Tatap Aku, Suamiku

Tatap Aku, Suamiku
S2 Bunda dari Anakku 71


"Ceritakan padaku, Mas. Dari mana kamu mengetahui kehamilanku. Semuanya, aku ingin mendengar ceritamu." Naina mencoba membuka hatinya, mendengar semua dari sudut pandang Wira. Dalam posisi seperti ini, ia diingatkan dengan kehidupan pernikahannya dengan Wira dulu. Naina bisa merasakan embusan napas Wira, pria itu sedang memeluk erat tubuhnya dengan posesif.


"Aku mengetahui kehamilanmu dari test pack yang ditinggalkan Mbok Sumi padaku dan selembar surat." Wira memejamkan mata, mengulang kembali kisah pilunya. Pelukannya makin erat, dengan tangan lain mengusap perut rata Naina.


"Aku bersyukur, di balik pembalasan dendamnya pada keluargaku, Dennis masih berbaik hati menceritakan keberadaan bayiku yang ikut pergi bersamamu. Aku tidak bisa membayangkan kalau dia menyembunyikannya dan aku tidak tahu apa-apa. Bisa saja aku sudah menikah lagi dengan gadis pilihan Mama. Atau ... entahlah." Wira mengembuskan napas pelan.


"Selama tiga tahun ini, aku mencarimu, Nai. Hari-hariku habis dengan pekerjaan dan mencarimu. Buah dari semua itu, perusahaanku melambung pesat. Aku merangkak naik, dari pengusaha biasa sampai mendapatkan banyak proyek dan bisa menggenggam dunia. Tapi aku tidak pernah melupakanmu. Aku hidup hanya untukmu, Nai.”


“Kehidupanku mulai berubah, jauh dibandingkan dulu. Aku bertemu dengan banyak orang, aku membuka diriku dengan orang-orang baru. Tapi tidak hatiku. Hidupku dan hatiku cuma milik Naina. Pratama Wirayudha hanya milik Naina Pelangie. Dan inilah aku yang sekarang. Mungkin kamu terkejut, tetapi ini kehidupanku. Aku harap kamu bisa mengerti." Wira menjelaskan. Teringat dengan beberapa teman yang datang mengunjunginya.


"Kamu ingat, gadis-gadis yang ke apartemen kita beberapa waktu lalu?" Wira bertanya. Ia sengaja menekankan kata kita, agar Naina merasa tempat ini rumahnya juga.


Naina mengangguk.


"Mereka teman-temanku. Aku beruntung memiliki mereka. Walaupun aku tersandung dengan pergaulan yang tidak biasa, minuman, tetapi mereka bukan orang sembarangan. Mereka mendukungku, mereka tahu semua tentang kisahku yang selalu mencarimu. Mereka ada di saat-saat terpurukku. Suatu saat, aku akan mengenalkanmu pada mereka.” Wira mencoba menguak semuanya. Ia tidak ingin ada rahasia dan salah paham ke depannya.


Naina mengangguk.


“Sebagian dari mereka adalah pengusaha sepertiku. Kami sering berkumpul bersama, party sampai pagi. Terkadang touring, charity ke beberapa kota besar di Indonesia. Di klab bukan hanya para gadis, ada pria muda juga. Beberapa rekan bisnisku juga tergabung di klab yang sama. Kebetulan klab itu milik temanku. Aku mohon jangan salah paham, kalau melihat mereka tiba-tiba memeluk saat bertemu. Mereka bukan gadis murahan yang ada di klab malam." Wira mencoba menyibak sebagian gaya hidupnya selama ini.


"Kehamilanmu menguatkan hatiku sampai hari ini. Ditambah saat orang-orangku mulai bisa melacak keberadaanmu. Aku semakin bersemangat saat tahu kalau Wina benar-benar putriku."


“Aku menolak belasan gadis yang disodorkan Mama.” Wira bercerita, membuka semuanya.


Naina menyimak dalam diamnya.


"Kenapa tidak jujur padaku kalau kamu hamil, Nai? Aku pasti akan berjuang, tidak mungkin membiarkan perceraian kita terjadi. Apa sakit hatimu menutup mata hatimu sampai tidak ingin aku mengetahui kehamilanmu?"


Naina menggeleng. "Aku pergi dari rumah, seminggu setelah putusan cerai dari pengadilan. Aku tidak bisa tetap di sana. Rasanya sakit, Mas. Sesak." Naina membagi perasaannya.


"Aku tidak tahu ... kalau aku hamil. Tadinya ... aku berencana pulang ke Yogyakarta. Memulai lagi dari awal. Tapi, Mbok Sumi ... mengajakku ikut bersamanya. Setelah aku pikir-pikir, akhirnya aku ikut dengan Mbok Sumi. Beruntung, aku ikut dengan Mbok Sumi ... kalau tidak, aku tidak tahu bagaimana nasibku dan Wina. Bisa saja, aku tidak mendapatkan Wina, Mas." Mata Naina memanas. Ada dorongan yang kuat, mendesak keluar dari matanya.


"Bisa saja ... aku kehilangan Wina. Tapi, Mbok Sumi menjagaku dengan baik." Naina menggigit bibir.


"Aku mulai bekerja setelah menata hatiku. Lulusan SMA sepertiku tidak bisa memilih pekerjaan dan aku bersyukur masih ada yang mau menerimaku bekerja walau hanya dengan gaji kecil. Berbekal uang sepuluh juta yang aku bawa dan penghasilanku, aku dan Mbok Sumi berbagi, tinggal di salah satu perkampungan di kota Bandung.”


Wira memejamkan mata, terbayang betapa sulitnya. Di saat ia berlebih, Naina kekurangan. "Bagaimana mengenal Dennis?" Wira mencoba mencari tahu lebih banyak.


"Aku mengenal Mas Dennis saat mengalami pendarahan pertama. Mbok Sumi meminta bantuan Mas Dennis. Dan Mas Dennis datang menemui kami di Bandung. Di situ aku mengenal Mas Dennis pertama kalinya. Saat itu, dia bagai penolong untukku. Aku tidak bisa bekerja lagi setelah pendarahan dan Mas Dennis yang menopang kehidupan kami." Naina menjelaskan.


“Mas Dennis selalu ada di setiap kesulitanku. Dia memang tidak terlibat di dalam kehidupanku, tetapi di selalu berdiri di sampingku. Setiap aku terjatuh, dia akan mengulurkan tangan dan membantuku berdiri. Ketika aku berjalan, dia tidak akan menghentikanku langkahku. Dia hanya diam-diam mengikuti dan menjagaku.” Naina menceritakan kesannya tentang Dennis.


"Kenapa tidak mencariku?" Wira mengencangkan pelukannya, dikecupnya rambut panjang Naina.


"Aku ... mungkin aku masih sakit hati padamu waktu itu, Mas." Naina menjawab lirih.


"Jahat kamu, Nai!" Wira berkata pelan.


“Dan seperti biasa, Mas Dennis tidak akan bertindak tanpa persetujuanku. Dia satu-satunya pria yang tidak pernah memaksaku dan mengatakan kata tidak padaku. Aku tahu, dia keberatan saat aku berangkat ke Austria, dan dia tidak pernah melarangku. Dia hanya akan mengangguk dan mendukungku meskipun itu bertentangan dengan kemauannya. Dia yang tidak pernah memarahiku meskipun aku mengambil keputusan salah. Dia hanya diam-diam membereskan semua kesalahan yang aku buat dan mengembalikan keadaan seperti semula.”


"Nai ...."


Deg— Naina tersentak. Ia terlalu banyak membuka semua hal tentang Dennis pada Wira.


“Y-ya, Mas, Naina terbata.


"Kemarilah!" Wira membalikan tubuh Naina agar menghadap padanya. Ia merasa perlu bicara sambil menatap mata Naina. Kalau bibir tidak bisa berkata jujur, mata tidak akan berbohong.


"Andai ... kamu mengetahui kebenarannya saat itu, apa kamu akan kembali padaku, Nai?" tanya Wira ragu-ragu. Ditangkupnya wajah cantik Naina yang kini jarang sekali tersenyum. Tidak seperti dulu, wajah Naina begitu cerah, senyuman selalu menghiasi wajah ayu Naina.


"Tidak. Untuk kembali lagi padamu ... aku harus berpikir berulang kali, Mas. Tidak mudah untukku memutuskan menikah lagi setelah perceraian kita. Cinta bukan lagi menjadi tujuan hidupku, dan pernikahan bukan juga menjadi suatu keharusan untukku. Aku sudah pernah menikah, tidak akan penasaran lagi. Aku memutuskan, hidupku untuk kebahagiaan Wina, berkorban dan berjuang untuk Wina dan bayiku." Naina mengusap perutnya.


“Tapi, mungkin ... kalau aku mengetahui kebenarannya, aku tidak akan bersembunyi lebih lama darimu. Aku akan mengabarimu tentang kehamilanku atau bayiku. Aku pasti membawanya padamu." Naina menjelaskan.


Terdengar helaan napas berat. Ada beban berat di dalam hatinya.


"Tadinya, aku berencana tidak menikah lagi seumur hidup dan menghabiskan waktu berdua dengan Wina." Naina menjawab dengan yakin. "Uang yang aku kumpulkan selama bekerja di Austria akan aku gunakan untuk membuka butik," lanjut Naina, menceritakan isi kepalanya selama ini.


"Lalu, apa alasanmu bersedia kembali padaku?" tanya Wira.


"Salah satunya karena Wina dan kehamilanku. Aku memang bisa hidup tanpamu, tetapi tidak Wina dan mungkin bayiku. Aku melihat sendiri bagaimana bahagianya Wina saat bersamamu. Mereka membutuhkanmu. Aku tidak punya siapa-siapa lagi, kalau aku tidak kembali padamu, aku harus menitipkan anak-anakku pada siapa? Tidak ada lagi Mbok Sumi." Naina berterus terang.


"Terima kasih, mau kembali padaku, Nai." Wira memeluk Naina. "Apapun alasanmu kembali padaku, aku menghargainya."


"Aku tahu, aku menggunakan cara yang salah. Aku memaksamu kembali padaku dengan cara yang tidak manusiawi." Ada sesal di dalam kalimat Wira.


"Sudahlah, Mas. Sejak kapan hidup bisa manusiawi pada kita. Hidup memang tidak pernah adil kalau yang kita tuntut adalah keadilan. Aku sekarang hanya belajar memandang hidup dari banyak sudut. Kalau memang ini tidak adil untukku, tetapi bisa saja adil untukmu dan Wina." Naina menegaskan, berusaha melepaskan diri dari dekapan Wira.


"Aku hanya belajar untuk tidak keras kepala dan memaafkan. Tidak selalu memandang suatu masalah dari sudut pandangku saja. Belajar menerima alasan, belajar menerima semua tanpa banyak menuntut. Belajar menerima kesalahanku sendiri sebelum menunjuk kesalahan orang lain."


"Kalau aku selalu mencari kesalahan orang lain atas perceraian kita, aku akan merasa sakit setiap saat. Tapi, kalau aku belajar menerima kalau perceraian kita juga karena kesalahanku yang tidak cukup memberimu kepercayaan, aku jadi bisa belajar. Dan tidak merasa ini tidak adil. Aku menganggap aku pantas mendapatkannya, karena ini juga kesalahanku."


"Aku sudah memaafkanmu, Mas. Aku anggap kehamilanku adalah teguran dari Tuhan atas keras kepalaku selama ini. Dan aku bersyukur, Tuhan masih merasa aku pantas mendapatkan titipan ini." Naina menyunggingkan senyuman. Walau senyuman itu tidak secerah biasanya, tetapi ia tulus memberikan senyuman itu untuk Wira.


"Aku mencintaimu, Nai." Sebuah kecupan berlabuh di bibir Naina. Wira memeluk erat tubuh Naina.


"Mas, tolong ceritakan padaku, bagaimana aku bisa hamil? Apakah ...." Naina terlihat ragu, membahas malam kelamnya di hotel. Andai itu bukan Wira, bisa saja semuanya menjadi masalah. Bahkan saat ini, ia sendiri tidak yakin dengan kehamilannya. Hanya berdasarkan cerita dari Rima dan Wira yang menerima tanggung jawab, mengaku sebagai Ayah dari bayi di kandungannya.


***


Tbc