Tatap Aku, Suamiku

Tatap Aku, Suamiku
S2 Bunda dari Anakku 68


Aku mungkin mencintaimu, Mas. Aku pikir ... yang aku rasakan sekarang padamu ini disebut cinta."


Deg--


Untaian kata Naina membuat Dennis membeku dan hampir tak percaya. Bagai dihantam godam, hatinya remuk redam. Saat Naina membalas perasaannya, di saat itu sakitnya semakin menjadi. Akan lebih baik untuknya, Naina membenci, mengusir, atau mendendam dibandingkan Naina mencintainya.


"Ya Tuhan, ini lebih menyakitkan dibandingkan apa pun," desah Dennis dalam hati.


Matanya memanas, pertahanan diri Dennis hampir runtuh saat ia bisa merasakan tangisan Naina yang tumpah di punggungnya. Ia harus mengepalkan tangannya, tidak berani menyentuh Naina sama sekali. Karena pada saat cinta itu datang menyerang dan ia tidak memiliki hak untuk memiliki, hanya sebuah sentuhan kulit saja terasa menyakitkan bukan menyenangkan.


"Bantu aku ... untuk mencintai Mas Wira lagi. Pergilah sejauh mungkin, Mas. Jangan pernah kembali lagi. Andaikan ... suatu saat kamu mendengarkan kematianku pun, tetap bersembunyilah dariku."


"Nai ...." Suara Dennis bergetar. Ingin rasanya berbalik dan memeluk tubuh lemah Naina seperti biasanya. Namun, Dennis tidak bisa melakukannya. Naina sudah memutuskan, artinya Naina sudah tidak menginginkan pelukannya. Kalau ia memaksa, itu hanya akan menyakiti Naina dan dirinya sendiri.


"Aku mohon, Mas ...."


"Ya, Nai. Aku ... akan menghilang untukmu," jawab Dennis berusaha menahan perasaannya.


Lama keduanya bungkam dalam posisi yang sama. Naina hanya bisa menangis dan terus menangis. Dennis hanya mampu memandang jauh ke depan, menikmati setiap tetes air mata yang membasahi kaos yang menutupi punggung tanpa bisa melakukan apa pun. Ia tahu, kalau memang yang dikatakan Naina tentang cinta itu adalah benar maka sakit adalah jawaban. Sakit yang sekarang menggerogoti hatinya dan juga sedang menyerang perasaan Naina.


"Mas, aku harus kembali. Datanglah ke pernikahanku dan Mas Wira. Aku ingin melihatmu terakhir kalinya," pinta Naina di sela tangisannya. Mencoba berbuat tega, supaya Dennis bisa melupakan dirinya saat melihat kenyataan yang menyakitkan di depan mata.


Air matanya tumpah, ia sudah tidak sanggup berada lebih lama bersama dengan Dennis. Kalau sebelumnya ia bisa tegar saat memendam perasaannya sendiri, sekarang ini ia jadi lemah ketika bisa memeluk pria itu dengan leluasa dan mencoba jujur pada dirinya sendiri, pada Dennis dan pada dunia.


"Ya ... aku akan datang. Kehadiranku adalah hadiah untuk pernikahanmu dan Wira. Aku ... aku tidak memiliki doa apapun padamu, hanya saja aku mohon berhentilah menangis. Setelah ini harus tersenyum dan hiduplah bahagia. Wira sangat mencintaimu, dia pasti akan membahagiakanmu." Dennis menggigit bibirnya. Melepaskan Naina, tidak semudah bayangannya.


Naina melepas pelukannya, mengusap kasar air matanya yang tumpah tak terbendung. Ia berusaha untuk terlihat biasa. "Mas, aku harus pergi. Aku permisi dulu ...." Naina baru saja berbalik dan melangkah, tetapi Dennis menghentikannya.


"Tunggu, Nai," pinta Dennis berbalik, menatap punggung Naina.


"Tolong katakan sekali lagi, aku ingin mendengarnya lagi. Ini permintaan terakhirku. Mohon katakan sekali lagi." Dennis diam-diam mengeluarkan ponselnya dari saku celana.


Deg-- Langkah Naina terhenti, tampak ia berpikir sesaat.


"Nai, aku mohon ...." Suara Dennis terdengar memelas, menatap punggung wanita yang dicintainya.


"Nai ...."


"Aku mencintaimu, Mas. Aku mencintaimu, Dennis Wijaya. Aku mencintaimu, Dennis Joseph." Naina berlari pergi, memeluk tasnya dengan wajah berhias air mata. Tangisnya pecah, Naina pergi menjauh tanpa menoleh lagi ke belakang. Ia sudah tidak sanggup berada di tempat itu lebih lama. Ia meninggalkan Dennis tepat setelah selesai mengulang kembali pernyataan cintanya.


"Aku juga mencintaimu, Naina Pelangie," sahut Dennis pelan, menatap sedih pada Naina yang berlari menjauh dan menghilang di balik keramaian jalan raya.


"Aku mencintaimu ... kemarin, hari ini dan esok. Kamu cinta pertamaku dan aku pastikan akan jadi cinta terakhirku." Air mata Dennis jatuh setelah berusaha menjadi tegar sejak tadi.


Terdengar rekaman suara Naina yang menyatakan cintanya. Dennis sengaja menyimpannya di ponsel. Setidaknya, suara Naina akan menjadi penyemangat raganya yang kosong, jiwanya terbang tepat saat mengetahui Naina mencintainya. Dennis Wijaya hanya seonggok tubuh tak bertuan. Semuanya terbawa Naina, tak bersisa.


"Aku mencintaimu, Mas. Aku mencintaimu, Dennis Wijaya. Aku mencintaimu, Dennis Joseph."


"Aku mencintaimu, Mas. Aku mencintaimu, Dennis Wijaya. Aku mencintaimu, Dennis Joseph."


"Nai ... mulai saat ini, aku hanya akan hidup dengan Angie dan suaramu. Pernyataan cintamu dan Angie sudah cukup menjadi alasanku untuk tetap bernapas di dunia ini. Aku hanya akan menyimpan kalian berdua di dalam hatiku. Tidak akan ada wanita mana pun." Tubuh Dennis luruh, jatuh di tanah berumput. Tangisnya pecah, pertahanan dirinya hancur. Didengarnya ulang pernyataan cinta Naina sampai bosan, sampai air matanya menolak untuk keluar.


Saat ia tidak tahu apa-apa, ia bisa tegar dan kuat mencintai Naina dalam diam. Namun, saat mendengar isi hati Naina, hidupnya benar-benar hancur.


"Kenapa harus mencintaiku, Nai. Ini lebih menyakitkan dibandingkan saat aku tahu kamu membenciku. Ini lebih menyedihkan di saat kamu mengusirku dari dalam hidupmu. Ini sakit, Nai." Dennis meremas dadanya. Kalau tidak ada Angie di dalam hidupnya, ia lebih memilih mengakhiri hidup saja. Di saat cintanya berbalas, ia harus merelakan cinta itu pergi. Ia pemilik hati Naina, tetapi ia harus melepaskan Naina untuk orang lain dengan sukarela.


"Mencintaimu adalah hukuman Tuhan untukku, Nai. Dan mendapatkan cintamu adalah karma yang harus aku tanggung seumur hidupku. Mungkin ini adalah jawaban dari semua dosa masa laluku. Tuhan menghukumku dengan cara paling kejam dan menyakitkan, bahkan kematian tidak seberat ini. Tuhan menghukumku dengan mengirim wanita yang kucintai untuk mengiris pedih di hatiku." Dennis mengusap dadanya yang sesak. Nyeri dan sakit itu menari di hatinya setiap ia memutar ulang suara Naina dari ponselnya.


"Aku mencintaimu dan sekarang aku tahu ... kalau kamu juga mencintaiku. Hanya saja, cinta kita terhalang takdir. Aku melepasmu, karena aku tahu Wira yang ditakdirkan Tuhan untukmu, bukan aku. Aku harap kamu bahagia dengan pilihanmu, Naina Pelangi. Dennis berkata lirih.


***


"Selamat siang, Pak Aryya Perkasa Hutomo Putra." Wira menyambut tamu pentingnya siang itu di ruang kerjanya.


Seorang pria mapan dengan kesuksesan yang tidak diragukan lagi. Tampan? Tentu saja. Salah satu putra Komisaris Utama sekaligus Owner perusahaan produsen semen terkemuka di Indonesia. Saat ini, pria yang biasa disapa Erka itu menjabat sebagai Direktur Utama PT Aryyacement Hutomo Putra. Selain memproduksi semen, perusahaan Aryyacement juga memproduksi beton siap pakai serta mengelola tambang agregat dan tras dengan belasan pabrik tersebar di kota-kota Indonesia. Salah satu produsen semen yang sudah berdiri sejak tahun 1986 dengan belasan anak perusahaan yang mulai berkembang pesat di akhir tahun 90an.


"Bagaimana kabarmu, Bro?" Pria berusia sekitar 30an tahun itu menjabat tangan Wira dan tersenyum.


"Aku? Seperti yang terlihat." Wira memeluk Erka, yang tak lain sahabatnya itu dan mempersilakannya duduk.


"Bagaimana?" tanya Wira berusaha bersikap santai. Baru saja ia akan membahas pembicaraan bisnis terkait pendirian klab di daerah Selatan Jakarta, tiba-tiba ponsel di atas meja kerjanya bergetar.


"Tunggu sebentar," ucap Wira saat melihat nama Naina muncul di layar ponselnya.


"Ya, Nai ... ada apa?" tanya Wira, tersenyum. Jarang sekali Naina menghubunginya. Kalau tidak ada urusan penting, mantan istrinya itu tidak akan mencarinya.


"Mas, bisa kita bertemu? Ada yang ingin aku bicarakan padamu."


"Aku masih di kantor, Nai. Em ...." Wira melirik jam di ponselnya. Waktu menunjukan pukul 14.05 menit.


"Aku akan ke kantormu sekarang, Mas," putus Naina. Setelah beberapa minggu ini berpikir, Naina memberanikan diri membuat keputusan. Ia memilih untuk kembali pada Wira demi Wina dan bayi di kandungannya. Wira bukanlah sosok baru, Wira mantan suaminya, ayah dari anaknya. Ia hanya perlu berjuang untuk mencintai Wira lagi, menyerahkan seluruh hidup dan hatinya pada Pratama Wirayudha.


Apa lagi, cinta Wira begitu besar untuknya, sungguh ia jadi perempuan tidak tahu diri andai masih egois dan keras kepala. Kalau rasa cintanya pada Wira sudah menguap, ia masih bisa memulainya dengan logika yang tersisa di dalam dirinya. Tuhan menggariskan kisahnya untuk bersama Wira, dan ia hanya menjalankan apa yang tertulis. Kehamilannya adalah jawaban kalau Tuhan menginginkannya untuk bersama Wira, bukan pria mana pun.


***


Tbc


Terima kasih.