
Termenung, baik Wira maupun Naina duduk di sisi ranjang. Bungkam, membisu seribu bahasa, tenggelam dengan pikiran masing-masing. Keduanya terdiam, duduk bersisian dengan jemari saling bertautan dan menggenggam satu sama lain.
Setelah hampir dua jam berbicara dari hati ke hati, membuka semua cerita sampai tak ada satu pun terlewati. Kata maaf itu terucap berulang kali dari bibir Wira. Meskipun Naina mengangguk, tetap saja kata perpisahan itu tidak terelakan.
Wira, laki-laki tampan itu masih berpakaian sama seperti dua jam sebelumnya, saat melangkah masuk ke dalam kamar tidur. Setelan kemeja kerja masih melekat di tubuh kekarnya. Tertunduk dengan wajah lusuh dan pakaian berantakan. Rambutnya acak-acakan melengkapi wajah putus asa dan tak bersemangat. Terlihat jelas dari kesedihan yang mendominasi, Wira sangat terpukul.
Di sampingnya, Naina masih menangis sesengukan sesekali mengusap pelan bulir-bulir air mata yang menghiasi pipinya. Wanita itu masih berbalut bathrobe dengan rambut digulung handuk. Mata sembab, hidung memerah karena terlalu banyak menangis. Wajah itu tidak bisa berdusta, saat ini Naina hancur tak bersisa.
Hampir dua jam, keduanya berusaha membuka semua rasa, mengulang kisah demi kisah yang terlewati selama lima tahun pernikahan mereka. Ada banyak air mata meski tidak sebanyak canda dan tawa. Ada luka meskipun tidak sanggup menyaingi suka dan bahagianya. Bahkan sampai pembicaraan ini selesai, cinta itu tidak berkurang sedikit pun.
Hanya saja semua sudah berbeda, saat Wira membagi dirinya dengan wanita lain. Walau hanya sebuah status, pada kenyataannya pernikahan mereka sudah dikhianati. Meski hanya pernikahan siri, tetapi sudah ada yang ketiga bahkan keempat di dalam rumah tangga mereka. Meski cinta itu masih setia dan tidak berkurang, tetapi takdir sudah berkhianat dari doa dan harapnya.
Kertas putih itu sudah ternoda. Naina hanya bisa memilih menerima semua atau membuangnya. Dan Naina lebih memilih membuangnya, meski dengan luka berdarah.
“Nai, jangan menangis lagi, Sayang.” Suara serak Wira keluar setelah lama merapatkan bibir.
Semua usaha dan permohonan maafnya sia-sia. Bujuk rayunya bermenit-menit yang lalu, tetap saja berujung pada satu kata mengerikan. Cerai! Naina memaafkannya, tetapi tetap memilih berpisah. Naina mengerti keadaannya, meskipun begitu tetap istrinya itu tidak bisa menerima.
“Jangan menangis, Nai.” Wira merengkuh tubuh berguncang di sampingnya. Mendekap erat dan membawanya ke dalam pelukan.
“Mas ....” lirih Naina, tangisnya semakin menjadi, ketika menikmati kehangatan Wira. Saat merasakan Wira masih bersikap sama, tidak berubah sama sekali walaupun dia bersikeras dengan keputusannya.
“Ssssstttt ....” bisik Wira, membelai pelan punggung istrinya, seiring tangan lain mengusap air mata Naina.
Kalau saat ini kesedihan itu milik Naina, putus asa menjadi milik Wira. Berusaha berdamai dengan semua kesakitan ini, Wira merasakan raganya kosong. Jiwanya pergi menghilang bersama air mata Naina. Perih, nyeri semua itu membuat Wira sudah tidak bisa berpikir lagi. Hidupnya hancur dalam sekejap, begitu kata cerai itu meluncur mulus dari bibir Naina. Tanpa bisa dikompromi.
“Jangan menangis lagi, Nai.” Wira berusaha tegar. Bukankah dia memang sudah menyiapkan hatinya untuk hari ini. Kecupan di ubun-ubun dilabuhkan Wira, dalam dan hangat. Bersamaan dengan itu, pelukannya pada tubuh rapuh Naina semakin erat.
Hening beberapa saat, Wira menghela napas dalam. “Nai, sampai kita benar-benar bercerai ... tetaplah seperti ini. Izinkan Mas berjuang untuk terakhir kalinya.” Wira berkata dengan suara bergetar, pertahanan dirinya benar-benar runtuh. Bahkan, untuk bersuara saja, dia harus menguatkan hatinya berulang kali.
“Tolong beri Mas kesempatan ... untuk memperjuangkan pernikahan kita sampai batas kemampuan. Tidak apa-apa kalau Nai sudah menyerah, tetapi tolong izinkan Mas tetap berjuang untuk lima tahun pernikahan kita.” Susah payah menahan laju air mata, Wira runtuh saat mendengar isak tangis Naina semakin kencang.
“Tetap tinggal di sini. Kalau Nai tidak bisa berbagi kamar ... Mas bisa tidur di kamar lain,” lanjut Wira, masih memeluk tubuh istrinya. Menggigit bibir, menahan tangis untuk setiap ucapan yang keluar.
“Ya, Mas ....” lirih Naina, di sela tangisnya.
“Rumah ini untukmu, Nai. Setelah pengadilan memutuskan perceraian kita, Mas akan keluar.” Suara Wira tercekat, matanya kembali memanas. Berat untuk mengucapkannya, tetapi dia harus mengatakannya.
“Semua tabungan dan aset pribadi Mas, akan menjadi milikmu, Nai,” ucap Wira lagi.
“Aku tidak mau, Mas,” tolak Naina.
“Tidak, kalau Nai tetap memaksa bercerai, semuanya akan menjadi milik Nai. Mas mohon untuk tidak membantah. Mas akan tenang kalau Nai mendapatkan semuanya. Mas baru bisa melanjutkan hidup setelah memastikan kalau Naina Pelangie baik-baik saja.” Wira berkata pelan.
“Ini bagian dari tanggung jawab Mas.”
Tangisan Naina semakin menjadi, memeluk Wira dengan erat. Tidak sanggup menjawab, hanya bisa menangis.
Isakan pilu itu tak terbendung, Naina meremas punggung kemeja Wira dengan kencang. Pundak pria itu basah, Naina menumpahkan semua kesedihan dan lukanya di sana.
“Aku ... masih mencintaimu Mas. Masih.” Naina berkata lirih.
“Mas tidak terbayang bagaimana melewatkan hidup setelah berpisah darimu, Nai. Mas tidak mau membayangkannya, Mas tidak sanggup,” ucap Wira pelan, memaksa tersenyum untuk pertama kali sejak melangkah masuk ke dalam kamar.
“Jangan menangis lagi. Mas sudah mengabulkan semua keinginanmu. Harus hidup dengan baik setelah ini, harus bahagia setelah ini. Harus tersenyum setelah ini. Jangan buat Mas menyesal sudah melepasmu.” Kata-kata Wira kembali membuat air mata Naina luruh, setelah sempat berhenti.
“Mas ....” ucap Naina pelan.
“Hmmm.”
“Maafkan aku,” ucap Naina.
“Tidak perlu meminta maaf. Ini salah Mas, bukan salahmu, Nai.” Wira berusaha tegar.
“Nai ... apa benar-benar tidak ada kesempatan lagi untuk kita?” tanya Wira lagi.
Naina tidak menjawab, memilih memeluk Wira dengan erat. Mendengar jantung suaminya bergemuruh hebat, berdetak kencang.
“Untuk sementara ... jangan ceritakan apa pun pada mama. Mas akan menceritakannya sendiri nanti,” ucap Wira terbata.
Naina mengangguk.
Setelah melepaskan pelukannya, Wira berjalan menuju lemari pakaian. Mengambil beberapa potong pakaiannya. Mulai malam ini, kamar ini sudah bukan miliknya. Begitu dia menyetujui keinginan Naina, semuanya berakhir. Dia tidak bisa memaksa Naina untuk mengikuti semua kemauannya. Dari awal menikah, dia sudah tahu jelas apa yang tidak boleh dilanggarnya.
Kaki itu baru saja akan melangkah keluar, genggaman tangannya pun masih di pegangan pintu, saat Wira merasakan dua tangan memeluk erat pinggangnya. Mendekap tubuhnya dari belakang.
“Bisakah tetap tidur dengan Nai sampai hari itu tiba?” pinta Naina pelan. Menempel rapat di punggung Wira.
Pakaian yang ada di pegangan Wira langsung terlepas. Jatuh ke lantai, tak beraturan. Dia sudah berusaha kuat, berusaha tegar, tetapi Naina membuatnya lemah lagi.
“Nai, kamu kenapa?” tanya Wira. Kakinya bagai terpaku di tempat, tidak sanggup bergerak saat mendengar permintaan Naina.
Bukannya mudah menyetujui semua. Dia harus melawan kata hatinya sendiri. Harus bisa tega pada dirinya sendiri, harus menekan egonya.
“Nai mau menikmati detik-detik terakhir menjadi istri Pratama Wirayudha,”bisik Naina pelan.
Hampir lima menit dalam posisinya yang sama. Wira membuka suara.
“Baiklah, selama belum ada putusan pengadilan kita tetap seperti biasa. Anggap tidak terjadi apa-apa. Mari kita membuat semuanya terlihat indah, sebelum berpisah. Mas juga ingin menikmati detik-detik terakhir menjadi suami Naina pelangie.”
***
TBC