wira memaksa, Naina hanya bisa menerima dengan lapang dada. Di dalam hidup, ia hanya pelakon yang menjalani semua sesuai skenario dari Tuhan. Tidak bisa menolak atau memaksa. Takdir sudah ditulis untuknya, bahkan sebelum ia lahir ke dunia.


***


Mobil yang dikendarai William melesat, membelah jalanan ibu kota, siap mengantar sepasang suami istri Wirayudha kembali ke apartemen. Matahari mulai turun menuju ufuk barat, tidak seterik saat masih di pucuk kepala. Wira terlihat bersandar di kursi belakang sembari memejamkan matanya. Di sisi kiri pria itu tampak Naina yang menatap sang suami tak berkedip.


"Ehem ...." Wira berdeham pelan. Bibirnya merekah dengan mata masih terpejam.


Naina tersentak. Suara Wira membuatnya tersadar kalau sejak tadi ia hanya memandang Wira.


"Memalukan." Naina membatin. Buru-buru merapikan duduknya, kembali memusatkan perhatian ke jalanan. Ia salah tingkah saat ketahuan Wira.


"Kenapa, Nai? Kamu sedang mengagumi suamimu?" tanya Wira membuka kelopak mata perlahan. Senyum itu belum hilang dari wajah tampannya.


"Tidak, Mas." Naina menggeleng, menutupi malunya.


"Ya ... juga tidak apa-apa. Bukankah aku suamimu. Sudah menjadi hakmu untuk memandangku setiap saat." Wira tergelak, berpaling memandang Naina yang membuang pandangan ke jalan raya.


Tawa itu masih terdengar saat Wira meraih tangan Naina dan menautkan jemari tangannya pada jemari istrinya.


"Ayo, apa yang ingin kamu pandang. Sekarang kamu bebas memandangnya, Nai."


"Tidak mau, Mas." Naina berkata pelan.


Wira mengalah. Ia tidak mau memaksa. Sebaliknya, pria itu menggeser duduk dan merebahkan kepalanya di pundak Naina. Ia sedang menikmati aroma feminin yang keluar dari tubuh Naina. Tiga tahun berpisah, banyak hal berubah di diri Naina. Namun, aroma itu tetap sama. Aroma yang selalu dirindukan Wira. Sanggup menenangkan kegundahan, mampu menguatkan jiwanya yang rapuh.


"Mas ...." Naina menoleh saat merasakan embusan napas Wira terasa dekat.


"Aku baik-baik saja, Nai. Aku sedang menikmati kebersamaan kita yang tinggal beberapa saat lagi." Wira berkata dengan manja.


"Mas ...." Ragu-ragu, Naina menepuk kepala Wira yang kini menyusup di ceruk lehernya.


"Biarkan aku memelukmu. Sudah lama aku tidak memelukmu." Wira bergumam pelan sembari melingkarkan tangannya di pinggang dan perut sang istri yang membulat.


***


"Ayah!" Wina berlari, memeluk kedua kaki Wira saat pintu apartemen terbuka.


Sejak mengetahui kepulangan ayah dan bundanya, gadis kecil itu sudah tidak sabar. Ada banyak rindu yang ingin dibaginya pada kedua orang tuanya. Tiga hari sudah, ia hanya ditemani Rima. Sempat menjenguk Naina di rumah sakit, tetapi tidak lama.


"Aih, anak gadis Ayah." Wira meraih tubuh Wina dan menggendongnya.


Tampak di belakang, Naina dan William yang membawa masuk tas pakaian majikannya menyusul masuk.


"Bu, ini diletakan di mana?" William bertanya.


Naina bingung. Di dalam tas itu ada pakaian dan perlengkapannya bercampur dengan milik Wira.


"Em ... letakan di kamar tamu saja, Will," putus Naina.


"Baik." William menurut, melirik ke arah Wira yang sedang bersenda gurau dengan putrinya.


Tak lama, William terlihat berpamitan setelah menyelesaikan tugasnya. Demikian juga Wira yang bergegas masuk ke kamar untuk membersihkan diri. Tertinggal Naina, Wina dan Rima yang saling bertukar cerita di ruang tamu sembari menikmati acara televisi.


Wina yang sudah lama tidak bermanja-manja, naik ke atas pangkuan Naina. Tangan mungilnya tak henti-henti mengelus perut bundanya.


"Bunda, adek cembuh?" tanyanya dengan gaya bicara khas anak-anak.


"Ya, Sayang. Hanya saja Bunda tidak boleh lelah, harus banyak istirahat." Naina menjelaskan. Dikecupnya wajah lucu Wina yang tampak menggemaskan.


"Malam ini ... bobok dengan Bunda, ya. Bunda sudah merindukanmu, Nak." Naina mendekap tubuh mungil putrinya dengan penuh perasaan, membayar rindu yang ditahannya selama dirawat di rumah sakit.


"Ya, Bunda. Bobok cama Wina, cama adek," seru Wina dengan rona gembiranya. Duduk sembari menggerakan tubuhnya ke kiri dan kanan, mengekspresikan kebahagiaannya.


"Bunda merindukanmu, Nak." Naina mendekap dan mencium pipi gembul putrinya. Tawa gadis kecil itu menggema, mengisi ruang tamu yang selama beberapa hari ini sunyi.


Ibu dan anak itu tengah menikmati kebersamaannya saat Wira yang sudah selesai membersihkan tubuh muncul dan memanggil Naina dari balik pintu kamar tidurnya.


"Nai, siapkan pakaianku," pinta Wira, berdiri di ambang pintu hanya dengan handuk melilit di pinggang. Rambut pria itu masih basah, menetes di pundak dan dada.


Naina terkejut, berusaha mencerna kembali apa yang diinginkan Wira.


"Pakaianku, Nai. Bukankah menyiapkan pakaianku itu tugasmu?" Wira masih menunggu.


"Ya, Mas." Ibu hamil itu menurunkan putrinya dari pangkuan.


"Bunda mau menyiapkan pakaian Ayah dulu, Sayang. Nanti kita main lagi, ya." Naina bergegas menuju ke kamar Wira.


Wira mengulum senyuman saat Naina melangkah masuk ke dalam kamar. "Nai, buatkan aku nasi goreng seperti biasa, ya. Aku merindukan nasi gorengmu."


-


-


-