Tatap Aku, Suamiku

Tatap Aku, Suamiku
S2 Bunda dari anakku 67


Seminggu berlalu tanpa terasa, Naina yang tidak merasakan perubahan apa-apa di dalam dirinya selama hamil muda tetap bekerja seperti biasa meski Wira sudah berulang kali memintanya untuk resign. Pria itu menjadi lebih posesif, mengantar dan menjemput Naina setiap hari. Bahkan di saat ia harus keluar kota, Wira menugaskan William untuk menggantikan tugasnya menjaga Naina.


Dennis, kakak Wira itu masih tertahan di Indonesia. Setiap hari, ia menunggu kabar baik dari pihak rumah sakit. Bagaimana pun buruknya masa lalu, ia mulai berusaha untuk berdamai dan ikhlas. Yang sedang terbaring kaku di ranjang ICU adalah wanita yang mengantarnya hadir ke dunia. Ia berusaha untuk membuka pintu maaf meski bukan hal yang mudah.


Siang itu, Dennis tampak duduk melamun di depan ruang ICU seorang diri. Wira sudah beberapa hari tidak muncul. Adiknya terlalu sibuk dengan pekerjaan dan keluarga kecilnya sehingga meminta Dennis meluangkan lebih banyak waktu untuk menjaga sang Mama di rumah sakit.


Di tengah lamunan, tiba-tiba dering ponsel menyadarkannya dari pikiran yang menerawang. Bibir datar Dennis berubah melengkung ke atas saat memastikan siapa yang sudah membuat gawainya berteriak.


"Naina ...." Satu nama yang mengisi hidupnya selama tiga tahun terakhir, lolos dari bibirnya. Nama yang hanya dengan mengucapkannya sanggup membuat semua gejolak rasa di dalam hati Dennis mereda.


"Ada apa, Nai?" tanya Dennis, sesaat setelah menghentikan alunan dering dari gawainya.


"Mas di mana?" tanya Naina. Suara wanita itu terdengar lembut mendayu.


"Di rumah sakit, Nai. Ada apa?" tanya Dennis.


"Bagaimana keadaan Mama? Apa sudah ada kabar baik?" lanjut Naina lagi.


"Masih sama," sahut Dennis, melemas. Ia bersandar di kursi dingin rumah sakit sembari memejamkan mata. Terbayang di benaknya untuk membawa pulang putrinya ke Indonesia dan mempertemukan dengan mamanya. Pria tampan itu teringat akan janjinya sendiri sebelum terlibat pertengkaran dan berujung dengan tertabraknya pagar rumah sang mama.


"Mama pasti sembuh, Mas." Naina menyemangati dari ujung panggilan.


"Ya ...." Suara Dennis terdengar lemas. "Hanya Mama yang tersisa, setelah Papa pergi untuk selama-lamanya." Terselip sesal di dalam kalimatnya. Embusan napas berat itu menandakan beban yang dipikul Dennis saat ini.


"Mas, ada yang ingin aku bicarakan. Bisakah kita bertemu sekarang? Kebetulan hari ini aku izin pulang setengah hari." Naina menjelaskan.


"Baiklah."


"Aku akan menemui Mas di rumah sakit."


"Jangan, kamu sedang hamil. Sebaiknya jangan terlalu sering berada di sini. Temui aku di taman dekat rumah sakit. Kamu tahu, kan?" tanya Dennis, memutuskan.


"Ya, Mas."


***


Setengah jam kemudian, Dennis sudah berdiri menatap kendaraan yang lalu lalang di jalan raya. Di sisi kiri dan kanan jalan, ada beberapa pedagang asongan yang sedang menggelar dagangannya dan tengah dikelilingi beberapa pembeli. Dennis sudah tiba lima menit sebelumnya, berdiri dengan kedua tangan terselip di saku celananya.


Bunyi klakson kendaraan bersahutan, deru mesin mobil dan motor pun layaknya alunan nada tak beraturan. Dennis hampir melupakan tujuan awalnya mendatangi taman ini, terlalu banyak beban pikirannya akhir-akhir ini, ia tersedot dalam lamunannya kembali sampai dua tangan tiba-tiba menyusuri pinggang dan mengunci perut kotaknya.


Deg--


Penciumannya bisa menangkap aroma feminin yang sudah sangat familier.


"Tetap seperti ini, Mas. Jangan berbalik dan melihatku. Aku takut jadi lemah." Naina bersuara setelah merasakan pergerakan Dennis yang hendak berbalik.


"Kamu kenapa, Nai?" Ragu-ragu, Dennis memberanikan diri mengusap pelan tangan Naina yang tengah mengunci perutnya. Ia bisa merasakan tubuhnya semakin berat saat Naina merebahkan diri di punggungnya.


"Dengarkan apa yang ingin aku sampaikan padamu, Mas." Suara lembut itu melemah, seperti ada beban rasa yang bertarung di dalam hati Naina.


"Ya, ada apa, Nai?" Dennis mengalah. Ia berusaha melirik ke belakang, tetapi matanya tidak mampu melihat keberadaan Naina.


"Aku ... aku ... memutuskan untuk kembali bersama Mas Wira," ucap Naina terbata.


Dennis tertegun. Ini bukan kejutan untuknya. Sudah sejak lama ia menunggu kata-kata ini keluar dari bibir Naina. Seperti ada beban yang diangkat dari dirinya, rasa bersalah yang menghantuinya tiga tahun belakangan ini. Dan Naina membuatnya menjadi sedikit lebih ringan, walau hatinya tercabik-cabik dan terluka di sisi lain. Niat awal hanya menjaga, Dennis terjebak dengan perasaannya sendiri pada akhir kisah. Berusaha menepis jauh-jauh, rasa cinta itu makin mendekat dan tidak mau pergi. Ini bukan keinginannya, ia ingat sudah berjanji pada Wira. Dan satu hal, Dennis tidak bisa memaksa Naina. Apa pun itu, hanya Naina yang bisa memutuskan untuk kembali atau tetap pergi menjauh dari Wira.


"Selamat, Nai. Aku ... akan jadi orang yang paling bahagia." Dennis menggigit bibir. Ia seperti aktor sekarang. Kalimat yang keluar dari mulutnya tidak sejalan dengan isi hatinya.


Bahagia? Bahagia dari mana? Dennis sedang berdarah dan terluka saat Naina mengambil sikap untuk kembali pada Wira. Ia sudah menyiapkan hati, menunggu datangnya hari ini. Namun, kenapa tetap sakit? Saat secara nyata, wanita yang dicintainya memilih pergi pada pemilik yang sebenarnya. Ya, Wira adalah pemilik sebenarnya. Bukan dirinya atau pria mana pun, tentu saja pada akhirnya Naina akan kembali pada takdirnya. Takdir Naina adalah Pratama Wirayudha. Seberapa keras, Naina dan semua orang menolak kenyataan itu, Tuhan sudah membuat cerita ini di dalam hidup mereka.


"Aku ... tidak bahagia." Naina berkata lirih. Suaranya terdengar melemah dan terbata. Tak lama, Dennis bisa merasakan punggungnya basah.


"Nai, are you okay?" tanya Dennis saat panik mencengkeramnya tiba-tiba.


Dennis tidak bisa mendengar jawaban, tetapi bisa merasakan sebuah pergerakan di punggungnya. Naina mengangguk seiring belitan tangan di perutnya semakin erat.


"Ya ...." Naina menghela napas berat dan dalam sebelum melanjutkan kalimatnya. "Mas, pergilah dari kehidupanku. Menghilanglah selamanya dari hidupku dan Wina." Tubuh Naina bergetar saat mengucapkan kalimat ini.


"Aku tidak mau melihatmu lagi di sisa hidupku." Tangis Naina semakin menjadi, berulang kali menarik napas dalam, cairan di rongga hidungnya mengumpul.


"Apa kamu baik-baik saja, Nai?" Dennis mengerutkan dahi, heran.


"Pergi dari duniaku, Mas. Aku ingin belajar mencintai Mas Wira lagi. Aku mohon pergilah dan jangan pernah kembali lagi ... apapun alasannya."


Deg-- Sampai di sini, Dennis mulai menangkap ada yang tidak benar pada Naina.


"Nai, apa yang terjadi?"


Naina diam. Berusaha menata perasaannya yang tak kalah sakitnya. Ia menyadari perasaannya yang salah, tetapi ia bisa apa. Rasa itu terlanjur tumbuh tanpa diminta, cinta itu bersemi di hatinya tanpa ia mau. Berusaha untuk setia pada Wira, pada akhirnya Tuhan menghukumnya dengan cara paling kejam. Ia anggap ini karmanya, karena dulu tidak mau memberi kesempatan pada Wira dan memilih bercerai. Pada akhirnya,ia takluk dan jatuh ke dalam perasaan yang mendalam pada pria yang harusnya menjadi musuhnya. Cinta terkadang memang tidak menggunakan logika, perhatian Dennis yang tanpa pamrih membuatnya terperosok dalam kubangan perasaan yang salah.


"Aku mungkin mencintaimu, Mas. Aku pikir ... yang aku rasakan sekarang padamu ini disebut cinta."


***


Tbc