
Naina tengah sibuk merapikan meja makan untuk menyambut tamu Wira yang sebentar lagi akan tiba. Ibu hamil itu tampak cantik dengan gaun hamil berbahan satin, panjang menjuntai sampai mata kaki. Gaun dengan motif burung hong keemasan itu begitu indah dan serasi di tubuh berisinya.
Wina yang sibuk bermain boneka terlihat tak peduli dengan kesibukan kedua orang tuanya. Gadis kecil itu sibuk berceloteh di temani Rima di depan televisi.
Tak lama terdengar suara bel pintu. Wira yang memang sudah menunggu tamunya sejak tadi, buru-buru membuka pintu dan menyambut.
"Bro, apa kabarmu?" tanya Wira, memeluk pria gagah yang tidak datang sendirian. Seorang gadis cantik dengan rambut panjang bergelombang tampak menemani.
"Kenalkan ... ini calon istriku, Ellena Sandra."
Wira terbelalak, menatap gadis manis di hadapannya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Tergelak, Wira menyalami gadis bernama Ellena sebelum akhirnya mempersilakan tamunya masuk.
"Anggap rumah sendiri." Wira berjalan mendahului sembari menenteng sebotol anggur merah buah tangan dari tamunya.
"Nai, kemarilah." Wira memanggil istrinya untuk ikut berkenalan. Untuk pertama kalinya, Wira mengenalkan sang istri secara resmi.
"Ini Panji Aksara Winata. Dan ini calon istrinya em ...."
"Ellena." Panji bersuara.
"Ini istriku, Naina ...."
Panji terbelalak. "Naina Pelangie?" todong Panji memastikan. Pria itu menatap tajam pada Wira.
"Ya, aku Naina Pelangie." Naina mengangguk.
"Kamu serius menemukannya, Bro. Kita harus merayakannya sekarang. Aku yakin kalau gadis-gadismu di klab akan patah hati mengetahui kalau kamu sudah menemukan istrimu." Panji menepuk lengan atas Wira sebelum menyodorkan tangannya menyalami Naina.
"Kamu beruntung, Nyonya. Kamu tidak tahu seberapa banyak gadis yang menunggu cintanya di klab," bisik Panji melirik ke arah Wira.
"Congrats, Bro.Kenapa tidak memberitahuku tentang pernikahanmu?" tanya Panji.
"Aku mengirim undangan padamu. Tapi, asistenmu mengatakan padaku ... kalau Bosnya sedang berlibur ke Eropa." Wira menjelaskan.
"Oh, Ferdy tidak bercerita padaku." Panji mengekor masuk ke dalam dengan lancangnya. "Aku menemui Ditya di UK. Anak itu sudah menikah diam-diam tanpa memberitahu kita," omel Panji.
***
"Hamil berapa bulan?" tanya Ellena, mengelus perut Naina sekilas. Kedua wanita itu duduk di ruang tamu, mengobrol berdua. Sedangkan para pria tampak duduk di mini bar bercerita banyak hal sampai lupa dengan mereka.
"Tujuh bulan." Naina menjawab singkat. Pandangnya beralih pada Wira, suaminya tengah berbincang dan mengabaikannya. Tadinya, ia ingin mengorek banyak hal gadis-gadis di klab yang mengusik pikirannya.
"Em ... kenal Pak Panji di klab juga?" Naina mencoba mengorek dari sang calon istri.
Gadis manis berusia 19 tahun itu menggeleng lemah. Ada raut sedih tampak nyata, mata Ellena meredup.
"Kenapa? Bukankah harusnya bahagia sebentar lagi akan menikah." Naina mencoba mengajak bicara setelah mengetahui tujuan kedatangan tamu suaminya untuk membagi undangan.
Ellena menatap Naina dengan pandangan yang sulit diungkapkan. Lama sekali gadis itu berpikir, akhirnya bersuara. Ia merasa Naina wanita baik, bisa diajaknya bertukar cerita.
Deg--
Naina terbelalak. Ia paham sekali perasaan Ellena. Beberapa bulan yang lalu, ia juga mengalami dilema yang sama. Namun, waktu mengubah semuanya. Langkah berat di awal pernikahan keduanya perlahan ringan saat ia belajar menerima Wira kembali. Ia bahkan bisa bertahan meski diperlakukan tidak menyenangkan oleh suaminya.
"Bagaimana bisa berkenalan dengan Pak Panji?" Naina penasaran.
"Aku ... aku berteman dengan adik bungsu Kak Panji. Saat mendapat musibah, papaku meninggal dan harus keluar dari rumah tanpa membawa apa pun, aku tinggal sementara di tempat Kak Panji. Aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi." Ellena tertunduk.
Naina kian tersentuh, kisah hidup Ellena hampir sama dengannya.
"Bersabar saja. Pak Panji sepertinya sangat mencintaimu." Naina menepuk pelan pundak Ellena.
"Ya, dia pria yang kasar dan dingin. Tapi sangat menghargai wanita." Bola mata Ellena berbinar indah
Obrolan keduanya harus terhenti saat Panji mendatangi Ellena dan mendekap istrinya dari belakang. Pria itu berdiri di belakang sofa.
"Ilen, apa aku boleh minum anggur? Sedikit saja, Sayang," tanya Panji dengan suara manja.
Ellena heran. Sejak kapan ia memiliki hak mengatur hidup calon suaminya. Perasaan selama ini, Panji melakukan apa pun sesuka hati. Sebaliknya, ia yang harus patuh dan menurut pada aturan sang calon suami.
"Boleh, ya?" tanya Panji terlihat manis.
Ellena mengangguk.
"Ah, aku ingin kamu mengatakan tidak boleh seperti istri-istri lainnya, Ilen." Panji protes setelah diizinkan.
Ellena terkejut, buru-buru meralat ucapannya. " Ya, tidak boleh, Kak."
"Terima kasih, Sayang." Panji mengusap pucuk kepala Ellena dengan lembut kemudian berjalan mendekati Wira kembali.
"Aku tidak bisa minum, calon istriku tidak mengizinkan," ungkap Panji dengan penuh kebanggaan.
Naina dan Ellena saling berpandangan, kemudian menutup mulut menahan tawa agar tidak pecah.
"Kalau memang tidak mau minum. Ya tinggal tolak saja, untuk apa memintaku mengatakan tidak boleh." Ellena menggeleng. "Kak Panji memang begitu."
"Nai, apa semua suami seperti itu. Suka dicemburui, suka diatur-atur, suka cari perhatian?" tanya Ellena penasaran. Ia belum berpengalaman.
Deg--
Naina bagai tertampar. Sejak menikah lagi, ia jarang memperhatikan Wira, jarang peduli dan selalu menurut. Apa Wira juga sebenarnya menginginkan hal yang sama. Ingin diperhatikan olehnya seperti yang Ellena ungkapkan.
"Mungkin saja, Elle." Tatapan Naina tertuju pada Wira, suaminya sedang menyesap anggur dari gelas kristal di meja bar. Saat pandangan mereka beradu, Wira tersenyum manis sembari mengedipkan matanya.
Tbc