Tatap Aku, Suamiku

Tatap Aku, Suamiku
S1. Bab 44


“Mas ....”


Suara lembut mendayu itu memecah konsentrasi Wira. Laki-laki yang memusatkan perhatian pada tumpukan kertas di atas meja, sesekali menatap layar laptop, segera menghentikan segala kesibukannya. Seutas senyum mengembang, terukir di wajah rupawan, Wira sontak berdiri dan melakukan penyambutan pada sang nyonya.


“Nai.” Dengan antusias menyodorkan tangan kanan kanannya untuk dikecup manja istrinya seperti biasa.


“Nai terlambat, Sayang.” Wira mendekap Naina sekejap, mengeratkannya.


“Ya, Mas. Nai berburu soto banjar kesukaanmu.” Wanita itu beralasan, menunjukan sekantong makanan yang ditenteng di tangan kanannya.


“Oh ya, Mas sudah tidak sabar ingin melahapnya.” Wira menarik masuk istrinya, menanti Naina menyiapkan makan siang untuknya.


Naina meletakan perlahan kantong berisi kotak mika ke atas meja, menyajikannya dalam keadaan panas mengepul.


“Mas, Nai tidak masak hari ini.”


“Tidak masalah, Nai.” Wira mematikan laptop dan merapikan tumpukan berkas itu sekaligus menyingkirkannya di tepi meja. Memberi ruang untuk istrinya menyiapkan makan siang kesukaannya.


“Makan sekarang, Mas. Kalau sudah dingin, pasti tidak enak lagi.” Naina meletakannya di depan Wira, sembari menyodorkan sendok plastik.


“Nai, kamu tidak makan?” tanya Wira, mengerutkan dahi.


“Tidak, Mas. Masih kenyang,” tolak Naina, menggeleng.


Berhenti sejenak untuk memperhatikan Naina dari jarak dekat, Wira merasa seperti ada yang berbeda dari istrinya. Wajah cantik Naina tampak tirus, dengan tulang pipi sedikit lebih menonjol dari biasanya. Rona merah di kedua pipi Naina menghilang, berganti wajah pucat seputih kapas.


“Nai, kamu baik-baik saja?” Pertanyaan ini terlontar begitu saja sebagai reaksi pertama saat mendapati penampakan istrinya yang tidak biasa. Dengan tangan kiri yang bebas, Wira menangkupkan di pipi Naina sambil tersenyum.


“Ya, Mas.”


“Nai kurusan,” komentar Wira. Mengaduk-aduk kuah soto yang masih mengepulkan asap di hadapannya.


“Ya, nafsu makan Nai menurun beberapa hari ini. Kurang enak badan,” lanjut Naina pelan.


“Kita ke dokter?” Kembali Wira menawarkan, buru-bur dijawab dengan gelengan penuh kepastian. Naina menolak.


“Mas suapin? Nai duduk di sini, dekat Mas,” usul Wira, meraih tangan Naina agar bersedia mendekat.


“Tidak Mas. Aroma soto itu membuat perutku sedikit mual.” Naina menolak.


Wira, pria itu tentu saja keheranan. Respon Naina sedikit berbeda dari biasa. Istrinya yang manja, tiba-tiba sedikit kaku dan menjaga jarak dengannya.


***


Dua minggu berlalu, empat belas hari berjalan begitu cepat tanpa terasa. Waktu bukan hanya sekedar berputar, tetapi seperti berlari. Namun, itu tidak dirasakan Naina. Istri Pratama Wirayudha melewati harinya dengan harap-harap cemas, menunggu pihak rumah sakit menghubunginya untuk mengetahui hasil dari sampel rambut Nola dan Wira yang diserahkannya untuk keperluan tes DNA.


Pagi itu sama seperti pagi-pagi biasa, Naina bangun dengan kondisi memprihatinkan. Mual yang semakin parah dan tak kenal kompromi. Tubuhnya semakin ciut, mengkerut karena kekurangan asupan. Ada banyak lagi hal yang mengganggu saluran pencernaan, membuat Naina tak berkutik.


Berlari ke kamar mandi saat azan Subuh berkumandang indah, Naina selalu terlihat tidak sehat di setiap pagi. Menguras semua isi lambung, mual dan muntah Naina semakin menjadi. Membungkuk di depan wastafel dengan napas naik turun, Naina terkejut saat merasakan usapan lembut yang tiba-tiba di punggungnya.


Nai, kita ke dokter siang ini. Mas khawatir terjadi sesuatu padamu. Ini sudah berapa hari, Mas takut terjadi sesuatu padamu.”


Tidak ada jawaban, Naina masih sibuk dengan isi perut yang ingin berontak keluar. Di akhir tersisa cairan bening yang menusuk ke ulu hati.


“Nai, baik-baik saja, Mas. Hanya setiap pagi seperti ini,” cerita Naina, sembari mengusap wajahnya yang basah karena kucuran air kran.


“Ya, Mas tahu. Sebaiknya ke dokter. Mas khawatir,” bisik Wira. Tampak mengikat rambut panjang Naina yang tergerai dengan tangannya saat istrinya itu melengkung ke arah wastafel.


“Ya, Mas.”


“Jangan-jangan, Nai benar-benar hamil,” ujar Wira ragu. Meraih secarik tisu dari tempatnya, membantu mengusap wajah cantik yang tampak pucat dan basah.


Deg—


“Hamil?” ucap Naina pelan, berbalik menatap mata bening suaminya.


“Hmmm.” Wira mengangguk, membingkai wajah dingin Naina sembari tersenyum hangat.


“Semoga, Mas.” Kalimat Naina tiba-tiba mengambang, teringat andai dia hamil dan Nola benar-benar putri Wira. Bayangan itu muncul, membuat Naina cemas sendiri.


***


Siang itu, Naina yang sudah berdandan rapi terlihat duduk di belakang kemudinya. Terpaksa membatalkan janjinya dengan Wira, saat mendapat kabar dari rumah sakit kalau hasil tes DNA-nya sudah keluar. Kebetulan sekali, dua rumah sakit menghubunginya hampir bersamaan. Naina tidak perlu repot, cukup sekali jalan.


Lupa sudah dengan sakitnya, lupa dengan kondisi fisiknya yang semakin menurun belakangan ini. Naina memilih membatalkan janjinya dengan Wira, demi untuk segera mengetahui hasil tes yang selama ini ditunggunya.


“Mas, Nai ada sedikit urusan. Mau bertemu dengan mantan karyawan butik,” dusta Naina melalui ponsel yang menempel di dashboard mobil. Naina terpaksa berbohong untuk membatalkan janji mereka yang akan mengunjungi dokter kandungan bersama siang ini.


“Ada masalah apa, Nai? Terjadi sesuatu?” Nada panik terdengar jelas dari cara bicara Wira, laki itu baru saja membatalkan meetingnya demi untuk bisa membawa Naina ke dokter.


“Tidak Mas, hanya masalah yang belum selesai saja. Mengobrol sebentar, setelah itu Nai pulang.” Lagi-lagi, Nai melancarkan kebohongannya.


Dari gawai putih, sayup-sayup terdengar suara helaan napas kasar. Naina tahu, Wira menyimpan kecewanya dalam diam.


“Nai bawa mobil sendiri? Atau Mas saja yang mengantar, ya?” tawar Wira, khawatir itu masih terselip di untaian pertanyaan yang baru saja diucapkan.


“Tidak perlu, Mas. Nai sudah di mobil sekarang,” tolak Naina.


Lama terdiam, akhirnya Wira bersuara. “Ya sudah, Nai hati-hati di jalan. Selalu kabari Mas, ya. Love you, Sayang.” Wira memutuskan panggilan teleponnya dari seberang.


“Love you,too.”


Setengah jam membelah jalanan ibukota dengan kecepatan sedang, Naina bisa bernapas lega saat mendapati ruas jalan yang begitu bersahabat. Lancar meskipun tersendat di beberapa titik. Tidak butuh waktu lama, mini cooper miliknya tiba di parkiran rumah sakit.


Jantung Naina berdegup kencang seiring langkah kaki semakin mendekat. Gugup, takut, tetapi sebaliknya sedikit lega karena penasarannya akan terjawab sudah. Semua pertanyaan selama dua minggu ini akan menjadi penyataan. Tidak ada lagi keragu-raguan, semua jelas dan terpampang fakta yang sebenarnya.


Melangkah pasti, Naina berjalan menuju ke bagian laboratorium. Duduk mengantri, menunggu panggilan setelah mendaftar. Wanita dengan rambut tergerai indah itu membeku dengan harap-harap cemas. Kedua tangannya saling meremas di atas pangkuan. Pikiran Naina mengembara, sesekali mengucapkan doa di dalam hati.


“Semoga hasilnya sesuai harapanku.” Naina bermonolog.


Hampir dua puluh lima menit menunggu, akhirnya tiba giliran Naina. Siang itu, bagian administrasi yang bersebelahan dengan laboratorium terlihat ramai. Selain Naina, ada banyak keluarga pasien yang juga menunggu keluarnya hasil lab.


“Ibu Naina Pelangie,” panggil gadis berkerudung, yang duduk di depan loket.


Naina tersenyum, bergerak maju menghampiri sang gadis manis.


“Ini Bu.” Gadis itu menyodorkan sebuah amplop putih berukuran besar dengan nama rumah sakit tercetak jelas di kiri atas amplop.


Naina hanya bergeser ke samping beberapa langkah setelah mengucapkan terimakasih. Memberi ruang untuk pengantri lain. Sudah tidak sabar ingin melihat isi amplop yang masih disegel rapi.


***


TBC