
Di pagi yang sunyi ini, Gemma berada sendirian di apartemen. Viani dan Indra telah pergi sejak dua jam yang lalu.
Entah kenapa pikiran tadi malam itu muncul begitu saja di otak Gemma. Bisa dibilang, Gemma hanya asal ngomong saat meminta hal tersebut pada Indra. Tetapi tak disangka, dia akan mengabulkannya. Sungguh, dia tidak ada alasan khusus untuk permintaan itu, murni pemikiran spontanitasnya saja.
“Mas benar-benar yakin?” kata Gemma tadi pagi memastikan lagi sebelum Indra mengantar Viani sekaligus langsung pergi ke kantor.
“Yakin sekali! Apa sih yang nggak buat kamu?”
Dan Gemma masih memantau, apakah Indra benar-benar mengabulkan keinginannya dalam tujuh hari? Sebab sebenarnya Gemma tidak yakin kalau hal itu akan kejadian.
Dihitung dari semua cost yang mereka keluarkan dengan gaji Indra, tak mungkin lagi dia mampu mengabulkannya. Tetapi jika orang tuanya ikut campur dan memberi Indra uang lebih, bisa jadi terjadi. Tapi… apa mungkin?
“Pada abis!” sewaktu dia melihat bahan makanan yang ternyata sudah tak ada lagi dalam lemari pendingin mereka.
Saking dia terlarut dalam kemarahannya pada Indra, dia sampai tak sadar kalau dia sudah tak membeli apa pun selama beberapa hari.
Mau tak mau, Gemma turun ke bawah, membawa kunci mobil, goodie bag dan dompetnya menuju ke sebuah swalayan yang hanya 10 menit dari apartemen tersebut.
Di jalan, Gemma tak bisa berhenti memikirkan kebodohannya, membiarkan identitas Rita tertutupi dengan hancurnya ponsel Indra. Mau marah pun percuma, ponsel itu sudah hancur dan tak bisa lagi diperbaiki.
Setelah selesai belanja mingguan, dia pun berjalan ke pusat perbelanjaan yang letaknya bersebelahan dengan swalayan itu. Membeli semua apa yang dia perlu, bahkan yang tak dia perlu sekalipun. Menggunakan kartu kredit Indra secara sembarangan, kalau perlu sampai jebol sekalian.
Dia sampai bingung sendiri, untuk apa dia membeli kamera DSLR seharga sebelas juta kalau dia tidak bisa memakainya? Gemma benar-benar kalap kalau sudah marah...
“Harusnya kubelikan gitar aja kalo begini! Biar Indra marah sekalian!" gerutunya sambil memasukkan seluruh barang belanjaannya ke dalam mobil.
Dia bermaksud menyusun barang belanjaannya dalam bagasi. Namun dia tak sengaja menjatuhkan dompetnya di aspal.
“Ini punya kamu?” tanya seseorang yang mengambilkan benda itu. Gala berdiri di hadapan Gemma dengan begitu gagahnya.
Aura dewasa pria itu langsung menguar dengan begitu menggoda, ditambah lesung pipi dalam yang hampir selalu membuat Gemma kesulitan bernapas. Sial… Masih saja dia begitu terpesona padanya. “Kita ketemu lagi di sini.”
Gemma mengambil dompet itu dari Gala dengan wajah memerah. “Kamu ngapain ke sini? Ngikutin aku?”
“Jangan galak-galak… Ini tuh tempat umum, Gem. Swalayan paling deket juga di sini. Emang salah kalo aku ke swalayan buat belanja bulanan?”
Eh? Gemma merasa terlalu percaya diri kalau Gala benar-benar mengikutinya sampai ke sini. Wanita itu menggaruk tengkuknya dengan kikuk. “I-iya… selamat belanja kalo gitu…”
“Kamu dah ganti hobi?”
“Apa?”
“Itu kamera…”
“Oh … ini untuk Viani …” kata Gemma asal.
Gala mengerutkan keningnya. “Anak kamu hobi fotografi? Kamu nggak ngajarin dia main musik? Minimal gitar gitu seperti keahlian kamu?”
"Nggak. Hobi lain aja."
"Kenapa nggak kamu ajarin? Kamu masih suka main gitar, kan?"
“Eng ... Suamiku nggak suka kalau aku main gitar …” kata Gemma dalam getir.
Seakan bisa merasakan kepahitan itu, Gala dengan refleks menyentuh lengan Gemma lagi. Mau bagaimana pun Gemma membohonginya, dia tetap tahu kalau rumah tangga wanita itu terasa hampa, dan ada banyak misteri yang disimpan dalam kepala cantiknya yang Gala tak bisa dengan sembarangan menebak.
Andai bisa dia putar kembali pada 15 tahun lalu, Gala akan membawa Gemma lari dan menerima anak itu, menjadikannya anaknya, lalu menyembunyikan Gemma dari kekejaman dunia. Tapi di usia 19 tahun yang masih amat muda, Gala tak pernah kepikiran sampai ke sana. Mau menyesal juga percuma, semua sudah terjadi.
“Jadi, kamu nggak bahagia sama pernikahan kamu ini?”
Sial! Gemma baru sadar kalau dia sedikit membuka celah pada Gala, dan ini bukan situasi yang bagus. Wanita itu memaki dirinya karena tiba-tiba bercerita seterbuka itu pada mantan kekasihnya.
Gala pun berdiri, memberi jalan pada Gemma yang berlalu darinya membawa sejuta tanya yang tak akan pernah dia jawab.
Kecuali kalau wanita itu sudah membuka diri untuknya.
***
Gala pun tak bisa berhenti memikirkan pertemuannya dengan Gemma dua hari berturut-turut ini. Tak mungkin dia maju terlalu jauh mencampuri rumah tangga wanita itu. Kalau pun dia harus ikut campur, Gala butuh alasan yang kuat untuknya.
Dia begitu ingin membawa Gemma pergi dari Indra, tapi mengingat ada Viani, maka semua itu akan sangat mustahil dilakukan. Tapi apa yang tak mungkin saat ini, belum tentu tidak mungkin di masa depan nanti ‘kan?
Saat ini, dia berada dalam kantornya di kantor utama Aditya Group, sambil menyesap kopi Los Planes deep roasted yang jadi favoritnya.
Mona baru saja dari sini, meminta bantuan Gala untuk meng-handle salah satu anak perusahaan milik mereka, sebuah perusahaan ekspedisi yang tak sempat mereka perhatikan selama beberapa tahun belakangan.
Meski sebenarnya malas karena ingin fokus pada Diverto Music and Management saja, Gala pun memutuskan untuk ambil bagian.
“Ini dokumen yang lo minta,” kata Felix yang masuk dengan membawakan sebuah map tebal yang dia letakkan di meja Gala.
“Ini yang lo bilang nggak pernah ada keuntungan selama dua tahun terakhir, Lix?”
“Bener. Padahal laporannya balance. Tapi…”
“Let’s see…” Gala mengambil kacamatanya dan membaca lembar demi lembar catatan tersebut dan menemukan suatu kejanggalan yang terlihat amat tipis. Namun, dia harus memastikannya terlebih dahulu untuk menentukan langkah selanjutnya. “Bisakah aku minta semua data transaksi dan dokumentasinya dalam lima tahun terakhir?”
“Ketemu yang aneh, Bos?”
“Hanya mau mastikan aja.”
“Oke…” Felix pun kembali membawa dokumen yang diminta Gala dan meletakkan semua dokumen itu di atas meja. “Ada yang diperlukan lagi, Bos?”
“Gue pengen kerja, tapi bukan di sini…”
“Maksudnya?”
“Masukin gue ke Rapidash Express pura-pura jadi titipan lo, jadiin gue karyawan.”
“Gila lo…”
“Lebih gila lagi kalo perusahaan ini hancur gara-gara orang maruk. Lo tau sendiri ada ratusan orang yang jadi karyawan kita di sana.”
“Mau jadi apa nih Bos?"
“Apa aja yang penting bisa bersentuhan sama dokumen perusahaan."
"Beres, Bos!"
"Stop panggil gue, Bos!"
"Aye Captain!" Felix lalu mengundurkan diri dari hadapan Gala.
Mata Gala kembali menyusuri dokumen itu lembar demi lembar. Lalu perhatiannya tertuju pada satu nama yang tertera di sana. Indra Suteja.
Dia pun iseng, membuka laptopnya, mencari di salah satu website media sosial, dan menemukan kalau pemilik nama tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah suami Gemma. Dari foto profil yang ada di sana, menampilkan Indra yang memeluk Gemma dengan begitu posesif.
Sudut bibir Gala tertarik. Awalnya dia ogah-ogahan untuk menerima permintaan dari Mona tadi, tapi sekarang, dia malah jadi penasaran. Gala mengambil telepon interkom untuk menghubungi Felix.
“Lix… Cari tahu nama Indra Suteja di Rapidash Express, tentang jabatannya sekarang dan kehidupan pribadinya… Tempatin gue dan dia dalam satu kantor yang sama…”
...****************...