
Netra bening itu menatap nanar ke arah pintu masuk restoran. Hampir lima belas menit memandang ke titik yang sama sambil menunggu penuh kecemasan. Satu persatu wajah yang dikenalnya sudah mulai duduk nyaman di tempat, menanti makan siang disajikan. Namun, wajah cantik Naina belum kelihatan. Bahkan sampai Pieter tiba, berjalan pelan dengan kruk di tangan kanannya, tidak tampak Naina mengikuti.
"Mas, silakan ...." Stella menyodorkan segelas jus jeruk pesanan Wira.
"Eh ...." Wira tersentak, mengalihkan pandangannya kembali. Berusaha tetap tersenyum, menyembunyikan perasaan galaunya.
"Apa semuanya sudah komplit? Atur saja, Ste ...." Wira mencoba memancing.
"Sepertinya sudah, Mas. Stella mengedarkan pandangan, menatap wajah-wajah yang sudah sangat dikenalnya. Terlihat Bara berbincang dengan Pieter, menyambung obrolan di meja rapat yang belum terselesaikan dengan suasana lebih santai.
"Asisten Pieter tidak ikut?" tanya Wira, penasaran akan absennya sang mantan istri.
"Tidak, Mas. Sebelum ke sini, Bu Naina sudah mengabariku ... kalau dia tidak akan ikut. Sudah bawa bekal dari rumah." Stella menjelaskan.
Gadis dengan setelan kantor berwarna hitam putih itu belum tahu mengenai masa lalu Wira dan Naina. Tidak seorang pun menceritakan padanya. Tidak Bara ataupun Pieter.
"Oh, baiklah. Tolong diurus, Ste." Pundak Wira melemas, rencananya gagal total.
Entah dengan cara apa, ia bisa memancing Naina. Sampai sekarang, Wira belum bisa membaca isi hati mantan istrinya itu. Wira tidak bisa menebak, apa masih ada cinta yang tersisa untuknya atau sudah menguap perlahan selama perpisahan tiga tahun ini. Apa sudah ada pria lain yang mengisi hati Naina, menggantikan tempatnya. Atau hati Naina sudah terkunci rapat karena perceraian mereka dan tentunya ia harus berjuang untuk membukanya kembali.
***
Naina menikmati makan siang di meja kerjanya. Kotak bekal berisi nasi dan udang asam manis kesukaannya itu sudah tersaji, berbagi tempat dengan tumpukan dokumen dan komputer di atas meja. Aromanya begitu menggoda. Dicecapnya sedikit di ujung bibir.
"Rasanya masih sama seperti dulu." Naina berbisik pelan.
Mengingat Mama Wira, ia teringat kembali permintaan perempuan paruh baya keturunan Filipina itu untuk bisa bertemu dengan cucunya, yang juga adalah putri Dennis.
Dengan ragu-ragu, akhirnya Naina mencoba menghubungi Dennis. Saat ini hubungannya dan Dennis sudah jauh berubah. Sejak semuanya terbongkar, ia merasa harus membentengi dirinya sendiri. Harus bisa kuat tanpa bersandar lagi pada siapa pun.
Namun perjalanan hidup juga mengajarkannya untuk memaafkan dan tidak boleh terlalu keras hati. Menerima semua masa lalu, baik atau buruk. Marah, benci, kesal dan sakit hati harus dibuangnya perlahan. Dan ia mulai belajar berdamai untuk itu. Membuka diri untuk Wira, kedua orang tua Wira dan Dennis. Semua dilakukannya demi Wina.
Baru saja perempuan dengan rambut dikucir kuda itu mengusap layar gawainya, tetapi nomor asing sudah menyerobot masuk dan membuat benda pipih itu berkedip.
"Nomornya aneh." Naina berbisik pelan sebelum menempelkannya di telinga.
"Selamat ... siang?" sapa Naina ragu.
"Nai, ini aku ... Dennis.”
"Mas, aku baru mau menghubungimu." Naina tersenyum saat semuanya terasa aneh dan kebetulan.
"Ada apa menghubungiku, Nai?" tanya Dennis terkekeh pelan. Suara berat dan terdengar hangat seperti biasanya.
"Apa kita bisa bertemu, Mas? Ada ... yang ingin aku bicarakan denganmu." Naina berkata sembari meletakan sendok di dalam kotak bekal.
"Em ... minggu depan, ya. Selasa atau Rabu." Dennis menjawab dari seberang.
"Ya, Mas. Tidak masalah." Naina menatap kalender duduk di mejanya. Melingkari tanggal yang dimaksud. Masih sekitar lima hari lagi.
"Aku harus menemani Angie dulu. Anak itu sudah merindukanku. Tidak masalah untukmu, kan?" tanya Dennis.
Deg-- Naina tersentak, ia tidak memperhatikan nomor asing yang digunakan Dennis.
"Mas, di mana sekarang?" tanya Naina.
"Aku baru tiba di Amerika tadi sore."
"Oh, kalau begitu ... tidak perlu kembali. Aku bisa bicara di ponsel saja, Mas." Naina merasa tidak enak. Dennis selalu bersikap sama sejak dulu. Setiap ia meminta bertemu, pria itu rela terbang berjam-jam, bahkan melintasi benua untuknya. Tidak pernah menolak sedikit pun.
"Tidak apa-apa. Kalau kamu meminta bertemu, pasti ada hal penting yang ingin dibicarakan. Tunggu aku, Nai." Dennis menenangkan.
"Ya, Mas." Nafsu makan Naina menghilang seketika saat rasa sungkan menyerangnya.
"Sudah, Mas. Aku juga sudah bekerja kembali." Naina bercerita.
Hening sejenak. Keduanya terdiam dengan pikiran masing-masing.
"Maafkan aku, Nai. Aku tidak mengabarimu dan menemui Wina sebelum terbang ke Amerika. Aku tidak enak dengan Wira. Dia sedang berjuang untuk mengenal Wina lebih jauh, dan ... aku tidak ingin mengacaukannya. Aku pernah di posisinya saat pertama mengenal Angie. Di dalam otak anakku hanya ada Wira. Ia menangis mencari mami dan papinya. Itu menyakitkan. Aku tidak mau mengganggu kerja keras Wira," jelas Dennis.
"Ya, Mas. Tidak apa-apa." Naina menghela napas kasar.
"Nai, apa semua baik-baik saja. Tidak bisakah ... hubungan kita kembali seperti dulu?" tanya Dennis ragu-ragu.
Naina terdiam kembali. Ingin rasanya mengeluarkan semua isi hatinya pada Dennis, membagi semua beban yang dipikulnya. Seperti dulu, Dennis akan menjadi sahabat sekaligus kakaknya. Mendengar keluh kesah dan menasehatinya dengan kata-kata bijak.
"Apa terjadi sesuatu padamu? Apa perlu bantuanku?" tanya Dennis setelah lama menunggu, Naina tak kunjung menjawab.
"Tidak, Mas. Hanya saja ... aku tidak nyaman."
"Kenapa?"
Lagi-lagi terdengar Naina menghela napas berat. "Aku dan Wina sekarang tinggal dengan Mas Wira di apartemennya, Mas." Naina memulai ceritanya.
"Lalu ... masalahnya di mana?" tanya Dennis, menggigit bibirnya berusaha menahan rasa cemburunya.
Ia tidak ingin Naina terbebani dengan perasaan cintanya. Ia memilih menjadi seseorang yang berdiri dan mendukung Naina. Setidaknya itu lebih baik, dibanding memaksa perasaannya. Tiga tahun berbagi banyak hal, ia mulai memahami semua hal tentang Naina.
"Mas Wira banyak berubah, Mas." Naina kembali mengeluarkan isi hatinya.
"Lalu ... aku bisa apa?” Dennis tersenyum kecut.
"Kalau dulu, aku bisa memukul semua pria yang mengganggumu. Sekarang aku sudah tidak bisa melakukannya lagi. Hubungan kita sudah berubah sejak kamu mengusirku dari hidupmu, Nai." Dennis kembali tergelak, menutupi perasaan sakitnya.
Mata Naina berkaca-kaca, mengulang kebersamaannya dengan Dennis. Lebih banyak dukanya dibandingkan sukanya. Lima tahun berbagi cinta dan kebahagiaan dengan Wira, tiga tahun berbagi tangis dan air mata dengan Dennis. Keduanya memiliki arti masing-masing di dalam hidupnya.
"Kalau masih cinta, kembali saja padanya. Bukankah itu yang terbaik untukmu dan Wina." Dennis mengucapkannya dengan tenang, tetapi seberapa sakit hatinya, hanya ia yang merasakannya. Dua bulir air mata luruh membasahi pipinya. Diusapnya buru-buru. Ia sedang menemani putrinya tidur, tidak ingin Angie melihatnya menangis.
"Aku tidak tahu. Mas Wira banyak berubah. Tidak ada lagi Mas Wira yang dulu,” keluh Naina.
"Bukankah setiap orang juga berubah. Semakin bertambah umur, cara berpikir pun berubah."
"Ya, Mas."
"Menikahlah. Kamu masih muda, Nai. Hidupmu masih panjang. Kamu dan Wina butuh sandaran. Kalau tidak kembali dengannya, kamu bisa memilih pria lain yang kamu anggap layak menuntun dan menjagamu serta Wina." Dennis berkata lagi.
"Aku tidak tahu, Mas. Untuk menikah lagi ... aku belum memikirkannya untuk saat ini. Apalagi kembali rujuk dengan Mas Wira, butuh banyak pertimbangan. Ada banyak yang harus aku pikirkan. Rujuk atau menikah lagi tidak semudah dulu saat aku masih sendiri. Aku sudah pernah gagal.”
"Aku mendukungmu apapun keputusanmu, Nai. Sejak dulu selalu begitu. Aku tidak bisa memaksamu. Karena Nainaku memang tidak ingin dipaksa. Naina hanya ingin mengambil sikapnya sendiri, menanggung resikonya sendiri."
"Mas ...."
"Hmm ... Jangan katakan tidak mau menikah lagi karena memilikiku. Sekarang aku bukan milikmu lagi, Nai." Dennis tergelak, mengingat masa-masa di mana mereka menghabiskan banyak waktu bersama. Masa di mana Naina menolak semua laki-laki dengan alasan sudah memiliki dirinya.
"Aku merindukan masa-masa itu, Mas. Ada Ibu bersama kita." Naina menitikan air matanya saat teringat dengan Mbok Sumi. Dennis dan Mbok Sumi memang mengkhianatinya, tetapi kenangan itu nyata. Banyak waktu yang dilewatinya bersama dua orang ini. Dan itu adalah masa tersulit di dalam hidupnya.
"Coba berdamailah dengan Wira. Buka kembali masa-masa indahmu bersamanya. Aku tidak mau memaksamu ... karena aku tidak mau dianggap menggunakan kesempatan ini untuk menebus dosaku pada keluarga Wirayudha, khususnya Wira. Aku tidak mau kamu terlibat dengan kesalahanku, dosa masa laluku. Kalau memang masih tersisa cinta untuknya, kembalilah pada Wira demi kebahagiaanmu dan Wina. Andai tidak ada cinta yang tersisa, datanglah padaku. Aku akan menjagamu sampai ... kamu menjatuhkan pada siapa hatimu akan berlabuh," ucap Dennis.
“Nai, kamu tidak ikut makan siang. Kenapa? Apa terjadi sesuatu?” tiba-tiba terdengar suara Wira menyela obrolan Naina dan Dennis di telepon. Pria itu masuk ke ruangan Naina tanpa permisi.
***
Tbc