
Bunyi pintu dibanting kasar mengejutkan Naina, Rima dan Wina. Ketiganya bungkam, saling berpandangan. Beberapa detik kemudian terdengar tangis Wina pecah, gadis kecil itu menghambur dan memeluk kedua kaki Naina.
"Bunda ...."
"Bunda ...." Wina ketakutan, tubuh mungilnya gemetar dan mendekap erat Naina, meminta perlindungan.
Naina berjongkok, tersenyum menatap Wina setelah mengurai dekapan tangan kecil itu di kedua pahanya. Diusapnya perlahan rambut Wina sambil menenangkan.
"Ayah sedang sakit, jangan ganggu Ayah dulu, Nak. Main dengan Mbak Rima saja. Nanti kalau Ayah sudah sehat, baru Wina main dengan Ayah lagi." Naina menjelaskan dengan hati-hati. Ia tidak ingin putri kecilnya mengingat hal-hal yang tidak pantas diingat. Mungkin Wira tengah dilanda kemarahan sampai tidak bisa mengontrol emosinya, bahkan di depan putri mereka.
"Rim, tolong bawa Wina ke kamar," titah Naina. Ia berusaha bersikap tenang, seolah tidak terjadi apa-apa.
"Baik, Bu." Rima mengerutkan dahi. Menatap sedih pada pakaian yang berhamburan di lantai. Ia mendengar sendiri, majikannya diusir dari kamar.
Tidak mau banyak bertanya, Rima menggandeng Wina dan membawa gadis kecil itu ke kamar. Terselip iba saat melihat majikannya mengumpulkan kembali baju, celana dan gaun yang berhamburan tanpa banyak bicara. Bahkan, majikannya terlihat biasa dan tidak menangis. Terbayang andai dirinya yang berada di posisi itu, pasti sudah menangis meraung-raung.
Naina merapikan pakaiannya yang berserakan di lantai, kemudian meletakan kembali ke kamar tamu. Ibu muda itu menghela napas berat, menghempaskan tubuhnya ke sisi tempat tidur. Kepalanya berdenyut saat mengingat kembali ucapan-ucapan Wira yang menyakitkan dan ditujukan padanya. Perasaannya campur aduk. Sakit, kecewa dan yang terutama adalah perasaan malu saat Wira mengusirnya dengan kasar di depan orang luar. Ada Rima menyaksikan semuanya.
"Maafkan aku, Mas. Aku tahu ... aku sudah membuatmu kecewa." Naina berkata lirih sembari mengusap perut ratanya.
Jujur saja, ia sudah terbiasa diperlakukan seperti ini. Tiga tahun, hari-harinya dilewati dengan penghinaan semua orang. Dari tetangga, warga kampung sampai mama mertuanya sendiri. Ia mulai kebal dengan semua hinaan dan cacian semua orang. Menangis juga rasanya percuma, tidak akan mengubah keadaan. Walau tidak dapat dipungkiri, sebagai wanita pasti akan sakit diperlakukan seperti tadi.
***
Semalaman Naina tidak bisa tidur. Akhirnya, ia memilih berbagi ranjang dengan putrinya di kamar Cinderella milik Wina. Wira sendiri, mengurung diri di kamar sejak pertengkaran mereka. Suaminya itu bahkan meminta asistennya William untuk datang dan membawakan makan malam dan semua kebutuhan.
Malam berlalu tanpa ada komunikasi, pagi pun menjemput dengan harapan baru semoga semua kembali seperti sedia kala. Pukul 05.00 pagi, Naina yang sudah tidak bisa tidur memilih menyibukan diri dan membuat sarapan pagi di dapur. Ia ingat Wira memintanya membuatkan nasi goreng spesial.
"Semoga hari ini Mas Wira sudah kembali seperti semula," bisik Naina sembari membolak-balik nasi di dalam penggorengan.
Sekitar pukul 07.00 pagi, Naina yang tengah menyuapi putrinya sarapan dikejutkan dengan pintu kamar Wira yang terbuka. Tak lama terdengar derap langkah kaki mendekat. Wira terlihat sudah rapi dengan setelan kerja. Wajah pria itu masih datar, tidak ada senyuman dan sedikit berantakan. Mata Wira tidak memancarkan binar kebahagian dan gairah kehidupan.
"Ayah!" Gadis kecil dengan selai cokelat mengotori wajah itu menjerit saat melihat Wira. Ia sudah sangat merindukan Wira yang bersembunyi di kamar seharian kemarin.
"Mas, aku buatkan nasi goreng. Sarapan dulu sebelum ke kantor." Naina mencoba menyapa Wira. Suaminya tidak mau mendekat ke meja makan. Saat ini Wira tengah duduk di depan televisi sambil mengenakan kaus kaki.
"Ayah ... ayo ... cini." Wina memanggil dengan senyum cerianya. Tangan mungil berhias selai cokelat itu melambai, meminta Wira mendekat.
"Ayah buru-buru, Sayang. Harus ke kantor pagi ini. Ada pekerjaan yang harus Ayah selesaikan." Wira berjalan mendekat ke arah putrinya dan mencium pucuk kepala Wina sekilas.
Naina yang berdiri di samping Wina seperti tidak terlihat. Wira mengabaikan keberadaannya. Pertanyaan yang ditujukan pada sang suami bagai angin lalu. Wira tidak menjawab.
"Mas, nanti siang aku akan membuatkanmu soto ayam. Aku dan Wina akan mengantar makan siangmu ke kantor." Naina mencoba mengajak bicara kembali sambil menyiapkan sepiring nasi goreng untuk sang suami.
"Mas, sarapanmu." Naina mempersilakan. Ia berusaha bersikap biasa, seolah tidak terjadi apa-apa.
Wira diam, menatap sepiring nasi goreng dengan tatapan datar.
"Mas, aku berencana mencari tempat untuk membuka butik. Sebelum ke kantormu, aku mau melihat ruko dulu. Tidak terlalu jauh dari ...."
Deg-- Naina menelan saliva. Ia tidak bisa berkata-kata lagi. Ucapan Wira pada Rima, tetapi ditujukan untuknya.
"Mas ...." Naina mencoba merengkuh lengan Wira, tetapi pria itu menghempaskannya dengan kasar.
"Win, Ayah pergi ke kantor dulu. Baik-baik di rumah." Wira kembali memeluk tubuh mungil putrinya dan mengecup kedua pipi gembul Wina.
Wira baru saja membuka pintu apartemen saat Naina berlari menyusul dan menghentikan langkahnya. Naina tidak bisa bersabar lagi, ia perlu bicara dan meluruskan semua ini. Tidak bisa membiarkan emosi Wira berlarut-larut.
"Mas, apa kita bisa bicara?" Naina hanya bisa menatap punggung Wira.
"Tidak ada yang perlu kita bicarakan, Nyonya. Tidak perlu menjelaskan apapun padaku. Video itu sudah cukup membuka mataku. Rekaman itu sudah menjelaskan semuanya dan membuatku mengerti apa yang terjadi." Wira menggenggam keras gagang pintu. Kalau tidak ingat Naina seorang wanita, ia ingin menghajarnya, melampiaskan perasaan kecewa dan terlukanya saat ini.
"Mas, maafkan aku. Apa yang Mas inginkan ... aku. pasti akan menurut." Naina masih mencoba bersabar menghadapi kemarahan Wira.
Terdengar helaan napas kasar Wira sebelum bersuara kembali. "Jangan pernah menampakan wajahmu di depanku. Aku muak padamu." Kalimat Wira terdengar penuh penekanan.
"Mas ... jangan begini. Kasihan Wina. Ia pasti sedih melihat kita bertengkar."
"Kalau kasihan pada Wina, sebaiknya menjaga jarak dariku. Aku bersusah payah menahan diri untuk tidak memukulmu. Kalau bisa, aku ingin melemparmu ke jalanan. Jadi, kamu bisa kembali pada kakakku. Bukankah kamu mencintainya?" Wira berbalik. Matanya memerah dengan tangan terkepal. Amarahnya terpancing kembali setiap mengingat perasaan cinta Naina pada Dennis.
"Tapi, setelah aku pikir-pikir ... aku tidak jadi melemparmu ke jalanan. Terlalu mudah untukmu. Kalau aku menceraikanmu ... pasti kamu akan berlari padanya. Tidak ... aku tidak bisa membiarkan semua itu terjadi. Kamu selamanya akan menjadi istriku. Harus mati di tanganku, bukan dipelukan kakakku. Jangan berharap bisa bercerai dariku, Naina ... Pelangie."
"Tiga tahun lalu ... mungkin kamu bisa menceraikanku dengan mudah. Sekarang ... tidak akan semudah itu. Selamanya kamu akan tetap menjadi Nyonya Pratama Wirayudha."
"Mas ...." Naina masih berusaha membujuk.
"Aku tidak sepertimu, Naina Pelangie. Begitu mendapati seseorang mencurangiku langsung menuntut cerai. Bukankah itu yang kamu lakukan dulu padaku. Kamu tentu masih ingat ... aku memohon sambil menangis agar kamu tidak menceraikanku. Dan sekarang, kamu yang akan memohon padaku, menangis padaku."
***
Naina menatap pintu apartemen itu tertutup kembali. Perasaannya mengambang, ia tidak tahu harus bersikap apa. Wajah sendu itu terlihat terluka tanpa air mata.
"Rim, tolong siapkan Wina. Aku akan memasak soto ayam untuk Mas Wira. Aku dan Wina akan melihat-lihat ruko sebentar setelah itu ke kantor Mas Wira," titah Naina, memantapkan hatinya.
"Ibu jadi membuka butik?" tanya Rima.
"Jadi, Rim. Aku tidak punya kesibukan di rumah. Kamu dengar sendiri kalau Mas Wira tidak mengizinkanku sering-sering memasak." Naina tersenyum getir.
"Mungkin karena Ibu hamil, jadi Pak Wira tidak mengizinkan Ibu terlalu sering berada di dapur." Rima menyimpulkan.
"Mungkin." Naina menjawab datar.
***
Tbc