Our Story : Mendadak Sekantor

Our Story : Mendadak Sekantor
11. Julian Brengsek


Di hari-hari berikutnya, Gala akhirnya mengetahui kalau kedatangan Julian ke sekolah mereka adalah karena Gemma sendiri yang memintanya.


Dalam waktu dekat, akan ada kompetisi gitar akustik solo wanita antar SMA/SMK, dan sekolah ingin Gemma mewakili. Rosa mengatakan kalau Gemma agak kacau akhir-akhir ini dan kesulitan membuat aransemen lagu wajib yang diberi oleh panitia.


Julian setuju karena sekolahnya tidak mengirimkan gitaris untuk maju. Dia rutin datang ke sekolah mereka hingga h-4. Setelah itu, cowok tersebut tidak lagi muncul di sekolah sama sekali. Dan Gemma terlihat kerap berlatih sendirian di ruang musik sekolah.


Hal yang cukup mengejutkan adalah, selama latihan ini, Gala tidak mendengar ada protes dan kemarahan Yahya. Mana mungkin pria itu tidak tahu kalau anaknya tengah berlatih memainkan gitar. Apalagi Gemma berlatih sangat intens selama dua minggu. Tapi Gala tak bertanya langsung, karena hubungan mereka kini amat dingin.


“Bokap Gemma dah ngizinin, tauk!" ungkap Diana sumringah.


Gala mengerutkan kening tak percaya. "Serius? Kok bisa?"


“Iya, sumpe deh, nggak bohong gue. Gue juga ngerasa aneh awalnya. Waktu itu, gue sama Bu Rosa yang ke rumah buat minta izin langsung sama Om Yahya. Tapi reaksi beliau bener-bener di luar ekspektasi gue sama sekali. Doi malah ngizinin, bahkan Gemma sekarang nggak perlu sembunyi-sembunyi kalo mau main gitar atau jalan bareng gue ke luar rumah. Ya meskipun lomba itu beliau bilang ini untuk pertama dan terakhir. That's a good start, right?”


Gala tersenyum simpul. Apa mungkin, Yahya mulai tergerak untuk membiarkan anaknya menikmati talenta dan masa muda yang dia miliki? Ah, mungkin saja sikap keras dan arogan Yahya pelan-pelan melunak. Semua orang bisa berubah bukan?


Kini, Gemma sudah bersiap di sebuah ruangan yang disiapkan oleh panitia, tak jauh dari panggung. Di sana sudah berkumpul siswa-siswi dari sekolah-sekolah lain. Ada yang sedang berlatih, ada yang sedang minum, ada pula di ujung sana yang sedang menangis. Sungguh, suasana di sana benar-benar tidak kondusif, ribut, dan membuat grogi.


“Katanya sekolah Julian nggak ikut. Kok sekarang malah ada dalam daftar? Bukannya mereka kemarin nggak ikut technical meeting?” komentar Diana saat melihat nama-nama sekolah yang manggung hari ini.


“Masa sih?” Gemma mengernyit, dan mendapati nama SMA Pelita Ibu Peritiwi jelas-jelas tercetak di papan pengumuman di nomor urut 5.


“Perasaan gue jadi nggak enak,” ucap Diana menatap Gemma dengan gurat cemas di wajahnya.


Ada sekitar 150 sekolah yang ikut, namun hanya tersisa 57 sekolah yang dinyatakan lolos penyisihan yang dilaksanakan kemarin. Saking banyaknya sekolah yang ikut saat itu, penyisihan dibagi sampai tiga sesi.


“Kenapa kita kemarin nggak ketemu sama mereka?” tanya Gemma dengan perasaan yang sama tidak enaknya.


“Mungkin karena kita masuk sesi berbeda dari mereka,” ungkap Diana. “Tapi, kan lo juga udah berlatih, Gem. Pede aja lagi...”


Tiba-tiba mereka berdua serempak menoleh ke arah panggung setelah nomor urut 5 naik ke panggung. Mata mereka berdua sama-sama terbeliak di detik pertama senar itu dipetik, saat suara merdu gitar itu membahana memenuhi seluruh sudut gedung.


What. The. Hell!


***


Gala menatap Gemma dari kejauhan. Sama seperti kompetisi gitar yang pernah diikuti Gala tempo hari, kini, dirinya berada di sini untuk memberi support penuh pada Gemma, meski hingga sekarang, Gemma dan dirinya tidak bertegur sapa.


“Julian breng*ek!” Maki Febri secara tiba-tiba saat melihat seorang siswi mulai memetik gitarnya.


Bukan hanya seragam yang sama persis dengan milik Julian di SMA Pelita Ibu Pertiwi, aransemen yang dibawakan pun sama dengan yang akan Gemma mainkan nanti!


Rahang Gala menegang, kemarahan membuat darahnya berdesir. Aransemen itulah yang Gemma latih dengan tekun selama dua minggu belakangan. Tidak ada perbedaan sama sekali! Semua notasinya sama persis!


Oh tidak!


Tanpa mengingat kalau di antara dia dan Gemma sedang ada perang dingin, Gala langsung masuk ke ruang tunggu peserta lomba dan mendapati Gemma telah berkemas-kemas hendak pulang. Di kursi, terdapat nomor urut peserta 52 yang dia biarkan tergeletak begitu saja. Sudut matanya sudah terlihat basah dan matanya memerah sendu.


“Gem…” panggil Gala dengan lembut. Dia menyentuh tangan Gemma yang gemetaran. Sontak, gadis itu mengangkat kepalanya sampai mata mereka saling menatap.


“Minggir! Gue mau pulang!” ungkap Gemma sambil menepis tangan Gala dengan perlahan.


“Aduh, gimana nih?” tanya Diana cemas melihat sang sahabat sudah terlihat rapuh dan putus asa.


Gala menarik Gemma menuju ujung ruangan, dan Gemma mengikuti tanpa perlawanan. Cowok itu mencoba membujuk Gemma sebisa yang dia mampu. “Gem… gue tau, kalo lo sekarang lagi down. Tapi menurut gue, lo masih bisa maju.”


Tatapan Gemma pada Gala semakin tajam. “Nggak! Udah telat, Gala! Gue berlatih dua minggu, DUA MINGGU!" Gemma menutupi kesedihan dan perasaan sakit hatinya lewat amarah dengan suara yang kian meninggi.


"Gue pastiin bisa... lo pasti mampu. Gue ada di sini buat bantu lo. Lo sekarang tenang... biar kita mikirin sama-sama aransemennya gimana. Masih ada waktu buat bikin lagi atau improvisasi."


"Kenapa baru sekarang lo nawarin bantuan, hah?!" Gemma berdecih. "Gue susah payah izin sama Ayah! Susah payah atur emosi gue buat latihan. Selama sebulanan ini, mood gue anjlok! Lo sendiri yang nolak buat nolongin gue. Ini semua terjadi gara-gara lo!"


Napas Gala berhembus pelan. "Gem. Gue tau gue salah. Jadi please, biarin gue nebus kesalahan gue..."


Gadis itu terlihat semakin marah dengan wajah yang semerah kepiting rebus. "Kalo lo kemarin nggak cuekin gue, semua ini nggak bakal kejadian! Gue nggak akan minta Julian datang ke sini dan gue nggak akan terlanjur hapalin aransemen itu!"


Hening, Gala terdiam sejenak. Gemma benar, semua ini salahnya. Kalau saja dia tidak mendiamkan Gemma berlama-lama, sudah pasti gadis itu akan punya teman bertukar pendapat tentang aransemen apa yang akan dia buat. Sudah pasti aransemen itu tidak akan bocor, sudah pasti ada yang menemaninya berlatih, dan sudah pasti Gemma akan lebih percaya diri dengan adanya Gala di sampingnya.


Intinya, kemarahan utama gadis ini bukan pada kecurangan Julian, tetapi dia marah karena Gala. Gemma sungguh frustrasi pada cowok itu.


"Gue nggak ngerti di mana salah gue sama lo. Sekarang, biarin gue pulang. Gue pengen tenangin diri..." Gemma tetap mencoba pergi darinya.


Sekarang, Gala jadi kesulitan menelan ludahnya. Suaranya tercekat dan mendadak udara di sekelilingnya terasa menipis saat Gemma terdengar menyerah dengan hubungan mereka yang membingungkan. Selanjutnya, Gala hanya mampu berbisik, “Lo nggak salah... Gue yang salah..."


Langkah Gemma terhenti. "Maksudnya?"


"Gue akan jelasin nanti kalau semua ini udah selesai..." Gala menekan perasaannya agar tak terlalu emosional. Sungguh, dia ingin mengakui sesuatu, tapi ini bukanlah saat yang tepat. "Sekarang yang terpenting, gue pengen lihat lo maju. Gue pengen lihat lo di depan, berkompetisi, dan bahagia menjadi diri lo sendiri. Ini kesempatan, Gem... Langka dan belum tentu terulang!"


Gemma menatap Gala dalam diam. Otaknya berusaha mencerna setiap kata yang diomongkan cowok tampan itu


"Gem... Gue janji akan jelasin dan nggak bersikap dingin lagi sama lo. Tapi lo juga harus mau maju ya? Ada nama sekolah yang lo bawa di sini. Nggak mesti menang. At least try..."


Gemma terlihat sudah pasrah. Semua ini membuat dirinya pusing dan hilang arah. "Janji?"


Gala tersenyum. "Janji..."


Cewek itu pun akhirnya mengangguk pelan pada Gala.


Tak lama kemudian, pertemuan mereka akhirnya diinterupsi oleh kedatangan Febri dan Diana.


Dengan wajah masam, Diana berdiri di sebelah Gemma. "Sori banget gue harus nyela lo pada, tapi menurut gue, masih ada tiga jam lagi, barangkali lo masih ada kesempatan buat aransemen ulang. Soal Julian, biar gue beresin dia. Lo tenang aja!"


"Iya Gem... Sayang banget. Lo udah sampai di sini, rugi banget kalo sampe harus pulang gara-gara masalah Julian," sambung Febri membenarkan Diana. "Lo lebih talented dari cewek tadi kok... Kita udah liat sendiri."


Rosa lalu datang dan menepuk bahu Gemma. "Gem... ini kesempatan terakhir kamu. Ingat apa Ayah kamu bilang? Tidak akan ada lomba lain yang akan Ayahmu izinkan. Tak penting menang atau nggak, kamu harus coba dulu."


Gemma menitikkan air mata. Perasaannya canpur aduk antara terharu karena disayangi teman-temannya, kecewa dikhianati Julian, dan masih keki pada Gala.


Melihat begitu banyak support yang dia dapatkan, Gemma meraih gitarnya kembali dan duduk di tempatnya semula.


Gala tersenyum kecil. Dia menarik kursi duduk di sebelah Gemma dan mencoba membantu sebisanya dengan memberi Gemma ide lain. Gemma sendiri terlihat sangat serius untuk membuat aransemen baru.


Aransemen yang dibuat dua minggu lalu versus aransemen yang baru saja dibuat, siapa yang akan menang?


...****************...


Julian kita apain nih?


Haiii... Lama tak bersua...


Natal dan tahun baru, otor agak rempong... sebab berangkat dari kota ke kota.


Maafkan baru bisa lanjut, doain smg besok2 otor semakin mudah mendapatkan waktu untuk nulis dan semakin banyak ide yang keluar.


Happy New Year everybody 🥳🎉🎊