Our Story : Mendadak Sekantor

Our Story : Mendadak Sekantor
28. Familiar


“Bohong! Om pasti mau macam-macam sama saya, ya kan! Tolong! Tolooooong! Ada orang mesum di sini!! Toloooooonggg!!”


Bagian selatan mal itu langsung heboh. Dalam satu menit, beberapa orang telah muncul dan penasaran terhadap apa yang terjadi di toilet wanita.


Gala panik lalu maju mendekat untuk mencoba bernegosiasi. Tetapi gagal karena gadis ini tidak dalam kondisi rasional untuk berunding.


Si gadis malah semakin panik dengan menyilangkan tangannya di depan dadanya. “Om jangan macam-macam! Om nggak boleh dekat-dekat! Dasar Om, pedo!!!”


“Eh! Saya bukan pedo ya! You little sh—“ Gala langsung mengatup mulutnya sebelum kalimat itu beres. “Sekarang kamu tenang, kita bicara baik-baik di luar. Saya mohon jangan ribut di public space.”


“Om yang jangan mesum dong! Ngapain Om datang ke toilet wanita pake bungkuk-bungkuk segala sambil liatin bawah rok saya?!” gadis itu mulai menangis sesenggukan.


Gala menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. Dia bingung bagaimana menangani anak remaja labil yang sedang panik seperti ini. Sampai dia melihat dua orang pria tinggi besar dengan seragam biru tua mendatanginya.


“Mari Pak, ikut kami. Kita selesaikan di kantor keamanan kami saja,” kata salah satu pria yang berkulit putih sementara yang berkepala botak menuntun si gadis untuk pergi menuju kantor keamanan mal tersebut.


Mereka sampai dan di dudukkan berseberangan pada kursi plastik berwarna hijau. Gala langsung memperkenalkan dirinya begitu ditanyai kepala keamanan bernama Yuda. Yuda pun menoleh pada si gadis untuk bertanya.


“Adek namanya siapa?” tanya Yuda.


Si gadis yang mulutnya masih manyun pun menjawab. “Hana…”


“Nah, Dek Hana… Nama saya Yuda, kepala keamanan. Kami berharap semua pengunjung bisa merasa nyaman dan aman ketika berkunjung di mal kami. Tapi kejadian tadi telah menimbulkan keresahan bagi sebagian orang. Bisa Dek Hana ceritakan dari awal bagaimana kejadiannya?”


Si gadis masih terlihat panik dan menceritakan semua yang menjadi versinya. Hana bercerita dengan emosi yang meluap-luap layaknya anak kecil yang sedang marah pada orang tuanya.


“No, bukan begitu! Saya sedang mengambil bagian dari mainan ini yang terjatuh ke lantai. Tak sengaja bertemu dengan Nona ini yang langsung menuduh saya macam-macam!” ujar Gala mencoba menjelaskan semua. “Saya malas berbelit-belit, tolong cek CCTV sekarang!”


Setelah CCTV di ulang, barulah terungkap semua kalau memang hanya salah paham, seperti yang dikatakan Gala. Bahkan ibu dari anak nakal tadi--yang sempat mengambil mainan itu dari Gala--juga tak lama datang dan memberikan kesaksian.


Hana pun akhirnya berhenti menangis dan mulai tenang. Wajahnya malah memerah dan dia merasa malu dengan kehebohan yang ditimbulkan dirinya.


“Ck…” Gala berdecak mengingat panjangnya kejadian ini. Kejadian tadi bisa saja sudah masuk lambe turah atau akun gossip lainnya. Kalau sampai ada yang mengenalnya, bisa-bisa dia jadi sasaran empuk media lagi. “Saya takutnya hal ini tidak bisa selesai sampai di sini.”


“Maksud Om?”


“Kamu tidak tahu siapa saya?”


Si gadis menggeleng polos. Gala memejamkan kepalanya sambil memijit pelipisnya. “Yang kamu lakukan hari ini itu impact-nya gede banget buat image saya! Tahu kamu?!”


Niko yang mendapat pesan Gala baru saja datang mendapati Gala sedang duduk bersedekap, memandang Hana dengan tajam. “Man, lo nggak apa-apa?”


“Ya, physically, gue nggak pa-pa. Tapi…”


Setelah Niko mendengar keseluruhan cerita, keningnya ikut mengernyit. Meski Gala tidak terlalu dikenal di negara ini, media bisa lebih kejam daripada yang semua orang tahu. Kalau tidak terkenal dengan prestasi, maka bisa jadi terkenal dengan sensasi. Maka cap pedofil, bukanlah pilihan yang bijak untuk jadi famous.


Niko mengubah wajahnya jadi lebih serius. Dia menatap Hana dengan tajam dan ekspresi yang benar-benar rumit dipahami gadis seusianya. “Panggil orang tua kamu sekarang!”


...***...


Sementara Gala, Niko dan Yuda masih membelakangi Hana dan berdiskusi alot, teman Hana itu mendekatinya yang sedang terduduk lesu.


Si gadis mengambil kursi plastik lain dan duduk membelakangi bapak-bapak tersebut. “Kenapa-kenapa? Kok lo jadi di sini sih, Han? Siapa yang berani gini sama lo?”


Takut-takut, Hana diam saja, tidak menjawab. Tapi sang gadis sudah mengendus ada bau salah paham yang terjadi karena kelakuan Hana. Sebenarnya kadang dia juga merasa jengah dengan kelakuan lebay temannya ini. Tapi kali ini, sepertinya rasa panik itu wajar mengingat ada banyak predator seksual zaman sekarang yang tidak mengenal waktu dan tempat.


Maka dia menoleh pada staff keamanan lainnya untuk menuntut penjelasan. Kepala sang gadis mengangguk-angguk mendengarkan kronologis cerita. Dia mendesah pelan lalu memandang temannya itu dengan begitu rumit.


“Kayaknya, itu orang bukan orang sembarangan deh…” katanya sambil memandang punggung Gala dari belakang, pria itu kini sedang berada dalam percakapan serius di ponselnya. Dari jaketnya, merk sepatu dan jam tangannya, jelas orang ini bukan orang sembarangan. Dia menatap Hana yang menyayangkan kalau dirinya harus berurusan dengan orang yang kastanya jauh di atas mereka itu.


“Viani, bantu gue dong!” rengek Hana. “Gue takut nih!”


Viani hanya bisa menghembuskan napasnya dengan berat. “Kita lihat dulu keadannya, ya…”


...***...


“Begitu ceritanya, Kak. Bisa bantu aku?”


“Oke… no problem. Kakak kenal sama yang punya lambe turah, Kakak pastiin nggak akan di up di sana. Misalkan terlanjur di up di akun gossip lain, nanti kita bakal nyari buzzer juga supaya beritanya tenggelam sama skandal lain yang lebih pelik.”


Gala mendesah lega, akhirnya dia bisa menemukan pemecahan dari masalah ini. Sungguh, tidak terbayang bagi Gala kalau dia berada di Aussie dan mengalami kejadian ini. Mungkin tidak akan semudah di Indonesia walau dia punya koneksi yang banyak. Meski berita ini tidak benar, akan sangat sulit membangun kepercayaan publik yang runtuh.


Diputuskannya panggilan itu dengan mengusap ikon telepon merah. Dengan napas yang sudah lebih teratur, Gala membalikkan badannya. Menatap Hana yang sedang duduk bersama seorang gadis yang kemungkinan temannya.


Hana tiba-tiba berdiri dan menghambur pada Gala dengan memohon. “Om… jangan libatin mama aku, please. Aku minta ampun sama Om karena udah nuduh Om, pedo. Please, maafin Hana, Om.”


Gala mengernyit tidak suka. Tetapi bagaimana mungkin dia membebankan masalah sepele tapi rumit seperti ini di pundak anak remaja itu—yang bahkan tebakan Gala, belum lulus SMP—seorang diri. Dia pun mengangguk dan melambaikan tangannya, untuk mengusir gadis itu dari hadapannya.


“Makasih, Om!” kata Hana lega, seolah dia baru saja mengeluarkan batu besar dari perutnya.


Hana berdiri, mengambil tangan Viani untuk berjalan bergandengan tangan keluar dari ruangan itu. Viani pun menundukkan kepalanya sejenak lalu berkata, “Permisi, Om. Kami pulang dulu.”


Saat Gala melihat Viani, dia merasa ada sesuatu yang berbeda. Familiar, tapi getaran itu tak ada. Itu Gemma tapi bukan?


Gala mengenyahkan pikiran tentang Viani dan melanjutkan perjalanannya bersama Niko.


...****************...


Hai haiii...


Batas kirim jawaban giveaway nanti adalah pukul 16.00WIB hari ini, 16 Jan 2022.


diundi malam harinya yaa... msh ada kesempatan ikut sebelum jam 4 sore.


Cek IG untuk liat pengumumannya ya


love u 🤗❤️