Tatap Aku, Suamiku

Tatap Aku, Suamiku
S2 Bunda dari anakku 31


“Maaf, aku tidak bisa menerimanya, Pak.” Naina menjawab dengan tegas. Mendorong dua kotak perhiasan itu kembali pada Pieter. Tatapan ibu muda itu tertuju pada putrinya. Wina sibuk dengan sendok dan garpu, mengaduk-aduk piring tanpa peduli dengan siapa pun.


Pieter tertegun. Baru kali ini melamar wanita untuk dinikahi, tetapi ditolak mentah-mentah. Ia jadi bingung sendiri, mencoba mengalihkan kecewa dan canggungnya dengan mengajak Wina bicara.


“Wina masih mau memesan sesuatu?” tanya Pieter sedikit menunduk. Berusaha menyembunyikan perasaannya dengan mengajak gadis kecil itu bicara.


Gadis kecil itu menoleh sekilas, tetapi kemudian ia menyibukan diri dengan sendoknya kembali dan tidak menanggapi. Wina termasuk anak yang sulit didekati. Butuh momen yang pas dan kesabaran untuk bisa meluluhkan hati Wina.


“Bagaimana kalau kita pergi membeli boneka?” tawar Pieter lagi.


Wina mengangkat pandangannya, memerhatikan mimik wajah pria dewasa itu. Tanpa menjawab, ia kembali menunduk.


“Anak dan ibunya sama-sama sulit untuk didekati,” gumam Pieter dalam hati.


“Bagaimana kalau puding cokelat seperti yang semalam Wina makan.” Pieter menawari Wina hal yang lain lagi.


Sontak Wina mengangkat kepala. Tersenyum malu-malu, beralih menatap Naina seakan meminta persetujuan.


“Mau ....” Wina menjawab pelan dan mengangguk penuh semangat.


“Baiklah. Om pesankan puding untuk Wina dulu,” ujar Pieter. Bergegas pergi meninggalkan meja dengan hati hancur berkeping-keping. Kuncup itu bahkan belum sempat berkembang, layu hanya dengan satu kata ‘tidak’ dari Naina. Seumur-umur belum pernah ditolak wanita, baru kali ini Pieter mengalaminya.


Tak lama, Pieter kembali dengan rambut basah menggenggam segelas puding cokelat. Rima yang sudah kembali dari memesan jus tampak duduk memangku Wina. Melihat itu, Pieter kembali canggung. Kalimatnya bahkan belum selesai, Rima sudah mengacaukan semuanya.


“Anggap ini sebagai hadiah dariku untukmu dan Wina. Aku tidak mungkin mengambilnya kembali.” Pieter membuka suara setelah sejak tadi diam dan berpikir. Disodorkannya puding cokelat di tangannya ke hadapan Wina.


“Maaf, Pak. Aku tidak bisa. Silakan Bapak simpan kembali,” tolak Naina.


“Ucapanku dan perasaanku tadi ... tanpa batas waktu. Tidak ada expired. Aku akan menunggu sampai kamu mengangguk dan mengatakan ‘ya, aku menerimamu’ dan sampai saat itu tiba, aku akan bersabar menunggu,” ucap Pieter dengan penuh keyakinan.


“Aku masih di sini menunggumu, Angel. Bahkan sejak tiga tahun yang lalu, aku selalu menunggumu. Sepulang kunjunganku dari Jerman, kamu sudah mengisi doa malamku,” lanjut Pieter, tersenyum.


***


Range Rover putih milik Pieter sudah berjalan kembali menuju Jakarta. Seperti perjalanan menuju ke Bandung, perjalan kembali ke Jakarta juga tidak bisa dikatakan lancar. Berangkat selepas makan siang, mereka baru tiba di kontrakan Naina saat hari menjelang petang.


Langit kemerahan di ufuk barat. Matahari mulai tenggelam perlahan berganti rembulan yang mengambil alih tugasnya. Lampu jalan mulai memancar terang, Naina yang mendekap Wina, segera berpamitan pada Pieter saat mobil yang mereka tumpangi berhenti sempurna.


“Pak, terima kasih.” Naina berucap sopan.


“Aku yang terima kasih, Angel.” Keduanya bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Meski awalnya canggung, seiring waktu berjalan mereka bisa bersikap dewasa dan profesional.


“Aku permisi dulu, Pak.” Naina berpamitan sambil mendorong pintu mobil dengan kepayahan. Posisi Wina yang tidur di dekapannya membuat ibu muda itu kesulitan.


Baru saja pintu mobil itu terbuka lebar, bahkan ia belum sempat turun. Naina dikejutkan dengan kehadiran Wira di depannya. Pria tampan itu sudah berdiri gagah dengan kaos hitam keluaran Gucci dan celana jeans robek berwarna biru tua. Tampilan Wira kekinian dan mengikuti perkembangan trend.


“Nai, kamu baru pulang?" Suara maskulin itu terdengar begitu menyejukan. Bahkan Wira tak memberi kesempatan mantan istrinya itu menolak saat Wira menyelipkan tangan di balik punggung putri kecilnya. Mengambil alih gadis mungil yang masih terlelap itu.


“Mas, sudah lama menunggu?” tanya Naina heran. Pandangannya beralih pada Pieter. Atasannya itu duduk di sebelahnya dengan tatapan heran.


“Sejam yang lalu. Aku kira kalian akan datang tepat waktu.” Wira mengusap punggung Wina yang tertelungkup di dadanya. Kepala putri kecilnya itu bersandar manja di pundaknya.


Pandangan Wira tertuju pada Pieter. Seutas senyuman dipersembahkannya sebelum membuka suara untuk menyapa.


“Pak Wira, bagaimana bisa ada di sini?” Tanpa basa-basi, Pieter segera melontarkan pertanyaan.


“Aku ingin menemui putriku, Wina,” tegas Wira. Ia memilih berterus terang setelah mengetahui banyak hal tentang Pieter termasuk sepak terjang mantan casanova itu. Jack juga sudah mengirimkannya banyak informasi termasuk hubungan Pieter dan Naina saat di Austria.


Sebagai mantan suami yang pernah bertanggung jawab pada Naina, tentu saja ia terpukul saat mengetahui semuanya. Sampai Naina harus mengambil pekerjaan itu, berarti kehidupan Naina tidaklah mudah. Tidak ada seorang pun, mau menerima pekerjaan seberat itu, kecuali terpaksa. Berbeda dengan mereka yang berprofesi di dunia medis, yang sudah terbiasa.


Apalagi yang diurus adalah lawan jenis yang masih berusia muda. Tidak terbayang oleh Wira, Naina harus menjalani hidup seberat itu di negeri orang. Tidak ada siapa-siapa, tidak bisa mengeluh, tidak bisa mengadu. Mendengarkannya saja sudah membuat hati menangis, apalagi Naina yang menjalaninya selama setahun.


Tak lama Pieter menyusul turun, mengobrol singkat dengan Wira dan Naina sebelum akhirnya berpamitan.


“Aku permisi dulu.” Pieter tersenyum. Ia berjalan mendekat, membisikan sesuatu pada Naina.


“Kamu berhutang penjelasan padaku, Angel. Aku menunggu ceritamu, besok.” Pieter berucap pelan.


***


“Bagaimana perjalanan kalian?” tanya Wira. Ia memilih duduk di kursi plastik di ruang tamu kontrakan Naina. Segelas teh hangat disajikan dengan pisang bollen yang sengaja dibeli Naina sewaktu di perjalanan tadi. Pintu kontrakan sengaja dibuka lebar, supaya tidak menyebabkan fitnah. Naina tidak mau membuat masalah di tempat ia tinggal.


“Baik, Mas.” Naina menjatuhkan tubuh di kursi plastik tepat di seberang Wira.


“Aku sedang merenovasi rumah. Begitu selesai, pindahlah bersama Wina di sana. Akan lebih nyaman kalau kalian tinggal di sana. Aku juga bisa tenang, Nai.” Wira membuka pembicaraan.


Naina terdiam.


“Aku sudah membicarakannya dengan Mama kemarin sewaktu berkunjung ke sana bersama Wina. Mama juga setuju kalau kamu dan Wina tinggal di sana.”


“Mengenai mobil, aku juga sudah menyampaikan pada Mama. Dia tidak keberatan. Kalian juga membutuhkannya. Akan lebih nyaman membawa Wina dengan kendaraan pribadi dibandingkan angkutan umum.”


Naina hanya menatap tanpa bicara. Lidahnya kelu, tidak bisa menjawab. Secara logika, memang yang dikatakan Wira benar, tetapi ia harus mempertimbangkannya lagi.


“Aku akan pertimbangkan lagi. Diminum dulu, Mas.” Naina mempersilakan.


Suara hening di ruang tamu terusik saat jeritan Wina yang sedang bermimpi. Menangis dan berteriak memanggil Dennis berulang kali.


“Daddy ....”


“Daddy .... huaa ... daddy ....” Wina terbangun dari tidurnya. Menangis dan menjerit bersamaan.


Selama dua hari di Bandung, ia tidak berkomunikasi dengan Dennis. Biasanya pria itu akan menghubungi Wina setiap hari melalui ponsel Rima.


Naina dan Wira menghambur masuk ke dalam untuk memastikan keadaan Wina.


“Kenapa? Ada apa dengan Wina?” tanya Wira panik. Naina buru-buru memeluk tubuh mungil putrinya dan membisikan kata-kata yang menenangkan.


“Sepertinya Wina sedang bermimpi,” sahut Rima, ikut menepuk punggung Wina yang mulai terlelap kembali.


“Oh ....” Wira menghela napas lega. “Ya sudah, kalau begitu, aku permisi dulu, Nai. Kalau terjadi sesuatu pada Wina, tolong kabari aku.” Wira berpamitan.


***


TBC