Our Story : Mendadak Sekantor

Our Story : Mendadak Sekantor
19. Aku Mau Kamu


Hari ini adalah hari pertama Gala masuk sekolah. Meski kakinya masih terasa lesu dan masih ada bekas memar di wajahnya akibat benturan keras saat kecelakaan itu, Gala mampu datang ke sekolah dengan kondisi tubuh yang lebih fit.


“Hai,” sapa Gemma saat jam istirahat di kelasnya. Gala terlihat duduk sendirian di sana sembari membaca komik Naruto.


Gala mengangkat kepalanya, berusaha memaksakan diri untuk tersenyum pada Gemma. “Hai… Kabar kamu gimana?”


Gemma menepuk pelan lengan Gala dengan gemas. “Harusnya aku yang tanya, how do you feel? Luka kamu gimana?”


“Better…” jawab Gala datar.


“Good. Kamu bawa obat kamu nggak? Apa dikasih pain killer?”


“Bawa kok,” ujar Gala sambil menunjukkan plastik obat yang dibawanya. “Tadi pagi udah minum.”


“Nanti siang minum lagi yah! Aku kangen kamu, tauk!” Kemudian Gemma menunduk, mengecup pipi Gala sekilas. “Aku senang kamu udah mau turun sekolah.”


“Thanks…” jawab Gala singkat.


“Hari ini mau jalan nggak? Kita bisa nonton…”


“Nggak.” Potong Gala begitu saja sebelum Gemma dapat menyebutkan film apa yang mau ditontonnya.


“Kalo gitu, ke rumah Niko dan Erika yuk? Kita belajar bareng?”


“No…” tolak Gala yang terlihat tidak bersemangat melakukan apapun.


“Mmm… kalo gitu—“


“Sialan! Tinggalin gue sendiri napa sih?”


Gala membentak Gemma… Gemma terpaku, dia tidak pernah memikirkan kalau Gala akan membentaknya seperti ini. Cewek itu menatap Gala kaku. Dia langsung memundurkan tubuhnya mendengar bentakan Gala yang sepertinya benar-benar terganggu akan kehadirannya.


Semuanya jadi terasa asing saat ini. Gala sepertinya sedang memasang tembok pemisah yang amat tinggi. Dia tidak ingin dipandang cengeng oleh Gemma. Cukup sudah saat Gemma melihatnya begitu tergugu menangis di pemakaman. Meski duka adalah rasa yang wajar, tetapi sebagai seorang lelaki, pantang bagi Gala untuk terlihat begitu rapuh.


Namun kelihatannya, gadis itu belum mau menyerah. Dia masih ingin mencoba menghibur sang kekasih yang baru saja ditinggal pergi sang ayah.


***


Setelah Ujian Nasional, Mei 2006


“Mas Gala… ada tamu!” panggil Bik Yana dari bawah.


“Bilang aku nggak ada!” teriak Gala dari atas pada Bik Yani. Dia benar-benar tidak ingin bertemu siapa pun saat ini. Otaknya begitu lambat mencerna nasihat Paul tempo hari. Tapi menurut Paul, Gala yang sudah mau turun sekolah adalah suatu awal yang bagus.


Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam, tapi kini matanya telah mengantuk. Gala pergi ke kasurnya dan berbaring sambil memandang poster Paul Gilbert yang terpajang di dinding kamarnya.


Kepalanya langsung memikirkan tujuan kuliahnya yang semula. Tiba-tiba dia berubah pikiran untuk kuliah di tempat yang lebih jauh lagi, yang bahasa Inggrisnya tidak terlalu tercampur dengan bahasa lain.


Australia, New Zealand, USA, UK, atau? Argghhh! Sungguh dia ingin mencari pelarian yang lebih baik, lebih jauh dari semua yang mengingatkannya pada kedua orang tuanya.


Gala menutup matanya sejenak tepat saat pintu kamarnya tiba-tiba terbuka dan muncullah Febri, Niko, Diana dan Erika.


“Surprise!” teriak mereka bersama-sama.


Dari belakang, muncullah Gemma membawa kue black forest dengan angka 19.


“Tiup lilinnya dulu,” bisik Gemma. Gala menurut dan langsung meniup api di lilin tersebut hingga padam. “Happy birthday,” ujar Gemma sambil mengecup pipi Gala.


“Makasih, Gem …” ucap Gala sambil mengelus puncak kepala Gemma. Wajah Gemma memerah karena malu, tetapi dia menyukai gestur sederhana yang Gala lakukan padanya.


“Happy birthday tua bangka!” ujar Febri sambil memberi Gala sebuah kado yang tidak diketahui apa isinya. “Ini kita berempat patungan beliin. Awas kalo ilang!”


Gala membuka kotak itu yang ternyata berisi jam tangan digital analog terbaru berwarna hitam yang sempat diinginkannya tahun lalu, tetapi urung dibelinya karena mendapat kado jam tangan lain.


Tak enak dengan teman-teman yang sudah datang ke rumahnya itu, Gala membawa mereka ke ruangan karaoke yang ada di lantai 1. Mereka semua bernyanyi-nyanyi sampai lelah sendiri.


Sebentar-sebentar tertawa lalu menangis, tergantung lagu apa saja yang dibawakan. Febri dan Niko sampai berdiri dan memeluk Gala dengan bertangis-tangisan. Diana dan Erika menatap mereka dengan ekspresi lucu, tetapi membiarkan saja mereka seperti itu.


“Maafin kami ya Bik, di sini berantakan banget!” ucap Gemma dengan canggung. Sebab seharusnya pukul 9 malam, Bik Yana sudah kembali ke rumah khusus asisten rumah tangga yang letaknya ada di belakang rumah Gala, masih satu area dengan rumah yang luar biasa megah ini.


“Nggak papa Mbak. Jarang-jarang juga. Lagipula Mas Gala juga memang lagi butuh hiburan. Kasihan, udah yatim piatu …”


Pukul setengah 11 malam, akhirnya semua orang pulang ke rumah masing-masing, kecuali Gemma yang tetap bertahan, membantu Bik Yana membersihkan semua kekacauan yang mereka timbulkan. Bik Yana pun pamit pulang setelah semua beres.


Sekarang, di rumah hanya tersisa Gala dan Gemma berduaan saja. Gala terlihat canggung sekarang. Tapi gadis itu sepertinya terlihat sangat biasa saja.


Gemma memang selalu berperangai tenang, tak pernah terlalu gembira atau terlalu sedih, jadi terkadang sulit membaca isi hatinya dan apa yang sedang dipikirkannya.


“Nggak mau pulang? Aku anter …” tanya Gala melirik Gemma yang kini duduk manis di depannya sambil menonton televisi di ruang tengah di lantai dua.


“Aku masih pengen di sini,” gumam Gemma tanpa memandang Gala. “Bisa kita bicara sebentar?”


“Sok atuh, kita udah ngomong dari tadi.”


“Ada sesuatu yang aku mau kasih ke kamu. secara pribadi …”


Gala tak dapat menepis rasa penasaran, dia melirik pada Gemma yang saat ini membuka tote bag miliknya untuk mengeluarkan sesuatu. Apakah itu?


“Pertama-tama, aku harus berikan kamu ini. Jangan kaget. Ini bukan hadiah. Aku cuma mau ngembaliin ini sama kamu. Sebenarnya harusnya ke orangnya langsung. Tapi kayaknya bakal memalukan. Jadi aku titipin sama kamu aja,” ujar Gemma sambil menyerahkan benda itu pada Gala.


Gala terkejut saat melihat majalah dewasa yang diserahkan Gemma. “I-ini ... majalahnya?”


“Niko …”


“Jadi kamu??”


“Aku apa?”


Aduh, Gala tidak bisa membayangkan kalau Gemma ikut membaca. Setan benar si Niko ini emang!


Kalau sampai otak Gemma dicemari oleh temannya itu bagaimana? Anjing, si Niko.


Gala malu. Benar-benar malu sampai dia bicara terbata, “Ka-kamu baca?”


“Kamu juga sering baca kan? Nggak mungkin enggak!” tukas Gemma yakin sekali.


Wajah Gala memerah seperti kepiting rebus, lalu mengambil majalah itu dari sang kekasih. “Su-sudah? Ayo pulang. Aku nggak mau ditanyain lagi soal ini!”


Gadis itu kembali tersenyum dengan ekspresi yang begitu sukar untuk diteliti. Ada satu hal yang sepertinya masih disimpan Gemma untuk diberitahukan.


“Aku pengen stay ... Tengah malam ini, aku ulang tahun juga!”


Astaga! Gala lupa sama sekali kalau besok adalah ulang tahun Gemma. Ya, ulang tahun mereka hanya beda sehari.


Gala pada 14 Mei, sedangkan Gemma pada tanggal 15. Satu jam lagi, gadis itu akan genap berusia 18 tahun. Ah … gadisnya sudah dewasa ternyata. Gala memandang Gemma dengan sayang dan menyentuh wajahnya dengan rasa bersalah. Pantas saja gadis ini ingin dekat-dekat dengannya.


“Maafin aku, aku lupa, Gem …”


“It’s okay … aku nggak minta barang kok. Kamu ada di sini, aku udah senang banget!”


“Lalu kamu mau apa, Sayang?”


“Aku mau kamu …”


...****************...