
"Kenapa menangis?" tanya Wira setelah mengurai belitan tangan Naina yang mengikat erat lehernya. Dihapusnya air mata yang mengucur turun dari mata indah istrinya, hati Wira seperti diremas-remas.
Sakit itu bukan milik Naina, tetapi miliknya juga. Hati siapa yang bisa ikhlas mendapati kenyataan kalau istri yang dicintai meratapi pria lain.
Deg--
Naina tersadar, tidak seharusnya ia menunjukan kecewanya pada Dennis di depan Wira. Suaminya pasti akan berburuk sangka, mengira ia berkhianat.
"Maaf, Mas."
"Mmm ... sudah tau salahmu?" Wira balik bertanya. Kedua tangannya sedang menangkup wajah sedih Naina. Jejak air mata masih terlihat jelas dengan ujung hidung memerah.
"Ada apa? Kenapa menangis? Bukankah dokter sudah mengatakan kalau kamu tidak boleh terlalu banyak berpikir."
Naina diam, memberanikan diri beradu pandang dengan suaminya. Ibu hamil besar itu menegakan duduk dan mengatur napasnya sebelum membuka suara, membagi perasaannya. Ia tidak mau Wira salah menduga. Apalagi sejak tadi suaminya memperhatikan layar ponselnya yang menyala.
"Seseorang mengirimiku video dan foto ...." Jeda sejenak, Naina mengatur napasnya.
"Aku tidak tahu siapa yang melakukannya, tetapi aku kecewa melihat video dan foto-foto Mas Dennis." Naina berterus terang. "Bukankah sebaiknya dia menikah saja dari pada membuang-buang waktu dengan banyak wanita," lanjut Naina.
"Aku kecewa ... kenapa Mas Dennis memilih jalan ini. Aku pikir dia cukup dewasa selama ini. Dan tidak menghabiskan waktunya bermain-main dengan perempuan. Kasihan putrinya, kasihan Mama." Naina memejamkan mata, berusaha menghempaskan rasa bersalahnya. Kalau perubahan Dennis karena dirinya, tentu saja ia kecewa. Ia berharap, Dennis bahagia menjalankan hidup ke depannya. Menikah, memiliki keluarga dan melupakannya, bukan menghancurkan hidup seperti ini. Karena ia juga sedang berjuang, walau kenyataannya Wira akan menceraikannya setelah melahirkan.
Wira tersenyum, menyembunyikan sakitnya. Apa pun alasan di balik tangisan itu, hati Wira serasa diiris-iris setiap nama Dennis keluar dari bibir Naina. Perih dan nyeri itu menyatu dan membuatnya sulit untuk bisa mempercayai hubungan mereka.
Butuh perjuangan untuk menerima Naina seutuhnya setelah mengetahui isi hati terdalam istrinya. Ini tangis kedua Naina untuk Dennis yang disaksikannya sendiri. Ia berharap akan ada hari di mana istrinya menangisi dirinya, bukan pria lain.
"Sudahlah, tidak penting juga menangisinya. Dia bukan siapa-siapamu. Kalau di dalam foto itu suamimu ... aku tidak akan melarangmu. Kamu boleh menangis sampai air matamu kering."
Naina mendekap pinggang Wira dengan kedua tangannya. "Aku akan membunuhmu ... kalau berani melakukannya selama menjadi suamiku." Naina membenamkan wajahnya di dada Wira.
Ungkapan itu terdengar pelan, tetapi Wira masih bisa mendengarnya dengan jelas. Senyum tersungging di bibir pria dengan pakaian santai itu. Tentu saja ia bahagia dengan sikap cemburu yang ditunjukan Naina lewat kalimat ancaman sederhana. Setidaknya, sang istri masih mengganggap keberadaannya.
"Jadi, aku boleh main perempuan seperti kakakku?" tanya Wira lagi. Seakan tidak puas, ia kembali menggoda Naina. Pria itu tengah menikmati masa-masa dicemburui Naina.
Naina tidak menjawab, buru-buru melepaskan dekapannya. Ibu hamil itu menatap tajam ke arah suaminya. "Coba saja kalau berani." Naina cemberut.
"Coba dikit." Wira menunjukan ujung telunjuknya, kembali menggoda.
Sebuah bantal melayang tepat mengenai wajah tampan Wira. "Coba saja kalau berani!" ancam Naina.
Ia merebahkan diri di atas tempat tidur dan membelakangi Wira. Belum selesai kecewanya, Wira ikut-ikutan memanasinya. Menarik selimut sampai ke dada, Naina memilih tidur setelah meletakan ponsel di atas nakas dan mengabaikan Wira.
"Nai, kita belum selesai bicara. Jangan tidur dulu." Wira memeluk tubuh Naina yang terbungkus selimut tebal.
"Jadi ... aku boleh atau tidak?" Pria itu masih belum puas.
Naina tidak menjawab.
"Lagi pula kita akan berpisah ... aku pikir tidak masalah juga kalau aku membuka diri mulai dari sekarang. Aku juga butuh dipeluk, dibelai, disayang," ungkap Wira, berbisik di telinga Naina.
"Jangan coba-coba. Selagi masih menjadi suamiku!" ancam Naina dengan wajah asam.
"Kalau begitu, selama aku masih menjadi suamimu ... harusnya kamu memelukku, membelaiku, Nai." Wira ikut berbaring dan memeluk Naina dari belakang.
Naina diam, tidak bereaksi. Ia tengah menikmati hangatnya dekapan Wira. Rasanya sudah lama sekali tidak ada yang mendekapnya seperti ini. Rasa nyaman dan aman yang hampir dilupakannya.
Selama ini ia sendirian. Berusaha menguatkan dirinya sendiri saat lemah, menghangatkan dirinya seorang diri saat kedinginan. Hanya ada Wina di sampingnya tiap malam. Ia sudah lupa rasanya disayangi, tidak ingat lagi rasanya dicintai.
"Nai, kamu sudah tidur?"
"Nai ...."
"Dia benar-benar sudah tidur." Wira tersenyum simpul. Bangkit dan duduk di sisi tempat tidur, pandangan Wira tertuju pada ponsel Naina. Dipandangnya kembali foto-foto yang dikirim Dennis sebelum dihapusnya. Ia tidak ingin meninggalkan jejak apa pun.
"Selamat malam, Sayang. Aku minta maaf, untuk air matamu malam ini. Aku mencintaimu, mencintai kalian."
Sebuah kecupan mendarat di pelipis Naina. Disusul kecupan kedua di perut besar Naina.
"Baik-baik di dalam, Sayang. Jaga Bunda, ya. Ayah mencintamu, Sayang," bisik Wira pelan.
***
Wira tengah duduk merenung di ruang kerja saat ponselnya berdering. Pria itu tidak bisa tidur, ada sesuatu yang mengganjal di dalam hatinya. Mendesah pelan, Wira menerima panggilan yang mengusik lamunannya.
"Ya, ada apa?" tanya Wira begitu ponsel menempel di telinganya.
"Apa Naina baik-baik saja?" tanya Dennis. Sejak tadi pria itu tidak bisa tenang sebelum memastikan apa yang terjadi setelah foto dan video itu sampai pada Naina.
"Ya. Naina sudah tidur. Tidak perlu khawatir, dia hanya sedikit kecewa padamu. Harusnya kamu bisa membuat drama lebih dasyat dengan para gadis-gadis itu." Wira tergelak.
"Kurang ajar!" umpat Dennis dari seberang. "Aku sudah mengikuti semua permintaanmu, tolong perlakukan Naina dengan baik."
"Hahaha ...." Wira tergelak. "Tempatkan dirimu sebagai kakak ipar yang baik, jangan melewati batasanmu. Dia istriku."
Berganti Dennis yang tergelak. "Posisikan dirimu sebagai suami yang baik, jangan kelewatan. Naina itu istrimu."
"Aku tahu bagaimana mengurus istriku," gerutu Wira. "Menikahlah, Naina pasti bahagia kalau kamu menikah lagi," lanjut Wira.
"Bukan urusanmu. Sebaiknya urus saja istrimu, Naina sedang hamil besar. Aku sudah pernah ceritakan betapa sulitnya proses kelahiran Wina, aku harap kamu bisa menjaganya baik-baik."
Wira diam sejenak. Ia ingin mengucapkan sesuatu, tetapi rasanya berat.
"Kak ... terima kasih. Aku tahu ... belakangan ini aku egois. Tapi, aku benar-benar berat menerima kenyataan Naina mencintaimu."
Dennis tiba-tiba tertawa. "Sejak kapan mengakuiku." Pria itu menggigit bibir, berusaha menahan rasa haru yang tiba-tiba menyerangnya.
"Terima kasih hari itu mengabariku tentang kehamilan Naina. Aku tahu ... kamu sengaja meminta Mbok Sumi melakukannya. Tanpa kabar itu, aku tidak akan tahu tentang putriku. Mungkin juga ... aku sudah menikah dengan salah satu wanita pilihan Mama. Terima kasih sudah menjaga Naina dan putriku, tanpamu mungkin saja aku kehilangan keduanya. Ada satu titik ... aku ingin membunuhmu, tetapi kamu adalah kakakku." Wira menghela napas, perasaannya lega setelah mencurahkan isi hatinya.
"Aku pernah kecewa padamu saat tahu Mama begitu menyayangimu dan melupakanku. Bahkan, Mama tidak pernah mengingat tentangku sampai aku datang hari itu. Aku pernah membencimu, sangat membencimu sampai ingin menghancurkanmu. Tapi, ada satu titik ... aku tidak tega. Makanya hari itu aku mengabarimu berita kehamilan Naina." Giliran Dennis yang bersuara.
"Sebesar apa rasa benciku padamu saat itu, aku tidak bisa mengelak. Kamu adalah adikku."
Percakapan di ponsel itu terhenti saat Wira mendengar pintu ruangan terbuka.
"Mas, kamu di sini?" Terlihat Naina muncul di depan pintu sembari merapatkan piyama tidurnya saat hawa dingin di ruang kerja menyapa.
"Ya, ada apa? Kenapa bangun, Sayang?" Buru-buru Wira meletakan ponselnya di atas meja.
"Mas, carikan aku cokelat. Aku tidak bisa tidur. Aku ingin makan cokelat."
"Hah? Malam-malam begini?" tanya Wira, heran.
"Ya, Mas." Naina mengangguk. Ekspresi ibu hamil itu terlihat begitu memelas.
-
-
-