
Wira berlari melewati koridor rumah sakit, tanpa peduli dengan keadaan di sekitar. Hati dan pikirannya hanya tertuju pada satu titik. Kamar Flamboyan 5, kamar di mana istrinya tengah berjuang sendirian.
Tanpa mengetuk, Wira menerobos masuk ke dalam kamar. Hatinya tersentuh saat melihat Naina berbaring membelakangi pintu masuk, meringkuk sembari meremas bantal.
“Wir.” Papa Wira baru keluar dari kamar mandi, terperanjat saat melihat kedatangan Wira yang tiba-tiba.
“Ya, Pa.” Tatapan Wira masih tertuju pada istrinya.
Berjalan mendekat untuk memastikan kondisi Naina, Wira menggigit bibir saat sudah berdiri di hadapan istrinya.
“Nai, bagaimana keadaanmu?” tanya Wira, menggenggam tangan Naina yang tengah meremas seprai.
Tidak ada jawaban, Wira bisa merasakan tangannya diremas Naina beberapa detik.
“Mas, kamu sudah datang?” tanya Naina pelan. Suaranya lemah, menahan sakit di perutnya.
“Ya. Apa sakit sekali?” Wira khawatir. Sesaat setelah menyibak rambut panjang yang tergerai menutupi separuh wajah Naina dan mendapati kalau istrinya tampak pucat.
“Hmm.” Bergumam pelan, Naina tidak sanggup berkata-kata saat rasa sakit menyerang.
“Maaf, Sayang.” Wira mengusap pelan punggung Naina. Sedikit membungkuk, pria itu menghadiahkan kecupan di pelipis.
Selebihnya, Wira memilih diam. Ia tahu, Naina sedang berjuang menahan rasa yang menyerang perut saat jagoan mereka mendesak untuk keluar sebelum waktu yang diperkirakan.
“Kamu sudah makan, Nai?” Wira bertanya saat ujung matanya menangkap sepiring nasi putih utuh dengan lauk pauk yang belum tersentuh.
Naina menggeleng lemah. Berjam-jam menikmati rasa sakit, tenaganya terkuras habis. Bukan hanya tidak nafsu makan, Naina tidak ingin melakukan apapun selain berbaring dan merasakan perutnya yang nyeri dan sakit bersamaan.
“Ya sudah. Aku menemanimu di sini.” Wira tersenyum, menarik kursi dan duduk di samping brankar.
Jemari tangan keduanya saling bertautan, Wira bisa merasakan saat kontraksi datang. Genggaman tangan Naina mengeras dan terkadang istrinya itu merintih pelan.
“Sakit sekali, Nai?” tanya Wira saat Naina mengernyit dengan mata terpejam. Ia bisa melihat, Naina berusaha menarik napas panjang dan mengembuskannya. Terus berulang, sampai sakit itu pergi.
“Sakit, Mas.”
“Nai, sabar ya, Sayang. Aku akan menemanimu di sini.” Wira mengusap pelan perut Naina yang mengencang, bentuknya pun sudah tak beraturan.
“Hmm.” Naina tidak bisa berkata-kata, sensasi yang tengah melanda perut bawahnya membuat ibu muda itu kehabisan tenaga. Ia hanya bisa menikmati detik demi detik rasa sakit itu datang dan pergi sesuka hati.
***
“Pembukaan lima.”
Setelah belasan jam tanpa kemajuan, tepat pukul 21.30 malam, sebuah berita baik dikabarkan seorang bidan yang memeriksa kondisi Naina.
Naina mengukir senyuman di wajah lelahnya. “Terima kasih,” ucapnya lirih. Pengalaman melahirkan yang berbeda jauh dibandingkan saat melahirkan Wina.
“Kira-kira ... apa masih lama?” tanya Wira pada wanita paruh baya yang tengah melepaskan sarung tangan karet dari tangannya.
“Semoga setelah ini lebih cepat bertambah pembukaannya.”
Wira mengangguk, pandangannya beralih pada Naina. Istrinya tampak lebih lega, wajah yang sejak tadi mengernyit menahan sakit, kini sedikit lebih cerah.
Di kamar itu hanya ada mereka berdua. Papanya dan Ratih sudah pulang sejak sore, dan Wira memilih untuk tidak menyusahkan keduanya lagi. Apalagi kondisi Naina belum bisa dipastikan kapan akan melahirkan.
Waktu terasa berjalan lambat di saat seperti ini, puluhan kali Wira menatap jam di dinding, tetapi jarum jam seakan tidak bergerak sama sekali. Rasa itu semakin lengkap saat rintihan dan desah kesakitan Naina yang kian sering terdengar.
“Sabar, Sayang.”
“Mas, aku haus.” Naina berkata pelan, membuang napas dari mulut sebagai upaya menahan nyeri yang menari di perutnya.
Dengan cekatan, Wira meraih gelas di nakas dan membantu Naina menyesap dengan ujung bibir.
“Sudah, Mas. Jam berapa ... uh ....” Naina merintih saat perutnya seperti ditarik-tarik.
“Setengah dua belas malam, Nai.” Wira sudah hampir menangis melihat perjuangan Naina. Apalagi saat melihat fisik istrinya yang kian melemah dihantam rasa sakit yang tak berperasaan.
“Ah lama sekali, Mas.” Naina mendesah. Mulai lelah dan putus asa. Hampir dua puluh empat jam, tetapi tak ada tanda-tanda jagoannya akan lahir. Pembukaannya pun tetap sama.
“Dek, cepat keluar ya. Kasihan Bunda, sudah kehabisan tenaga,” bisik Wira di perut Naina. Tangan pria itu memberi usapan lembut dan mengecup di sana.
“Mas, aku ... aku mau berdiri saja. Pinggangku sudah pegal,” pinta Naina.
Wira menurut, membantu Naina turun dari atas ranjang. Begitu kedua kaki Naina menginjak ke bumi, rasa nyeri kembali menyerang.
“Sssshhh.” Naina mengalungkan kedua tangannya di leher Wira. Berdiri berhadapan, ibu hamil itu merebahkan tubuhnya di pundak sang suami. Berharap posisi ini bisa meredakan sedikit nyerinya.
“Sabar, Sayang.” Wira memeluk erat pinggang Naina. Ia tidak bisa berbuat banyak, hanya mengikuti pergerakan tubuh Naina yang berayun ke kiri dan kanan.
“Sakit, Mas.” Naina berkata pelan dengan suara manja. Kedua tangannya bukan hanya memeluk leher sang suami, tetapi mencengkeram dan meremas leher belakang Wira.
“Ya, sabar. Sebentar lagi jagoan kita keluar. Pasti.” Wira berusaha menguatkan di tengah kantuk yang mulai menyerangnya.
“Aku mengantuk, tetapi perutku sakit, Mas. Aduh ....” Naina kembali meringis kesakitan.
“Ya.” Wira tidak bisa berkata apa-apa, ia tidak bisa berbuat banyak. Hanya bisa menenangkan Naina. “Aku tidak bisa menggantikanmu, Nai. Kalau bisa ... aku tidak keberatan menerima rasa sakitnya.” Wira mengusap lembut punggung Naina dan membiarkan istrinya merebah di tubuhnya.
To be continued
***
Mohon bersabar ya, detik-detik ENDING. Untuk jadwal up dll bisa masuk ke gc dengan ketik nama Wira & Naina atau bisa follow ig casanova_wetyhartanto