
15 Years Later
December, 2021
Introducing Lee Thanat as Galanda Putra Aditya
“Akhirnya balik juga nih kampret,” ujar Niko saat dia menjemput seorang pria berambut fringe yang menenteng hardcase berisi gitar Fender Ibanez terbaru, tepat di depan terminal 3 bandara Soetta. Pria itu tak lain dan tak bukan adalah Galandra Putra Aditya, si anak rantau yang malas pulang.
Kalau bukan Mona yang memaksanya dan Paul yang sudah teriak-teriak ingin pensiun, Gala mungkin masih betah tinggal di negeri Kangguru.
“Nik… Nik… Lo berubah bener,” katanya sambil melepas kacamata hitamnya. “Gendutan lo kayaknya nih.”
“Gimana nggak ilang sixpack gue, Erika sumpalin terus gue pake makanan enak tiap hari,” Niko menepuk perutnya yang sedikit membuncit. Mereka lalu berjalan menuju parkiran beriringan.
Hati Gala sedikit tergelitik saat mendengar orang yang dulu mereka kira akan sulit berkomitmen, ternyata adalah yang paling konsisten. Niko sangat setia dan Erika benar-benar jadi ibu rumah tangga yang baik. Mereka dan anak-anak mereka hidup bahagia. Niko yang jatuh bangun mengejar untuk jadi Dokter Spesialis Obsgyn akhirnya bisa mencapainya dengan kerja yang keras. Dan kini, pria itu sudah bekerja di sebuah rumah sakit swasta di Jakarta dengan kondisi ekonomi yang jauh lebih baik.
“Gimana Vincent sama Elvina? Dah kelas berapa mereka?”
“Vincent dah kelas XI SMP, kalo Vina baru kelas 1 SD... Man, gue kadang nyebut Vincent kelas 3 SMP. Berasa tuwir banget gue ampe lupa kurikulum dah berubah. Makanya lo cepetan kawin sono, betah banget jomblo mulu. Mantan lo dah move on dari lama tuh.”
“Ah gue mah selow, masih banyak ikan di laut... Belom kepikiran berkomitmen nih gue,” ujar Gala menyepelekan. Padahal dalam hatinya, itu hanya kamuflase kalau sampai sekarang, dia masih belum bisa move on. Namun dia sudah terbiasa, dan tak terlalu memikirkannya lagi jika ada orang yang mengungkit tentang masa lalunya.
Setelah menempatkan seluruh barang Gala di bagasi mobil, Gala masuk dalam mobil Niko dan duduk di sampingnya.
“Febri nitip salam, nggak bisa jemput lo. Masih sibuk katanya di markas Angkatan Darat.” Setelah lulus S1, Diana dan Febri langsung diterima di korps Angkatan Darat. Prestasi mereka dalam olimpiade membuat TNI tidak berpikir dua kali untuk menerima mereka. Kawan-kawan Gala mendapat cita-cita yang mereka inginkan. Dan Gala sangat bangga akan setiap proses yang mampu mereka lewati.
Sambil memakai kacamata hitamnya, Niko menurunkan tuas handrem dan menderu mobil SUV-nya keluar dari parkiran.
“Masih lo jadi songwriter?” tanya Niko lagi sambil memecah keheningan. “Gue denger lo sempat jadi gitaris Black Ruby kan? Kenapa berhenti?"
“Masihlah. Dari mana lagi gue dapat duit kalo nggak kerja!” ujae Gala sambil tersenyum menampillan lesung pipinya yang dalam. "Gue hengkang gara-gara gosip sialan ngatain gua gay! Makanya gue tinggalin aja tuh band."
“Makanya balik ke takdir lo, udah tinggal kerja loh. Cewek-cewek bakal datang ke pelukan lo tanpa dicari-cari! Noh... Kak Mona nanyain gue mulu, kayak gue bini lo aja.”
Gala terkekeh pelan sambil memandang ke jalanan yang semakin hari semakin padat saja.
Lima belas tahun lamanya sudah Gala tidak kembali ke negara ini, dan perubahannya cukup banyak. Mulai dari tol yang semakin banyak, flyover semanggi yang kelihatan eksotis dan bangunan yang semakin banyak, hingga lahan hijau hampir habis tak bersisa.
“Kita singgah mal dulu beli pesanan mamake sama ke fast food dulu ya. Anak gue nagih happy meal,” ujar Niko sambil membelokkan mobilnya masuk ke dalam sebuah mal berwarna merah jambu yang bentuk bangunannya sama sekali tidak berubah. “Gini aja, biar cepet, lo beliin dulu happy meal buat anak gue. Gue nyari pesanan Erika. Oke?”
Kaki Gala kini tiba di depan restoran cepat saji berlogo M besar di dalam mal. Sekelebat memori tentang dirinya dan cinta masa lalunya pun hadir bagai sebuah video yang diputar ulang. Terutama ketika dia melihat poster besar es krim vanilla yang terpasang di sebelah kasir. Dia cepat menggelengkan kepalanya sebelum otaknya kembali melakukan flashback yang semakin dalam.
Dengan sabar, dia menunggu antriannya maju. Cukup banyak yang mengantri sehingga dia punya waktu untuk mengecek ponselnya sebentar. Melihat chat Mona yang masih marah-marah karena Gala menolak dijemput olehnya dan Paul. Begitu antriannya sampai, Gala langsung memesan happy meal dua kotak berikut dengan mainannya, My Little Pony berwarna ungu dan robot Transformer kuning Bumblebee.
Sambil memasukkan kedua mainan itu, Gala berbalik tepat saat seorang anak laki-laki berusia enam tahunan tiba-tiba mengambil si Bumblebee.
“Hei!” Gala memekik kaget pada si pencuri kecil.
Tapi… melihat baju yang dikenakan anak itu, sepertinya dia bukan anak jalanan. Jelas-jelas baju training warna kuning tua yang dia kenakan adalah salah satu brand ternama. Gala mengejar anak itu sampai dia akhirnya menabrak seorang wanita tepat di depan toilet perempuan.
“Dek, kembaliin mainan yang Om beli!” Pinta Gala dengan amat galak.
Melihat anaknya memegang mainan yang dimaksud dan menyadari betapa nakalnya anaknya itu, dia pun langsung menunduk dan memerintah. “Kembaliin mainan Omnya, ayok!”
“Nggak mau!”
“Kembaliin, Dion…” peringat si ibu sambil menatap tajam pada anaknya.
“Nggak mau!” si anak masih berkeras tidak mau.
“DION!” bentak sang ibu.
Anak bernama Dion itu menggeram kesal lalu melemparkan mainan itu ke lantai yang tak jauh dari mereka.
“Wekkk!!!” anak itu bukannya merasa bersalah malah mengejek Gala dengan menjulurkan lidah, lalu kabur!
Si ibu yang terlihat kesal berulang kali meminta maaf padanya. “Maafkan kenakalan anak saya. Apa perlu saya ganti?”
Gala memang kesal. Apa salah Gala sampai-sampai si anak merebut mainan itu begitu saja? Meski kekesalannya memuncak, dia bisa apa? Toh anak kecil itu sudah kabur dan kalau sampai si ibu menggantinya, hanya akan membuat harga diri Gala jatuh. Sebab mainan itu, dia bisa memiliki sejuta pieces kalau dia mau.
Saat sang ibu pergi, Gala memperhatikan tubuh Bumblebee yang terlihat masih bisa diperbaiki. Namun, kepalanya kini hilang. Terpaksa Gala mencari kepalanya terlebih dahulu. Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling dan mendapati kepala robot itu ada dekat pintu masuk toilet wanita.
Gala sempat ragu, ke sana atau tidak. Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Sepi. Mungkin ini kesempatan yang pas karena tidak ada orang yang akan salah paham. Dia segera berjalan menuju mendekati posisi kepala Bumblebee itu.
Di saat yang sama, seorang gadis dengan rok jeans pendek dan kaos oversized putih sedang berjalan hendak keluar sambil memainkan ponselnya.
Gala membungkuk, mengambil kepala robot itu saat menyadari ada sosok yang keluar dari toilet-- yang sama-sama tidak menyadari kehadiran Gala yang masih membungkuk.
Pertemuan mereka tidak terelakkan. Gala terlihat seakan-akan sedang mengintip ke bawah rok si gadis saat mata mereka bertemu. Mulut Gala jatuh terbuka saat posisi ini begitu berbahaya. Salah paham yang menjadi momok menakutkan baginya tadi pun tak terhindarkan.
Si gadis terpekik kaget. “Eh! Om ngapain di sini! Om mau mesum ya?! Ngintip-ngintip rok saya! Saya laporin loh, Om!”
“No-no-no… saya cuma mau ambil ini… Ini salah paham!” ucap Gala sambil mengambil kepala Bumblebee dan memperlihatkannya pada si gadis.
Gadis itu termundur satu langkah dan mulai panik. “Bohong! Om pasti mau macam-macam sama saya, ya kan! Tolong! Tolooooong!!! Ada orang mesum di sini!!! Toloooooonggg!!!”
Bagian selatan mal itu langsung heboh.
...****************...
Maafkan Ratna yg slow update. Sumpah... writer's block banget!!!
Jadiii Lee Thanat jadi Visual Gala... ada alasan kenapa dia yg jadi Gala. Pertama, ganteng. Kedua, berlesung pipi. Ketiga, jago main gitar. Keempat, ganteng. Kelima, ganteng. Dst. Hahaha...
Tapi misal ga cocok sama kalian, its oke sayang, kalian bisa gunakan imajinasi kalian sendiri, ga dilarang... xixixixi
Yg blm ikutan giveawaynya, ayooo ikut. masih dibuka sampe hari minggu ya 🤗🤗💋💋
*maap banget kalo ada kata2 yg typo. blm sempat edit sayang...