Tatap Aku, Suamiku

Tatap Aku, Suamiku
S2 Bunda dari anakku 35


"Tung-tunggu, Mas. Aku ikut." Naina menghentikan langkah Dennis.


"Baik, aku tunggu di luar." Dennis menjawab singkat sebelum keluar dari kamar perawatan Wina.


Naina tampak berdiri ragu-ragu menatap Wira. Berat hati meninggalkan Wina di rumah sakit dalam kondisi belum sehat, tetapi ia merasa harus mengantar Mbok Sumi di saat-saat terakhir perempuan tua itu. Bagaimana pun, Mbok Sumi sudah sangat berjasa di dalam hidupnya. Wanita tua itu sudah menjaga dan menemaninya dan Naina selama tiga tahun terakhir.


Saat ini, ia sudah tidak peduli dengan semua kesalahan-kesalahan Mbok Sumi di masa lalu. Semuanya sudah berlalu, Wira pun sudah menyudahi semuanya. Rasanya ia tidak pantas berlama-lama menyimpan sakit hatinya.


"Mas, aku izin ke tempat Mbok Sumi. Apa aku bisa titip Wina padamu?" tanya Naina ragu.


"Ya, pergilah. Aku akan menjaga Wina. Jangan khawatir, Nai." Wira menepuk pelan lengan Naina sambil tersenyum.


"Terima kasih, Mas." Berlinang air mata, Naina segera berpamitan pada Wina yang masih terlelap. Dikecupnya hangat dan dalam kening sang putri kesayangan. Diraihnya boneka lusuh yang tergeletak di sisi ranjang. Boneka kesayangan Wina yang tak tergantikan meskipun sudah sobek di mana-mana. Boneka lusuh itu tetap ada sampai sekarang, meskipun penuh dengan tambalan.


"Mas, aku membawa ini. Kalau Wina mencarinya, tolong bujuk dia untuk tidak menangis." Naina menunjukan boneka lusuh yang ikut dibawanya menemui Mbok Sumi.


Semakin melihat boneka itu, air matanya turun semakin deras. Tambalan demi tambalan, jahitan tangan Mbok Sumi masih terlihat jelas di sana.


"Bu, kenapa pergi begitu cepat. Aku belum mengucapkan terima kasih padamu," lirih Naina sebelum berlari ke luar kamar untuk menemui Dennis.


***


Di dalam taksi, Dennis dan Naina diam seribu bahasa. Naina memeluk boneka Wina sambil menangis sesengukan. Banyak kenangan-kenangan berputar kembali di otaknya. Kebersamaannya dengan Mbok Sumi dari awal menikah sampai akhirnya semua kecurangan itu terbuka dan Naina memilih pergi dan tidak mau memaafkan Mbok Sumi.


Sekarang, Naina menyesalinya. Seharusnya ia belajar memaafkan seperti apa yang dilakukan Wira. Seharusnya, ia tidak terlalu keras dan memutus hubungannya dengan wanita tua itu. Seharusnya, ia tetap mengizinkan Mbok Sumi tetap menemui Wina. Ada banyak lagi sesal yang menyesak di dadanya.


Sampai di kediaman Dennis, rumah itu sudah ramai didatangi para tetangga. Tampak asisten rumah sibuk melayani para pelayat.


Tangis Naina pecah saat melangkah masuk ke dalam rumah. Langkah kakinya terhenti, tubuhnya membeku di tempat begitu melihat Mbok Sumi yang terbujur kaku, ditidurkan di atas tikar di ruang tamu.


"Bu ... aku datang," ucap Naina dengan suara bergetar. Disingkapnya kain batik yang menutupi wajah Mbok Sumi. Bersimpuh di samping jenazah, Naina meletakan boneka kesayangan Wina tepat disamping kepala perempuan tua yang pucat dan membiru. Mata terpejam rapat, pipi keriput itu sudah dingin.


Diusapnya perlahan wajah renta Mbok Sumi sambil berbisik pelan. "Bu ... aku ... sudah memaafkanmu. Aku yakin Mas Wira juga sudah memaafkanmu. Kenapa pergi begitu cepat, Ibu belum bertemu Wina. Cucumu itu pasti sangat merindukanmu juga." Air mata Naina kembali jatuh. Ia sudah tidak sanggup berkata-kata saat melihat rantang makanan yang tergeletak bersama sandal dan dompet kecil milik Mbok Sumi tidak jauh dari jenazah. Di rantang itu masih tersisa kuah makanan yang Naina tahu jelas itu adalah makanan kesukaan Wina.


Naina kembali menangis. Terduduk dan bersandar di dinding menahan sesak yang tiba-tiba memenuhi dada. Mata basahnya tak lepas memandang wajah kaku Mbok Sumi.


Lain Naina, lain pula Dennis. Pria itu memilih tidak berbicara sepatah kata pun. Duduk di samping Naina, sambil menatap Mbok Sumi. Wajahnya penuh luka dan kesedihan. Kehilangan mamanya saat kecil, tidak seberat saat ini.


Lama keduanya terdiam, hingga akhirnya Dennis bersuara. "Nai, ibu pergi selamanya. Aku merasa ini seperti mimpi," ucap Dennis. Pandangannya tidak beralih sedikit pun dari Mbok Sumi.


"Aku belum membahagiakannya," lanjut Dennis, merengkuh dan memeluk Naina dengan erat.


"Aku belum siap kehilangan Ibu," bisik Dennis di sela pelukannya. Kepalanya jatuh di pundak Naina. Ia masih berusaha menguatkan dirinya sendiri.


***


"Mas, maaf merepotkan lagi." Naina berkata lirih saat menghubungi Wira. Ia dan Dennis dalam perjalanan ke Bandung.


Sesuai dengan permintaan Dewi, yang sekarang berada di Amerika bersama Nola, ibunya akan dimakamkan di samping makam ayahnya yang sudah lebih dulu meninggal. Kurang lebih setahun setelah perceraian Naina dan Wira, suami Mbok Sumi yang dulunya bekerja sebagai sopir keluarga Wira itu meninggal karena stroke.


"Ya, Nai." Wira menjawab singkat.


"Apa Wina rewel, Mas?" tanya Naina lagi.


"Tidak. Hanya ketika bangun pagi sempat mencarimu dan Rima. Sekarang sudah biasa lagi. Sedang bermain dengan papa dan mama. Rima juga sudah di rumah sakit, ikut menemani Wina." Wira menjelaskan.


"Ya."


Wira tampak ragu-ragu, tetapi akhirnya ia memberanikan diri bertanya.


"Nai ... kamu berangkat dengan Dennis?" tanya Wira.


"Ya, Mas. Mungkin menginap semalam di Bandung. Besok pagi-pagi kami kembali ke Jakarta." Naina menjelaskan.


"Ya sudah. Hati-hati di jalan. Setelah sampai di Bandung ... kabari aku, Nai."


"Ya, Mas.


Iringan mobil jenazah dan mobil Dennis tiba di Bandung saat menjelang sore. Beruntung segala sesuatunya sudah disiapkan pihak keluarga Mbok Sumi. Begitu sampai di Bandung, jenazah Mbok Sumi langsung dimakamkan hari itu juga di samping makam suaminya.


***


Malam harinya di kota Bandung.


"Mas ...." panggil Naina sembari mengetuk pelan pintu kamar tidur Dennis. Wajah cantiknya terlihat sembab dan memerah. Setiap berbincang dengan keluarga Mbok Sumi, kembali Naina menangis.


Tadinya mereka hendak bermalam di hotel, tetapi keluarga Mbok Sumi memaksa mereka agar menginap di rumah mendiang Mbok Sumi yang sekarang ditempati adiknya. Karena tidak tega menolak, akhirnya Dennis dan Naina menyetujui.


"Nanti saja, Nai," tolak Dennis.


Sejak pagi, Dennis lebih banyak diam. ia benar-benar terpukul dengan kepergian Mbok Sumi. Bahkan pria itu tidak mau diajak bicara, memilih menyendiri.


"Mas, aku bawakan makan malammu ke kamar, ya?" tawar Naina. Tatapannya tertuju pada Dennis yang duduk di pinggir jendela, menatap bintang di langit malam.


"Aku tidak lapar, Nai." Dennis masih menolak.


"Mas, makan sedikit saja. Nanti sakit. Wina akan sedih kalau Mas sakit." Naina masih membujuk.


Senyum pertama Dennis setelah seharian ini memilih diam.


"Temani aku di sini." Dennis menepuk pelan kursi kayu di sebelahnya. Wajahnya begitu memelas dan penuh harap.


Berjalan mendekat, Naina menurut. Menghabiskan beberapa tahun terakhir bersama Dennis, canggung itu sudah hilang sejak lama. Bagi Naina, Dennis bukan orang lain lagi. Mereka berbagi banyak hal selama ini.


Walau akhirnya Naina mengetahui perbuatan jahat Dennis, kenangan yang sudah tercipta di antara mereka tidak akan hilang begitu saja.


"Nai, kamu ingat bintang itu, kan? Dulu setiap aku akan berangkat ke Amerika, kamu selalu memintaku menandai bintang. Dan ketika aku tiba di Amerika, kamu akan memintaku mencari bintang yang aku tandai. Dengan begitu, kita merasa jarak kita selalu dekat." Dennis tersenyum lagi.


"Tapi Ibu sudah tidak ada di dunia ini lagi. Aku sudah tidak bisa memeluk Ibuku lagi. Aku sudah tidak punya tempat bersandar lagi. Papaku meninggal di penjara dan Ibu juga menyusul pergi. Aku hanya memilikimu untuk bersandar sekarang. Izinkan aku bersandar sebentar saja." Dennis menangis sembari memeluk pinggang Naina yang berdiri di hadapannya, menumpahkan semua kesedihannya.


"Aku mulai merindukan Ibu sekarang, Nai," isak Dennis mengeluarkan isi hatinya. Kepala pria itu bersandar tepat di perut Naina.


"Mas, sudah jangan menangis lagi." Naina tidak bisa berkata-kata, hanya bisa mengusap pucuk kepala Dennis dengan berurai air mata.


***


TBC