Our Story : Mendadak Sekantor

Our Story : Mendadak Sekantor
S2 Bab 27 – Sebuah Keputusan


Viani kini terduduk sendirian di apartemennya, di mana semua orang telah pergi membawa kekecewaan yang begitu mendalam terhadap seluruh rangkaian kejadian hari ini.


Vincent yang awalnya kekeh ingin bertahan, malah mundur teratur saat nama Alvin disebut-sebut dalam pembelaan Viani. Dia tidak dapat meyakinkan Vincent kalau Alvin benar-benar tidak bersalah dalam hal ini.


“Kamu bisa lakukan apa pun di sini. Gala nggak perlu beri kamu bodyguard atau siapa pun yang akan mengawasi gerak gerik kamu lagi. Kamu bebas sekarang.” Itu adalah Indra yang bersuara.


“Kalau kamu nggak ke klub, mungkin ini semua nggak bakal terjadi, Vi! Ini baru Vincent, bagaimana kalau orang lain yang ngajak temannya rame-rame kayak si Alvin itu?” ucap Gemma.


“Kita bakal tuntut Alvin.” Kalimat itu disambut anggukan oleh Gala sebelum mereka keluar dari apartemen Viani.


Semua orang marah padanya.


Dipandanginya kue ulang tahun yang dibawa oleh orang tuanya. Ini adalah hari paling buruk yang akan dia ingat seumur hidupnya. Dan sial, terjadi pada saat hari ulang tahunnya. Viani menekuk lututnya dan membenamkan wajahnya di sana untuk menangis hingga dia lelah di apartemen yang dingin, sunyi dan sendirian.


Seharian Viani berdiam diri. Dia tidak kemana-mana sama sekali. Meratapi nasibnya berada sendirian di sini, ditinggalkan semua keluarganya. Andai dia tidak ke klub malam itu, semua ini tak akan pernah terjadi. Dia tidak akan bertemu Alvin dan menyeret Vincent ke dalam masalah ini.


Semua makanan yang tersedia dalam lemari pendinginnya tak ada yang dia sentuh. Untuk berjalan keluar dari tempat ini saja, dia tidak punya semangat sama sekali.


Sesekali, dia berusaha menghubungi Alvin setelah membuka blokiran nomor lelaki itu, tetapi Alvin hilang bak ditelan bumi. Apa jangan-jangan memang Alvin yang meletakkan obat itu seperti yang diyakini Vincent? Entahlah, ini bukan Alvin yang dia kenal.


Dia juga menghubungi Vincent. Tapi semua panggilannya tak bersambut, pun dengan chat yang tak dibaca.


Viani meletakkan ponselnya dan berbaring di sofa mulai sore. Gadis itu terbangun pukul delapan malam saat seseorang menekan bell lewat interkom berkali-kali, hingga Viani—yang tak bertenaga untuk turun itu—akhirnya terpaksa membukakan pintu.


“Vincent …” bisiknya saat melihat sosok itu akhirnya berdiri di depan pintu dengan keadaan cukup kacau. Di belakangnya, ada sebuah koper berukuran sedang. “Kamu … kenapa ada koper?”


Lelaki itu langsung maju dan merengkuh Viani dalam pelukannya. “Maafin aku sempat tinggalin kamu, Vi.”


Air mata Viani yang sudah kering, kembali turun penuh haru. Dia tak menjawab Vincent, tetapi kedua tangannya terangkat dan memeluknya erat. “Aku pikir aku kehilangan kamu.”


“Nggak, Vi … aku memilih kamu,” jawab Vincent. Lelaki itu menutup pintu apartemen Viani, tanpa memutus pelukannya. “Hanya kamu yang aku punya sekarang.”


“Apa maksud kamu?” Viani melepas Vincent dan mengerutkan keningnya.


Yang ditanya tidak menjawab. Vincent lalu menunduk dan memagut bibir Viani dengan lembut.


Ketika ciuman itu selesai, sebuah kotak kecil berlapis beludru hitam, yang sudah dipersiapkan beberapa waktu lalu akhirnya keluar dari kantong Vincent. Dibukanya kotak itu dan memperlihatkan isinya.


Viani terpana beberapa detik. “Ini …” jemarinya terangkat dan menyentuh cincin berlian itu dengan ragu. “Cincin …”


“Menikahlah denganku, Viani …” kata Vincent dalam satu tarikan napas, dengan penuh keyakinan dan harapan.


“Hah?”


“Ayo kita menikah …”


Sebenarnya yang Viani pinta bukanlah pengulangan dari Vincent. “Kapan kamu beli—“


“Beberapa hari lalu. Aku beli ini bukan barusan … Niat aku menikahi kamu terjadi sudah dari pertama kalinya aku mendapatkan hati kamu.”


Vaini masih terpana. Tak ingin membuang waktu, Vincent meraih tangan kiri Viani dan menyematkan cincin itu di jari manisnya.


“Setelah ini kita segera mempersiapkan semuanya. Dengan atau tanpa restu dari orang tua kita. Kamu nggak masalah kan, menikah sederhana?"


“Aku nggak pernah masalah mau itu sederhana atau besar. Tapi gimana keluarga kamu? Om Niko—“


“Kita nggak usah pikirin Papaku.”


Jadi ini yang dimaksud Vincent. Lelaki itu meninggalkan keluarganya untuk Viani. Viani bingung mau menyambut ini sebagai berita baik atau buruk. “Entahlah Vin ..."


“Jangan ragu lagi. Sekali kita ragu, kita bakal kehilangan semuanya. Percaya sama aku, kita akan bersama dan aku yakin pada saatnya nanti, orang tua kita pasti bahagia kalau melihat kita bahagia.”


Viani terdiam.


"Pegang tangan aku, jangan lepaskan. Suatu saat mereka akan mengerti, Vi ..."


Kata-kata yang sarat akan keyakinan dari Vincent akhirnya membuat Viani luluh. Dia pun mengangguk pada permintaan Vincent dan merangkum wajah lelaki itu untuk mengecup bibirnya dengan lembut dan penuh sayang.


Vincent kini resmi menjadi tunanganya. Calon suaminya.


***


Beberapa jam sebelumnya.


“Maaaa!!” teriak Elvina dari balkon pada kedua orang tuanya yang berada di ruang tamu di bawah. Tapi sayang tidak ada satu pun yang menoleh. Semua ekspresi di sana sedang dalam mode silent. Di sana, Elvina sudah tahu bahwa ada yang tidak beres. Maka dia pun masuk kembali ke dalam kamarnya, membiarkan ketiga orang dewasa itu bicara dalam hening.


Vincent, Niko dan Erika sedang duduk di sofa. Tatapan mereka kosong. Ada beberapa perasaan yang berbeda di sana. Niko adalah yang paling mencolok, paling penuh amarah. Erika menatap anaknya dengan ekspresi rumit tak terbaca. Sedangkan Vincent, menatap lantai dengan gamang.


“Jadi … selama ini …?”


“Jadi, itulah alasan Gala, Er. Aku nggak nyangka, alasan dia secetek itu.”


Erika sempat terdiam beberapa menit. Wanita yang masih begitu cantik itu kemudian menatap lurus pada anaknya.


“Mama tau kalau Vincent nggak bakal pernah begitu. Seumur hidup, aku ke klub hanya beberapa kali dan itu atas sepengatahuan Mama dan Papa.


Circle teman aku juga nggak banyak dan mereka semua adalah orang baik. Tian, Toni, Jasan, you name them, Mom. Aku juga nggak pernah aneh-aneh sekalipun dengan Sarah atau pun Jenny.”


Erika mengangguk perlahan pada penuturan Vincent. Teringat bagaimana cara mereka dulu menikah, memang sama sekali jauh dari harapan.


Terlalu hina untuk kembali ke keluarga besar dan terlalu rusak untuk menjadi panutan. Erika menyadari bahwa mereka adalah contoh pasangan dengan pergaulan terburuk bagi anak-anak mereka.


Tapi itu dulu, sebelum Erika hamil dan melahirkan Vincent ke dunia. Anak yang sempat ingin dia aborsi, tetapi urung karena dukungan Niko. Di usia 19 tahun, dengan sangat mengejutkan, Niko menjadi orang paling dewasa yang pernah Erika kenal. Niko bukan hanya suami, tetapi dia adalah partner terbaik yang Erika miliki, menggantikan sosok orang tuanya yang telah mengusirnya dari rumah. Yang Erika miliki hanyalah Niko, begitu pula sebaliknya.


Mereka tak pernah bercerita dengan Vincent bagaimana pertama kali jatuh cinta, bahkan benih itu tumbuh menjadi seorang pria tampan dengan gelar dokter seperti sekarang.


Memang, Gala memegang peran besar dalam hidup mereka saat itu. Modal yang mereka pinjam dari Gala menjelma jadi usaha Bakery and Pastry chain yang begitu pesat.


Memberi Niko kesempatan sekali lagi untuk jadi dokter, bahkan hingga ke spesialis. Meskipun dana pinjaman itu telah dikembalikan dua kali lipat, tetap tak ada yang bisa membayar utang budi.


Saat ini, Erika tertunduk malu di hadapan Vincent. “Maafkan Mama, Nak …” katanya dengan air mata menetes. “Inilah kami … kami menikah karena kamu sudah ada duluan di rahim Mama. Tapi mama nggak menyangka kalau sampai sekarang, status kamu akan jadi persoalan dan bahan pertimbangan segelintir orang.”


Mulut Vincent membuka. Dia segera menghampiri sang ibu di mana wanita itu pun jatuh dalam pelukan Vincent dan menangis dengan keras. “Maafkan Mama, Nak …”


Hancur sudah pertahanan Vincent, air matanya ikut meluruh, berbaur dengan air mata sang ibu yang terus berjatuhan. Tubuh Erika gemetaran, menahan sesak yang begitu hebat dalam benaknya.


Karena dirinya, sang anak jadi kena getahnya. Seandainya dia tidak sebinal itu saat SMA, seandainya dia tidak menggoda Niko, seandainya dia tidak terjerumus dalam pergaulan bebasa saat itu. Berbagai pengandaian demi pengandaian pelan-pelan menyiksa jiwa Erika dengan rasa bersalah luar baisa.


“Mama, ini semua nggak ada hubungannya sama Mama …” Vincent mendekap Erika dengan lembut. “Maafin Vincent, Ma. Ini salah Vincent.”


“Bukan salah kamu, Sayang. Kamu adalah anak termanis yang Mama punya. Anak yang nggak pernah mengeluh saat hidup kita susah dulu. Kamu nggak pernah berubah, Sayang."


Benar. Vincent adalah Vincent, dia tidak berubah dan tidak mengikuti jalur pergaulan yang buruk meski dia ingin.


Saat orang tua teman-temannya sudah punya mobil minimal yang seratus jutaan, Erika dan Niko masih bergumul dengan sebuah sepeda motor yang membawa mereka kemana-mana.


“Maaf … maaf …” gumam Erika lagi sampai wanita itu terjatuh di lantai dan menangis di hadapan kaki Vincent. Hatinya remuk redam menatap wajah Vincent yang babak belur dihajar orang tua Viani.


Niko turut meneteskan air matanya. Bersama Vincent, dia menarik istrinya dari posisinya berlutut. Niko mengangkat tangannya, menghapus air mata istrinya yang amat dia cintai. Dia tidak setuju dengan ungkapan rasa bersalah sang istri.


Hubungan itu terjadi atas kehendak mereka berdua. Kalau bukan Niko yang kelepasan, mungkin mereka tak akan menikah secepat itu. “Ini bukan salah kamu, Erika. Aku yang salah …”


“Aku yang godain kamu. Gara-gara aku, kamu diusir sama Papa kamu. Gara-gara aku, Vincent jadi begini.”


Sementara Erika terus menangis dalam pilu. Vincent tak bisa berhenti memikirkan Viani. Gadis itu pasti juga mengalami hal yang sama beratnya.


Rasa-rasanya, Vincent memang masih marah terhadap pilihan Viani yang terus merongrongnya dengan mengatakan Alvin tidak bersalah. Tapi berada di sini adalah hal yang dia rasa lebih salah lagi.


“Ma, Pa …” Vincent akhirnya menatap kedua orang tuanya seperti lelaki dewasa yang siap lepas menuju medan perang. “Aku tau kalau situasi ini sulit. Tapi Vincent harus pergi sekarang.”


“Kemana kamu akan pergi?”


“Vincent nggak bisa ninggalin Viani sendirian, Pa …”


Niko berdiri dan menatap Vincent dengan tajam. “Vincent! Kamu tidak boleh pergi!”


“Kenapa aku nggak boleh pergi, Pa?”


“Kamu nggak dengar bagaimana Gala mempermalukan keluarga kita tadi? Kamu nggak dengar bagaimana Gala merendahkan harga diri kamu dan membuat wajah kamu babak belur seperti ini?


Dia nggak menginginkan kamu, Vin! Untuk apa kamu mengemis cinta Viani lagi? Kita beda kasta dengan mereka! Dia bahkan sudah menolak niatmu untuk betanggung jawab!”


“Persetan sama Om Gala! Viani di sini adalah pihak yang paling dirugikan. Apa Papa nggak kasihan sama dia?”


“Untuk apa kita kasihan, Vin? Dia saja membela orang lain ketimbang kamu. Gini aja, Vin … detik ini, Papa kasih kamu pilihan. Kamu memilih Viani, maka selamanya kamu tidak usah kembali ke rumah ini.”


“NIKO!” Erika kaget bukan kepalang saat melihat arogansi Niko yang memuncak. Dia tak pernah tahu kalau Niko punya sisi seperti ini dan tentunya sebagai istri yang telah hampir tiga puluh tahun bersamanya tak akan menyangka kalau suaminya akan bertindak angkuh. “Pilihan macam apa itu, Nik? Ini bukan kamu—“


“Vincent sudah besar dan bisa memilih, Er. Kalau Niko merasa kita yang lebih penting, dia akan memilih kita. Aku tidak mau lagi berurusan dengan keluarga Aditya. Selamanya.”


***


Ini adalah beban terberat Vincent semasa hidupnya. Terberat nomor dua setelah stase kepaniteraan klinik yang diikutinya saat koas. Dia seperti tak tidur tiga hari, punggungnya terasa kaku dan bahunya terasa berat. Beban tak kasat mata yang mempengaruhi pikiran Vincent turut mengacaukan kinerja tubuhnya.


Ponsel yang ia letakkan di atas nakas tadi tak berhenti berdering. Nama Viani terpampang jelas di sana, gadis itu pasti sangat putus asa sekarang. Dada Vincent terasa nyeri dan sesak saat meninggalkan Viani tadi.


Vincent merenung sebentar di kamarnya, berusaha memikirkan masak-masak terhadap apa yang harus dia lakukan selanjutnya. Berulang kali dia mengusap wajahnya dengan perasaan kalut dan bingung.


Beberpa menit kemudian, dia mengambil koper dan memasukkan pakaiannya ke dalam sana.


Lelaki itu telah membuat sebuah keputusan.


***