Tatap Aku, Suamiku

Tatap Aku, Suamiku
S3. Tas 34


“Putri Ayah jalan-jalan?” Wira menggendong Wina dan berjalan menghampiri Naina. Ia tahu kalau saat ini Naina masih terkejut dengan kehadirannya.


“Nai ....” Wira menyapa.


“Kalian baik-baik saja?” Wira tersenyum dan mengusap perut buncit istrinya.


“Ya, Mas.” Setelah berhasil menguasai diri, Naina menjawab. Ibu hamil itu masih tidak percaya, Wira benar-benar nyata.


“Ayo kita jalan. William sudah memesan hotel. Aku tahu kalian pasti kelelahan,” ujar Wira. Tanpa ragu, pria yang masih mengenakan setelan kerja itu menggenggam tangan Naina dengan mesra.


Wira tidak mau berdebat dan banyak bertanya. Ada waktu yang tepat untuk bicara dan saling terbuka, tetapi bukan sekarang. Pria itu tahu, Naina dan Wina sedang kecapaian dan mungkin juga kelaparan setelah hampir tujuh jam duduk di dalam kereta.


Naina menurut dan tidak protes. Ibu hamil dengan perut besar itu hanya mengikuti langkah kaki suaminya. Ia juga tidak bertanya, menerima nasib dan jalan yang sudah diatur Tuhan untuknya.


“Wina duduk di belakang ya, Nak.” Wira menurunkan Wina di kursi belakang.


Selain menyiapkan hotel dan membuat janji dengan dokter kandungan, William juga sudah menyiapkan kendaraan untuk Wira. Sebuah sedan dengan logo bintang tiga keluaran terbaru sudah disiapkan William untuk atasannya.


“Ayo masuk, Nai.” Wira membuka pintu bagian depan.


Rencananya, Wira akan membawa mobil sendiri selama di Yogyakarta. Sudah sampai di kota Pelajar, Wira akan membawa istri dan anaknya jalan-jalan dan mengunjungi makam kedua orang tua Naina sebelum bertolak ke Jakarta.


“Hati-hati, Sayang,” Wira membantu Naina masuk ke dalam mobil. Kondisi Naina yang hamil besar membuat ibu hamil itu tidak bisa bergerak leluasa.


“Terima kasih, Mas.” Naina menyunggingkan senyuman saat Wira membungkuk dan membantunya mengenakan sabuk pengaman.


“Apa ini ... nyaman?” tanya Wira, menarik sabuk yang melintasi perut besar Naina.


“Hmm.” Naina mengangguk.


Klik.


Sabuk pengaman sudah terpasang sempurna. Wira yang masih dalam posisi membungkuk dan sebagian tubuhnya masuk ke dalam mobil, menyempatkan mencium bibir istrinya sekilas. Pria itu mencuri kesempatan di saat Naina lengah.


“Aku mencintaimu, Nai. Kalau merindukan orang tuamu, cukup katakan padaku. Aku pasti akan mengabulkannya. Jangan lakukan ini lagi. Aku khawatir padamu dan Wina.” Wira tersenyum hangat. Tidak ada kemarahan di wajah Wira.


“Ya, Mas.”


“Duduk yang manis. Kita ke hotel dan kalian bisa beristirahat dengan nyaman,” ucap Wira sembari menepuk pelan pipi Naina.


“Ayah akan mengantar kalian jalan-jalan sepuasnya.”


“Hore!!” Wina berteriak kegirangan dari kursi belakang, sontak membuat Naina berbalik dan tersenyum melihat ekspresi putrinya.


***


Wina terlelap di ranjang hotel setelah mandi dan berganti pakaian. Gadis kecil itu kelelahan, suara dengkurannya terdengar jelas.


“Wina sudah tidur?” tanya Wira, melirik penunjuk waktu berbentuk bulat yang tergantung di dinding kamar. Waktu sudah menunjukkan pukul 17.45, suasana di luar kamar mulai gelap.


“Sudah, Mas.” Naina masih mengusap punggung putrinya yang kini terlelap.


“Kamu belum mau mandi?” tanya Wira. Pria itu baru saja keluar dari kamar mandi, rambutnya masih basah dengan handuk menggantung di pundaknya.


“Sebentar lagi, Mas. Aku takut Wina terbangun dan menangis.”


Terdengar helaan napas panjang, Wira berjalan mendekat dan berjongkok di depan Naina yang sedang duduk di sisi ranjang. Pria itu mengusap perut Naina dan tiba-tiba menciumnya.


“Kenapa pergi? Apa aku menyakitimu lagi?” tanya Wira.


Naina menggeleng.


“Bohong.” Wira tersenyum. “Kamu banyak berubah, Nai.” Wira tiba-tiba memeluk erat pinggang Naina. Pria itu bersimpuh dan membenamkan wajahnya di perut besar istrinya.


“Hidup menuntutku untuk berubah; Mas,” ujar Naina pelan. Ibu hamil itu sangat hafal dengan kebiasaan Wira. Sejak dulu sampai sekarang, Wira selalu manja padanya.


Naina diam.


“Nai ....”


“Hmm.” Naina bergumam pelan. Jemari tangannya mengusap pucuk kepala Wira perlahan.


“Apa kita bisa kembali seperti dulu?” tanya Wira.


“Nai, tidak bisakah kita seperti dulu lagi?”


Naina menghela napas. “Mas, gelas itu sudah pecah ... dan sekarang kita sedang merekatkannya kembali. Pasti sudah tidak bisa seperti dulu lagi.” Tatapan Naina menerawang jauh ke luar jendela kamar, jemari lentiknya tetap mengusap pucuk kepala suaminya.


Wira diam.


“Mas, andaikan perceraian kita karena aku yang dijebak, aku yang dituduh berselingkuh. Apa kamu akan tetap menunggu dan mencariku seperti yang kamu lakukan selama ini?”


Wira bungkam.


“Apa yang akan kamu lakukan?” tanya Naina.


“Mungkin aku akan menerima salah satu gadis pilihan Mama.”


“Andai saat itu kamu tahu kalau aku hamil ... apa Mas akan mengejarku seperti sekarang?”


“Aku akan tetap mencarimu, tetapi demi anakku.” Wira menjawab dengan penuh keyakinan.


“Bukankah berarti ... kamu juga berubah, Mas.” Naina menyunggingkan senyuman.


“Tapi ... bisa-bisanya kamu mencintai pria lain. Aku tidak rela, Nai. Apa lagi ... kamu tahu jelas dia kakakku. Orang yang sudah menghancurkan rumah tangga kita.”


“Andai keadaannya seperti tadi. Aku berselingkuh ... apa setelah kita berpisah, Mas berani menjamin kalau tidak berpindah ke lain hati? Apa Mas yakin tidak mungkin jatuh cinta dengan gadis lain?”


Wira diam.


“Saat kita berpisah, aku berhak mencintai siapa pun. Bahkan aku berhak menikah dengan pria lain. Mas tidak bisa menyalahkanku. Kita tidak ada hubungan apa-apa lagi selain kita adalah orang tua Wina.”


“Tapi aku memutuskan untuk tidak menikah lagi untuk menghargaimu.”


“Maafkan aku, Nai. Apa kita masih bisa memulainya lagi?”


Naina tersenyum. “Sejak aku memutuskan untuk menikah lagi denganmu, aku sudah memulainya, Mas. Mulai mengembalikan lagi perasaan cintaku padamu yang sempat hilang.”


Wira tersentak. Pria itu buru-buru bangun dan berdiri untuk menatap Naina lebih jelas.


“Kamu serius?”


Naina mengangguk.


“Lalu kenapa pergi? Kenapa meninggalkanku diam-diam?” tanya Wira lagi.


Naina menghela napas. “Aku sempat kecewa padamu, Mas. Kehidupanmu sudah jauh berbeda dengan yang dulu. Aku sudah tidak sanggup mengejarnya. Ada banyak wanita di sekitarmu. Mereka berkelas semua dan pantas bersanding denganmu. Sangat jauh dibandingkan diriku.”


“Aku hanya mencintaimu, Nai.”


“Tapi ... kamu menjanjikan perceraian padaku setelah anak kita lahir, Mas.” Naina menunduk setelah mengeluarkan isi hatinya.


Deg— Wira tersentak. Memori beberapa bulan lalu berputar lagi.


Berjalan mendekat dan memeluk erat Naina, Wira berbisik. “Maafkan aku, Nai. Aku sempat kecewa padamu waktu itu. Aku tidak sungguh-sungguh ingin menceraikanmu.”


***