Tatap Aku, Suamiku

Tatap Aku, Suamiku
S1. Bab 55


Baru saja akan beranjak pergi, Wira berbalik. “Nai, bolehkah aku memelukmu terakhir kalinya?” tanya Wira. Berdiri di hadapan Naina dengan wajah memelas.


Mendengar permintaan Wira, hati Naina terenyuh. Sontak berdiri dan memeluk Wira tanpa berpikir panjang, lupa dengan status mereka yang sudah bukan siapa-siapa lagi. Tangisan yang disembunyikannya sejak tadi, tumpah-ruah di pundak Wira. Menangis tersedu-sedu meluapkan perasaan yang disimpannya sejak bermenit-menit yang lalu.


“Sudah Nai, jangan menangis lagi,” bisik Wira, mengusap lembut punggung Naina. Hatinya lebih hancur lagi saat ini, saat mendengar suara tangis Naina yang begitu memilukan.


Naina yang tidak mau berhenti menangis, membuat Wira memutuskan mengantar Naina pulang. Tidak mungkin membiarkan Naina membawa mobil dalam kondisi terguncang seperti ini. Bagaimana pun hubungan mereka, Naina masih menjadi yang terpenting di dalam hidupnya.


“Aku akan mengantarmu pulang, Nai.” Wira berkata, sembari menggenggam tangan Naina. Dengan tangan tersisa meraih tas tangan dan map hitam dari atas meja.


Naina hanya menurut, tidak protes atau membantah seperti biasa. Kali ini dia mendengarkan semua ucapan Wira, tanpa menyela sedikit pun. Menikmati kebahagiaan semu yang sebentar lagi lenyap tersapu angin.


“Nanti aku akan meminta sopir kantor membawa mobilmu pulang, Nai,” lanjut Wira.


Sesampai di dalam mobil, tangis Naina masih enggan berhenti. “Jangan menangis, Nai. Atau tidak aku akan menyesal melepaskanmu,” ungkap Wira, meneguhkan hatinya. Berharap tidak goyah. Ini tidak mudah untuknya, tentu tidak mudah juga untuk Naina.


“Maafkan aku, Mas. Aku juga terpaksa mengambil keputusan ini. Semua ini juga berat untukku. Aku bisa memaafkan semua kebohonganmu selama dua tahun ini karena sudah menyembunyikan pernikahan sirimu. Aku bisa menerimamu kembali setelah menceraikan Stevi, tetapi aku tidak bisa menerima kenyataan kalau Nola putrimu.”


“Ini hal terberat untukku. Sampai kapan pun aku akan tetap menolak keberadaan Nola. Andai kita tetap bersama, Nola akan menjadi duri dalam rumah tangga kita. Mas tidak bisa mengabaikannya, dan dia berhak mendapatkan semua haknya. Aku akan menjadi orang yang paling bersalah saat mengambil hak seorang anak yang tidak berdosa.”


Naina menghela napas, sebelum melanjutkan kalimatnya.


“Mas akan sering berhubungan dengan Stevi karena Nola, dan aku tidak mau merasakan sakit berulang kali. Aku lebih memilih sakit sekali saat melepaskanmu.” Naina menjelaskan.


“Ya, aku mengerti Nai. Sudah jangan menangis lagi.” Wira mengusap lembut pucuk kepala Naina. Dengan spontan mengecup kening Naina seperti biasa. Melupakan sejenak perceraian mereka.


***


Dua hari pasca perceraiannya, tidak ada kontak sama sekali antara Wira dan Naina. Setelah lama mengurung diri, Naina memutuskan menemui mantan mertuanya. Setelah menguatkan hati dan menata ulang perasaannya yang berantakan setelah bercerai dengan Wira, wanita yang terlihat jauh lebih kurus itu melangkah keluar dari kediamannya.


“Mbok, tolong pakaianku di atas tempat tidur dimasukan ke dalam koper,” perintah Naina sebelum masuk ke dalam mobil mini cooper merahnya.


Terkejut, Mbok Sumi tersentak mendengar permintaan majikannya. Selama dua hari ini, Naina menghabiskan waktu di kamar dan tidak mau membagi cerita sedihnya. Hanya keluar untuk mengisi perut. Selebihnya, Naina hanya meratapi jalan hidupnya. Menyesali semua yang sudah terjadi.


“Ibu ... mau pergi?” tanya Mbok Sumi, memberanikan diri bertanya. Iba itu terlihat jelas dari sorot teduh wanita paruh baya dengan daster batiknya. Dia tahu jelas, saat ini Naina tidak memiliki siapa-siapa. Hanya Wira dan dirinya. Tidak ada keluarga dan kerabat, apalagi sahabat.


“Ya, Mbok. Mungkin setelah menemui kedua orang tua Mas Wira,” jelas Naina, tersenyum datar menatap Mbok Sumi yang terpaku di tengah pintu.


***


Naina memacu mobilnya dengan kecepatan sedang. Mobil merah itu melaju tanpa hambatan, jalanan memang tidak terlalu ramai setelah melewati jam-jam sibuk. Waktu menunjukan pukul 10.10 pagi, saat mobil Naina masuk ke pekarangan rumah mantan mertuanya.


Menyempatkan mampir ke sebuah toko kue, wanita dengan rambut tergerai itu menenteng sebuah kotak berisi roll cake dan lapis legit kesukaan papa dan mama Wira.


Melempar senyuman pada sopir keluarga Wira, saat kaki jenjangnya melangkah turun dari mobilnya.


“Pak, Bapak Ibu ada di rumah?” tanyanya pada sopir paruh baya yang sedang mengeringkan kap mobil dengan kanebo.


“Ada, Bu. Lengkap,” sahutnya, membungkuk. Dengan ibu jari mempersilakan sang menantu majikannya masuk ke dalam.


“Bapak ke mana saja? Jarang kelihatan belakangan ini,” celetuk Naina, menatap sopir mama Wira yang sudah ikut keluarga Wira hampir tujuh tahun lamanya. Menggantikan sopir yang lama, yang memilih pensiun dini.


“Saya pulang ke Solo, Bu. Ada saudara yang sakit,” sahutnya pelan.


“Baiklah, saya permisi ke dalam, Pak.” Naina melenggang menuju ke teras rumah.


Menekan bell, berdiri di depan pintu rumah dengan perasaan canggung. Naina sedikit lega saat pintu utama terbuka disambut senyum hangat Mama Wira.


“Ma,” ucap Naina, membungkuk dan mencium punggung tangan mantan mama mertuanya.


“Kamu datang Nai,” ucapnya, segera menarik Naina masuk ke dalam rumah. Begitu bahagia menyambut Naina. Walau perceraian sudah terjadi, baginya Naina tetap putrinya. Putri kesayangannya.


Sambil menggandeng mesra tangan Naina, mama Wira mengajak Naina berbincang di kamar.


Naina mengedarkan pandangannya, menyapu sekeliling rumah dengan mata sendunya. Rindunya membuncah saat ini. Dua hari tidak bertemu dengan Wira, dia ingin sekali bisa menatap pria itu. Apalagi dia sudah berencana meninggalkan Jakarta, tentu saja dia berharap bisa melihat pria yang dicintainya untuk terakhir kali.


“Kamu merindukan Wira?” tanya Mama Wira, tersenyum.


Naina menggeleng, berusaha berdusta. Meskipun sorot matanya tidak bisa berbohong. Kerinduan itu terlihat nyata.


“Wira keluar kota. Sejak kemarin Wira di Kalimantan,” jelas mama Wira. Seakan paham apa yang dipikirkan Naina.


Naina terkejut. Tidak biasanya Wira keluar kota. Kalaupun ada tugas keluar kota, Wira memilih mengirim perwakilannya.


“Wira bekerjasama dengan sepupunya, Bara. Mereka mendapatkan mega proyek di Kalimantan dan Bara tidak bisa pergi. Istrinya belum lama lahiran, dia tidak bisa meninggalkannya begitu saja. Jadi Bara meminta Wira mewakilinya.”


“Oh ya, Mbak Bella kapan melahirkan?” tanya Naina. Lama sekali tidak mendengar kabar sepupu Wira. Memang hubungan keluarga mereka tidak terlalu dekat. Hanya sesekali bertemu saat ada acara perusahaan atau acara keluarga.


“Ya, sepertinya sudah tujuh atau delapan bulan. Mama juga lupa,” sahut mama Wira.


Naina hanya mengangguk. Tidak terlalu banyak bicara. Dia masih belum sanggup menghadapi kenyataan kalau sebenarnya dia sudah bercerai dari Wira. Dia cukup terkejut dengan Wira, yang bisa bekerja seperti biasa seolah tidak terjadi apa-apa. Sedangkan dia, sampai tidak bisa bangun dari tidurnya, seharian menghabiskan waktu di kamar, meratapi perpisahannya dengan Wira.


***


Sore itu, setelah mengunjungi papa dan mama Wira, Naina pun bergegas pulang ke rumah. Begitu tiba di kediamannya, dia melihat dua tas sudah tersusun rapi di ruang tamu rumahnya. Mbok Sumi pun terlihat sudah bersiap.


“Mbok ... mau ke mana?” tanya Naina heran.


“Saya ... saya ikut Ibu saja. Tidak mau ditinggal di sini. Kalau Ibu pergi, saya ikut Ibu saja,” jelas Mbok Sumi, duduk di lantai, bergabung dengan kedua tas miliknya yang memang sengaja disiapkannya. Sejak diminta membereskan koper majikannya, Mbok Sumi terlihat bimbang. Tidak tahu harus berbuat apa.


“Jangan Mbok. Aku juga tidak tahu mau pergi ke mana. Aku tidak mau menyusahkan Mbok Sumi,” tolak Naina.


Mbok Sumi tersenyum. “Kalau begitu, Ibu ikut saya saja, pulang kampung. Ke Bandung, Bu.”


“Jangan Mbok, aku tidak mau menyusahkan Mbok Sumi. Kalau Mbok Sumi di sini, masih bisa bekerja. Mas Wira akan tetap mempekerjakan Mbok.” Naina menjelaskan.


“Tidak Bu. Kalau Ibu pergi, saya ikut.” Mbok Sumi bersikeras.


Lama Naina terlihat berpikir, sampai akhirnya membuka suara. “Di Bandung, ibu tinggal dengan siapa?” tanya Naina.


“Sendiri. Putriku sudah bekerja. Tinggal di luar kota, suamiku juga bekerja di luar kota. Rumah di Bandung tidak ada siapa-siapa,” jelas Mbok Sumi.


“Ibu ikut denganku saja,” bujuk Mbok Sumi.


Naina menjatuhkan tubuhnya di sofa ruang tamu, terlihat mempertimbangkan ide Mbok Sumi. Selama ini, memang hanya Mbok Sumi yang terdekat dengannya. Tempatnya berbagi dan berkeluh kesah. Bahkan Mbok Sumi tahu semua masalah yang menghantam rumah tangganya dan Wira.


“Baiklah, tetapi aku hanya sementara. Nanti, kalau aku sudah mendapatkan pekerjaan, aku akan tinggal sendiri. Tidak mau menyusahkan Ibu.” Naina menyetujui. Saat ini dia memang butuh tempat bernaung, sembari menata kembali hidupnya.


Mbok Sumi mengangguk dan tersenyum.


***


Malam itu, Naina dan Mbok Sumi meninggalkan rumah yang selama lima tahun ini mereka tempati. Tidak ada apa pun yang dibawa Naina, selain beberapa potong pakaian dan uang sepuluh juta yang ditariknya dari ATM. Sertifikat rumah, perhiasan, buku tabungan dan ATM tidak dibawa sama sekali. Bahkan dia tidak membawa ponselnya.


Sebuah taksi biru sudah menunggu mereka di tengah kegelapan. Dengan menggandeng lengan Mbok Sumi, Naina pergi meninggalkan semua kenangannya bersama Wira. Tanpa berpamitan dengan Wira atau pun orang tua Wira.


Hanya meninggalkan sepucuk surat di atas nakas kamarnya. Naina yakin, cepat lambat Wira akan mengetahui kepergiaannya, setidaknya dia tidak terlalu merasa bersalah karena telah pergi tanpa pesan.


“Bu, masuk dulu ke dalam taksi. Saya masih harus memastikan tidak ada yang tertinggal,” ucap Mbok Sumi. Wanita paruh baya itu kembali masuk ke dalam rumah.


Sejak tadi berusaha mencari kesempatan, sampai akhirnya Mbok Sumi memiliki peluang. Tentu saja tidak disia-siakan. Meletakan secarik kertas, yang ditorehnya dengan tinta hitam. Di bagian atas kertas, diletakannya sebuah test pack dengan garis dua. Surat yang ditujukannya untuk Wira.


***


TBC