
“Selamat Bu, Pak. Positif hamil tujuh minggu.” Dokter kandungan wanita yang dipilih Dennis memastikan kehamilan Naina setelah melakukan pemeriksaan melalui ultrasonografi.
Naina tertunduk meremas ujung roknya. Ia sudah tidak terkejut lagi dengan pernyataan wanita dengan setelan jas putih di depannya. Sikap berbeda ditunjukan Dennis. Pria itu memandang Naina dengan tatapan sulit diungkapkan.
“Ehem ....” Dennis berdeham untuk mencairkan suasana. Ia mengerti, saat ini Naina tidak akan banyak bertanya pada dokter SpOG dan itu artinya ia harus mengambil alih semuanya.
“Dok, bagaimana kandungannya? Apa baik-baik saja?” tanya Dennis, diam-diam menggenggam tangan Naina di bawah meja.
“Kandungannya baik-baik saja. Hanya saja tekanan darah ibunya sedikit rendah. Perbanyak istirahat, mengonsumsi makanan bergizi. Nanti saya akan meresepkan vitamin untuk Ibu.” Sang dokter tersenyum.
Dennis mengangguk.
“Ini anak kedua?” tanya dokter melihat data yang tertera di lembaran kertas yang sebelumnya sempat diisi Naina sewaktu mendaftarkan diri.
“Ya ....” Sejak tadi, Dennis yang lebih banyak menjawab. Naina menunduk dan tidak mau bicara sama sekali.
“Oh ya, Dok ... em ....” Dennis menatap ke arah Naina lagi.
“Istriku sebelumnya sering mengalami keguguran. Kehamilan anak pertama kami tiga tahun lalu, Naina juga mengalami pendarahan beberapa kali sewaktu hamil. Kira-kira bagaimana, Dok?” tanya Dennis, mengeratkan genggaman tangannya. Ia berusaha menguatkan Naina di detik-detik terberat ini. Ia tahu, ini tidak mudah untuk Naina. Hamil tanpa tahu siapa yang menghamilinya.
Dokter tampak memeriksa lagi data Naina, ia mengangguk seolah paham. “Enam kali keguguran,” ucap wanita yang diperkirakan berusia 40an itu sambil menyunggingkan senyuman.
“Ibu sudah pernah melakukan pemeriksaan TORCH?” tanya Dokter wanita itu lagi.
Dennis tidak bisa menjawab, Naina yang harusnya menjawab.
“Dulu sepertinya pernah. Tapi saya juga tidak paham, Dok. Sewaktu saya keguguran dilakukan pemeriksaan apa saja.” Naina membuka suara.
Dokter kandungan tersenyum. “Baiklah, sebaiknya Ibu melakukan pemeriksaan TORCH saja untuk memastikan. Bisa saja ada infeksi penyakit seperti Toksoplasmosis, Rubella, Cytomegalovirus, Herpes symplex virus. Jadi kalau terdeteksi sejak dini, kita bisa mengantisipasi dan mencegah penularan dan komplikasi infeksi pada janin.” Dokter menjelaskan.
Dennis menyimak. Bukan pengalaman pertama untuknya menemani Naina memeriksa kandungan. Selama hamil Wina, pria itu sering kali melakukannya. Ia sudah tidak terkejut dan merasa canggung dengan semua pembahasan mengenai kehamilan. Bahkan saat Naina melahirkan, ia masuk ke dalam ruang bersalin bersama Mbok Sumi. Ia juga yang menandatangani keputusan untuk Naina melakukan cesarean section saat proses kelahiran Wina. Naina sudah tidak sadarkan diri saat itu, setelah berjuang melahirkan dengan proses normal.
***
Di dalam perjalanan pulang ke rumah, Naina memilih diam. Duduk di samping Dennis yang memegang kemudi, Naina menatap bungkusan berisi vitamin di atas pangkuannya.
“Kita pulang ke rumah, Nai. Pertimbangkan untuk berhenti bekerja.” Dennis bersuara saat mobilnya berhenti di perempatan lampu merah.
"Mengenai biaya hidupmu dan Wina ... kalau kamu keberatan menerima bantuan dari Wira, aku bisa membantumu. Fokus saja pada kehamilanmu. Entah siapa yang harus bertanggung jawab untuk semua ini, yang terpenting jaga kandunganmu,” lanjut Dennis memejamkan mata, mengusir sakit kepalanya. Memikirkan kondisi Naina, kepalanya berdenyut. Ia harus meninggalkan putrinya di Amerika dan terbang ke Indonesia.
“Maafkan aku, Mas. Aku tidak bisa menjaga diri dengan baik.” Naina berkata dengan mata berkaca-kaca. Entah sudah berapa banyak air mata yang tumpah sejak mengetahui kehamilannya. Rasanya tidak mau hidup lagi, kalau tidak memikirkan ada Wina yang membutuhkannya saat ini.
“Jangan sedih. Apapun itu, bukankah harus dilewati.” Dennis tersenyum kecut.
“Aku ... aku ... merasa bersalah pada Mas Wira. Bagaimana dia memandangku nanti. Mas Wira masih menunggu jawabanku. Aku tidak mau mengecewakannya lagi, Mas. Aku tidak sanggup melihatnya terluka lagi.”
“Sudahlah. Tidak perlu dipikirkan sejauh itu. Kalau dia mencintaimu, dia akan menerimamu dan Wina bersamaan. Tapi kalau dia hanya sanggup menerima Wina saja ....” Dennis menghentikan ucapannya, beralih menatap Naina yang meneteskan air mata dan tertunduk.
“Jangan menangis. Aku tidak menyalahkanmu. Kalau sampai kita tidak bisa menemukan pelakunya atau kamu tidak ingin meminta pertanggungjawabannya ... ikut denganku ke Amerika. Aku akan menjagamu di sana. Tidak mungkin di sini sendirian.” Dennis menggengam tangan Naina, berusaha menguatkan.
“Terima kasih, Mas.”
Setengah jam membelah jalanan ibu kota, mobil Dennis masuk ke pekarangan rumah yang sekarang dihuni Naina. Di halaman rumah, terlihat Wina sedang bermain bersama Rima.
“Daddy ....” pekik gadis kecil itu saat melihat Dennis turun dari mobil barunya. Berlari dan memeluk kedua kaki Dennis, kepala Wina menengadah ke atas.
“Hai, gadis kecil! Apa kabarmu?” sahut Dennis, meraih tubuh kecil Wina dan menggendongnya masuk ke dalam rumah.
“Apa kabarmu, Rim?” tanya Dennis, menatap Rima dan tersenyum.
“Baik, Pak.” Rima menjawab sambil mengekor Dennis dan Wina.
***
Begitu tiba di dalam rumah, Naina mengurung diri di dalam kamar. Ia membiarkan Dennis mengobrol bersama Wina ditemani Rima.
“Dad, nih ... da-dali Ayah.” Wina menunjukan boneka beruang berukuran besar yang tergeletak di salah satu sudut ruang tamu.
“Oh ya?” Dennis memainkan matanya, tersenyum menatap Wina.
“Ya ....” Wina mengangguk dengan kencang.
“Ni dali Ayah juja ....” Wina menunjukan boneka yang lain. Wajahnya begitu gembira, memeluk boneka barbie kesayangan yang baru dibelikan Wira minggu lalu.
“Bawa ke sini. Daddy melihatnya lebih dekat ....” Dennis melambaikan tangannya. Namun, belum juga sempat memeluk Wina, tiba-tiba telepon genggamnya berdering.
Buru-buru berjalan ke sudut ruangan saat memastikan kalau orang suruhannya yang menghubungi saat ini. “Ya, bagaimana?” tanya Dennis sesaat setelah gawai hitamnya menempel di telinga.
“Belum ada titik terang, Bos. Yang membawa Ibu Naina ke hotel itu sepasang suami istri. Jack dan istrinya. Hanya saja sampai sekarang, belum ketauan mereka bekerja untuk siapa.”
“Ada informasi apalagi?”
“Cctv hotel itu sudah disabotase. Ada beberapa part yang hilang pada kejadian malam itu. Dan karyawan hotel yang bertugas malam itu juga sudah mengundurkan diri di akhir bulan kemarin. Berarti dua minggu setelah kejadian,” lanjut orang suruhan Dennis.
“Ya, sudah. Cari tahu lebih banyak. Aku menunggu kabar selanjutnya."
“Oh ya, hampir lupa, Bos. Selama ini ... Ibu Naina hanya dekat dengan dua orang. Pieter dan Wira. Hanya saja, Pak Wira yang lebih sering mengunjungi Ibu. Terkadang pulang tengah malam. Itu informasi yang saya dapatkan dari security komplek perumahan Ibu Naina.”
Dennis tertegun sesaat, otaknya sedang merangkai semua cerita. Pandangannya beralih pada Rima.
“Baiklah, coba mulai penyelidikan dari dua orang ini!” titah Dennis,memutuskan sambungan telepon kemudian mengantongi ponselnya kembali.
Tampak Dennis berjalan mendekati Rima, ia mulai mencium sesuatu yang tidak beres saat ini. Ia sangat yakin kalau laki-laki yang menghamili Naina adalah orang yang dikenali Naina. Kejadiannya pun di hotel dan sangat terencana rapi. Pasti bukanlah orang sembarangan. Bisa jadi dua orang pria yang disebut orang suruhannya atau salah satu rekan bisnis di perusaahaan. Bisa juga salah satu karyawan di RD Group tempat Naina bekerja.
“Rim, kemarilah!” Dennis memanggil Rima. Pengasuh yang dibawanya untuk membantu Naina dan Mbok Sumi itu bukanlah orang lain. Dia salah satu teman sekolah Dewi, putrinya Mbok Sumi.
“Siapa saja yang dekat dengan Ibu selama beberapa bulan belakangan? Apa ada pria yang berkunjung ke rumah ini selain Pak Wira?” todong Dennis.
***
Tbc