
“Papi!” jerit Nola, dengan raut bahagianya menyambut kedatangan Wira.
Wira tersenyum. Menyambut tangan mungil itu dan membawa ke dalam gendongannya. Entah sudah berapa lama, Wira tidak bertemu dengan Nola. Pria itu bahkan hampir lupa, kapan terakhir kali dia mendekap putri kecilnya. Terakhir saat mengantar boneka untuk Nola, gadisnya itu baru saja terlelap.
“Nola sudah makan?” tanya Wira, menghadiahkan kecupan di seluruh wajah putrinya. Terdengar tawa renyah Nola yang kegelian saat bibir Wira mengenai pipi gembulnya.
“Sudah, Pak. Barusan disuapi makan sore,” sahut pengasuhnya.
Suara pintu terbuka, mengalihkan perhatian Wira. Muncul Stevi dengan raut menyedihkannya. Wanita itu sudah tidak punya alasan untuk menahan Wira tetap di sampingnya. Dengan alasan apa lagi dia mempertahankan pernikahan sirinya. Kalau Wira sudah tidak takut sampai Naina mengetahui semuanya.
“Mbak, bisa tinggalkan kami,” pinta Stevi pada pengasuh putrinya. Dia harus bicara berdua dengan Wira. Ini mungkin usaha terakhirnya untuk mempertahankan Wira di sisinya, meski hanya sebagai istri siri.
“Baik Nyonya.”
Begitu memastikan pintu kamar itu tertutup, Stevi memulai kembali. Perdebatan tak berujung, yang hanya akan membuat Wira pusing. Keadaan ini sama persis seperti dua tahun silam, saat Stevi memaksanya untuk bertanggungjawab.
“Mas, kamu tidak bisa seenaknya menceraikanku. Bagaimana nasib Nola?” ucap Stevi, melemas. Menjatuhkan bokongnya di atas tempat tidur Nola.
Selama ini dia selalu menggunakan alasan Naina untuk menekan, tetapi kenapa tiba-tiba Wira tidak takut lagi. Ada tanda tanya besar menari di benaknya. Biasanya begitu nama Naina keluar dari bibirnya, Wira langsung mengalah. Hanya demi menutupi pernikahan siri dan kehadiran Nola dari Naina, Wira akan menjadi begitu penurut.
“Katakan apa alasanku menikahimu, Stev?” Wira masih memusatkan perhatiannya pada Nola. Tidak sekalipun memedulikan kehadiran Stevi bersama mereka. Masih menikmati kebersamannya dengan sang putri yang jarang terjadi.
“Naina ....” jawab Stevi datar. Tatapannya menerawang, seperti kehilangan harapan hidup. Semuanya berakhir beberapa menit yang lalu.
“Ya, alasan utamaku adalah Naina.” Wira tersenyum.
“Aku menikahimu karena aku tidak mau bercerai dari Naina dua tahun yang lalu. Kalau Naina tahu, kamu hamil anakku, Naina akan menceraikanku detik itu juga. Kamu tahu sendiri bagaimana kerasnya, Naina.”
Stevi terdiam. Sedetik kemudian terbelakak sembari menutup mulut dengan kedua tangannya.
“Apa Naina sudah mengetahui semuanya, Mas?” Teringat beberapa waktu yang lalu Dennis mencarinya dan mengabari kalau Naina sudah curiga, tetapi dia tidak mencari tahu lagi setelah itu.
“Ya, Naina sudah mengetahui semuanya, Stev. Aku tidak punya alasan lagi takut pada ancamanmu. Aku tidak punya alasan lagi untuk bertahan dengan pernikahan ini. Dari pertama aku sudah katakan padamu ... Naina tahu semuanya, pernikahan kita juga akan hancur.” Wira memaksa tersenyum.
“Apakah kamu tidak memikirkan Nola sedikit pun, Mas?”
Pria tampan itu menurunkan Nola dari gendongannya. Membiarkan gadis kecilnya bermain-main dengan puluhan boneka yang sudah diturunkan dari lemari penyimpanan.
“Kalau aku katakan tidak, mungkin kamu akan mengatakan kalau aku kelewatan. Namun, itu yang aku rasakan. Aku menerima dia putriku, tetapi aku tidak memiliki ikatan batin dengannya. Entahlah, mungkin aku jarang bertemu dengan Nola, jadi ikatan itu tidak kuat.” Wira berkata, ekor matanya mengikuti pergerakan Nola. Tersenyum melihat seberapa pintarnya sekarang gadis mungil yang dulu hanya bayi merah.
“Kalian akan bercerai, Mas?” tanya Stevi, melunak.
Wira terkekeh. “Kamu pasti mengenal Naina dengan baik. Menurutmu adakah alasan Naina untuk tidak menceraikanku setelah tahu kalau aku memiliki anak denganmu. Mungkin hubungan kita bisa terputus, tetapi hubunganku dan Nola tidak akan terputus.”
“Istrimu dari dulu keras kepala.”
“Bukankah kamu dan mama memanfaatkan sifat kepala batu Naina untuk menekanku. Kalau Naina tidak keras kepala, aku tidak mungkin menikahimu, Stev.”
“Kalau Naina tidak keras kepala, aku lebih memilih berterus terang padanya dan mengaku salah kalau tanpa sengaja tidur denganmu. Dan ada Nola buah ketidaksengajaan itu,” ucap Wira, ikut duduk di samping Stevi.
“Aku tidak mau bercerai, Mas.”
“Beberapa menit yang lalu, kamu sudah bukan istriku lagi, Stev. Kita menikah siri, aku rasa perceraian kita cukup diucapkan dengan kata-kata,” tegas Wira.
“Aku akan tetap membiayaimu dan Nola, tetapi kita memang tidak bisa Stev.”
“Hubunganmu dengan Naina ....” Stevi tidak melanjutkan kalimatnya, beralih menatap Wira.
“Aku bercerai atau tidak dengan Naina, aku tetap menceraikanmu, Stev. Aku sudah tidak memiliki alasan lagi untuk bertahan dengan pernikahan ini. Toh, Naina sudah tahu semuanya.”
“Tega kamu, Mas. Bahkan sedikit pun kamu tidak mempertimbangkan Nola.”
“Aku bukan tidak mau bertanggungjawab. Sejak awal aku katakan aku akan bertanggung jawab, tetapi tidak dengan menikahimu, Stev.”
Stevi tertunduk, mengingat bagaimana Wira menolak keras menikahinya dulu. Bahkan sampai kandungannya memasuki usia lima bulan, Wira masih bergeming dan tidak peduli. Seolah-olah Nola itu tidak ada artinya.
Sampai akhirnya dia datang ke mama Wira dan menceritakan masalahnya. Keduanya mengancam akan menceritakan semuanya pada Naina, barulah Wira bersedia menikahinya. Itu pun hanya menikah siri.
“Mas, apa benar-benar tidak ada harapan lagi untuk kita?” tanya Stevi dengan wajah memelasnya.
“Kita? Sejak kapan ada kata kita kecuali Nola, dia memang milik kita. Itu fakta yang sampai sekarang tidak bisa aku bantah. Selain Nola, hanya ada aku dan kamu!” tegas Wira.
“Mas, aku mohon. Jangan seperti ini. Apa dua tahun ini tidak bisa menggerakan hatimu. Sedikit pun tidak ada rasa sayangmu untuk Nola?” ucap Stevi.
“Sudah tidak ada alasan lagi menekanku, sekarang kamu memilih cara memelas seperti ini!” sindir Wira. Memang menyakitkan kondisinya saat ini, menikmati detik-detik diceraikan Naina. Namun, sejak Naina tahu semuanya, dia bisa bernapas lega, meskipun menyakitkan. Dia bisa menjadi Wira yang seharusnya, yang tidak bisa ditekan siapa pun.
“Kamu sudah menghancurkanku, Stev. Padahal kamu teman baikku, sahabatku,” ungkap Wira.
“Maafkan aku, Mas. Masalah istrimu bisa mengetahui semuanya, aku tidak tahu apa-apa. Aku sudah menjauh dari kalian sejak kemarahanmu yang terakhir kali. Aku juga lelah harus bertengkar setiap saat denganmu, Mas,” lirih Stevi. Rasanya berat menerima perceraiannya dengan Wira. Dua tahun berjuang merebut hati Wira, tidak sekali pun laki-laki yang duduk di sampingnya ini berpaling.
Dia hanya mendapatkan semua kemewahan, tetapi tidak untuk hati dan hidup Wira. Cintanya tetap saja bertepuk sebelah tangan.
“Kamu menghancurkanku. Kamu benar-benar licik Stev,” ucap Wira.
Bangkit dari duduknya, Wira berpamitan. “Aku harus menemui mama. Dia perlu tahu masalah perpisahan kita.”
***
“Ma, aku sudah menceraikan Stevi.” Wira sudah berdiri di depan kedua orang tuanya.
Papa dan mama yang sejak tadi berbincang santai di teras rumah, tentu saja terkejut. Tanpa basa-basi sebelumnya, Wira berdiri menghentikan obrolan mereka dengan berita ini.
“Nola? Bagaimana dengan Nola. Anak itu akan jadi apa kalau kamu menceraikan Stevi. Bisa saja Stevi melampiaskannya pada Nola, Wir. Kamu ....” Mama Wira bangkit dari duduknya, memukul kencang lengan Wira.
“Dia ibunya, dia yang melahirkan Nola. Harusnya dia tidak akan setega itu, Ma. Jangan khawatir, Ma.”
“Istrimu sudah tahu semua, Wir. Naina datang pada mama ....” Mama Wira, tertunduk lemas. Membuka semua yang diketahuinya.
“Ya. Dan kami akan bercerai sekarang.”
***
TBC