
Setelah memutuskan tidak masuk kerja, Naina memilih menghabiskan waktu bersama Wina. Selama ini, ia mengorbankan kebersamaannya dengan sang buah hati demi pekerjaan. Apa mau dikata, ia menjadi satu dari sekian banyak perempuan yang harus bekerja dan meninggalkan putra-putrinya di rumah. Kalau bisa memilih, tentu saja ia ingin bisa bersama Wina selama 24 jam, menemani gadis kecilnya tumbuh dewasa.
Menemani Wina yang sedang bermain rumah-rumahan di pinggir kolam renang sembari menikmati semilir angin, Naina ikut ambil bagian dalam imajinasi gadis kecil itu. Ditemani langit cerah, celotehan Wina membuat hari Naina semakin berwarna.
Di ruang tamu, tampak Wira sedang mengobrol dengan kedua asistennya. Ketiganya tampak serius berbincang dan membahas pekerjaan. Hal yang dulu tidak pernah dilakukan Wira. Lima tahun berumah tangga, Wira tidak pernah membawa pekerjaannya pulang ke rumah.
Sebagai perempuan yang pernah hadir di dalam kehidupan Wira, tentu saja ia bahagia dengan pencapaian Wira sekarang. Kehidupan mantan suaminya melesat jauh, perusahaan yang tadinya hanya biasa-biasa saja, saat ini dikenal semua orang. Belasan mobil mewah yang terparkir di basement apartemen, salah satu bukti kehebatan Wira saat ini. Ia sudah melihat sendiri, mantan suami yang dulunya bukan siapa-siapa, sekarang mengisi berita gosip online.
“Nai, aku harus keluar sebentar.” Suara Wira tiba-tiba memecah lamunan Naina. Pria itu sudah duduk di samping Wina.
“Hah?” Naina tersentak, menatap ke arah ruang tamu dari jendela kaca. Sudah tidak ada siapa-siapa.
Seakan mengerti, Wira menjawab, “mereka sudah pulang, Nai.”
“Mas, mau ke mana?” tanya Naina. Buru-buru menunduk. Ia tersadar, tidak memiliki hak lagi untuk banyak bertanya pada Wira.
“Aku mau ke tempat Mama. Ada yang harus aku bicarakan pada Mama,” sahut Wira tersenyum.
“Mas ....” Wajah Naina berubah, rona redup terlihat nyata di balik diamnya ibunda dari Wina Pelangie Wirayudha.
“Hmm ....” Wira bergumam. Pria itu masih sibuk mengusap pucuk kepala Wina sesekali mengecupnya lembut.
“Bisa kita bicara, Mas?” tanya Naina.
“Bicaralah, aku siap mendengar.” Wira masih belum mengalihkan pandangannya, konsentrasinya masih pada putrinya.
Naina mengedarkan pandangan, matanya tertuju pada Rima. Gadis muda itu sedang duduk di pinggir kolam sambil mengawasi Wina.
“Kita bicara di dalam saja,” tutur Naina, menarik lengan Wira agar mengikuti langkahnya.
Wira menurut tanpa protes. “Win, Ayah masuk sebentar!” Wira berpamitan.
***
“Mas, mau memarahi Mama?” tanya Naina sesaat setelah mereka berada di ruang makan. Sengaja menghindar dari Rima, Naina tidak mau obrolannya terdengar orang luar.
“Tentu!” Wira menjawab dengan yakin. Pria dengan pakaian casual itu menyelipkan tangan kirinya ke dalam saku celana. Berdiri di samping jendela dengan segelas air putih di tangan kanannya.
“Mas ... aku mohon jangan bertengkar dengan Mama.” Naina duduk dengan kedua tangan menangkup di atas meja makan marmer.
Wira tersentak, tatapannya beralih pada perempuan tertunduk menutupi wajah terlukanya. Ia tahu Naina sedang menutupi sakit hatinya. Seberapa tajamnya kata-kata mamanya, Wira sudah sangat hafal. Walau Naina tidak membuka semua cerita, Wira mengenal jelas mamanya.
“Aku bukan perempuan penyabar dan pemaaf, Mas. Tentu saja, aku sakit hati dengan kata-kata Mama. Aku akui itu. Aku bukan malaikat yang bisa memaafkan dengan mudah. Hanya saja, aku bertahan untuk Wina dan diriku.” Naina menghela napas berat. Tidak mudah untuknya di dalam situasi ini.
“Bagaimanapun aku dan Mama saling membenci, bertengkar dan saling memaki, tetap saja hubungan kami tidak terelakan. Kami akan bertemu dan bertemu lagi ke depannya. Wina putriku, dan cucu Mama juga. Itu faktanya. Kami akan bertemu lagi setelah berperang kata. Dan aku tidak bisa egois, memisahkan seorang nenek untuk bertemu dengan cucunya. Aku sudah belajar banyak dari kesalahanku selama ini,” lanjut Naina.
“Mama tidak bisa dibiarkan, Nai. Ia harus disadarkan!” tegas Wira.
“Masalahnya bukan itu, Mas. Kalau Mas menentang Mama dan membelaku terang-terangan ... Mama mungkin hanya menangis menghadapi sikap Mas, tetapi sebaliknya ... semua yang Mas lakukan itu akan semakin memperburuk hubunganku dengan Mama, akan berimbas padaku ke depannya. Mama akan semakin menekan dan menginjak-injakku, semakin membenciku. Aku tidak mau bertengkar dan dihina terus-menerus. Aku juga manusia biasa. Punya emosi dan perasaan. Punya batas kesabaran. Aku bukan perempuan yang bisa diam kalau diinjak terus-menerus.”
“Mungkin hari ini aku masih bisa sabar, tetapi aku tidak jamin bisa selamanya seperti ini. Aku tidak mau sampai terpancing emosi dan membuat keputusan yang mungkin saja akan menyakiti semua orang lagi,” tutur Naina.
“Aku tidak mau masalah ini berlarut-larut. Makanya aku putuskan memilih keluar dari rumah Mas Wira. Bukan aku tidak menghargai, tetapi mungkin ini yang terbaik untuk kita, Mas. Setelah aku pindah ke rumah lama kita, Mas bisa menemui Wina kapan saja. Mama juga begitu. Akan lebih baik untukku dan Wina, Mas.”
“Masalahnya Mama itu harus ditegaskan, Nai. Tidak boleh seenak-enaknya.”
“Untuk masalah itu, aku tidak ikut campur, Mas. Aku hanya tidak ingin Mas dan Mama bertengkar, dan aku terkena imbasnya. Silakan Mas bertengkar dengan Mama, tetapi jangan membuatku semakin tidak nyaman apalagi sampai membuat Mama semakin membenciku.” Naina menegaskan.
“Bukan tidak mungkin ... kekesalannya padamu, dilampiaskannya padaku,” lanjut Naina. Ia memilih pergi setelah menumpahkan isi hatinya pada Wira.
***
Lamborghini Aventador kuning milik Wira baru saja masuk ke pekarangan rumah dua lantai dengan pintu gerbang yang rusak parah. Sempat terperangah menatap pemandangan yang tidak biasanya, Wira melangkah masuk ke rumah mamanya dengan mata mengawasi pintu besi yang tumbang di halaman rumah.
Menekan bel pintu, Wira tidak membutuhkan waktu lama untuk bisa masuk dan menemui sang Mama.
“Ma ....” Wira membuka suara sembari menatap tajam pada perempuan paruh baya yang sedang menggenggam remote televisi.
“Kamu mau mengomel lagi? Sama seperti Dennis?” todong Mama Wira. “Memang perempuan itu mulutnya ember! Dia suka sekali melihatku dimarahi kedua putraku,” cerocos Mama Wira. Pandangannya tidak beralih sedikitpun dari wajah tampan Song Joon Ki yang memenuhi layar televisi.
“Hahaha ... jadi pagar di depan kerjaan Dennis?” Wira tergelak.
“Diam! Kalau kamu ke sini untuk membela perempuan itu lagi, aku tidak peduli. Kamu hanya buang-buang waktu saja.”
“Tidak, aku hanya mau mengatakan kalau urusan Mama dengan Naina, bukan urusanku. Bahkan aku tidak tahu apa yang Mama bicarakan dengannya. Naina tidak bicara apa-apa padaku.”
Pandangan perempuan tua itu teralihkan kali ini. “Lalu apa maumu datang ke sini?”
“Aku putuskan tidak mau menikah lagi seumur hidupku!” Wira berkata dengan tegas. “Jadi Mama tidak perlu mengancam Naina, karena itu tidak akan mempengaruhi keputusanku.”
“Apapun yang Mama katakan pada Naina, itu tidak akan berpengaruh padaku. Mama ingat, Naina bukan siapa-siapa di keluarga kita. Aku datang ke sini hanya ingin memperingati Mama. Tolong bersikap baiklah pada Naina. Dia tidak terikat dengan keluarga kita. Kapan saja dia bisa pergi jauh dan membawa Wina menghilang dari hidup kita. Dia bukan istriku, bahkan mungkin Wina tidak terdaftar sebagai putriku di akta kelahirannya. Aku tidak berhak menahan mereka berdua!” ancam Wira.
Deg — Mama Wira tersentak.
“Apa Naina mau pergi dan menghilang lagi. Membawa pergi cucuku?” tanya Mama Wira. Wajahnya berubah pucat.
“Aku tidak tahu. Aku tidak ada hubungan apa-apa dengannya, Ma. Andai dia memaksa pergi pun, aku tidak bisa menahannya. Aku tidak memiliki kekuasaan untuk menahannya. Siapa aku di dalam hidup Naina. Aku bukan siapa-siapanya.”
“Kemarikan ponselmu! Aku harus bicara dengan Naina sekarang. Ia tidak boleh membawa pergi cucuku.” Mama Wira melunak.
“Ma, kita tidak bisa memaksa seseorang. Naina itu single, dia baru 25 tahun. Jalannya masih panjang. Bisa saja dia bertemu dengan laki-laki lain, jatuh cinta dan menikah lagi. Otomatis dia harus pergi dari keluarga kita. Dan ... Wina itu masih di bawah umur. Sudah pasti akan ikut bersama Naina dengan keluarga barunya.”
Jantung Mama Wira semakin berdetak kencang. Kehilangan Nola saja sudah membuatnya dirundung kesedihan, apalagi harus kehilangan cucu keduanya. Ia tidak sanggup membayangkan kalau harus kehilangan Wina juga. Ancaman Dennis tidak terlalu membuatnya takut, tetapi kata-kata Wira ada benarnya juga.
“Apalagi kalau suami Naina nanti tidak bisa menerima putriku. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana kehidupan Wina ke depannya. Harus tinggal dengan keluarga tirinya, yang belum tentu mau menerima Wina dengan tangan terbuka,” ancam Wira lagi.
“Wir ... bagaimana ini? Aku tidak mau cucuku pergi dan menderita.” Mata perempuan tua itu terlihat berkaca-kaca. Gambaran yang baru saja dijelaskan Wira padanya bagai mimpi buruk di depan mata.
***
Tbc