
Sayup-sayup terdengar suara tangisan bayi, membuat Gemma yang sempat tertidur, kini kembali terjaga. Pelan-pelan, dia turun dari ranjang, dan mendatangi anak perempuannya yang menangis dengan nyaring di dalam boks bayi.
“Sshh … ini Mama, Sayang …” bisiknya sambil meraih tubuh kecil itu dan menggendongnya, membuat bayi perempuan itu nyaman dalam dekapannya yang hangat.
Gemma kelelahan saat menjaganya, hingga tak sadar, dia melewatkan jam makan malam. Waktu di jam dinding sudah menunujukkan pukul sembilan malam.
Sang suami pun masuk ke kamar membawakan makan malam di atas piring, lauk, sayur, dan juga segelas air hangat. “Makan dulu, Sayang. Ini buatan Bu Marni.”
Gala meraih meja lipat dan membukanya, agar Gemma bisa makan di atas ranjang.
“Udah dikasih obat penurun panas, belum?” tanya Gala sambil meraba kening bayi gembul bermata hijau bulat tersebut dengan pipi yang begitu tembem. Bayi itu benar-benar duplikat dirinya, kecuali mata hijau itu.
“Sudah, sebelum dia tidur tadi, kira-kira jam tujuh,” jawab Gemma seraya memakan makanannya. “Makasih ya, udah dibawain makanan. Aku bener-bener nggak ada waktu buat masak lagi.”
Revisi skripsi berbarengan punya bayi itu sesuatu sekali. Tapi Gemma benar-benar menikmati semuanya. Meski sibuk karena pendidikannya, pekerjaannya, dan juga keluarganya, semua dikerjakannya dengan sebaik mungkin.
Kadang Gala heran pada sang istri. Ingin sekali dia membedah tubuh Gemma, untuk melihat terbuat dari apa otak dan tulang yang super kuat itu. Setiap hari dia bolak-balik ke kampus untuk mengerjakan skripsi sambil membawa bayinya untuk sembunyi-sembunyi menyusuinya, lalu pulang ke rumah untuk menyiapkan kebutuhan semua orang. Dia hampir tak punya waktu untuk diri sendiri.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka, masuklah seorang pria kecil yang begitu imut, dengan wajah yang mirip dengan Gemma tetapi memiliki lesung pipi dalam seperti ayahnya. “Mama! Gelal mau susu!” ujarnya masih cadel.
Gemma tersenyum, “Bentar ya, Mama habisin makan dulu.”
“Okey,” ujarnya polos. Anak itu memanjat ranjang lalu berbaring di sebelah Gemma. Suara kecil anak itu membuat hati Gemma tergugah. Dialah Geraldo, anak pertamanya dan Gala yang lahir tiga tahun lalu.
Pintu itu belum tertutup sepenuhnya, ketika masuk satu lagi anaknya yang paling besar. Viani, sudah menjelma jadi anak remaja cantik, namun makin condong ke persona yang dimiliki oleh Indra. Meski begitu, tak pernah sekalipun Gala membedakan perhatian pada ketiga anak-anaknya.
Dia terkadang masih suka membuntuti kalau Viani pergi kencan. Gadis itu tidak tahu kalau sang Papa sambung selalu membuntutinya dan bersikap posesif di belakangnya. Dua tahun lalu, Indra menyuruh Viani memanggil Gala dengan sebutan yang semestinya, karena melihat Gala yang begitu sayang pada anaknya.
“Ma! Pa!” pekiknya dengan ekspresi panik.
“Kenapa?” Gala menghampiri Viani. “Kamu kenapa heboh gitu?”
“Ini …” Viani mengangkat ponselnya dengan begitu gugup. “Malam ini pengumumannya!”
Baik Gala dan Viani segera duduk di ranjang, bergabung dengan Gemma yang sudah selesai makan. Viani membuka ponselnya mengetik sesuatu pada search engine untuk membuka website yang dimaksud. Tangannya gemetaran dan dahinya dipenuhi keringat dingin.
“Viani gugup, Pa,” bisiknya.
Gala mengelus puncak kepala Viani. “Udah, tenang aja. Apapun hasilnya, yang penting kamu udah usaha keras. Mama dan Papa, dan juga Papa Indra akan selalu dukung di manapun kamu kuliah. Selalu ada second opinion. Kamu bisa kuliah di Aussie kayak Papa dulu."
“Kalau seandainya ini nggak dapat, aku ikut kata Papa aja,” Viani mendesah pelan. Kendati dia masih ingin kuliah di sini, pilihan untuk pergi ke negri kangguru juga bukan hal yang buruk. Dia mengetik namanya dan nomor ID-nya. Tak sampai satu detik kemudian, hasilnya pun tampil. Viani menatap pengumuman itu dengan mulut terbuka. Pelan-pelan, wajahnya menunduk kecewa. “Yahhh …”
Gala menatap Viani yang terlihat lesu, “Nggak dapat ya?”
“Nggak dapat …” Viani mendesis parau. “Tapi bo'ong! Arghh— Sakit Ma!”
Seperti biasa, Gemmalah yang mencubit. “Kamu tuh, ngerjain Papa Mama aja!”
“Selamat, Sayang! Kamu akhirnya diterima,” ujar Gala sambil mengacak rambut di puncak kepala Viani.
Dilihatnya Viani yang sedang bahagia dan manja, lalu sang suami yang tengah bermain cilukba bersama bayi perempuannya. Bayi yang tawanya sangat menular, tapi kalau menangis, rasanya dunia Gemma hampir runtuh.
Gemma menatap bayinya yang benar-benar mirip dengan sang suami, bergantian dengan si kecil Geraldo. Inikah wujud buah cintanya dengan Gala?
Rasanya dia masih bermimpi.
Dulu, tak pernah terpikirkan kalau dia akan mencapai titik ini. Bersatu lagi dengan cinta pertamanya, menikah bahkan punya tiga orang anak. Rasanya terlalu sempurna.
Gemma tidak ingin membandingkan, tapi hidupnya sekarang adalah hidup yang jauh lebih baik.
Gala adalah representasi penolong yang Tuhan siapkan untuknya. Bukankah seharusnya semua pasangan seperti itu? Mereka diciptakan oleh Tuhan untuk menjadi penolong bagi satu sama lain dan mendukung semua hal baik yang akan membawa mereka untuk jadi orang yang lebih baik.
Sedangkan Indra? Dia bukanlah jelmaan Dewa Siwa. Dia hanyalah sebuah proses yang harus Gemma jalani sekaligus menjadi perantara yang mengantarkan Gemma untuk menemukan kembali belahan jiwanya.
Kadang-kadang, Gemma masih suka tersenyum sendiri kalau mengingat letak apartemen yang Indra beli dulu, yang bersebelahan dengan unit milik Gala. Sungguh sebuah kebetulan yang langka.
Karena ada Indra, semua kenangannya dengan Gala, baik saat SMA maupun 15 tahun kemudian jadi terasa amat berharga.
Gemma tak pernah menyesali pernikahannya dengan Indra. Karena kalau tidak, Gemma tidak akan tahu bagaimana caranya untuk jadi istri yang baik.
Sedangkan Gala dengan segala kekayaan yang dimiliki keluarganya, pasti memberinya segala akses dan kemudahan. Mungkin dia tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya memperjuangkan seseorang, jika seandainya dia tidak bertemu dengan Gemma lagi.
Bahwa semua yang terjadi pasti ada tujuannya. Bahwa semua yang Tuhan perbuat bukan untuk mendatangkan kecelakaan. Bahwa semua hal buruk yang Tuhan izinkan terjadi, hanyalah untuk mengajari manusia akan nilai kehidupan. Untuk menghargai semua orang di saat mereka masih dalam jangkauan kita.
Agar pada akhirnya, bukan hanya bahagia yang kita capai, tetapi hati yang akhirnya mengerti tentang nilai kehidupan itu sendiri.
“Liat, giginya udah tumbuh satu!” seru Gala saat jempolnya dengan iseng membuka bibir atas si bayi.
Gala, Viani dan Geraldo semua datang mendekat, tersenyum gembira ketika melihat gigi bayi yang sedang tumbuh itu.
Sama seperti proses gigi tumbuh itu, yang membuat tubuh bayi tidak nyaman bahkan sampai sakit panas. Demikianlah hidup yang kadang perlu proses yang mungkin semenyakitkan itu, agar manusia dapat mencapai sesuatu di penghujung perjuangannya.
Semua orang ingin bahagia dan tidak ingin hidup susah. Itu manusiawi.
Tapi ... kita nggak akan dapat berlian kalau belum diasah dulu, ‘kan?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Aku baper banget nulis ini, sumpah 😭😭😭 kayak mo lepas anak yg nikah terus pindah rumah untuk hidup sendiri 😭😭😭
Ps. Readers-ku sayang ... Mau bonus chapter?
⭐⭐⭐Pss. Banyak yg minta bonus chapter, bakal ku kasih buat kalian, mungkin besok atau lusa aku up karena harus nyari ide dulu yaa⭐⭐⭐
💥💥💥sekalian ada GIVEAWAY nanti, diumumin di Bonus Chapter💥💥💥