Tatap Aku, Suamiku

Tatap Aku, Suamiku
S3. Tas 39


Naina tiba di rumah sakit lebih dulu diantar sopir dan salah seorang babysitter. Sejam kemudian, papa mertuanya dan Ratih tampak muncul di rumah sakit setelah mendapat kabar dari Rima.


"Nai, bagaimana?" tanya sang papa, berjalan masuk ke dalam kamar perawatan. Ia melihat sang menantu berbaring sembari mengernyit menahan sakit.


"Baru bukaan dua, Pa. Menurut dokter masih lama." Naina terlihat biasa saat sakit perut itu hilang sejenak.


"Oh." Kelegaan terlihat jelas di wajah tua Papa Wira, menghempaskan tubuhnya di sofa.


Ratih berjalan mendekat dan menarik kursi, duduk di samping brankar sembari mengusap pinggang Naina yang berbaring menyamping.


"Jeda berapa lama?" tanya Ratih.


"Lima sampai sepuluh menit, Tih. Tadi sore aku sempat melihat bercak darah, tadinya aku pikir belum akan lahiran karena HPL juga masih dua minggu lagi." Naina menjelaskan.


"Wira sudah dikabari?" tanya pria tua yang tengah duduk bersandar di sofa hitam dekat jendela.


"Belum, Pa." Naina menjawab lemah. Tatapannya tertuju pada jam yang tergantung di dinding. Waktu sudah menunjukkan pukul 03.10 pagi.


"Mas Wira di Balikpapan. Aku pikir nanti baru mengabarinya, tunggu Mas Wira bangun tidur. Lagi pula, Mas Wira juga tidak bisa berbuat banyak. Ini bukan Jakarta, memberitahunya sekarang hanya membuatnya panik tanpa bisa melakukan apa pun." Naina menjelaskan. "Biarkan ... ssshh." Naina tidak sanggup melanjutkan kalimatnya, sakit perut menyerangnya kembali.


"Kamu baik-baik saja, Nai?" tanya Ratih saat mendengar Naina merintih.


Naina mengangguk. "Biarkan Mas Wira tidur satu dua jam lagi, setelah itu baru mengabarinya, Pa. Mas Wira bisa mencari penerbangan paling pagi. Lagi pula dokter sudah memastikan ... ini mungkin tidak cepat." Naina menjelaskan.


"Ya, sudah." Papa Wira mencoba memejamkan mata sejenak. Masih ada dua tiga jam lagi sampai matahari muncul dan hari berganti terang.


"Tih, kamu tidur saja. Aku tidak apa-apa."


"Ya, nanti saja. Aku sudah terbiasa bangun subuh." Wanita muda itu menjawab sembari merapatkan sweaternya.


"Maaf merepotkanmu. Nonik di mana?" tanya Naina mengernyit.


"Nonik dititipkan di tempat mamamu." Tiba-tiba Papa Wira menjawab. "Tidak ada yang menjaganya di rumah. Akan lebih baik kalau dititipkan di tempat Mama. Mama juga tidak keberatan, malah mamamu senang jadi punya teman berbincang," lanjut Papa Wira.


Naina tersenyum. Terkadang, ia salut dengan mama mertuanya. Tidak semua wanita sanggup dimadu, termasuk dirinya sendiri. Ia tidak akan bisa menerima andai Wira menikah lagi. Namun, ia melihat sendiri, bagaimana Mama Wira yang sekeras batu mengikhlaskan suaminya untuk menikah lagi, bahkan dengan mantan pembantu di rumahnya sendiri. Keadaan Mama Wira yang sekarang duduk di kursi roda, membuat wanita tua itu mengubah pola berpikirnya dan belajar ikhlas dan sabar menerima kenyataan hidup yang tak seindah harapan.


***


Wira terbangun dari lelap saat ponselnya berdering. Hari masih pagi, matahari pun baru muncul di ufuk timur, memancar kemerahan. Masih memejamkan mata, pria terbalut kaus oblong dan celana selutut itu meraih ponsel dan menempelkan benda pipih itu di telinganya.


"Ya." Suara serak khas bangun tidur itu terdengar menyapa. Wira bahkan masih berbaring, telungkup di atas tempat tidur.


"Mas, aku sudah di rumah sakit." Naina bersuara di tengah rintihannya.


"Nai?" Wira memastikan. "Kamu sudah mau melahirkan?" tanya Wira lagi.


"Ya, Mas."


Deg--


Wira tersentak. Jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya, tatapan pria itu tertuju jam di dinding. Saat ini baru pukul 06.00 waktu Balikpapan. Ia tidak tahu apa ada penerbangan sepagi ini menuju ke Jakarta. Apalagi selama di Balikpapan, ia tidak ditemani William. Asistennya tetap di Jakarta untuk mengurus masalah perusahaan.


"A ....apa sudah mau melahirkan sekarang, Nai?" Wira bertanya dengan polosnya. Meloncat turun dari tempat tidur, Wira sudah berlari keluar kamar.


"Dokter mengatakan belum, Mas. Tapi, perutku sakit sejak semalam," cerita Naina sembari merintih.


"Siapa yang menemanimu di sana?" tanya Wira.


"Ada Papa dan Ratih. Mas tidak perlu khawatir, aku baik-baik saja." Naina berusaha menenangkan.


"Ya sudah, aku ke bandara sekarang." Wira yang sudah berjalan keluar kamar, tiba-tiba berbalik dan mengambil dompetnya yang tertinggal di atas nakas.


Pria itu panik. Tidak ingat lagi untuk berganti pakaian dan mandi. Wira tidak sadar untuk menyeret kopernya keluar. Bahkan ia meninggalkan kamarnya begitu saja dan segera mencari taksi menuju bandara. Ia harus tiba di Jakarta secepatnya, tidak bisa membiarkan Naina berjuang sendirian melahirkan anak mereka. Wira tidak ingin melewatkan kelahiran anak keduanya.


***


Dua jam lebih perjalanan udara dari Balikpapan menuju Jakarta, menumpang penerbangan paling pagi yang bisa dikejarnya, Wira dijemput asistennya di Soekarno Hatta.


"Will, tolong minta orang untuk mengurus barang-barangku di hotel. Aku panik, meninggalkannya begitu saja." Wira tergelak saat menyadari apa yang dilakukannya. Ia bahkan pulang ke Jakarta dengan pakaian tidurnya.


William tersenyum, menatap kaus oblong kusut dan celana pendek berbahan denim yang dikenakan Wira. Sandal jepit merek ternama yang melekat di kaki Wira melengkapi tampilan tidak biasa atasannya.


"Belum mandi, Bos?" tanya William, berjalan mendahului Wira menuju tempat parkir.


"Belum, aku langsung ke bandara mencari tiket untuk terbang ke Jakarta," sahut Wira. Ia bisa bernapas lega saat menginjakkan kaki ke Jakarta kembali.


William tergelak, membayangkan seberapa terheran-herannya orang dengan penampilan Wira saat ini. Bahkan rambut atasannya yang biasa klimis, tampak acak-acakan dan berantakan. Penampakan yang jauh berbeda dibandingkan saat mengantar Wira sehari sebelumnya. Atasannya tampil dengan kemeja kerja dan sepatu hitam mengkilap. Rambut tersisir rapi dengan berbagai aksesoris penunjang.


"Kita langsung ke rumah sakit." Wira memerintah begitu masuk ke dalam mobil.


"Baik, Bos." William menurut.


Empat puluh lima menit membelah jalanan Jakarta, Wira meloncat turun dari dalam mobil di saat kendaraan William belum berhenti sempurna. Berlari secepat kilat ke dalam rumah sakit, Wira sudah tidak sabar ingin bertemu Naina. Walau katanya masih lama akan melahirkan, pria itu tidak mau melewatkan sedetik pun momen kelahiran putranya.


***