Our Story : Mendadak Sekantor

Our Story : Mendadak Sekantor
36. Derai Air Mata


“Sama siapa kamu di bawah tadi?” tanya Indra sambil bersedekap. Otot tangannya yang liat terlihat semakin keras di bawah cahaya lampu temaram kamar mereka.


“Bukan siapa-siapa!” jawab Gemma ketus sambil bersiap naik ke ranjang. Kini dia sebenarnya tidak peduli kalau Indra melihat Gala bersamanya.


Semua sikap posesif yang Indra terapkan seakan sudah bukan momok menakutkan bagi Gemma, sejak pengkhianatan itu terjadi. Tapi hingga kini, tak sekalipun Gemma terpikir untuk membalas.


“Aku ini suami kamu, Gem! Untuk apa kamu interaksi sama laki-laki lain?!” ujar Indra dengan suara meninggi. Sejak awal, Indra bagai belenggu yang membatasi setiap langkah dan pergerakan sang istri dengan begitu ketat.


Melihatnya bicara dengan pria lain sering memancing pertengkaran yang berujung pada sang istri yang harus minta maaf.


Gemma memandang Gala dengan tajam. Jengah akan semua perilaku sang suami yang telah dia alami selama 15 tahun.


“Aku dan pria tadi itu cuma teman SMA yang kebetulan ketemu. Apa kamu buta? Nggak lihat seberapa jauhnya kami duduk tadi?”


“Aku cemburu dan aku nggak suka! Aku sudah bilang berkali-kali sama kamu kalau kamu nggak boleh dekat sama lelaki lain selain aku!”


Gemma mendengus kasar. “Kamu lupa siapa yang selingkuh sekarang?” Wanita itu malah mengambil bantal dan gulingnya dan berjalan menuju kamar lain. Tak sudi tidur satu ranjang dengan lelaki itu.


“Pembicaraan kita tadi belum selesai!” Cekal Indra pada tangan Gemma, menghentikan kaki istrinya untuk melangkah keluar kamar.


“Apa lagi yang kamu mau bicarain?”


“Sampai kapan kamu diamin aku kayak gini?” Indra terlihat jenuh dengan silent treatment Gemma yang masih terjadi hingga saat ini. Wajah dingin Gemma masih saja belum berubah.


“Gem! Lihat aku kalau bicara!”


“Jangan pegang-pegang!” hardik Gemma. “Kamu menjijikan!”


Hal itu membuat Indra merasa tertampar. Indra yang terlihat putus asa itu menyusul Gemma menuju kamar tamu yang tak pernah dipakai. Dia tak rela Gemma seperti ini.


Istrinya selalu mengasihinya tanpa pamrih, mengurusnya, tidur di sampingnya. Tentu melihat perubahan ini, hati Indra jadi tak rela.


“Gem. Please… jangan begini sama aku!”


Gemma menurunkan bantal dan gulingnya di ranjang. “Bagaimana dengan aku, Mas? Baru kudiamin, kamu udah nggak nyaman. Gimana sama aku yang kamu bohongin dari lama?”


“Aku sama dia udah nggak ada apa-apa! Kami udah nggak ada hubungan lagi!”


“Kamu pikir dengan kalian putus, semua jadi beres? Kepercayaan itu aku bangun dengan susah payah dari pertama kita sah jadi suami istri. Apa kamu nggak mikir betapa sulitnya hidupku membangun komitmen sama orang yang sudah menodai aku?


"Aku udah maafin kamu dari lama, Mas! Dan kamu dengan begitu mudahnya bersama wanita lain setelah semua trauma dan rasa takut yang susah-susah aku singkirkan demi bisa membangun rumah tangga sama kamu, supaya aku bisa tetap jadi istri kamu dan tetap jadi ibu buat Viani!”


“Aku dan dia bener-bener khilaf, Gem! Kenapa sih nggak bisa percaya?"


“Percaya? Balik coba, kamu yang diposisi aku, apa kamu bisa percaya? Nggak kan?! Ngelihat aku ngobrol sama teman aku aja kamu udah kepanasan!


"Aku rela nggak kuliah, rela nggak kerja, demi ikutin kemauan kamu yang amat posesif itu. Aku selama ini nggak pernah ngeluh, Mas.


Bilang! Bilang sama aku apa yang kurang? Apa karena aku udah nggak menarik lagi? Apa karena selulit di perutku ini? Apa aku selama ini jadi istri yang nggak baik? Jujurlah sama aku, Mas!”


Pelan-pelan, tangisan itu kembali membanjir. Sakit dalam dadanya membuat kakinya lemas sampai dia jatuh terduduk di atas ranjang.


Di sini, pria yang menjadi suaminya malah menyianyiakan komitmen yang sudah dia bangun belasan tahun. Sedangkan di tower sebelah, muncul pria yang sepertinya masih membawa rasa yang sama untuknya meski belasan tahun telah berlalu.


Tanpa disangka, Indra berlutut di hadapannya, menatap manik Gemma dalam-dalam dan dengan bersungguh-sungguh. “Ampuni aku, Sayang. Aku khilaf. Dan aku janji aku nggak akan berhubungan lagi sama Rita. Aku udah blokir nomor dia.”


Tangisan Gemma berhenti. Percuma menangisi pria ini. Dia pasti akan dianggap sebagai wanita lemah tak berdaya. Apa Indra pikir, Gemma bisa diyakinkan semudah itu?


“Kamu kira aku bodoh? Sekali selingkuh, kamu akan terus selingkuh, Mas!”


“Dia yang goda aku duluan, Gem! Aku ini manusia, nggak selalu kuat untuk menentang semua godaan!”


“Tapi manusia itu punya pilihan. Seperti aku yang memilih tetap setia di samping kamu. Sayangnya, kamu menganggap komitmen aku ini sepele. Aku ngerasa, apa yang aku pertahanin sekarang semua sia-sia.”


“Kenapa kamu bilang gitu Gem? Pernikahan kita ini nggak sepele. Ini berarti banget buat aku,” Indra meraih tangan Gemma dan mengecupnya dengan penuh rasa. Tak pernah dia lihat suaminya begitu serapuh ini.


Gemma merasa tersentuh dan dia bimbang. Indra kelihatan begitu menyesali semua perbuatannya. Meski nalarnya berteriak kalau itu hanya kamuflase, hati nuraninya malah terketuk begitu hebat. Perang batin begitu luar biasa melanda hati Gemma saat ini.


“Aku mohon, Sayang… Aku nggak bisa hidup tanpa kamu. Kamu nggak berencana ninggalin aku kan?”


“Tadinya aku belum kepikiran. Tapi sekarang, aku jadi mempertimbangkannya.”


“Jangan! Jangan tinggalin aku, Sayang…” Indra bersimpuh di kaki Gemma, dan dia menangis!


Baru pertama kali dia menyaksikan betapa hancurnya Indra saat ini memohon cintanya. Hal ini tak pernah terjadi sebelumnya, walau seberapa hebatnya mereka bertengkar dulu.


Gemma bimbang. Dia begitu tersentuh dengan permohonan suaminya. Apa dia harus memberi kesempatan?


Indra lalu berdiri, mengambil ponselnya dan menginjak-injaknya sampai hancur.


“Kenapa kamu hancurin hape kamu?” tanya Gemma bingung.


“Dengan ini, Sayang, Rita nggak akan bisa hubungin aku lagi… Aku memilih kamu. Aku bersalah, dan aku minta maaf. Kamu mau kan maafin aku?” kembali Indra bersimpuh di hadapannya, menggenggam tangannya dengan erat dan memohon dengan pilu.


“Please… aku nggak mau kamu tinggal! Kamu adalah hidup aku, Gem. Kamu dan Viani adalah dunia aku sekarang!”


Gemma menatap Indra begitu tajam. Tangisan Indra itu entah kenapa terdengar menggelikan di telinganya dan tidak masuk akal.


Awalnya dia sempat terenyuh, tetapi kini, kecurigaan Gemma malah semakin bertambah. Karena, ponsel itu bisa saja hancur, tapi justru itulah di mana semua bukti tersimpan. Ahh! Gemma merasa bodoh. Kalau begini dia jadi tidak punya bukti apa-apa.


Meski belum memutuskan, suatu saat, bukti itu akan berguna, bukan?


Namun, melihat Indra yang begitu giat meminta ampun padanya, nalar Gemma mencoba menahan setiap emosi dirinya yang seharusnya Indra dapatkan pada saat ini.


Wanita itu akan mencoba nanti, sebab intuisinya sangat kuat, kalau pria yang jadi suaminya sekarang tidak hanya berselingkuh satu kali.


Tapi kalau Indra terus-terusan dibombardir dengan pertanyaan emosional, dia pasti tidak akan mengaku. Maka akal sehat Gemma mendorong hatinya untuk membuka diri dan membiarkan sang suami percaya kalau dia berangsur-angsur mendapat pengampunan.


Dia harus memikirkan matang-matang langkah apa yang selanjutnya dia akan pilih setelah menemukan bukti kuat. Apa dia harus bertahan, atau berpisah dan membawa Viani pergi dari ayah yang sangat disayanginya.


“Sayang, aku nggak bisa hidup tanpa kamu! Aku mohon, beri aku kesempatan untuk buktikan kalau aku pantas untuk berada di sisi kamu,” kata Indra berderai air mata.


Cih, buaya!


“Aku perlu waktu,” ujar Gemma sambil memandang tangan Indra yang meremas pelan tangannya.


Indra tersenyum. “Aku akan menunggu sampai kamu maafin aku dan mencintai aku lagi. Kamu boleh marah sama aku, asalkan kamu selalu di sisi aku, Sayang. Aku cinta kamu…” Indra menunduk, mencium Gemma perlahan dan lemah lembut.


Wanita itu tidak membalas ciuman sang suami sama sekali.


Indra menyapu pipi Gemma dengan punggung tangannya. “Cantik… jangan sampai ada pria lain yang sentuh kamu. Aku nggak mau lagi lihat kamu ngobrol sama teman kamu itu. Kamu itu milik aku…”


Mata Gemma membulat saat Indra membicarakan Gala. Dia sedikit gugup kalau-kalau Indra melihat Gala menyentuh lengannya tadi. Namun hingga sekarang, Indra tak membahas apa-apa. Pun reaksi yang di wajahnya masih wajar.


Mudah-mudahan pria itu tidak benar-benar melihat bahwa interaksi antara Gala dan Gemma sebenarnya tadi lebih dari sekedar obrolan, tetapi amat sangat melibatkan rasa.


Well... Semakin kesini, Gemma semakin bosan. Apa hak Indra melarang-larang dengan siapa dia harus bicara?


“Dengar, kamu kira kamu akan bisa terus posesif sama aku setelah aku tahu tentang perselingkuhan kamu? Kamu beruntung karena aku malas mencari tahu siapa itu Rita.


Tapi sekarang, jika kamu benar-benar ingin aku ada di samping kamu, kamu yang harus menangin hati aku! Bukan aku yang harus selalu menuruti kemauan kamu!”


Indra menghentikan tangannya yang sedari tadi mengelus pipi istrinya. “I see… Kalau begitu sekarang, aku buat penawaran. Untuk bisa dapatin hati kamu lagi, aku harus apa? Kamu boleh minta apa saja sama aku. Aku akan usahakan memenuhinya.”


“Kalau aku minta cerai, gimana?”


“Jangan, Gem! Apapun, asal jangan cerai! Aku bisa mati kalau kehilangan kamu, Sayang!”


Ish lebay... Jambu! Buaya! Aligator!


“Apa pun?”


“Apa pun!”


Gemma tersenyum miring… “Aku mau…” Gemma bangkit dan membisikkan sesuatu pada telinga Indra. Perempuan itu yakin sekali kalau Indra tak akan bisa memenuhi keinginannya.


“Oke! Itu bukan hal yang sulit!”


Mendengar hal itu, Gemma yang jadi bingung. Padahal permintaan itu adalah permintaan yang cukup sulit karena bertentangan dengan prinsip Indra dan juga ekonomi mereka saat ini, dan Indra tak mungkin bisa mengabulkannya. “Yang benar?”


“Iya!"


"Nggak keberatan gitu?"


"Aku akan lakukan apa pun untuk kamu, Sayang!”


...****************...