Our Story : Mendadak Sekantor

Our Story : Mendadak Sekantor
17. Berkawan Dengan Erika


“Lo kenapa sih nggak ngasih tau gue dan Gala? Lo anggep apaan kita, hah?!” bentak Febri emosi. “Lo berhubungan sama cewek kaya Erika. Lo inget nggak dia itu siapa? Dia itu simpanan om-om!”


Gemma terkaget-kaget sampai menutup mulutnya saat Gala dan Febri menyidang Niko secara brutal. Gadis itu menoleh pada Diana yang tampak tidak terkejut saat Febri hampir menghajar Niko habis-habisan. “Jadi itu rahasia Erika yang lo pada pegang?”


Diana mengangguk. Dia menunduk tak berani menatap dua lelaki yang sedang emosi di hadapan mereka.


“Itu dulu, Feb. Sekarang Erika nggak begitu.”


“Asli, pengen gua tabok lo, Nik! Mana lo tau juga itu anak lo atau bukan!” Febri menggeram dengan tangan terkepal kuat. Sebenarnya yang membuat Febri kesal bukan main adalah karena Niko yang terlalu lugu. Cewek seperti Erika yang sudah terkenal suka semena-mena dan licik itu memang sangat sulit untuk dipercayai.


Niko menggeleng dan yakin kalau itu anaknya. “Kita lihat aja nanti, Feb!”


Gala maju selangkah, meminta Febri duduk dan menenangkan dirinya. Di sini, dia lebih tenang dari Febri dan mencoba menggali sebenarnya ada apa dengan kawannya ini. “Gue ngerasa kalo lo nggak cerita semuanya. Lo kenapa sih? Biasanya lo cerita.”


Niko yang tadinya duduk, kini berdiri menatap tajam pada Febri dan Gala. “Kenapa lo baru aja nanya?”


“Maksud lo?”


Niko mengusap kasar wajahnya yang memerah. Bahunya bergerak naik turun, dadanya kembang kempis, seperti siap memuntahkan sesuatu. “Kemana lo semua waktu bokap gue kawin lagi dan nyokap gue mau bunuh diri, ha?! Sibuk pacaran?”


Febri dan Gala langsung bungkam. Mereka benar-benar melupakan kalau selama ini ada Niko yang selalu jadi obat nyamuk. Kedua lelaki itu selalu ada dekat pasangan masing-masing tanpa memikirkan Niko sama sekali.


“Cuma Erika yang mau dengarkan gue. Mungkin karena nasib kita sama," bisik Niko lirih.


Semua terdiam. Tidak ada satupun yang bicara. Hingga Diana akhirnya mengambil inisiatif mengajak Gemma keluar dari ruang kelas itu, membiarkan tiga sekawan itu menyelesaikan semuanya sendiri.


Diana dan Gemma masih setia mengawasi mereka dari luar ruangan. Sampai di adegan di mana Gala dan Febri memeluk Niko yang pertahanannya sudah runtuh dan menangis.


***


Setelah pengakuan itu, Niko dan Erika menikah. Semua dewan guru sepakat untuk tidak men-DO Erika dan Niko. Dan semua orang yang tahu hal ini berjanji untuk tutup mulut. Tetapi konsekuensinya, Niko dan Erika diusir dari rumah, sehingga harus menyewa kamar kost.


Kini, mereka sekolah seperti biasa, dan menjalani aktifitas seperti biasa. Mereka kini tengah duduk di kantin setelah mengikuti kelas tambahan intensif. Di mana ujian sekolah kini tinggal satu bulan lagi.


Beberapa hari ini perasaan Gala tidak enak. Cowok itu tertangkap telah beberapa kali melamun. Entah apa yang dipikirannya. Kosong tapi hatinya sesak. Ada apa sih?


"Galandra Putra Aditya!" teriak Gemma.


Gala tersadar dari lamunannya. "Iya, Gem?"


"Kamu kenapa? Akhir-akhir ini kamu sering banget ngelamun?"


Dan jika perasaannya tidak enak, mata bulat hijau itulah yang selalu menenangkan hatinya. Almost looks like puppy eyes, but cuter. Gala mengusap puncak kepala Gemma dengan sayang. "I'm good, Gem..."


"Aku pesanin mie ayam ya?" kata Gemma sambil memutar posisi duduknya menghadap stand makanan di ujung sana. "Bang, mie ayam satu nggak pake sayur, satunya pake!"


Setelah pesanan mereka datang, mereka kemudian didatangi oleh seseorang yang masih belum akrab dengan mereka.


“Hai …” sapa Erika yang kini sudah terlihat lebih segar setelah pernikahannya dengan Niko. “Aku boleh gabung?”


Krik krik krik…


“Gemma … Gue boleh duduk di sini?” tanyanya lagi.


Melihat tidak ada pergerakan dari Diana atau lainnya, Gemma langsung menggeser pantatnya dan menarik Erika duduk bersamanya.


“Makasih Gem.”


“No worries…”


Diana melirik Erika dengan dingin. “Kemana teman-teman lo emang?”


Erika menghembuskan napasnya dengan pelan. “Gue udah nggak asik lagi, Di.”


“Itulah makanya aku nggak suka. Temanmu itu bodat semua, tau kau?” Diana mendengus kasar sampai logat aslinya keluar.


“Bodat? Apa tuh?” tanya Erika polos.


Gemma tertawa kecil. “Udah … sini temenan sama kita.”


Entah kenapa saat Gala melihat hal itu, hatinya merasa hangat. Gemma sama sekali tidak membalas perlakuan Erika dulu. Meski ada rasa miris yang membuat dada Gala terasa sesak.


Fakta bahwa Gemma, Niko dan Erika adalah produk dari kegagalan rumah tangga orang tua membuatnya merasa kasihan. Dia sungguh tak berdaya untuk melakukan apapun selain menerima mereka dan segala bentuk luka hati yang sulit untuk disembuhkan.


“Makasih Gem … maaf dulu gue pernah jahat sama lo,” mata Erika berkaca-kaca mengatakannya. Dan Gemma menjawabnya dengan senyum lembut tanpa ingin mengingat-ingat lagi masa yang dulu.


Suasana pun kembali hangat. Erika dapat dengan gampang bergabung dengan mereka semua. Bahkan Gemma dan Diana selalu perhatian pada kandungan Erika yang hampir menginjak dua bulan.


“Omong-omong, guys… kalian udah tentuin mau kuliah di mana? Kalo gue sih nggak kuliah, brojolin orok dulu hehehe…”


“Gue sama Diana kuliahnya habis Asian Games,” jawab Febri.


“Gue kayaknya di Jakarta aja, Er, pengen masuk Institut Seni ngambil Seni Musik,” jawab Gemma.


“Gue ke Singapur ngambil international business…” celetuk Gala sambil memakan mie ayamnya dengan santai.


Gemma langsung menoleh pada kekasihnya. “Si-Singapur?”


***


Sepanjang hari, Gemma mendiamkan Gala karena celetukannya tentang kuliah di negeri singa. Oh… Gala sungguh sudah salah bicara. Harusnya dia bicarakan ini dulu berdua dengan Gemma, bukannya memberitahu gadis itu dengan cara seperti ini.


[Gemma Honey : Aku mau belajar. Jangan ganggu aku dulu.]


Begitulah isi SMS-nya saat Gala mendapati Gemma pulang duluan. Entah kenapa hari ini perasaan Gala mendadak tidak nyaman. Keningnya mengernyit memikirkan hal yang entah apa itu.


Lalu semua firasatnya terkonfirmasi saat dia menerima telepon horor dari Mona yang menghubunginya dengan raungan pilu.


Sang Papa, Bobby Aditya, kini terbaring koma.


...****************...