
"Bu, bagaimana dengan Bapak?" Rima bertanya. Wajah pengasuh itu tampak sedih, terbayang akan berpisah dengan Wina yang diasuhnya sejak kecil.
Naina menggeleng. "Aku ingin fokus dengan kehamilanku dulu dan aku pikir ... di kampung akan lebih nyaman untukku."
"Lalu ... aku dipecat, Bu?" tanya Rima dengan polosnya.
Hanya sebuah gelengan, Naina tidak menjawab.
"Jam berapa Ibu berangkat?" Netra gadis muda itu memanas, tak lama dua cairan bening luruh membasahi pipi dan menghiasi paras cantiknya.
"Sebentar lagi." Naina tersenyum. Ibu hamil itu menggigit bibir bawahnya saat melihat Rima tidak menjawab, tetapi segera berlari dan menghambur memeluk Wina yang sedang bermain dengan boneka tak jauh dari tempat mereka berdiri.
"Wina ...." Rima bersimpuh dan memeluk gadis kecil yang tampak cantik dengan rambut dikepang dua.
"Mbak ...." Wina dengan wajah datarnya tersenyum heran saat merasakan dekapan erat Rima. Balita itu tidak paham dengan keharuan yang kini tengah dirasakan pengasuhnya.
"Napa nangis?" tanya Wina dengan bahasa khas anak-anak yang belum sempurna.
Rima tidak menjawab. Sebaliknya, gadis itu mengeratkan pelukannya dan menangis sejadi-jadinya.
Ia bersama Wina sejak gadis kecil itu masih belum bisa berjalan dengan lancar. Bahkan, ia yang menuntun Wina saat belajar melangkah pertama kali. Tangan mungil Wina yang menggenggam erat jemarinya masih bisa dirasakannya. Tangis kencang Wina saat terjatuh dan kesakitan masih terngiang di telinganya. Ia tidak akan bisa lupa semua hal dan kenangannya bersama Wina.
Melewati banyak purnama dengan banyak kisahnya bersama Wina Pelangie membuat Rima berat untuk berpisah. Ia paham sekali, suatu saat memang harus berpisah dengan anak asuhnya, tetapi ia tidak menyangka akan secepat ini. Ia belum menyiapkan hati, belum siap kehilangan.
"Win, jangan lupakan Mbak, ya." Rima berbisik lirih di telinga Wina. Kedua tangannya masih memeluk erat, air matanya pun mengalir deras.
Perpisahan memang berat. Wina adalah anak pertama yang diasuhnya. Ikatannya dengan Wina sudah terbentuk dengan sendirinya. Ketika Naina merantau keluar negeri, bayi Wina tidur dengannya, belajar banyak hal bersamanya. Sering kali anak kecil itu memanggilnya mama saat belum mengerti apa-apa. Wina selalu mencarinya setiap merasa ketakutan, menangis, bahkan tertawa.
Naina terisak menatap punggung Rima yang bergetar menahan kesedihan. Ia tahu, pengasuh putrinya sedang menikmati rasa kehilangan yang mungkin akan terjadi beberapa menit ke depan. Rasa yang sama saat ia berangkat menuju ke Austria beberapa tahun lalu dan terpaksa harus berpisah dengan putrinya.
"Bu, apa aku boleh menyimpan foto Wina untuk kenang-kenangan?" tanya Rima, berbalik dan menatap sedih ke arah Naina.
Rima berharap masih bisa menyimpan kebersamaannya di detik terakhirnya bersama Wina di ponsel. Setidaknya, saat rindu menyerangnya nanti, ia masih bisa menatap dan memandang foto Wina.
"Silakan." Naina mengangguk.
"Terima kasih, Bu." Rima mengusap air matanya dan mencoba tersenyum.
Tak lama, ia mengeluarkan ponselnya. Tangis gadis muda itu kian kencang saat tangan mungil Wina mengusap air matanya. "Jangan nangis, Mbak," celoteh Wina ikut bersedih. Gadis kecil dengan gaun merah muda itu belum paham akan perpisahannya dengan sang pengasuh yang akan terjadi beberapa menit lagi.
"Rim, aku titip Wina. Aku ke kamar untuk menyiapkan pakaian dan perlengkapan Wina." Naina berusaha menguatkan hati. Ia hampir tidak sanggup melihat kesedihan Rima. Air mata gadis itu membuatnya tidak tega dan hampir luluh.
"Win, jangan lupakan Mbak Rima, ya." Rima mengusap lembut pucuk kepala Wina. Pandangannya mengabur, air mata terus-menerus turun dan tak bisa dibendung. Hati dan perasaan pengasuh itu kacau.
Saat ini, ada kehilangan besar yang dirasakannya. Lebih dari sekedar materi, rasa sayangnya pada Wina dari hati dan ia benar- benar terpukul akan kenyataan yang menghantamnya tiba-tiba.
"Jadi anak pintar ya, Nak. Suatu saat ... kalau berjodoh, diberi umur panjang ... kita bertemu lagi, Nak." Rima berkata lirih sembari mengambil foto berdua dengan Wina.
***
Naina baru saja turun dari mobil yang dikemudikan sopir pribadinya. Menggandeng tangan Wina, ibu hamil besar itu juga menenteng sebuah tas berisi pakaian seadanya. Ia sengaja tidak membawa banyak barang karena takut kerepotan di perjalanan.
Sebuah tas mungil menggantung di pundak, membelah perus besarnya berisi ponsel dan dompet.
"Terima kasih, Pak." Naina melambaikan tangan sebelum masuk ke Stasiun Gambir dan ikut berdesakan dengan penumpang kereta lainnya.
Pak sopir yang tidak paham dengan situasi yang terjadi hanya bisa melambaikan tangan dan mengantarkan nyonya majikannya dengan senyuman ramah seperti biasa. Pria paruh baya itu masih sempat mengusap pucuk kepala Wina. Gadis itu terlihat bahagia, memeluk boneka panda kecilnya. Wina belum mengerti dengan perpisahan, ia mengira sang bunda sedang mengajaknya jalan-jalan.
Setelah melewati berbagai proses di stasiun, tak lama Naina dan Wina sudah duduk nyaman di salah satu kursi, menumpang Kereta Api Argo Dwipangga tujuan Stasiun Yogyakarta atau juga dikenal sebagai Stasiun Tugu. Ibu dan anak itu diperkirakan akan tiba di Yogyakarta sore nanti.
"Duduk yang manis, Sayang. Jangan nakal." Naina berpesan sembari tersenyum pada Wina. Ia sedih melihat putrinya yang harus kembali berpisah dengan sang ayah. Namun, ia tidak bisa berbuat banyak.
Untuk saat ini, pergi dan ikhlas adalah jalan terbaik untuknya. Setidaknya, ia tidak perlu hidup dibawah bayang-bayang perceraian yang dijanjikan Wira setelah ia melahirkan nanti. Ia tidak perlu kecewa dengan wanita-wanita suaminya yang memang lebih pantas mendampingi seorang Pratama Wirayudha dibandingkan dirinya yang bukan siapa-siapa.
"Kamu pasti bisa, Nai. Kamu pasti kuat." Naina mengusap perut besarnya dan tersenyum untuk menyemangati dirinya sendiri.
***
Ponsel Wira berkedip dan bergetar hebat di meja ruang kerja yang sepi, tak berpenghuni. Pemiliknya sedang rapat penting dengan beberapa klien perusahaan dan tak sengaja meninggalkan gawai mahalnya begitu saja, tergeletak di atas meja.
Benda pipih itu menerima panggilan silih berganti dari Rima dan sopir pribadi yang dipekerjakan untuk mengantar anak dan istrinya di rumah. Wira baru kembali saat jam makan siang dan mendapati ada puluhan panggilan tak terjawab berikut pesan yang menanti.
"Rima?" Wira mengerutkan dahi. "Ada apa?" ucap Wira sambil membuka pesan-pesan yang dikirimkan pengasuh putrinya.
Deg--
Jantung Wira berhenti berdetak, dunia terasa runtuh detik itu juga saat membaca pesan Rima. Pria tampan itu membacanya berulang-ulang, mengejanya seakan takut salah. Hubungannya dengan Naina baik-baik saja, bahkan masih berpelukan sepanjang malam. Namun, ia mendapat kabar kalau istrinya kabur dan membawa kedua anaknya tanpa permisi.
Maaf, Pak. Ibu dan Wina pulang kampung. Tadi diantar sopir ke stasiun.
***