
"Mas ...." Naina sudah tidak sabar, menyapa tergesa-gesa saat nada sambung berganti dehaman pelan. Ia mengenali suara batuk kecil di seberang telepon.
"Nai, kamu di mana? Aku mengkhawatirkanmu." Wira menyerobot bicara.
"Maaf, Mas. Aku ...." Lidah Naina kelu, jawabannya pasti akan membuat urusan semakin panjang.
"Kamu baik-baik saja, Nai?"
"Ya, Mas. Maaf kalau aku membuat Mas khawa ...." Kalimat Naina terpotong, Wira mengalihkan pembicaraan.
"Aku khawatir. Tapi ... syukurlah kalau kamu baik-baik saja, Nai."
"Maafkan aku, Mas." Suara Naina terdengar pelan. Bagai cicit anak burung yang baru belajar berkicau.
"Kamu di mana semalam? Kenapa tidak pulang?" Wira melempar banyak pertanyaan.
Naina tergagap. Otaknya sedang berpikir cepat, mencari alasan yang masuk akal. Ia tidak mau Wira menaruh curiga dan berpikiran buruk tentangnya. Status janda tidak menguntungkannya. Bersikap sebaik apa pun, tetap saja ada yang memandang sebelah mata.
"A-aku menginap di rumah teman kantor, Mas." Naina berdusta.
"Kami mengobrol sampai lupa waktu ... dan aku putuskan menginap saja. Ponselku kehabisan baterai ... em ... aku lupa mengisinya," lanjut Naina.
"Syukurlah. Aku mengkhawatirkanmu sepanjang malam. Aku takut terjadi sesuatu padamu, Nai." Wira berucap pelan. Tersirat nada kekhawatiran di dalam kalimat Wira.
Kata-kata Wira mengingatkan ibu muda itu kembali. Bayangan mimpi buruk itu melintas di pikirannya.
"Apa semalam memang tidak terjadi apa-apa. Tapi kenapa aku merasa telah terjadi sesuatu?" Naina berkata dalam hati.
"Apa aku sudah terlalu lama ... sampai tidak bisa mengenali rasanya lagi." Naina membuang jauh-jauh pikiran kotornya, menghempaskan segala kebimbangan dan ketakutan yang belum teruji kebenarannya.
"Nai ... Nai ... kamu masih di sana?" Suara Wira terdengar memecah lamunan Naina.
"Y-ya, Mas." Naina terbata.
"Aku pikir kamu ketiduran." Wira mencoba mencairkan suasana.
"Ti-tidak, Mas."
"Baiklah, kamu istirahat saja. Aku harus ke kantor sebentar lagi. Kamu tidak ke kantor hari ini, Nai?" tanya Wira.
"Sepertinya ... tidak, Mas. Aku sedang tidak sehat."
"Ok, nanti pulang kantor ... aku mampir ke tempatmu, Nai."
Naina baru saja akan mematikan sambungan teleponnya saat suara Wira menyela.
"Nai ...."
"Ya, Mas."
"Em ... minggu ini ... bagaimana kalau kita ajak Wina jalan-jalan ke kebun binatang. Apa kamu setuju?" tanya Wira, menunggu jawaban.
Naina berpikir, bola matanya berputar. "Baik, Mas. Aku tidak masalah," sahut Naina akhirnya menyetujui.
*"Oke. Thanks*, Nai. Love you." Wira memberanikan diri mengumbar kata-kata cinta. Belum mau putus asa, ia masih berharap akan mendapat balasan kata cinta. Sesuatu yang dirindukannya tiga tahun ini.
***
"Pak, maaf ... kalau boleh tahu ... kemarin malam ... em setelah acara ... aku pulang dengan siapa, ya?" tanya Naina mencoba mencari tahu.
"Maksudmu apa, Angel?" Pieter mengerutkan dahi.
"Aku ... aku ...." Naina kembali tidak sanggup menyelesaikan keingintahuannya.
"Kamu berpamitan ke toilet, setelah itu kamu tidak kembali. Aku pikir ... kamu sudah pulang duluan." Pieter menjelaskan.
Kedua netra Pieter terlihat meneliti wanita yang berdiri di seberang meja kerjanya. Beberapa detik ia tertegun.
"Apa terjadi sesuatu semalam?" tanya Pieter, meneliti.
"Ti-tidak, Pak." Naina terbata.
"Aku yakin telah terjadi sesuatu. Kalau tidak ... mana mungkin kamu melempar pertanyaan aneh ini padaku," todong Pieter sambil memainkan penanya.
"Tidak, Pak."
"Jangan katakan kalau kamu sakit, Angel ." tuding Pieter.
"Ti-tidak Pak. Aku tidak sakit." Naina bungkam, tidak mungkin membagi aibnya pada orang lain. Terdampar di hotel dalam keadaan b'ugil tanpa kejelasan bukanlah sesuatu yang membanggakan. Justru ini sangat memalukan bagi Naina. Tidak terbayang andaikan yang ditakutkannya menjadi kenyataan dan dia hamil.
Tanda peringatan di dalam otak Naina sedang berbunyi. Sejak kemarin, ia melupakan satu hal ini. Andai malam itu terjadi sesuatu, bisa saja ia hamil. Dan mirisnya tanpa tahu siapa yang menghamilinya.
"Mudah-mudahan ... tidak. Ini hanya mimpi buruk. Saat mengerjap ... mimpi ini akan hilang," cicit Naina pelan.
***
Akhir pekan pun tiba. Seperti janji sebelumnya, mobil Wira sudah terparkir di kediaman Naina sebelum matahari mendesak keluar dari peraduannya. Langit masih remang-remang, dinginnya pagi menusuk tulang kala Wira turun dari kereta besi dan mengeratkan jaket kulitnya.
Ia berencana membawa putrinya mengunjungi kebun binatang di Bogor. Dan untuk menghindari kemacetan, mereka harus berangkat sepagi mungkin.
"Pak ...." Rima menyapa dan mempersilakan. Ia tidak menyangka, dalang di balik bel pintu yang bernyanyi sepagi ini adalah Wira.
"Ibu sudah bangun?" tanya Wira, mengantongi kunci mobilnya.
"Sudah, Pak. Ibu masih di kamar Wina." Rima menjelaskan.
"Baik ...." Wira menyusul masuk ke kamar yang dimaksud.
Hati pria itu terusik, berselimut keteduhan dan ketenangan sesaat. Sekelebat bayangan masa lalu muncul tanpa permisi, saat pintu kamar putrinya terkembang.
Naina dengan gaun tidur sederhana, berbaring dan menggenggam tangan mungil putrinya. Keduanya berbagi tempat tidur.
"Nai ...."
Wanita 25 tahun itu tersentak, buru-buru merapikan gaun tidur pendeknya sebelum bangkit dari posisi tidur. "Mas ...." Naina mengernyit. Ia sudah tidak heran lagi dengan kehadiran Wira yang tiba-tiba. Hampir tiap hari pria itu datang mengunjungi mereka. Wira hanya pulang ke kediamannya untuk tidur malam, selebihnya Wira menghabiskan waktu di tempatnya.
"Bukannya kita ada janji untuk mengajak Wina ke kebun binatang hari ini. Kita harus berangkat pagi-pagi sekali, Nai." Wira menjelaskan. Terlihat ia berjalan mendekat dan menghempaskan tubuhnya di sisi ranjang kosong.
"Mau berangkat sekarang, Mas?" tanya Naina.
Wira mengangguk. Tubuh kekar itu membungkuk, membelai wajah tertidur Wina dan melabuhkan kecupan dalam di pelipis gadis mungilnya.
"Aku bersiap dulu. Sambil menunggu, Mas mau aku buatkan kopi?" tawar Naina. Turun dari tempat tidur, Naina merapikan rambut berantakannya.
"Boleh."
"Tunggu sebentar, Mas." Naina menguncir tinggi rambutnya, berjalan keluar kamar.
***
"Kopimu, Mas." Lima belas menit menghilang, Naina kembali dengan secangkir kopi panas. Diletakannya perlahan di atas nakas.
"Terima kasih." Terlihat Wira berbaring telentang menatap langit-langit kamar dengan tangan kiri bertekuk menahan kepala. Kedua kaki berselimut kaos kaki hitam itu saling menumpang di ujung tempat tidur.
"Aku bangunkan Wina dulu, Mas." Naina berusaha menghilangkan canggungnya. Meskipun setiap hari bersama, terkadang ada detik-detik di mana Naina merasa tidak nyaman harus berbagi tempat berdua dengan Wira.
"Nai ... apa kamu sudah memikirkan tawaranku?" tanya Wira saat melihat Naina naik ke atas tidur dan bermaksud mengusik lelap putrinya.
"Aku sedang mempertimbangkannya, Mas." Naina menjawab sambil memainkan pipi Wina.
"Sayang, bangun. Ada Ayah ...." bisik Naina di telinga gadis kecilnya.
"Sayang, bangun. Ayah mengajak kita jalan-jalan."
"Sayang ...." Naina menguncang tubuh mungil Wina dan tak lama terdengar rengekan pelan yang berakhir dengan tangisan kencang. Wina masih mengantuk dan belum bersedia bangun.
"Bundaaa ...." pekiknya sambil menangis. Kedua tangan mungil itu terulur meminta gendong.
"Ya, Sayang. Jangan menangis. Ada Ayah." Naina mengusap punggung Wina yang kini bergelayut manja di gendongannya. Kepala gadis kecil itu terkulai di pundak kiri Naina.
"Itu Ayah ...." Naina memamerkan punggungnya agar Wina bisa melihat Wira yang kini sedang menyesap kopi hitamnya.
"Ayah ...." ucap Wina pelan. Air matanya masih menggenang di pelupuk mata. Tangisannya mereda, bergelung manja di dekapan sang Bunda. Menatap Wira dengan mata basahnya.
"Ya. Ayah datang ... jangan menangis." Wira mengusap air mata putrinya kemudian memeluk Naina dari belakang.
"Aku ingin melewati pagiku seperti ini, Nai, bisik Wira tiba-tiba, menjatuhkan dagunya di pundak kiri Naina.
Pelukan di tubuh Naina mengerat. "Aku ingin bisa memeluk kalian setiap memulai hariku," lanjut Wira lagi. Sebuah kecupan mendarat di pundak Naina.
Naina membeku, membiarkan lengan kekar Wira mengunci tubuhnya dengan posesif.
***
Tbc