Our Story : Mendadak Sekantor

Our Story : Mendadak Sekantor
S2 Bab 46 - Pak Varel


Pagi itu, Viani bangun dengan semangat baru, hati yang lebih percaya diri plus pinggang yang encok.


Dia pun mencari pakaian kerja yang sekiranya cocok dengannya. Kemeja katun dengan merek Guc*i, rok span selutut berikut cardigan lengan pendek yang stylist masih dari merk yang sama membuat lekuk tubuhnya yang sintal semakin terlihat sexy.


Semula yang biasanya dia menggunakan sneakers, kini dia memutuskan untuk menggunakan pump heels 5 senti. Tak lupa dia menggunakan finger tape pada jempol dan kelingking kakinya agar tidak lecet nantinya. Rambutnya yang panjang sedada, dia berikan sentuhan curly pada ujungnya. Penampilannya sudah cantik paripurna.


Di belakangnya, Vincent yang baru bangun tidur jadi melongo dan cepat-cepat memeluk sang istri.


"Mmm, colsplay kantoran ya, Sayang?"


Viani tertawa lalu menyikut perut suaminya pelan. "Aku beneran mau ke kantor!"


"Kantor apaan? Ngapain?"


"Trisinar. Ada rapat internal di sana. Dokter Toni kabarin aku dua hari lalu."


"Tunggu aku, aku bakal siap-siap anterin. By the way, bayi mana?"


"Lagi dibawa Bu Marni jemur-jemur. Ayo mandi gih. Biar cepet."


Vincent langsung mandi dan bersiap mengantar Viani bekerja. Tak lupa dia menghubungi asistennya bahwa hari ini, dia akan masuk kerja setelah makan siang.


...***...


Hentakan pump heels itu berbunyi di sepanjang lantai marmer kantor Trisinar. Banyak orang yang lewat tanpa mengenalnya tak membuat Viani terganggu. Harusnya dia dihormati di rumah sakit ini. Tapi Viani tidak pernah berharap dihormati. Dia menikmati menjadi orang asing, atau mantan manager purchaaing saja.


"Aku boleh belok ke ruang Toni dulu, Sayang? Lama nggak ketemu dia," ucap Vincent seraya melepaskan jemarinya dari pegangan tangan Viani.


Viani mengangguk pelan dan mempersilakan Vincent menemui temannya, sementara dia mengambil lift untuk pergi ke lantai 10. Lalu masuklah seseorang yang sepertinya bukanlah tenaga medis namun berpakaian rapi.


"Selamat pagi, Bu," sapa pria berkepala botak tersebut.


"Pagi, Pak," ucap Viani ramah pada pria yang ternyata sama-sama pergi ke lantai 10.


Baru saja menginjak lantai 2, beberapa orang lain masuk. Yaitu April dan geng yang sepertinya baru saja hadir di kantor menuju tempat kerja mereka di lantai 4 dari lahan parkir yang ada di lantai 2 juga.


“Eh, ada Miss Approval,” sindir Karin, wanita berambut pendek yang mengenakan pakaian seksi.


“Hai, selamat pagi,” jawab Viani ramah, tak ingin menyindir balik.


“Sok-sokan sopan!” sergah Chika menatap Viani tidak suka.


“Dari dulu aku memang begini, kan? Kebiasaan aku menyapa orang setiap hari, bukan nyinyir atau ghibah!” jawab Viani tenang dengan nada suara datar.


“Masih ada muka buat balik ke sini, muka tembok!” ucap seorang yang lain lagi sampai membuat telinga Viani panas.


Wanita itu menyabarkan diri sendiri dan berniat tidak ingin meladeni mereka. Namun, sedikit gertakan mungkin tidak mengapa. “Tahan jiwa ghibah kalian, wahai kaum wanita. Nanti kalian semakin nyesal!”


“Eh, justru kami bersyukur dong karena elo nggak kerja di sini lagi!” ujar Karin nyolot.


Sudahlah, susah bicara pada wanita-wanita tong kosong seperti ini. Viani diam saja dan membiarkan mereka bergerak dan berbicara sesuai mau mereka. Lagi pula mereka tidak akan berani main fisik kan?


"Guys, udahlah!" tegur April yang akhirnya bersuara. Wajahnya sudah tidak sekaku kemarin. Entah apa yang membuat April hari ini berbeda, tetapi dia melihat Viani dengan wajah ketakutan.


Viani tidak mau terganggu dengan kehadiran April yang berdiri segan di hadapannya. Kira-kira, April memang sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi. Sudut bibir Viani tertarik sambil menatap April. Tak pelak seringaian itu membuat gadis tersebut semakin gelisah.


Tak lama, mereka keluar di lantai 7, masih dengan mulut yang tak berhenti mengoceh seperti lebah terbang. Kecuali April tentunya.


“Tidak apa-apa, Pak. Santai!” jawab Viani selow. “Oh ya, Pak. Bapak ke lantai berapa?”


“Sepuluh. Ibu sendiri ke sana juga?”


“Iya, Pak.”


Mereka pun mengobrol hal-hal ringan tentang siapa pria botak ini dan apa pekerjaannya. Namun semakin ke sini, pembicaraan mereka semakin menarik dan membuat Viani hampir tertawa kencang dengan puas.


Mereka lalu keluar dari lantai yang sama menuju ruangan yang sama.


...***...


April, sosok yang pernah menemani Viani saat masih di Trisinar itu sekarang adalah seorang Manajer Purchasing. Setelah Viani resign, wanita itu mengusulkan nama April untuk menggantikannya. Tak disangka Viani, ternyata April seperti ini.


Kalau Viani mau, bisa saja masalah yang dulu dibuka kembali. Tetapi Viani sudah malas, dan dia percaya setiap orang punya karmanya. Dan karma itu terjadi hari ini.


“Permisi, Bu. Bu April dipanggil ke lantai 10,” ucap seorang pegawai di personalia.


April mengerutkan kening. Ada apa di lantai 10?


Dia pun merapikan bajunya dan segera menuju lantai 10. Di tengah perjalanan, dia bertemu dengan Karin, Rani, Chika, Siska dan dua orang lainnya. Teman satu gengnya semua di sini? Hati April makin gelisah.


Tiba di lantai 10, mereka dipersilakan masuk ke dalam ruang pertemuan direksi. Hal pertama yang Viani lihat di sana adalah dua orang tampan yang sedang bercengkrama.


Salah satunya adalah Dokter Toni dan seorang lainnya adalah Vincent. Mereka sedang berbincang dengan seseorang yang sedang duduk di salah satu kursi kerja paling ujung, yang posisinya membelakangi pintu masuk.


Tak jauh dari mereka sedang duduk pula seorang pria berkepala botak yang sedang sibuk membaca dokumen di tangannya.


“Permisi … Selamat pagi Dokter Toni,” sapa April dengan penuh hormat. “Kami dipanggil ke ruangan ini.”


“Ah, ya! Kami menunggu kalian. Silakan duduk.”


Mereka pun semua mengambil posisi untuk duduk sambil menunggu, entah apa itu.


Tak lama kemudian, Vincent pergi dari sana. Menyisakan Dokter Toni, pria botak dan seseorang yang ada di balik kursi kerja super besar itu yang masih membelakangi mereka. Lalu, seorang staf personalia pun masuk.


“Karena sekarang semua sudah di sini, mari kita mulai."


“Saya ingin memperkenalkan teman saya. Yaitu ibu Lunaviani Suteja. Pemegang saham yang cukup besar di Trisinar."


Dengan gerakan slow motion, sambil menggeraikan rambut indah curly miliknya, sosok yang berada di balik kursi itu akhirnya menampakkan diri. Senyum puas tersungging di bibir Viani kala menatap wajah pias wanita-wanita tersebut.


Sontak, seluruh mulut menganga. April memang sudah tahu perihal keluarga Viani yang kaya raya, tetapi dia tidak menyangka kalau Viani adalah salah satu pemegang saham di sini. April ketakutan karena sudah tertangkap basah menusuk Viani dari belakang.


"Saya mendengar bahwa hari ini kalian menunjukkan perilaku yang bertentangan dengan visi misi Trisinar dan kode etik pekerja di sini. Saya heran, berani-beraninya kalian melakukan pelanggaran di hadapan atasan sendiri!"


Penyataan Toni membuat hati seluruh wanita itu jadi kocar kacir. Ekspresi mereka semua berubah.


"Ah, ya. Saya lupa. Perkenalkan ini Pak Varel, Manager Personalia yang baru."


Semua mulut gadis itu terbuka dan menganga saking terkejutnya. Mampus.


Tak banyak panjang lebar, semuanya langsung dikenai SP oleh Varel.


...****************...