Tatap Aku, Suamiku

Tatap Aku, Suamiku
S2 Bunda dari anakku 52


“Aku akan kembali ke Amerika, Nai.” Dennis meletakan kunci mobilnya di atas meja sebuah restoran, tak jauh dari kantor Naina. Keduanya membuat janji bertemu di jam makan siang, setelah beberapa hari tidak bertukar kabar.


“Kapan, Mas?” tanya Naina. Jemarinya sedang mengukir di gelas jus yang berembun. Ia memilih menunduk, tidak mau terlalu sering beradu pandang pada lawan bicaranya.


“Secepatnya. Angie sudah berteriak setiap hari. Aku tidak bisa meninggalkannya terlalu lama.” Dennis memaparkan alasannya. “Aku harus mengurus Stevi dulu. Dan ... mobilku masuk bengkel,” ucapnya ragu.


Pandangan Naina beralih pada mobil baru milik Dennis. Tidak ada lagi Pajero Sport hitam penuh sejarah yang menjadi saksi perjuangannya selama dalam pelarian.


“Apa yang terjadi, Mas?” Kalimat Naina terdengar pelan dan mengambang.


“Bagian depannya rusak. Kecelakaan kecil.” Dennis tersenyum. Ia yakin, kalau Naina mengetahui alasan sebenarnya, ia tidak akan mendapat pujian. Sebaliknya akan diomeli, bahkan akan mendapat sanksi tidak diajak bicara berhari-hari. Jangan mencoba-coba menjadi pahlawan di saat Naina merasa tidak membutuhkannya. Wanita keras kepala di hadapannya ini tidak akan mengucapkan terima kasih. Sebaliknya, kalau tidak beruntung akan mendapatkan caci maki.


“Mas baik-baik saja?” tanya Naina, mengalihkan pandangannya dari Land Cruiser hitam pekat yang terparkir di halaman restoran. Ada kilatan kekhawatiran di mata sendu Naina. Rasa khawatir yang tidak kentara, berusaha disembunyikannya. Ia tidak mau perhatian kecilnya akan membuat Dennis berharap lebih. Ia sudah memantapkan hati untuk tidak memberi harapan pada pria yang diam-diam mencuri perhatiannya selama ini.


“Aku selalu baik-baik saja. Bukankah selama ini juga begitu, Nai.” Dennis menjawab dengan percaya diri.


Terdiam, Naina meraih gelas jus dan menyesapnya hingga tersisa sepertiga gelas. “Mas, mau pesan apa?” tanya Naina mengisi keheningan dengan topik baru.


“Aku masih kenyang. Kamu sudah selesai? Tidak mau menambah menu?” tanya Dennis melihat piring kosong di samping gelas jus Naina. Masih ada sisa-sisa nasi dan lauk di pinggiran piring.


“Tidak, Mas.”


“Bagaimana Wina? Anak itu masih mencariku?” tanya Dennis.


Naina menggeleng.


“Perlahan Wina mulai melupakanku. Suatu saat ... kamu pun akan melupakanku,” ucap Dennis dengan suara bergetar. Pria itu berusaha menahan perasaan sedihnya. Ia tidak bisa membayangkan, suatu saat Naina mengusirnya secara terang-terangan. Berpisah dengan cara baik-baik itu lebih menyakitkan dibandingkan berpisah saat bermasalah.


“Lalu ... apa yang kamu rencanakan ke depannya? Sudah memantapkaan hati?” tanya Dennis . Perlahan tetapi pasti mengorek banyak hal tentang isi hati wanita di depannya. Bukan hal yang mudah untuknya. Mendukung wanita yang dicintai dan menyodorkannya pada pria lain.


Naina kembali menggeleng.


“Aku akan segera pindah dari tempat Mas Wira” Seutas senyum tipis merekah di bibir Naina.


“Aku akan kembali fokus pada pekerjaanku sambil mengumpul uang untuk membuka butik lagi. Aku tidak mungkin selamanya bekerja di kantor yang sekarang. Aku ingin menghabiskan waktu lebih banyak dengan Wina. Dan membuka usaha sendiri adalah salah satu cara untuk bisa mencapai keduanya bersamaan. Aku jadi bisa memiliki waktu lebih dengan Wina, sekaligus bisa bekerja.”


“Perlu berapa? Aku akan meminjamkannya untukmu,” tawar Dennis. “Tidak ada bunga, kamu bisa mencicilnya sesuka hati.” Dennis melanjutkan.


Naina menggeleng. “Hutangku sudah terlalu banyak padamu, Mas. Aku tidak tahu ... bagaimana membayarnya nanti.”


“Cukup bayar dengan senyumanmu,” ucap Dennis setengah bercanda.


“Ayo, dibayar sekarang!” lanjut pria itu tergelak. Tanpa permisi, Dennis berdiri dan menyentuh dua sudut bibir Naina dengan kedua telunjuknya. Memaksa Naina tersenyum.


“Sudah. Anggap saja lunas! Tidak perlu memikirkan hutang-hutangmu padaku. Aku bisa menagihnya pada Ayah Wina, kalau aku mau.” Lagi-lagi Dennis tergelak.


Naina menajamkan tatapannya. “Jangan lakukan itu!” ancam Naina.


“Tidak, aku hanya bercanda. Em ....” Terlihat Dennis ragu.


“Tentang?” Naina menatap, meminta penjelasan.


“Kembali ke Wira.”


“Aku belum tahu, Mas. Selama ini ... aku sedang mempertimbangkannya. Ada banyak hal yang harus aku pikirkan. Keadaan kami sudah tidak seperti dulu awal pacaran. Semuanya sudah berubah jauh.” Naina menjawab pelan.


Terdengar helaan napas berat, seperti ada beban yang dipikul ibu muda itu.


“Dia masih seperti yang dulu. Cintanya masih sama. Mata Wira tidak bisa berbohong. Dia masih menginginkanmu, Nai.”


“Entahlah. Kami bercerai setelah lima tahun berumah tangga. Bukan seperti putus saat berpacaran. Tidak semudah itu, Mas. Apalagi, perceraian kami ....” Jeda sejenak, Naina menatap Dennis dengan mata berkaca-kaca. Diingatkan tentang masa lalu. Ada sakit yang menghantamnya bersamaan. Sakit karena luka perceraian, sakit karena Dennis dalang di balik semuanya, sakit karena ia sendiri gagal dalam mempertahankan rumah tangganya.


“Wira tidak bersalah dalam hal ini. Aku yang harusnya disalahkan.” Dennis tertunduk, mengakui kesalahannya.


“Aku tahu, Mas. Aku tidak mau mengingat siapa yang salah, siapa yang benar. Mas mungkin yang paling pantas disalahkan. Dan karena ulahmu ... Mas Wira menolehkan luka yang cukup dalam di hatiku. Tapi ... aku juga tidak bisa menyalahkan kalian berdua. Karena aku juga salah dan terlibat di dalamnya. Mbak Stevi juga. Namun, di antara semuanya, akulah yang menyempurnakan semua kesalahan ini. Kalau aku memiliki cukup kepercayaan dan cinta yang besar pada Mas Wira, mungkin aku tidak akan menuntut cerai. Kalau aku tidak egois, semua ini tidak terjadi.” Naina berkata pelan, kedua tangannya saling meremas di bawah meja.


“Bukankah kamu masih memiliki kesempatan memperbaikinya?”


“Mungkin, tetapi aku tidak mau mengambil keputusan terburu-buru. Aku ingin meyakinkan perasaanku dulu. Tiga tahun membuatku berubah banyak, demikian juga Mas Wira.”


“Apapun itu ... aku hanya bisa berdiri di sampingmu dan mendukungmu, Nai.” Dennis tersenyum getir. Ia berusaha menahan laju perasaannya sendiri. Bukan saat ini, bahkan sejak benih itu tumbuh di hatinya, ia berjuang untuk tidak terlalu larut dalam kubangan cinta.


“Aku melihat Mas Wira dengan teman wanitanya. Aku mulai menyelami kehidupan Mas Wira sekarang.” Naina mulai bercerita dan Dennis hanya menyimak seperti biasa.


“Apa yang kamu rasakan?” tanya Dennis penasaran.


Naina menggeleng. “Pasti ada rasa yang tertinggal, kami pernah bersama selama lima tahun dan berpisah baik-baik. Melihat mantan dengan wanita lain, bohong kalau tidak ada rasa. Hanya saja ... rasa itu mungkin bukan cinta lagi. Aku ingin Mas Wira bahagia, dengan siapa pun itu.”


“Dan seperti yang Mama sampaikan, Mas Wira memang pantas mendapatkan wanita yang setara dengannya. Sejak awal menikah pun, sebenarnya aku tidak pernah pantas masuk ke kehidupan Mas Wira.”


“Hanya saja ... cinta tidak memandang semua itu, Nai.” Dennis menegaskan. Terlihat ia memerhatikan Naina dengan seksama. Mencari sesuatu di netra bening dan perubahan garis wajah Naina setiap mengeluarkan kata-kata.


“Aku tahu. Mungkin aku sudah berubah banyak. Aku sudah tidak memiliki keberanian masuk ke dalam kehidupan Mas Wira. Atau aku sudah berubah. Cintaku ....”


“Siapa dia?” potong Dennis, menegang. Tampak ia menegakan posisi duduknya.


“Pieter?” tanya Dennis, menodong Naina.


Naina mengatupkan bibirnya. Ia tersentak saat mengetahui Dennis bisa membaca isi hatinya, walau tidak sepenuhnya benar.


“Aku akan membunuh Pieter kalau kamu memilihnya dibandingkan kembali pada Wira!” ancam Dennis.


***


Tbc