Tatap Aku, Suamiku

Tatap Aku, Suamiku
S2 Bunda dari anakku 12


“Wina, Bunda datang.” Naina menjatuhkan tas tangannya ke lantai. Ia berjalan mendekat pada gadis kecil di gendongan pengasuhnya. Wina malu-malu, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher gadis muda yang menjaganya selama setahun terakhir. Bersama dengan Mbok Sumi, pengasuh muda itu adalah orang yang menemani keseharian Wina.


Air mata berderai, Naina tidak sanggup menahan haru. Ingin mendekap putrinya, tetapi gadis mungil itu menolak. Bahkan Wina menangis kencang saat langkah Naina semakin dekat.


“Tidak mau,” isak Wina membelit erat leher pengasuhnya. Batita itu ketakutan.


Dennis dan Mbok Sumi yang ikut menyaksikan hanya bisa mengelus dada, menyimpan ibanya. Mereka juga tidak bisa berbuat apa-apa. Hal ini sudah bisa dibaca semenjak Naina memutuskan pergi jauh dari Indonesia.


“Sudah, Nai. Pelan-pelan Wina pasti mau didekati,” ucap Mbok Sumi menenangkan. Wanita tua yang tampak lebih keriput dan kurus dibanding tiga tahun yang lalu itu memeluk erat Naina. Melepas kerinduannya selama ini.


Sejak mereka tinggal berdua, Naina meminta mantan pembantunya itu membuang panggilan nyonya. Ia sudah menganggap Mbok Sumi seperti ibunya sendiri. Tidak ada lagi jarak di antara keduanya.


“Bu....” Naina menumpahkan semua perasaannya. Menangis di pelukan wanita lansia itu.


“Sudah, Nai. Semua akan baik-baik saja.” Mbok Sumi mengusap pelan punggung Naina di sela pelukannya.


Terbersit iba bercampur rasa bersalah di hati wanita tua itu. Semua air mata Naina saat ini karena kesalahannya dan Dennis. Ingin rasanya mengakui semua, tetapi ia merasa tidak tega. Andai Naina mengetahui semuanya sekarang, wanita cantik di pelukannya ini akan terguncang. Entah apa yang terjadi apabila semua terbongkar saat ini. Suatu saat ia akan meminta ampun akan doaa-dosanya saat Naina dan Wina sudah menjadi sosok yang kuat, tidak selemah sekarang.


“Win, ikut Daddy, ya.” Dennis meraih tubuh mungil Wina dan menggendongnya mendekati Naina.


“Ini Bunda. Yang sering Wina lihat di ponsel Daddy.” Pria itu masih berusaha membujuk. Meskipun tangis Wina sudah mereda, tetapi gadis kecil itu masih belum mau melihat Naina. Baginya, Naina yang mengenalkan diri sebagai Bunda adalah sosok asing.


Setahun berlalu, tidak ada kenangan yang tersisa. Wina hanya mengenal Mbok Sumi, Dennis dan pengasuhnya. Air mata Naina mengalir semakin deras, Mbok Sumi pun semakin dirajam rasa bersalah. Bibirnya sudah ingin mengucapkan kebenarannya. Tidak tega melihat keduanya mengalami nasib seperti ini. Wanita tua itu menatap ke arah Dennis. Ia juga bisa menangkap perasaan bersalah putra angkatnya seiring tangisan Naina yang semakin menjadi.


“Bu, tolong pegang Wina. Bawa dia ke kamar,” pinta Dennis. Kedua tangannya terulur, menyerahkan Wina ke tangan ibu angkatnya.


Setelah tertinggal mereka berdua, Dennis langsung memeluk Naina. Mendekap wanita itu dengan erat. “Semuanya akan baik-baik saja. Wina hanya perlu waktu sedikit lagi untuk bisa dekat denganmu. Kamu ibu kandungnya, Nai. Sampai kapan pun, putrimu akan menyayangimu. Jangan memaksanya,” bujuk Dennis berusaha meredam tangisan Naina.


Kemeja pria itu basah oleh air mata, Naina menumpahkan kesedihannya di pelukan Dennis. “Mas, apa Wina akan mengenaliku lagi seperti dulu?” ucap Naina di sela isakan.


“Hahaha ... tentu saja dia mengenalimu. Dia hanya lupa sesaat, setelah bersama lagi ... perlahan Wina akan dekat lagi denganmu, Nai.” Dennis memberi jarak, mengurai pelukannya.


“Jangan menangis lagi. Aku jamin, besok anak itu akan menempel padamu seperti perangko. Dia hanya belum terbiasa, Nai.” Dennis menghapus jejak air mata di kedua pipi Naina dengan punggung telunjuknya.


Pria itu tersenyum hangat memandang wajah wanita cantik yang sejak tiga tahun ini dijaganya dengan sepenuh hati. Berusaha untuk tidak jatuh cinta, Dennis menguatkan dirinya supaya tidak menaruh perasaan lebih pada Naina. Bagaimana pun Naina milik Wira, meski diakui ia merasakan sesuatu yang berbeda saat bersama Naina. Rasa yang tidak sama saat ia bersama Kailla.


Ya, saat papanya mengatakan kalau Kailla adalah gadis yang dijodohkan padanya sejak kecil, Dennis hanya menatap tanpa ekspresi. Kailla tidak kalah cantiknya, hanya saja rasa itu tidak bisa berbohong. Ketika hati sudah berbicara, setengah logika pun hilang. Tidak ada alasan, rasa itu datang dengan sendirinya.


“Benar begitu, Mas?” Alunan pertanyaan itu terdengar indah, mampu menyadarkan pria tampan itu dari lamunan.


“Ya. Istirahat sekarang. Aku juga harus pulang, Nai.”


“Mas, tidak tinggal di sini?” tanya Naina kebingungan.


“Tidak, aku tidak tinggal di sini. Aku tinggal di rumahku. Dan aku tidak punya alasan untuk tinggal bersama kalian.” Dennis memberi alasan.


“Mas tinggal di mana? Lalu ini rumah siapa?”


“Ini rumahku saat masih kecil. Dulu mendiang papa yang menempati. Sekarang kosong,” sahut Wira, mengusap pelan pucuk kepala Naina.


“Kenapa rumahmu di mana-mana, Mas? Pasti kamu anak orang kaya,” todong Naina setengah bercanda.


“Hahaha, setidaknya aku lebih kaya dari mantan suamimu. Aku pamit sekarang. Kalau ada apa-apa, bisa menghubungiku 24 jam. Untukmu dan Wina, aku akan selalu ada,” sahut Dennis mengedipkan sebelah matanya.


Tidak ingin terlalu lama berdekatan dengan Naina. Dennis khawatir, tidak bisa mengendalikan perasaannya. Ia hanya ingin menjaga Naina dan Wina, tidak berharap ada rasa berlebih di dalam hati.


“Nai, bisa panggilkan Ibu? Aku harus pamitan dengan Ibu,” pinta Dennis, berjalan menjauh.


“Tunggu sebentar, Mas.” Naina bergegas menuju ke kamar, tempat di mana Mbok Sumi membawa Wina beberapa saat yang lalu.


***


Rumah satu lantai dengan halaman luas dipenuhi tanaman hias itu terlihat asri. Meskipun tidak terlalu terawat, namun rumah sederhana itu masih sangat layak untuk ditinggali. Beberapa dindingnya sudah mulai mengelupas, warna cat putihnya pun mulai memudar dan membutuhkan sentuhan kuas.


“Den, ada apa?” Tiba-tiba suara wanita tua menyapa dari pintu utama.


Dennis berbalik. “Aku harus pulang sekarang, Bu. Aku titip Naina dan Wina.”


Sorot mata biru pria itu terlihat menyimpan sesuatu. Mbok Sumi tahu ada sesuatu yang dipendam Dennis.


“Ada apa, Den? Apa ada masalah?” tanya Mbok Sumi.


“Bu ....” Helaan napas kasar terdengar, Dennis berat untuk mengungkapkan apa yang dirasakannya.


“Katakan saja. Ibu siap mendengar.”


“Semakin ke sini, aku semakin merasa bersalah. Setiap melihat Naina dan Wina, aku merasa seperti penjahat. Aku sudah melakukan banyak kejahatan selama ini, tetapi apa yang aku lakukan pada Naina dan Wina benar-benar membuat dadaku sesak. Setiap melihat Naina menangis, aku merasakan sakitnya. Bahkan saat papa meninggal aku tidak merasakan kepedihan sedalam ini."


“Sejak kapan?” tanya Mbok Sumi.


Awalnya tidak ada rasa apa-apa. Aku hanya simpati dengan kehamilannya dan dihantam rasa bersalah karena sudah berlaku kejam padanya.” Dennis mengungkapkan perasaannya.


Mbok Sumi menyimak dalam diamnya. Kata demi kata yang dilontarkan Dennis sedang dicerna di dalam otaknya. Ia yang mengurus Dennis saat masih kecil, ia tentu tahu seperti apa putranya itu.


“Aku merasakannya pertama kali saat menemani Naina berjuang selama kehamilan. Ibu tahu bagaimana beratnya masa-masa kehamilannya."


Mbok Sumi mengangguk.


"Tidak ada seorang pun yang mengira Wina akan bertahan sampai sejauh ini. Pendarahan itu begitu mengerikan. Aku menyelipkan pintaku di setiap doa. Aku berharap Naina dan anaknya bisa bertahan sampai hari kelahiran tiba."


"Aku merasa bersalah pada adikku kalau sampai anaknya tidak bisa terlahir ke dunia. Itu yang aku pikirkan saat itu. Aku sudah berjanji pada Wira." Dennis tertunduk. Suara semakin melemah dan bergetar.


"Menemani Naina selama masa-masa kehamilan meskipun tidak setiap saat bersama, rasa itu tumbuh dengan sendirinya. Ketidakberdayaan dan ketergantungannya padaku, membuatku merasa dihargai dan dibutuhkan. Aku mungkin mulai mencintainya saat itu, tetapi aku menolak mengakuinya."


"Rasa itu menjadi semakin nyata saat menemani Naina berjuang melahirkan Wina. Aku melihat perjuangan seorang ibu, aku melihat bayangan mamaku di dalam diri Naina. Sejak saat itu ... perlahan aku mulai belajar memaafkan mamaku."


Mbok Sumi berjalan mendekat, memeluk erat Dennis. "Ibu yakin, Tuhan akan membukakan jalan untukmu. Tuhan memiliki cara untuk melapangkan hatimu dan perlahan membuatmu melupakan kesalahan mamamu. Melupakan dendam pada mama. Kamu sudah melihat sendiri perjuangan seorang ibu melahirkan anaknya, kamu pasti mengerti kenapa surga ada di bawah telapak kaki ibu."


"Seburuk apapun kelakuan mamamu, dia pernah berjuang untukmu. Selama sembilan bulan menjagamu di dalam rahimnya. Pernah berbagi napas denganmu, bertarung nyawa melahirkanmu."


Dennis mengangguk.


"Dan semakin aku memaafkan mamaku, aku semakin merasa bersalah pada Naina." Suara Dennis semakin pelan, matanya memanas. Berusaha menahan untuk tidak menangis.


"Perjuangan Naina melahirkan itu benar-benar mengerikan. Untuk pertama kalinya aku merasa takut kehilangan Naina. Saat itu aku bahkan berharap Naina tidak perlu melahirkan lagi, tidak perlu bertarung nyawa lagi." Tangis Dennis pecah saat mengingat proses kelahiran Wina. Mengingat Naina yang sempat koma beberapa hari pasca melahirkan.


"Kalau yang dikandung itu bayiku, aku akan memilih Naina ... tetapi dia anak adikku. Aku tidak berhak memberi keputusan itu."


"Sudah, jangan diingat-ingat lagi. Sekarang Naina baik-baik saja. Perjuangan seorang ibu untuk melahirkan anaknya memang seperti itu." Mbok Sumi berusaha menenangkan.


***


TBC


Hukuman Dennis ini baru akan dimulai, jadi mohon bersabar. Aku juga mengganti panggilan Wina untuk Naina ya.🙏🙏