Tatap Aku, Suamiku

Tatap Aku, Suamiku
S2 Bunda dari anakku 49


“Sakit, Mas?” tanya Naina. Jemarinya tampak lincah membersihkan luka di sudut bibir Wira dengan alkohol.


“Ssshh ....” Wira mendesis pelan saat kapas yang ditetesi obat merah diusapkan di lukanya. Setelah keadaan tenang, ia baru bisa merasakan sakit di tubuhnya akibat pukulan Dennis. Pria itu menerjang masuk ke kamar dan langsung menghajarnya tanpa kompromi.


“Apa sakit sekali, Mas?” tanya Naina, mengernyit. Seakan ikut merasakan kesakitan yang dirasakan Wira, Naina mengigit bibirnya.


“Sedikit.” Wira berusaha tersenyum.


“Lalu ... apa lagi yang dipukul, Mas?” tanya Naina pelan.


“Hanya mendapat tendangan di perut saja,” sahut Wira. Ia berusaha tersenyum di tengah tubuhnya yang terasa remuk. Perhatian Naina sudah lebih dari cukup, sanggup membayar semua sakit akibat pukulan Dennis.


Merapikan kembali kotak obat, Naina berbisik lirih, “maafkan aku, Mas.”


Rasa bersalah menghantam Naina saat melihat Wira terluka. Ia tahu, pria itu tidak bersalah dan harus menjadi sasaran kebrutalan Dennis yang berusaha membelanya.


“Nai, apa kamu tidak percaya padaku?” tanya Wira. Keduanya sedang duduk bersebelahan di sisi tempat tidur, di kamar Wira.


“Hah?” Naina tersentak, menoleh ke arah Wira sekejap kemudian menurunkan pandangnya kembali. Kedua tangannya sedang memainkan tutup kotak obat di atas pangkuan.


“Apa yang sebenarnya terjadi, Nai? Tidak mungkin Dennis datang padaku ... mengamuk seperti tadi. Aku yakin pasti telah terjadi sesuatu padamu. Apa Mama menyakitimu?” tebak Wira.


“Tidak, Mas.”


“Lalu apa yang terjadi? Katakan padaku? Kenapa kamu berubah sekarang, Nai? Bahkan orang lain lebih tahu banyak tentangmu,” tanya Wira.


Pria itu menghela napas, memandang wajah tertunduk Naina. Ia tahu, pasti terjadi sesuatu dan Naina tidak ingin membagi semua padanya. Hatinya terluka saat mendapati Naina lebih memilih percaya pada pria lain. Apakah perceraian telah merusak semua kepercayaan Naina padanya, sampai tak tersisa lagi setitik keyakinan untuknya.


“Jujur padaku, Nai. Apa Mama berbicara sesuatu yang menyakitimu?” tanya Wira terus menekan.


Naina menggeleng.


“Ini tidak adil untukku, Nai.” Ada nada kecewa di dalam kalimat Wira. Pria itu merengkuh pundak Naina dan memeluknya dengan erat. Berusaha meyakinkan dan menumbuhkan kembali kepercayaan Naina padanya yang hilang entah ke mana.


Tidak ada perlawanan, Naina diam dan membisu. Menikmati pelukan hangat Wira tanpa protes. Sejujurnya, ia tidak tahu harus berbuat apa. Juga tidak tahu harus bagaimana. Hidupnya semakin rumit sejak bertemu kembali dengan Wira. Impian masa depan dan cita-cita yang disusun untuknya dan Wina hancur berantakan. Sekarang ia tidak bisa mengambil keputusan sepihak. Ke depannya, ia harus mempertimbangkan Wira.


“Nai, kamu bahagia melihatku babak belur dipukul Dennis?” tanya Wira lagi. Ia masih belum putus asa untuk memancing Naina. Sorot mata teduh Wira tampak terluka dengan sikap tertutup mantan istrinya.


“Bukan begitu, Mas. Aku tidak mau Mas Wira bertengkar dengan Mama. Karena sebenarnya aku juga salah ... sampai membuat Mama salah paham. Tidak seharusnya ... aku melanggar batasanku.” Naina tertunduk.


Kedua tangan kekar Wira tampak merengkuh pundak Naina dan membawa ibu muda itu menghadap ke arahnya. Diangkatnya dagu lancip itu dengan ujung telunjuk. “Nai, tolong jujur padaku. Kalau kamu tidak terbuka, bagaimana aku bisa membelamu dan Wina. Aku tahu bagaimana Mamaku. Mungkin ia tidak bisa memaksaku saat ini, tetapi ia bisa menyakiti kalian.”


“Aku tidak apa-apa, Mas. Aku juga salah. Mama masuk ke kamarmu dan melihat kita berdua tidur bersama. Wajar saja kalau Mama marah. Aku memang salah. Tidak seharusnya aku tidur di kamarmu. Sudahlah, aku juga tidak apa-apa. Hanya belum terbiasa mendengar kemarahan Mama.” Naina berterus terang.


Wira memejamkan mata, rasa bersalah menghantamnya seketika. “Maafkan aku, Nai. Apalagi yang Mama katakan?” tanya Wira.


“Tidak ada. Sudahlah, Mas. Aku juga bersalah. Aku tidak mau membuat semua menjadi rumit. Apalagi sampai hubunganmu dan Mbak Adelia memburuk.”


“Hah?” Bola mata Wira membulat. “Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Adelia. Bahkan aku baru tadi bicara dengannya. Ucapan Mama jangan didengar. Sudah belasan gadis yang dibawanya padaku dan aku menolak” Wira menjelaskan.


“Aku tidak mau terlibat, Mas. Aku juga tidak mau bertengkar dengan Mama.”


“Nai, dengar. Semua yang dikatakan Mama itu omong kosong. Aku mohon ... kamu jangan percaya.” Wira berusaha menjelaskan.


“Ya, Mas. Aku permisi dulu. Aku belum mengabari Pak Pieter kalau aku tidak masuk kerja hari ini,” pamit Naina. Ia tidak mau membuat masalah ini berlarut-larut. Ia merasa tidak berhak masuk ke dalam urusan pribadi Wira. Mantan suaminya pria bebas, tidak terikat dengan siapa pun.


Naina baru saja meraih gagang pintu kamar saat Wira mengucapkan kalimat yang sanggup membuatnya diam seribu bahasa.


“Mari kita menikah lagi, Nai. Bersama-sama membesarkan Wina. Putri kita membutuhkan kebersamaan kita sebagai satu keluarga. Aku berjanji tidak akan menyakitimu lagi,” ucap Wira tiba-tiba.


Belum sempat Naina menjawab. Ia bisa merasakan dua tangan menyusuri pinggang rampingnya kemudian mendekap dari belakang.


Naina terdiam. Butuh waktu untuknya bisa bersuara. “Mas, apa aku bisa keluar dari rumah ini dalam waktu dekat. Aku tidak nyaman tinggal di sini.” Naina berterus terang.


Wira tersenyum kecut. Ia ditolak lagi untuk kedua kalinya. Entah dengan apalagi ia harus berjuang mengembalikan semuanya. Yang jelas ia belum mau menyerah. Mungkin yang dikatakan Dennis ada benarnya. Ia harus berjuang lebih, berbeda dengan saat pertama melamar Naina. Mantan istrinya itu mengangguk dan tersenyum tanpa banyak pertimbangan.


“Aku akan meminta pekerja menyelesaikan rumahmu secepatnya, Nai. Mudah-mudahan minggu ini ... kalian sudah bisa pindah ke sana.”


“Baik, Mas.” Naina tertunduk menatap belitan tangan Wira yang menguncinya.


“Em ... mengenai tawaranmu ... berikan aku waktu, Mas. Aku harus mempertimbangkan banyak hal. Tiga tahun ini bukan hanya mengubah status kita. Ada banyak hal yang kulewati, demikian juga dengan Mas Wira. Aku tidak mau memaksa dan dipaksa. Biarkan saja semua mengalir dengan sendirinya. Kalau memang Tuhan masih memanjangkan jodoh kita, aku tidak bisa menolak,” tutur Naina.


“Tapi ... saat ini aku masih nyaman dengan kesendirianku. Aku tidak mau membuat keputusan tergesa-gesa. Kita pernah gagal, terlepas siapa yang salah atau benar. Siapa yang harusnya bertanggung jawab dengan perpisahan kita, aku tidak mau membahasnya. Hanya saja sekarang aku paham kesalahanku, dulu ... aku tidak memiliki cukup kepercayaan dan cinta padamu sampai mengambil keputusan bercerai denganmu. Dan aku tidak mau mengulang kesalahan yang sama.”


Terdengar helaan napas berat sebelum akhirnya Wira membenamkan wajahnya di rambut Naina yang tergerai.


“Baiklah. Aku menunggumu datang padaku, Nai.” Wira mengeratkan pelukannya. “Kapanpun, tanganku akan terbuka menyambutmu dan Wina.”


***


Mobil Pajero Sport hitam melaju dengan kencang, masuk ke sebuah area perumahan mewah. Tak lama terlihat kendaraan roda empat itu berhenti di sebuah rumah dua lantai, yang dipagar dengan beton tinggi. Suara klakson berteriak tanpa jeda, mengganggu penghuni rumah yang sedang beristirahat siang.


“Buka pintunya!” Dennis tiba-tiba keluar dari dalam mobil dan berteriak di depan gerbang yang tertutup rapat.


Penjaga keamanan berlari keluar untuk mencari tahu siapa tamu yang sudah berani tidak sopan di wilayahnya. “Ada apa, Pak?” tanya penjaga rumah berusaha bersikap ramah.


“Aku ingin bertemu dengan Nyonya rumah. Buka pintunya!” perintah Dennis.


“Tunggu sebentar ... aku laporan dulu.” Sang penjaga berlari masuk.


“Breng’sek! Dia belum tahu berhadapan dengan siapa!” Emosi Dennis memuncak saat ditinggal sendirian menunggu di depan gerbang.


Kesal, Dennis masuk kembali ke dalam mobil. Terlihat ia memundurkan mobilnya, memberi jarak sebelum akhirnya menabrakan gerbang rumah sampai pintu besi itu terjatuh dan menimbulkan dentuman keras.


“Ya Tuhan!” teriak penjaga rumah berbalik arah.


Tak lama, muncul Tuan dan Nyonya Wirayudha dari dalam rumah. Wajah-wajah terkejut itu menatap gerbang rumah yang tumbang. Beberapa orang tampak mengerubungi pagar dan mencari tahu apa yang terjadi.


“Selamat siang, Nyonya. Itu hadiah dariku untukmu, Nyonya.” Dennis keluar dari dalam mobil dengan senyum sinisnya. Tampak bagian depan Pajero Sport hitam itu hancur.


“Dennis ....” Suara perempuan paruh baya itu mengambang.


“Itu untuk tangisan Naina hari ini!” cerocos Dennis.


“Masuk ke dalam. Bicara di dalam,” pinta Papa Wira dengan ramah.


“Terima kasih, Tuan. Tidak perlu bersopan ria padaku. Sewaktu merebut perempuan ini dari tangan papiku, bukankah itu artinya Tuan sudah menabuh genderang perang dengan keluarga Wijaya. Kalau merasa bersalah, cukup diam seperti biasa. Jangan banyak bicara!” sindir Dennis membuat Papa Wira menciut.


“Ada apa? Kenapa kamu menggamuk di sini, Dennis?” tanya Mama Wira melunak.


“Tanyakan saja pada dirimu, Nyonya. Apa yang sudah kamu lakukan hari ini? Ini peringatan terakhirku padamu, Nyonya. Kalau sampai Naina menangis lagi karena ulahmu, bukan hanya satu cucu ... aku akan membawa kedua cucumu pergi dari hidupmu!” ancam Dennis.


“Mungkin selama ini ... Nyonya tidak tahu. Menyakiti Naina berarti menantang Dennis Wijaya. Aku hanya memperingatimu, Nyonya. Sekali lagi Naina menangis karenamu, kamu harus membayarnya dengan tangisanmu sendiri,” lanjut Dennis.


“INGAT ITU! NAINA TERLUKA KARENAMU, AKU AKAN MEMBUATMU MENANGIS DAN MEMOHON PADAKU! SAMA SEPERTI DULU PAPIKU MEMOHON DI KAKIMU SUPAYA TIDAK PERGI MENINGGALKANNYA.”


***


Tbc