Tatap Aku, Suamiku

Tatap Aku, Suamiku
S2 Bunda dari anakku 48


Berusaha menyembunyikan perasaan, Naina baru bisa menumpahkan isi hatinya saat berada di dalam taksi. Ia memutuskan berangkat ke kantor setelah menyelesaikan sarapan pagi. Dadanya terlampau sesak jika harus menunggu lebih lama lagi. Bahkan, ia tidak sanggup menunggu kedua tamu Wira pulang. Terlalu muak bersikap tegar di saat hatinya teriris dan butuh pelampiasan.


Air mata berderai, luruh berjejak di pipi putih yang sedikit pucat. Isaknya terdengar jelas, walau ia sudah berusaha menutupi tangisnya dengan kedua tangan. Kalimat-kalimat Mama Wira berputar ulang. Semakin mengingatnya, semakin sakit itu menusuk di ulu hati. Naina mengesampingkan rasa malunya, menangis di taksi dan disaksikan sang juru kemudi.


Tangisan Naina baru berhenti saat dering ponsel menarik kesadaran ibu muda itu ke dunia nyata. Mengusap pelan netra basah memerah dengan ujung jarinya, Naina mengernyit heran saat nama Dennis muncul di layar ponsel yang berkedip.


“Mas ....” Naina berusaha menyembunyikan isaknya.


“Kamu di mana, Nai? Bagaimana kabarmu?” tanya Dennis.


Pertanyaan Dennis meluruhkan kembali laju air mata yang sempat ditahan. Naina teringat bagaimana Dennis membelanya saat dulu dihina warga kampung karena hamil tanpa suami. Cemooh dan hinaan yang tidak kalah pedas dari kata-kata mantan mertuanya. Dan Dennislah sang pahlawan yang membela dan memeluknya saat itu terjadi.


Pria itu melintasi benua, menyeberang samudra untuknya. Memangkas jarak Jakarta Bandung untuk membela dan menghapus air matanya. Tempatnya bersandar di kala lelah, tempatnya mengadu di saat pilu. Namun semua menghilang dalam sekejap mata. Dennis menghancurkan semua dengan kebenaran yang menyakitkan. Dan sekarang, Naina hanya bisa menikmati purnamanya dalam kesendirian dan memeluk Wina. Menelan semua duka seorang diri. Dan berjuang untuk menyembuhkan lukanya sendiri.


“Nai, are you okay?” tanya Dennis setelah hening menyambut. Naina seakan hilang ditelan bumi. Tak ada jawaban untuknya sejak tadi.


“Ya ... Mas, ada apa?”


“Kamu baik-baik saja, Nai?” tanya Dennis memastikan.


“Ya.”


“Nai ... aku bertemu dengan Stevi. Dia menyedihkan sekali dan ....” Dennis terdiam sesaat. “Aku pikir aku akan mengurusnya. Bagaimana pun, ia ibu dari Angie,” cerita Dennis ke topik utama.


“Bagaimana bisa, Mas? Apa Stevi baik-baik saja?” tanya Naina dengan suara serak. Konsentrasinya terbagi.


“Tidak. Dia tidak mengenaliku, bahkan mungkin tidak mengenali semua orang. Sepertinya mengalami gangguan jiwa. Bisakah menemaniku menemuinya nanti?” tanya Dennis.


“Kasihan Stevi.”


“Bagaimana menurutmu, Nai.”


“Ya, Mas ... aku akan menemanimu.” Naina menjawab.


Hening sejenak.


“Nai, apa kamu baik-baik saja?” tanya Dennis tiba-tiba. Sejak mendengar suara Naina, ia sudah curiga.


“Ya.” Naina menjawab dengan berlinang air mata. Dadanya nyeri saat menerima perhatian Dennis.


“Yakin? Apa seseorang menyakitimu lagi?” todong Dennis. Nada bicaranya menegang. Ia menangkap sesuatu yang tidak beres dari Naina. Meskipun hanya lewat suara, Dennis sangat mengenal Naina.


“Ya, Mas.” Suara Naina bergetar.


“Jangan berbohong padaku! Aku bahkan bisa mengetahui semuanya hanya dengan mendengar tarikan napasmu, Nai,” cerocos Dennis. “Katakan padaku, apa yang terjadi?” todong Dennis.


“Tidak ada, Mas.” Isak Naina terdengar jelas.


“Mau bercerita padaku atau aku mencari tahu sendiri?” tawar Dennis, rahangnya mengeras. Ia tahu, Naina sedang tidak baik-baik saja.


“Aku baik-baik saja, Mas.”


“Baiklah. Bukan Dennis Joseph kalau tidak bisa menjagamu! Jangan menangis lagi, aku akan menyelesaikannya untukmu,” putus Dennis sebelum mematikan sambungan telepon.


***


Taksi yang ditumpangi Naina baru saja berhenti di depan kantor RD Group saat ponsel putihnya kembali berdering. Naina menghela napas berat saat mendapati Rima yang menghubunginya kali ini. Entah apa yang ingin disampaikan pengasuh putrinya, ia hanya berharap semua baik-baik saja.


“Ya, Rim ... ada apa?” tanya Naina melangkah masuk ke halaman RD Group.


“Bu, cepat pulang! Pak Dennis mengamuk.” Rima bercerita dengan nada panik.


“Hah! Ada apa, Rim?” tanya Naina ikutan panik.


“Pak Dennis baru menghubungiku dan menanyakan apa yang terjadi. Aku hanya mengatakan kalau ada Oma Wina dan calon istri Pak Wira yang datang berkunjung. Dan ... Pak Dennis langsung mengamuk. Meminta alamat tinggal Pak Wira.” Rima menjelaskan.


“Hah! Oma sudah pulang?” tanya Naina berbalik ke arah jalan raya. Ia memilih kembali ke apartemen. Dennis tidak pernah main-main. Pria itu pasti datang dan membuat kekacauan.


“Sudah, Bu.”


“Lalu, kamu memberikan alamat Mas Wira pada Pak Dennis?” tanya Naina.


“Ya. Pak Dennis mengancamku, Bu.” Suara Rima terdengar ketakutan.


Ya, sudah. Aku pulang sekarang. Tolong jaga Wina, Rim.” Naina berlari mencari taksi. Ia harus segera kembali ke apartemen. Tiga tahun mengenal Dennis, ia sangat memahami semua hal tentang pria itu.


***


Bunyi ketukan di pintu apartemen bersamaan dengan suara bel mengejutkan Rima yang sedang menemani Wina bermain. Pengasuh yang sudah bisa menduga siapa tamu dibalik pintu dan akan membuat kekacauan itu tampak ketakutan. Dengan memeluk Wina, ia memilih bersembunyi di kamar dan membiarkan panggilan itu begitu saja.


“WIRA! BUKA PINTUNYA!” Dennis berteriak kencang penuh amarah, menekan bel pintu tanpa jeda.


“WIR!” teriaknya lagi.


Hampir lima menit mengetuk dan berteriak, akhirnya Dennis memutuskan menghubungi Rima. Mengancam pengasuh itu hingga tak berkutik dan mau tidak mau membukakan pintu untuknya.


“Di kamar, Pak.” Rima ketakutan, menunjuk ke arah pintu kamar Wira.


“Di mana Wina?” tanya Dennis lagi.


“Aku mengurungnya di kamar, Pak.”


“Baiklah!” Dennis bergegas menuju ke kamar Wira. Langkah kakinya lebar-lebar dengan garis rahang mengeras. Ia tidak tahu permasalahannya dengan jelas, tetapi suara dan tangisan Naina cukup menjawab semuanya. Wanita yang dicintainya sedang terluka. Dan satu-satunya orang yang harus bertanggung jawab adalah Wira.


“WIR! KELUAR KAMU!” Dennis menendang kasar pintu kamar Wira sehingga terbuka lebar,


Wira yang baru saja memejamkan mata dan beristirahat langsung terjaga saat mendapati ada orang asing masuk ke kediamannya.


“Dennis?” ucap Wira bingung. Tubuhnya belum sembuh benar. Berdiri dengan bertumpu pada dinding.


“B’rengsek!” Dennis melangkah masuk tanpa permisi. Mata pria itu memerah dengan tangan terkepal. Bersiap melampiaskan semua amarah yang mengumpul sejak tadi.


Bruk! Tendangan kaki Dennis tepat mengenai perut Wira. Terjengkang ke belakang, Wira tidak memiliki persiapan. Ia tidak menyangka akan mendapat perlakuan kasar dari Dennis.


“Bangun!” ucap Dennis, membungkuk dan mencekal kerah pakaian Wira dan memaksa adiknya itu bangun.


“Apa-apaan ini?” tanya Wira, berusaha menghempaskan cekalan tangan Dennis. Ia mulai memberi perlawanan.


Dennis tidak menjawab, sebagai gantinya ia melabuhkan kepalan tangannya tepat di rahang Wira.


“Kamu laki-laki, bukan?” tanya Dennis dengan berapi-api.


“Hah? Jawab! Kamu laki-laki, bukan?” tanya Dennis, melayangkan pukulan kedua di sudut bibir Wira.


Brak!


Dennis baru akan mendekat kembali, tetapi Wira sudah menendang perut Dennis hingga tersungkur ke belakang.


“Apa maksudmu? Aku tidak tahu apa-apa,” tanya Wira.


“Kalau kamu tidak sanggup menjaga anak dan istrimu. Serahkan padaku, aku akan menjaganya untukmu! Istrimu menangis dan terluka, bahkan kamu tidak tahu apa-apa! Kamu laki-laki atau bukan?” cerocos Dennis. Ia sudah berdiri dan bersiap melayangkan pukulan kembali.


Pukulan itu sudah melayang di udara, hampir mengenai rahang Wira. Tiba-tiba Naina muncul dan mencegahnya.


“Mas ....” Berteriak dan berlari, Naina memeluk tubuh Dennis untuk meredam emosi pria itu.


Deg— Amarah Dennis menyurut, emosinya menciut saat belitan erat di pinggang bersamaan dengan Naina yang menempel hangat di punggungnya.


“Mas, jangan pukul Mas Wira. Aku mohon,” pinta Naina meraih tangan Dennis yang terkepal di udara dan menggenggamnya erat.


Dennis tergelak. “Dia harus diberi pelajaran, Nai. Supaya dia bisa bersikap layaknya laki-laki.”


“Apa yang terjadi?” tanya Wira bingung.


“Apa yang terjadi? Masih berani bertanya apa yang terjadi?” tuding Dennis, dengan telunjuk terarah pada Wira.


“Kalau terjadi lagi ... aku pastikan akan membawa anak dan istrimu pergi dari sini. Pergi jauh dari hidupmu. Aku pastikan kamu tidak akan bisa menemukan mereka,” ancam Dennis.


“Mas, sudah. Aku baik-baik saja,” pinta Naina dengan wajah memelas.


“Apa yang terjadi, Nai?” tanya Wira mengusap sudut bibirnya yang terluka dan berdarah.


“Tidak ada yang terjadi. Mas ... ayo pulang sekarang. Jangan mengganggu di sini,” pinta Naina menarik tangan Dennis supaya segera keluar dari kamar.


“Apa yang terjadi? Katakan padaku? Apa yang membuatmu menangis, Nai?” tanya Dennis sedikit melunak.


“Nai, apa yang sebenarnya terjadi? Apa Mama menyakitimu?” tanya Wira menebak. Sejak pagi, ia sudah melihat perubahan sikap Naina.


“OH! PEREMPUAN TIDAK TAHU DIRI ITU LAGI! DIA BELUM PUAS BERURUSAN DENGANKU. AKU AKAN MEMBERINYA PELAJARAN!” Dennis meradang kembali.


“Mas sudah. Aku tidak apa-apa,” pinta Naina setengah memohon.


Tampak Dennis berjalan mendekat ke arah Wira, kembali mencekal kerah pakaian adiknya itu. “Aku peringati sekali lagi. Kalau terjadi lagi ... aku pastikan akan membawa anak dan istrimu menjauh darimu!” ancam Dennis.


“Mas, sudah. Kasihan Mas Wira. Dia tidak tahu apa-apa. Mas Wira masih sakit. Aku mohon jangan memukul Mas Wira lagi,” pinta Naina sambil menangis.


Dennis tersenyum. “Kalau dia menyakitimu lagi. Hubungi aku, Nai. Aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri.” Dennis menepuk pelan pucuk kepala Naina sebelum akhirnya keluar dari kamar Wira.


“Mas tidak apa-apa?” tanya Naina setelah kepergian Dennis. Tatapannya sendu, iba melihat luka di wajah Wira. Ada luka di sudut bibir dan sedikit memar.


“Maafkan aku, Nai.” Wira langsung memeluk.


“Apa Mama menyakitimu? Kenapa tidak bercerita padaku,” tanya Wira, mengecup pelipis Naina dengan lembut.


“Mas baik-baik saja?” tanya Naina setelah pelukan Wira terurai. Tangan ibu muda itu gemetar, mengusap sudut bibir Wira yang berdarah.


***


Tbc