
Sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan jatuh juga. Bangkai yang disembunyikan pasti baunya akan tercium juga.
Gemma tahu persis di mana sepasang pasangan itu sekarang. Dia berencana ke sana, namun masih mempertimbangkan sesuatu. Dia ingin mentalnya benar-benar siap untuk apa yang akan disaksikannya nanti.
Untuk membunuh waktu, Gemma membuka ponselnya, menggulir akun media sosialnya untuk melihat postingan terkini sang suami. Baru saja pria itu mengunggah sebuah gambar bersama sekelompok orang.
Ada beberapa pria dan wanita, berdiri di depan logo Rapidash Express, di mana tag location-nya masih berada di Semarang. Wanita itu begitu penasaran dengan siapa saja yang berada di sana.
Kemudian Gemma melihat foto Ranita yang berdiri di paling ujung, jauh dari Indra. Sang suami tak bilang kalau dia berangkat dengan wanita itu. Di bandara, Gemma juga tak bertemu dengannya.
Tapi kemudian, matanya tertuju pada seorang wanita yang cukup familiar baginya. Gemma berusaha mengingat namanya, Melly Liu.
Hei, bukankah itu adalah teman sekolah mereka dulu? Gemma tidak pernah memfollow Melly, dan Indra tidak membuat tag pada Melly.
“Melly Liu,” gumam Gemma sambil mencari di tab pencarian. Dia pun menemukan orang yang bernama Melly Liu adalah orang yang sama yang menjadi teman SMA-nya dulu.
Dan kebetulan, dia tidak mengunci profilnya. Berbagai foto di tempat kerja itu menguatkan pendapat Gemma kalau dia tak salah orang dan orang itu benar bekerja di sana. Gemma langsung mengirimkan Direct Message pada Melly.
[ Gemma : Hei… Melly… Mungkin lo lupa sama gue. Gue Gemma, ingat nggak? ]
Semesta memihak Gemma. Melly langsung membalas pesannya tanpa menunggu waktu lama. Wanita itu memang sedang online.
[ Melly : Ingat! Lo mantan pacar Gala… Eh Sorry, gue ingatnya lo mantannya doang sih. Apa kabar? ]
[ Gemma : Baik, Mel… Anyway, gue boleh nanya? Maaf ya sebelumnya kalo gue nggak basa-basi dulu. Lo kerja di Rapidash Semarang ya? ]
[ Melly : Iya gue sekarang kerja di cabang Semarang… Kok lo tau? ]
[ Gemma : Tau dong. Itu lo foto sama abang gue. ]
Gemma berkilah habis-habisan. Dia tidak peduli harus berbohong lagi sekarang. Toh tak banyak yang tahu kalau Gemma adalah anak tunggal yang jelas tak punya abang.
[ Melly : Loh, siapa abang lo? ]
[ Gemma : Indra Suteja, yang baru datang ke kantor lo. Gue kebetulan lihat foto elo di sana. ]
[ Melly : Oalah. Sempit banget dunia ya. Iya bener, abang lo ke sini tadi ngeliatin kinerja RE Semarang. Sama istrinya tadi. Ipar lo cantik banget orangnya, kayak model. ]
Istrinya? Oh… Berarti wanita itu tidak ke sana untuk bekerja. Hanya menemani saja rupanya.
[ Gemma : Masa sih? Abang gue emang jago nyari bini. Gue kalah dong, nih? ] pancing Gemma.
[ Melly : Hahaha, nggak lah, lo juga cantik kok. Tapi jangan salah! Gue cuma mengagumi, bukan suka beneran sama Mbak Ranita. Gue ‘straight’ to the bone… Masih suka cowok. Wkwkwkwk ]
Informasi itu sudah lebih dari cukup kalau Gemma ternyata tak diakui sebagai istri oleh Indra. Mungkin kalau suatu saat Gemma akan melamar pekerjaan, dia akan menulis keahlian “berakting” sebagai salah satu bakat terkuatnya.
Hingga beberapa menit kemudian, dia masih saja mengobrol dengan Melly seolah tanpa beban dan tanpa menyembunyikan apa-apa sama sekali.
Sampai akhirnya chat itu pun berhenti karena Melly ingin tidur.
Indra terlalu banyak berbohong padanya. Dan pria itu terlalu berani mengakui pegawainya sendiri sebagai istrinya. Tak takutkah dia kalau kebohongan itu tidak dapat tertutupi hanya karena berbeda daerah kerja?
Gemma sudah muak.
Pukul 12 malam, Gemma belum bisa tidur sama sekali. Matanya masih terjaga sepenuhnya, sambil menatap tajam pada pintu balkon yang ia biarkan terbuka.
Gemma mengangkat ponselnya, memperhatikan setiap detailnya yang terlihat baret di sana sini, plus layarnya yang terlihat retak. Untung saja ponsel itu masih mau menyala, meski layarnya sudah nyaris hancur.
Dia tidak menyesali ini sama sekali saat dia melempar ponselnya ke lantai dengan keras setelah mendengar suara ******* seorang wanita dengan suaminya lewat GPS tracker tersebut.
Ya… ponselnya jadi seperti itu karena dia begitu emosi tadi.
Saat matanya memandang ke seluruh penjuru apartemen, dia merasakan sebuah kehampaan. Tak ada apa-apa yang dapat dipertahankannya di sini. Tidur di ranjang perselingkuhan berselimutkan pengkhianatan, membuat kulitnya terasa gatal-gatal.
Pikiran Gemma sudah mendarat kemana-mana. Suara ******* itu tentu berbeda dengan suara orang biasa saat berbicara, sehingga dia tidak bisa benar-benar menebak seratus persen dengan siapa Indra tidur, dia terlalu takut menuduh. Tapi logikanya berteriak yakin benar kalau perempuan itu adalah Rita alias Ranita.
Namun untuk malam ini, apakah Indra punya partner tidur yang sama? Ataukah dia sedang tidur dengan orang lain?
Ini mengerikan.
Diliriknya nakas, diambilnya sebuah kartu akses yang ada di sana. Otaknya menuntunnya menuju apartemen yang masih menjadi milik mereka di tower C.
Dia hanya berharap tak bertemu Gala sama sekali agar pria itu tidak banyak bertanya, sebab sekarang, dia merasa hampir berubah jadi setan, minus tanduk dan cakar panjang.
Napasnya berhembus lebih cepat dari biasa, terutama saat dia menggesek kartu akses itu hingga pintu apartemennya terbuka.
Jauh dari dalam lubuk hatinya, dia berharap kalau ini hanya mimpi buruk. Batinnya meringis kala dia membayangkan kalau anaknya sampai tahu bagaimana kelakuan sang ayah.
Sementara hatinya masih berbelas kasihan pada pernikahannya, logikanya memaksanya untuk mempertahankan harga diri.
Pelan-pelan, Gemma melangkah masuk dengan sisa-sisa kekuatan yang dia miliki. Sejak melihat posisi GPS tracker itu, dia sudah berlatih untuk mempersiapkan segala kemungkinan terburuk.
Namun latihan tetaplah latihan, dia tak pernah siap untuk menghadapi kenyataan yang ada di lapangan.
“Mas!"
Suara wanita yang dia dengar dari rekaman GPS tracker tadi malah terdengar nyata dan semakin jelas. Diliriknya kamar mereka yang dulu, pintunya terbuka sedikit.
Siluet cahaya temaram menyentuh wajahnya saat dia memberanikan diri mengintip, pada adegan paling kurang ajar yang pernah Gemma lihat antara suaminya dan wanita yang ia kenal.
Lidah Gemma kelu, tenggorokannya terasa kering dan tercekat batu besar. Tangannya pelan-pelan terangkat, menutup mulutnya untuk meredam semua suara yang mungkin akan menunjukkan keberadaanya di sini.
Mentalnya tidak siap melihat ini.
Sebelah tangannya terjulur hampir membuka paksa pintu itu, tapi mendadak, Gemma menurunkan tangannya, tidak jadi melakukannya.
Mati-matian dia berusaha agar dapat berpikir jernih. Dia tidak ingin perselingkuhan ini jadi viral dan membuat malu namanya dan keluarga besar Suteja. Kasihan Viani kalau hal itu sampai terjadi.
Dia harus bermain cantik.
Diambilnya ponselnya yang sudah peot itu dan mulai merekam sebanyak satu menit.
Satu menit yang sangat cukup untuk menghancurkan seorang Indra.
...****************...