
Setelah ciuman yang sanggup membangkitkan semua kenangan masa lalu, Naina melesat menuju kamar tidurnya tanpa menghabiskan sisa mi di dalam mangkuk. Banyak rasa bergejolak di hatinya dalam waktu bersamaan, memori lama itu terbuka kembali. Senyum, tangis, tawa dan air mata itu memeluknya bersamaan.
Terduduk di tempat tidur, Naina menangis. “Maafkan aku, Mas. Banyak yang harus aku pertimbangkan untuk membuka hatiku kembali. Keadaan kita sudah jauh berbeda, aku tidak bisa menjangkaumu lagi. Kamu sudah berlari jauh ke depan, seharusnya tidak perlu kembali dan menungguku,” bisik Naina pelan, mengingat ucapan Dennis yang memintanya membuka hatinya untuk Wira.
Tatapan nanar Naina terpaku pada tumpukan barang-barang yang ditata di atas tas tangannya yang basah.
“Siapa yang meletakan semua di sini?” tanya Naina. Tangannya sudah meraih benda persegi di bagian teratas. Dompet basah itu terlihat penuh, tidak tipis seperti biasanya.
Naina menangis tersedu-sedu melihat tumpukan uang yang terselip di dalam dompetnya. Ia tahu, Wira peduli padanya, tetapi di sisi lain ia merasa malu. Ia tidak mau dikasihani. Ia juga ingin berjuang untuknya dan Wina. Ia tidak mau semua ini. Apa yang terjadi padanya dan Wira beberapa hari belakangan membuatnya tidak nyaman. Apalagi sampai kedua orang tua Wira tahu, harga dirinya yang sudah hancur akan semakin terinjak-injak. Ia tidak mau dianggap memanfaatkan Wina untuk semua kenyamanan ini.
Kesalahannya dulu saat memaksa untuk bercerai tanpa mempertimbangkan kebersamaannya dengan Wira, tanpa mau memberi kesempatan. Dan di saat mereka bercerai, Wira melesat jauh. Menjadi pria berbeda dengan pencapaian-pencapaiannya. Ia tidak bisa menyalahkan Mama Wira.
Kebencian dan ketakutan mantan mertuanya, tentu ia sangat mengerti. Wira yang sekarang bisa mendapatkan perempuan yang jauh lebih baik dan sempurna. Naina sadar diri, ia tidak termasuk di dalam itu. Ia hanya perempuan biasa, sebelum dinikahi Wira maupun setelah bercerai dari Wira. Tidak ada yang istimewa dari dirinya. Kalau Mama Wira menginginkan perempuan yang lebih baik dan pantas, tentu saja ia bisa memakluminya.
***
Waktu berlalu begitu cepat. Akhir pekan terlewati dan akhirnya Naina menuntaskan janjinya untuk bertemu dengan Dennis. Pria itu mengabarinya kalau sudah berada di Indonesia. Sebuah restoran sederhana di dekat kantor RD Group menjadi pilihan Naina untuk bertemu dengan Dennis. Ia harus meluangkan waktu makan siangnya demi bertemu pria itu. Ia tidak mau sampai pekerjaannya terganggu.
Lima menit menunggu, Naina bisa melihat Dennis muncul dengan kaos putih dan celana jeans. Pria tampan itu berjalan ke arahnya dengan senyuman manis seperti biasa.
“Nai ....” Dennis menyapa sembari mengedarkan pandangan ke sekeliling restoran. Seperti biasa, Naina yang menentukan tempat dan ia akan menurut tanpa banyak protes.
“Tempatnya nyaman.” Dennis berkomentar. Berdiri tepat di depan Naina sambil merentangkan kedua tangannya. “Boleh memeluk?” tanya Dennis.
Naina berdiri dan menghampiri. Memeluk erat pinggang Dennis, seperti biasanya.
“Apa kabarmu dan Wina? Kalian baik-baik saja?” tanya Dennis setelah mengurai pelukan. Menarik sebuah kursi kayu, Dennis duduk tepat di seberang Naina.
“Kami baik-baik saja. Sekarang, aku dan Wina tinggal di apartemen Mas Wira untuk sementara. Sampai rumah lama selesai direnovasi.” Naina menjelaskan.
“Bagaimana pekerjaanmu?” tanya Dennis, meletakan ponselnya di atas meja.
“Baik, Mas. Aku sudah mulai nyaman dengan pekerjaanku.”
“Kapan kamu akan membayar hutangmu padaku? Aku menunggu gaji pertamamu.” Dennis tergelak pelan saat melihat wajah Naina berubah dan cemberut.
“Aku belum gajian, Mas. Aku sudah berencana mengirim gaji pertamaku padamu. Aku tidak melupakannya. Sama seperti saat aku bekerja di Austria. Aku tahu hutangku masih banyak padamu. Tidak perlu mengingatkannya.” Naina menggerutu.
“Kamu tahu, Nai ... aku tidak pernah hitung-hitungan dengan apa yang sudah kuberikan padamu dan Wina. Aku menerima semua itu sebagai hutang hanya untuk menghargaimu. Aku tidak peduli kamu akan membayarnya atau tidak. Yang terpenting untukku, kamu dan Wina baik-baik saja. Dengan siapa pun itu, di mana pun.” Dennis tersenyum, menyambar segelas jus jeruk di atas meja.
“Mas, itu punyaku.” Naina protes saat gelas jus miliknya sudah dikuasai Dennis tanpa permisi.
“Pesankan lagi untukmu. Aku haus.” Dennis menyesap habis jus jeruk di dalam gelas. “Bagaimana dengan hubunganmu dan Wira. Sudah ada titik terang?” tanya Dennis. Tatapan pria itu begitu mengiris, dengan jemari menari, mengetuk meja kayu. Ia menyembunyikan perasaan terlukanya.
Naina menggeleng. “Aku tidak nyaman tinggal dengan Mas Wira, tetapi aku tidak bisa menolaknya.”
“Kenapa tidak mengontrak saja?” tanya Dennis.
Naina menggeleng. “Aku hanya sanggup mengontrak di rumah petak sederhana. Dan Mas Wira menganggap itu tidak layak. Aku bisa apa, kemampuanku hanya sampai di situ, Mas. Kalau meminta Mas Wira mencarikan kontrakan untukku, pasti membebaninya lagi. Aku tidak mau itu, Mas. Aku tidak mau menyusahkannya terus- menerus.”
*“Wira benar-benar bodoh! Lima tahun berumah tangga, harusnya dia memahami watak Naina,” *batin Dennis.
Pria itu tersenyum. Bukannya ia tidak tahu bagaimana sikap Naina. Selama tiga tahun menjaga perempuan keras kepala di hadapannya ini, ia sudah menamatkan banyak hal. Naina tidak bisa dipaksa, karena akan membuatnya merasa tidak nyaman. Tidak juga bisa diatur seenaknya, Naina menginginkan kemerdekaannya sendiri. Naina ingin berjuang dengan kaki dan tangannya. Kalau bukan karena karakter keras itu, sudah dipastikan ia tidak akan mengizinkan Naina bekerja mengurus orang sakit di luar negri.
“Baiklah, ada apa memintaku ke sini? Aku tahu ... pasti masalah yang serius.” Dennis menegakan duduknya.
Terlihat Naina menghela napas. “Mas, Mama merindukan Nola ... em ... maksudku putrimu. Apakah Mas mengizinkan Mama untuk menemui putrimu?” tanya Naina ragu-ragu. Ia tahu, permintaan ini terdengar kelewatan. Apalagi hubungan Dennis dan mamanya memburuk selama bertahun-tahun.
“Mas serius?” tanya Naina.
Dennis mengangguk. “Sebagai gantinya menikahlah denganku,” ungkap Dennis tergelak. Candaan yang mengandung keseriusan di dalamnya.
“Maaf, Mas. Aku masih mencintai Mas Wira.” Naina menggigit bibirnya. Kalimat itu meluncur lancar seperti biasanya. Alasan yang sama setiap menolak Dennis. Ia ingin menyimpan perasaannya sendiri, seorang diri. Tanpa ada yang tahu, baik Dennis maupun Wira.
“Aku bercanda, Nai. Kembalilah pada Wira. Aku bisa tenang melepaskanmu dan Wina. Kamu juga butuh sandaran. Tidak mungkin selamanya seperti ini.” Dennis menasehati. Bibir pria itu begitu lancar, tetapi hatinya teriris-iris saat mengucapkan semua itu.
Naina tertunduk diam.
“Bukankah kamu mengatakan padaku ... kalau masih mencintainya. Kalau masih mencintai Wira ... kembalilah padanya.”
“Ya, Mas. Hanya saja untuk kembali aku perlu mempertimbangkannya.” Naina menjawab pelan. Tidak berani menatap lawan bicaranya. Ia tidak mungkin berterus terang. Ia sudah tidak tahu apa yang dirasakannya pada Wira. Rasa itu dikuburnya dalam-dalam bersama luka perceraiannya.
“Ada yang salah? Apa yang membuatmu harus mempertimbangkannya?” tanya Dennis.
“Banyak. Semua sudah berubah, Mas. Aku dan Mas Wira itu bagaikan bumi dan langit. Aku ....” Mata Naina berkaca-kaca. Tidak sanggup melanjutkan kalimatnya.
“Karena keadaan Wira sekarang ... membuatmu tidak nyaman berada di sampingnya,” tebak Dennis.
“Salah satunya.” Naina berkata pelan, hampir tidak terdengar. Ada beban berat yang selama ini disimpannya sendiri.
“Buatlah dirimu senyaman mungkin. Jangan dengarkan pendapat orang. Kamu berhak bahagia, Nai. Aku juga bukan orang susah. Kekayaanku bisa diadu dengan Wira. Apa selama ini kamu merasa sungkan padaku? Tidak nyaman padaku?” tanya Dennis.
Naina menggeleng. “Kita tidak memiliki masa lalu. Aku tidak perlu merasa seperti itu padamu, Mas. Lagipula kekayaan dari mana yang kamu maksud. Tiga tahun bersama, Mas setia dengan pajero hitam bututmu!” Naina tergelak.
Dennis meremas kertas pesanan di atas meja dan melemparnya tepat di dahi Naina. “Kurang ajar kamu, Nai. Kalau kita sedang di Bandung sudah kupastikan menceburkanmu di sungai, di ujung kampung.” Dennis terbahak, mengingat kembali masa-masa yang mereka lewati selama di Bandung.
“Kalau dulu ... aku masih mengalah karena kamu sedang hamil Wina. Kalau sekarang ....”
“Aku merindukan masa-masa itu, Mas. Aku merindukan Ibu. Itu adalah masa-masa terburuku, tetapi di situ aku memahami diriku sendiri. Apa yang aku rasakan, apa yang aku inginkan. Aku mencoba menyelami perasaanku. Mengulang semua hal yang aku lewati sebelumnya,” potong Naina.
“Mas Wira cinta pertamaku. Dulu aku merasa begitu. Dia masuk ke dalam hidupku dan mengajariku apa itu cinta. Aku yang saat itu bahkan belum genap berumur 17 tahun. Tidak mengerti apa pun. Dia mengajariku semua hal sampai kami menikah. Di dalam hidupku selanjutnya hanya ada Mas Wira. Aku yang sudah tidak memiliki siapa-siapa, hanya bergantung hidup padanya.”
Dennis menyimak.
“Setelah berpisah, aku kembali menata hidupku. Di tahap ini, aku mulai bisa mendalami perasaanku dengan cara dewasa. Berbeda saat bersama dengan Mas Wira. Aku menemukan dunia yang berbeda. Kenyataan yang jauh berbeda dengan kehidupanku saat masih berumah tangga dengan Mas Wira. Aku tidak bisa seperti dulu lagi, mengambil keputusan dengan mudah tanpa berpikir panjang. Menerima semua dengan emosi yang aku rasakan sesaat. Apalagi ada Wina yang jadi pertimbanganku. Aku bukan anak-anak lagi sekarang, Mas. Aku bukan bocah kecil seperti saat aku memutuskan menerima pinangan Mas Wira. Yang meloncat kegirangan saat Mas Wira berlutut dan melamarku. Saat itu aku hanya berpikir, aku akan bahagia bersama Mas Wira. Menghabiskan waktu bersama-sama. Berciuman, berpelukan tanpa ada yang protes dan melarang.”
*“Dan aku menemukan cintaku tertambat padamu seiring waktu berjalan. Bahkan aku tidak menyadarinya. Butuh waktu untukku, memastikan kalau apa yang aku rasakan itu benar-benar cinta. Bahkan sampai saat ini, aku masih mendalaminya.” *Naina membatin.
Naina melirik ke pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukan jam masuk kantor kembali.
“Kamu harus bekerja lagi?” tanya Dennis.
“Ya, Mas.”
“Baiklah. Aku membawakan sesuatu untuk Wina di mobil.” Dennis berdiri dan memanggil pelayan untuk melakukan pembayaran.
“Mas, biarkan aku mentraktirmu kali ini. Anggap saja merayakan pekerjaan baruku,” pinta Naina.
Dennis tergelak. “Terserah padamu. Aku bahagia adik kecilku memaafkanku dan sudah kembali seperti dulu lagi. Itu sudah cukup untukku, Nai.
***
Tbc