Tatap Aku, Suamiku

Tatap Aku, Suamiku
S2 Bunda dari anakku 74


"Ya, aku segera ke sana." Wira dengan posisi berbaring di pangkuan Naina, berbicara di ponsel dengan salah satu asistennya. Terlihat, tubuhnya membentang sepanjang sofa di ruang tamu rumah papanya. Wina yang mulai terbiasa dengan orang baru, tampak asyik bermain boneka bersama Nonik.


"Mas, mau ke kantor?" tanya Naina. Beberapa jam terakhir, ia mulai banyak bicara dan bertanya. Tidak seperti biasanya, hanya diam dan berbincang seperlunya.


"Hmm ...." Wira bergumam pelan sambil memejamkan mata. Ia tengah menikmati keintiman sederhana yang melambungkan bahagianya. Perhatian kecil Naina, tetapi di matanya adalah suatu yang luar biasa. Bahkan usapan lembut Naina di rambutnya membuat pria itu hampir menggila di balik sikap tenangnya.


"Aku dan Wina bisa pulang dengan taksi saja. Mas bisa langsung ke kantor." Naina memberi ide.


"Tidak, kalian ikut aku ke kantor." Wira memutuskan tanpa menunggu pendapat Naina.


"Ta-tapi, Mas." Nada bicara Naina terdengar menolak.


"Please ...."


Naina bungkam, hanya mengirim tatapan sendu tanpa banyak protes.


"Mas, sudah menghubungi Pak Pieter? Atau aku bicara sendiri dengannya mengenai pengunduran diriku." Naina teringat dengan belasan pesan dan panggilan tidak terjawab dari sang atasan yang diabaikan karena Wira tidak mengizinkannya menerima panggilan dari Pieter.


"Oh ... aku hampir lupa." Wira masih dengan posisi nyamannya, kembali mengusap layar ponsel dan menghubungi Pieter. Sambil menikmati nada sambung, Wira mengecup perut rata Naina berulang kali. Posisi berbaring, membuat pria itu leluasa bermanja-manja dengan sang calon istri.


Tak lama, ia bisa mendengar suara berat Pieter dari ponselnya.


"Ada apa? Aku butuh Naina, bukan membutuhkanmu." Pieter menyapa dengan ketus.


"Aku mewakili Naina mengundurkan diri dari RD Group. Dia tidak bisa melanjutkan pekerjaannya lagi. Berapa yang harus aku bayar, aku tahu Naina sudah menandatangani kontrak kerja dengan perusahaanmu."


"Ti-tidak perlu. Naina masih dalam masa percobaan. Tidak perlu pikirkan masalah itu. Aku hanya butuh bicara dengan Naina. Kamu bersamanya sekarang?"


"Tidak. Naina sedang sibuk dan tidak bisa bicara denganmu tanpa seizinku." Wira berkata dengan posesifnya.


"Aku serius. Kalaupun mau mengundurkan diri, ada aturannya." Pieter kesal sendiri. Bahkan Wira tidak mengizinkannya bicara dengan Naina.


"Kami akan menikah dalam waktu dekat. Naina tidak bisa melanjutkan pekerjaannya. Dia hamil." Wira menjelaskan


"Mas ...." Terdengar protes Naina saat menceritakan kehamilannya pada Pieter.


"Sstt, jangan berisik, Sayang. Pieter bukan pria baik-baik. Tidak masalah membagi aib kita padanya." Wira tergelak saat melihat wajah cemberut Naina.


"Serius? Akhirnya kamu mendapatkannya. Bukankah kamu harus mengucapkan terima kasih padaku." Pieter tergelak pelan, menahan rasa cemburunya. Ia memang ikhlas melepas Naina untuk Wira, tetapi hati tidak semudah itu. Bibir bisa menipu tetapi tidak dengan hati.


"Sudah dulu, ya. Aku akan menemuimu nanti. Aku masih harus ke kantor sekarang." Wira memutuskan.


"Baik. Aku menunggu undanganmu." Pieter tersenyum getir.


***


"Mas, aku masih mau bekerja." Naina memecah keheningan di dalam perjalanan menuju ke kantor Wira. Sejak memutuskan kembali rujuk dengan Wira, ia menurut. Wira memintanya untuk berhenti bekerja dengan Pieter, ia tidak protes. Namun, ia tidak bisa berdiam diri di rumah. Pasti akan membosankan melewatkan hari-harinya tanpa aktivitas.


Wira memperlambat laju kereta besinya. Ia melirik Naina yang tengah memangku putri mereka, Wina.


"Aku tidak setuju. Bukankah kita sudah sepakat. Di rumah dan menemani Wina, bukankah itu termasuk kesibukan juga." Wira menegaskan. Fokusnya terbelah.


"Aku akan kebosanan. Izinkan aku membuka butik lagi. Aku akan membawa Rima dan Wina bersamaku selama bekerja." Naina menjelaskan apa yang ada di dalam hatinya.


"Tidak ...." Keputusan Wira sudah bulat. Untuk saat ini, ia belum menemukan alasan yang bisa meruntuhkan keputusannya.


"Aku akan kebosanan di rumah. Aku sudah terbiasa bekerja selama ini."


"Apa yang kamu inginkan? Tas, mobil, perhiasan, tabungan? Aku akan memenuhinya untukmu. Tidak perlu repot-repot bekerja. Apa yang ingin kamu kejar? Uang? Aku akan memberi berapa pun yang kamu minta. Semua uangku adalah milikmu. Semua milikku adalah milikmu." Wira menegaskan.


"Bukan begitu maksudku, Mas. Aku ingin tetap memiliki kegiatan di rumah. Aku bukan bekerja kantoran, yang terikat oleh aturan dan jam kerja. Aku ingin membuka butikku lagi. Mungkin hanya menjual barang-barang lokal untuk sementara sampai aku bisa menemukan seseorang yang bisa kupercaya untuk berbelanja di luar negri. Aku juga tidak bisa menelantarkan Wina lagi." Naina menjelaskan maksudnya.


Terdengar helaan napas panjang, Wira mencoba bersikap tenang menanggapi permintaan Naina.


"Aku akan pertimbangkan lagi. Aku pribadi lebih suka ... kamu di rumah, mengurus anak-anak. Apalagi sekarang kamu sedang hamil."


"Aku tidak akan lelah. Anak-anak juga tidak terlantar. Aku akan menyewa ruko yang nyaman untuk Wina. Aku ingin menjadi berguna untuk diriku sendiri. Aku hanya tamatan SMA, tetapi aku ingin memiliki sesuatu yang bisa kubanggakan pada anak-anakku suatu saat nanti. Aku ingin belajar berwiraswasta. Mungkin hanya kecil-kecilan, tetapi aku ingin bisa membuat diriku sendiri bangga." Naina menjelaskan dengan suara pelan.


"Aku akan memikirkannya lagi. Untuk saat ini, fokus pada kehamilanmu."


***


Hari-hari berlalu dengan cepat, melesat tanpa terkejar. Dalam hitungan jam Wira akan melangsungkan pernikahannya kembali dengan Naina. Tidak ada resepsi mewah dengan ribuan tamu undangan di hotel bintang lima. Wira hanya mengundang beberapa kerabat dan teman dekat setelah pengesahan pernikahan secara agama dan hukum negara.


Berdiri di depan cermin meja rias, di sebuah hotel, Wira tampak tampan dengan balutan jas putih. Terlihat di belakangnya, Naina sedang di dandani oleh MUA yang dipanggil khusus untuk hari bahagia mereka. Dalam balutan gaun putih, ibu hamil itu terlihat cantik. Wina yang sudah mengenakan gaun senada, tampak berlari ke sana kemari di temani Rima.


Terbawa perasaan bahagia, Wira terkejut saat ponsel di saku celananya berdering. Merogoh benda pipih itu keluar dari kantong celana putihnya, dahi Wira berkerut saat mendapati Jack yang menghubunginya. Belakangan pria itu bak hilang ditelan bumi. Ia sendiri tidak ambil pusing. Terlalu bahagia dengan persiapan pernikahan dan keluarga kecilnya, Wira pun hampir melupakan Jack.


"Ya, ada apa, Jack?" sapa Wira begitu ponsel menempel di telinganya.


"Maaf, Bos. Aku belum memberi laporan. Beberapa minggu terakhir, keluargaku mendapat musibah. Aku dan Bellinda pulang ke Medan. Mama Bellinda meninggal dunia. Tapi, jangan khawatir, walau aku dan Bellinda tidak di Jakarta, kami tetap melaksanakan tugas."


"Aku turut berduka cita, Jack. Maaf, aku baru tahu mengenai ini." Wira memotong.


"Terima kasih, Bos. Jangan khawatir, tetap ada orang kami yang mengawasi. Hanya saja, aku belum sempat bertemu langsung dengan mereka. Masih dalam suasana berduka. Besok pagi, aku dan Bellinda kembali ke Jakarta. Aku usahakan secepatnya menemuimu, Bos."


"It's okay, Jack," putus Wira, tersenyum menatap Naina yang terlihat memukau dengan crown di atas kepalanya.


***


Tbc