Our Story : Mendadak Sekantor

Our Story : Mendadak Sekantor
S2 Bab 11 – Kebisuan Vincent



Jika Viani kira saat dia sampai di sekolah, Vincent akan menyambutnya dengan hangat, kali ini semua terasa berbeda. Vincent terlihat dingin, tak banyak bicara dan juga sering tidak ada di kelas.


Cowok itu kabarnya banyak menghabiskan waktunya karena akan ada kompetisi renang yang diadakan minggu depan. Para guru memberinya dispensasi untuk lebih sering berada di kolam renang dan dilatih oleh mantan atlet renang senior yang merupakan alumni sekolah tersebut juga. Kabar keikutsertaan Vincent dalam kompetisi ini bahkan Viani dapat dari orang lain. Cowok itu enggan memberitahukannya langsung.


“Cepat renang! Bengong aja lo kayak dugong!” teriak Pak Kuncoro dengan seragam renang berupa speedo hitam bergaris pink. “Laju! Gue pengen laju!! L-A-J-U!”


Vincent yang sudah ngos-ngosan itu mencoba memacu tubuhnya untuk melesat di kolam renang secepat mungkin, mengabaikan teriakan Pak Kuncoro yang melatihnya bak calon anggota TNI angkatan laut.


Pikirannya melayang pada beberapa hari yang lalu saat dia mellihat Viani yang begitu cantik malam itu. Gadis itu berdandan manis hanya untuk dirinya. Tapi sekarang, semua terasa berbeda. Vincent tak lagi mampu memandangnya dengan pandangan hangat seperti dulu. Dia tak sanggup …


“GUE PENGEN DUGONG YANG LAJU! CEPETAN JALAN, BEGO! LO MAU MENANG NGGAK MINGGU DEPAN, HAH? LO BERENANG APA BERAK DI DALAM AER?!”


Makian Pak Kuncoro semakin memekakkan telinga Vincent untuk terus melesat seperti yang beliau inginkan. Maka dia pun memacu, lebih keras lagi untuk memecahkan rekornya sendiri.


...***...


Sesampainya di sekolah, pada pukul sepuluh pagi, Vincent kira dia tidak akan bertemu Viani. Tapi nyatanya kini gadis itu tiba-tiba muncul dari UKS dan mendatanginya. Ada gurat lelah, cemas, lesu yang membuatnya terlihat sedikit lebih pucat.


“Vincent …” panggilnya dengan suara pelan. “Kamu kemana aja selama beberapa hari ini?”


Viani memandang tampilan Vincent dengan rambut setengah basah dan baju yang belum dimasukkan dalam celana. Para gadis di jam olah raga pagi itu mendadak berhenti dan menatap Vincent. Ada pula yang meneriakkan rayuan langsung pada Vincent dengan nekat dan tak tahu malu.


Namun Viani tak bisa menunggu lebih lama lagi. Dilihatnya sang kekasih, meminta jawaban dengan tatapan itu.


“Ikut bentar …” Vincent menarik tangan Viani, menggenggamnya dan menuntun gadis itu ke parkiran sepeda.


Gadis itu kini sudah ada dalam kawasan yang sepi tanpa ada orang yang mengganggu. Dilihatnya Vincent yang terlihat beitu tampan. Tapi bukan itu yang jadi perhatiannya sekarang. Sepertinya, hubungan mereka kini renggang. Viani tidak mengerti apa yang jadi masalah di antara mereka. Dia butuh penjelasan terkait hilangnya Vincent selama beberapa hari.


Viani memandang Vincent dengan rasa cemas. “Vincent, kenapa? Ada apa? Aku bikin salah ya?”


Tapi hal yang selanjutnya terjadi adalah hal yang di luar ekspektasi Viani sama sekali. Tak ada kata maaf, tiada pula kata-kata yang menenangkan. Viani semakin bingung melihat kebisuan Vincent.


“Vincent, kalo aku salah, aku minta maaf. Jangan diemin aku gini.”


Di tengah usaha Viani memohon penjelasan, cowok malah itu melepas tangannya, berbalik memunggunginya, menciptakan jarak yang begitu lebar di antara keduanya.


“Vi … kita lupain aja semua yang terjadi di antara kita. Aku udah nggak ada rasa lagi sama kamu.”


Ada nyeri yang menjalar pada dada Viani. Perasaannya berkecamuk akan ketidakmengertiannya pada semua yang terjadi. Baru beberapa hari lalu cowok itu bersikap manis padanya, dan sekarang sudah sangat berubah. “Kenapa? Kenapa begini, Vin? Aku bikin salah apa sampe kamu mutusin aku begini?”


“Aku punya cewek lain …”


Mulut Viani membuka dan tangannya langsung bergetar mendengar pengakuan Vincent. “Apa? Siapa?”


“Kamu nggak perlu tau dia siapa. Yang jelas, aku nggak bisa lanjutin lagi hubungan ini, Vi. Sorry …”


Plak!


Viani menamparnya. Bahunya naik turun karena letupan emosi akibat merasa terkhianati. Ingin rasanya Viani mengumpat dan memaki, tetapi yang terjadi malah dia tak dapat berbuat apa-apa. Seluruh emosi dan tenaga dia keluarkan untuk menampar Vincent, hingga pipi cowok itu memerah.


Vincent terlihat terima-terima saja dan terkesan tak acuh. Tanpa memedulikan Viani yang mematung di belakangnya, Vincent berlalu pergi, meninggalkan Viani sendirian.


Gadis itu berjongkok dengan mata lebar membulat tak pecaya serta berkaca-kaca. Dari yang hanya setetes, berubah menjadi aliran air mata yang membanjiri wajah cantiknya. Hati yang semula bagai bunga mekar yang baru merekah, kini jadi remuk redam dengan alasan yang masih belum bisa dia terima.


...***...


Vincent sedang membaca buku komiknya di dalam kelas. Seminggu setelah dia putus dari Viani, satu sekolah langsung heboh. Para cowok dan cewek yang sedang kelebihan hormon langsung mendekati keduanya bagai lebah yang mencari bunga. Namun tak ada satu pun yang yang lekat pada hati keduanya.


“Lo kenapa putus dari Viani, Vin?” tanya Harry yang tiba-tiba muncul dari antah berantah bersama Hana. Pasangan yang juga baru jadian itu selalu melekat bagai kembar dempet.


Pertanyaan yang sudah berulang kali didengar olehnya itu membuatnya merasa benar-benar bosan. “Nggak ada pertanyaan lain, apa?”


“Nggak ada. Kita penasaran. Kita haus gosip—“


Hana menyikut perut Harry hingga cowok itu mengaduh lalu memandang Vincent dengan sinis. “Lo jadi cowok kejam banget, Vin! Lo baru aja pacaran sama Viani, kok udah main ada cewek lain aja?!”


Harry menoleh pada Hana. “Tapi Beb, mana ceweknya? Yang mana? Kelas berapa?”


“Cewek gue di sekolah lain …” jawab Vincent santai. “If you don’t mind, I have a very important thing to do, aside to hear you guys keep asking me for something you already know the answer is.”


“If-you-arrghh!! Lo ngomong apa sih?!” bentak Harry jengkel. "You have no idea gimana anak itu sedih banget sekarang!"


Hana memutar bola matanya. “Udah ah, cabut. Gue mesti datangin Viani. Mending gue hibur dia daripada di sini ngelihatin tukang selingkuh.”


Vincent tidak peduli pada dua sejoli itu yang notabene sedang menyindirnya itu. Dia terus membaca bukunya seperti tanpa beban.


...***...


Ada banyak akftifitas yang Vincent lakukan untuk mengusir rasa bosannya. Dia masih harus latihan berenang dan ditempa secara militer oleh Pak Kuncoro yang sepertinya akan kejang-kejang jika dia tidak berenang sesuai keinginan pria itu.


Dia tidak masalah, karena dengan berenang, dia jadi dapat sedikit melarikan diri dari sekolah dan menghindari Viani sementara waktu. Berharap gadis itu dapat menemukan kembali semangatnya dan move on dari hubungan mereka yang telah kandas.


Namun yang terjadi malah justru di luar perkiraan Vincent. Dia baru sadar kalau sudah tujuh hari dia tidak melihat Viani di manapun. Gadis itu absen dari kelas, klub sains yang diikutinya dan juga sama sekali tak terlihat di kantin. Penasaran, dia pun pergi ke perpustakaan, berharap dapat melihat lagi sosok bersurai cokelat sepunggung dengan sepasang mata cokelat bulat yang selalu memandangnya dengan hangat, meski tak ada apa-apa lagi di antara mereka.


Tapi yang dilihat di sana adalah Hana yang tengah menangis, sementara Harry di sampingnya menghiburnya dengan elusan lembut pada lengannya. Karena tangis gadis itu belum juga reda, Harry pun menyerah dan dia pergi dari sana.


Langkah cowok itu terhenti saat berpapasan dengan Vincent di ambang pintu perpustakaan. Harry pun merasa kesal melihat muka tembok Vincent. “Ngapain lo liatin cewek gue nangis? Pegi lo!”


Vincent menggeleng. “Gue bukan liatin Hana. Gue cuma pengen tau di mana Viani.”


Harry tertawa pahit. “Lo dari mana aja emang? Dari hutan jadi Tarzan? Satu sekolah udah heboh gara-gara Viani pindah sekolah dua hari lalu.”


Kabar itu membuat Vincent terpaku pada tempatnya. Dia tidak tahu harus berbuat apa atau bereaksi apa. Dia hanya ingin putus dari Viani, dan bukan mellihatnya pergi dengan cara seperti ini.


“Lo tau di mana dia pindah?” tanya Vincent.


“Nggak ada satu pun yang tau … Makanya Hana nangis."


Sebuah keputusan untuk pindah sekolah tentunya bukan sesuatu yang dapat dengan gampang dilakukan. Apa Viani memang melakukan hal itu untuk menjauh darinya?


Kalau iya, maka mungkin ini adalah keputusan yang terbaik yang telah diambil oleh Viani meski hatinya tak rela. Pada hubungan mereka yang baru bersemi dengan kebahagiaan yang terenggut paksa. Pada semua kenangan antara dirinya dan Viani yang tak akan pernah bisa hilang dari benaknya.


Vincent menarik napasnya pendek, dengan dada yang sesak, dia pergi meninggalkan perpustakaan itu. Semua rasa itu harus dia tahan, meski hatinya juga bengkak karena rasa rindu.


...****************...