Our Story : Mendadak Sekantor

Our Story : Mendadak Sekantor
42. Phantom


“Gem?” Seakan merasakan kalau ada suatu keadaan yang tidak baik-baik saja, Gala meninggalkan Felix, dan maju mendekati Gemma. “Are you okay?”


Kemudian, Gemma malah mundur. Hatinya mendadak ragu saat memanggil pria itu. Entah kenapa, semua masih terasa tidak benar. Dia adalah wanita yang sudah menikah dan memiliki anak. Sedangkan sang ibu mertua dulu mewanti-wanti memperingatkannya.


"Kalau rumah tangga kalian goyah, jangan sekali-sekali curhat pada lawan jenis. Karena itu adalah jalan lapang yang terbuka menuju perselingkuhan.”


Hati Gemma berkecamuk, mulutnya ingin berteriak, menumpahkan semua kegelisahan hatinya pada Gala, satu-satunya lelaki yang dia inginkan baik secara sadar maupun tak sadar. Satu-satunya tempatnya membuka diri tanpa harus merasa malu.


Tetapi dengan keadaannya kini, sepertinya rasa malu itu sudah mengakar. Terlebih saat fisiknya tak lagi seperti dulu. Dan Gemma tahu persis, Gala adalah lelaki normal dari kalangan atas yang sudah biasa dengan wanita cantik.


Dan Gemma, jauh dari kata itu. Dengan postur tubuh tinggi kurus dengan kulit kisut dan perut berselulit serta rambut panjang lepek yang dia semir cokelat terang, siapa yang kira-kira tertarik?


Tak mungkin dia mau mendekatinya, seorang wanita yang sudah berumur dengan kondisi kulit cacat setelah melahirkan. Berteman saja, Gemma minder. Karena secara ekonomi, meskipun Gemma bukan orang miskin, namun keluarga Gala ada diposisi yang terlalu jauh untuk Gemma jangkau.


Lalu sekarang? Entah... Gemma merasa pria itu sepertinya memiliki maksud lain untuk mendekatinya.


“Gem? What’s wrong?” tanya Gala yang melangkah semakin dekat padanya.


Sial. Selalu saja seperti ini… Hati dan tubuhnya sama sekali tidak singkron sekarang. Dia hendak lari, tapi tubuhnya bergeming. Dia hendak masuk ke dalam dan mengunci pintu mobilnya, tetapi kakinya malah tertancap kuat pada beton basement.


Dengan atau tanpa jam, kemeja dan sepatu bermerk, pria itu selalu memiliki pesona yang selalu sukses membuat konsentrasinya buyar.


Dia sempat ingin bertanya kenapa outfit pria itu begitu berbeda hari ini, tetapi urung. Karena sepertinya membuka percakapan dengan Gala bukanlah ide bagus untuknya saat ini.


“A-aku… Eng… Kamu ditagih uang maintainace,” ucap Gemma asal.


Padahal biaya maintainance gedung sudah Gala bayarkan selama setahun penuh. Pria itu tertawa dalam hatinya, gemas akan tingkah laku Gemma.


Sebelum Gala sempat bertanya, Gemma buru-buru turun dari mobilnya dan berjalan kembali masuk apartemen dengan tergesa-gesa.


Gemma kembali ke apartemennya. Dia melihat pemandangan yang tadi dilihatnya kini sudah bubar. Dia lalu pergi ke kamar Viani, mencari keberadaan anak itu.


“Viani?”


“Ya!” jawab Viani yang baru saja buang air kecil.


“Tadi, siapa perempuan yang ada di sini?”


“Oh … itu Tante Ranita … asisten Papa. Masakannya enak banget, Ma.”


“Oh ya? Enakkan mana sama masakan Mama?”


Viani kemudian duduk di kursi belajarnya dan mengeluarkan buku-buku pelajaran dari tasnya.


“Ya enakkan masakan Tante Ranitalah! Mending Mama belajar sama Tante Ranita. Bukan gimana sih, tapi Viani kadang bosen, Ma …”


Meski ada rasa cemburu dalam diri Gemma, dia berusaha bersikap sportif. “Jadi Mama kurang banyak variasi, gitu?”


“Kurang banget!”


"Hmm... Oke nanti Mama belajar lagi ya, Sayang. Papa mana?"


"Papa baru aja anter Tante Ranita pulang," jawab Viani tanpa memandang ibunya dan hanya terfokus pada bukunya saja.


Wanita itu diantar pulang oleh suaminya?


Jangan pikir kalau arogansi itu selalu baik, dan semua wanita menyukai dalam dominasi. Indra memiliki cara yang sangat menyebalkan.


Dia memiliki banyak larangan. Gemma sangat dibatasi, tetapi Indra tak pernah membantu Gemma dalam segala hal, terutama dalam urusan antar mengantar. Segala sesuatu harus Gemma kerjakan sendiri tanpa bantuan.


Dulu, Indra pernah marah besar saat seorang pria mengantarnya pulang ke rumah karena mobilnya sempat mogok di jalan malam hari. Pria itu adalah tetangga mereka. Yang Gemma tak tahu adalah kalau ternyata pria itu seorang genit dan tukang merayu wanita. Tentu saja Gemma tak tahu karena dia jarang keluar rumah.


"Ya kalau kamu nggak mau aku dianter orang, harusnya kamu yang jemput aku!" begitulah ungkapan Gemma saat itu.


Tetapi Indra malah semakin naik pitam dan sempat menampar wajah Gemma. "Jadi istri itu harus tunduk pada suami!"


Arogansi dan sikap posesifnya benar-benar buruk. Setelah itu, dia minta maaf pada Gemma seolah-olah dia adalah wanita paling berharga. Namun besoknya, sikap itu kembali lagi.


Lalu kenapa sekarang pria itu bertindak seperti ini? Atau jangan-jangan, Indra memang tidak pernah menganggapnya sebagai istri!!!


Ranita … Nama itu terkesan familiar di telinga Gemma. Rita dan Ranita, apakah mereka orang yang sama?


...***...


Sementara Gala kembali ke sisi Felix yang tadi sempat menerima telepon dari seseorang. “Itu tadi Fransiska, dia ngundang kita di pesta ulang tahunnya yang ke 21. Katanya sih ulang tahun kecil-kecilan, nggak party, makan doang.”


“Di mana, dan kapan?”


“Di rumahnya, malam ini. Deket banget kok dari sini."


“Kok baru ngabarin?”


Gala berpikir sejenak. Lalu mengiyakan ajakan itu. “Baiklah, gue mandi dulu.”


“Gue mau pulang. Ganti baju bentar.”


“Nggak usahlah. Pake baju gue aja. Lagian cuma bentar kan di sana?"


“Iya juga sih. Kita juga nggak begitu deket sama Siska dan Om Bambang.”


"Ah ... Kado?"


"Mau ngasih apa emang?"


"Tas aja, cari yang branded. Suruh langsung anter ke alamat Om Bambang."


Felix buru-buru mengeluarkan ponselnya dan menelepon salah satu gerai toko fashion brand ternama yang sudah biasa menjadi langganan Mona. "Pokoknya tas buat cewek. Kirim ke ..."


Meskipun mendadak, berkunjung ke rumah Bambang Hanggara mungkin bisa jadi awal yang bagus.


...***...


Satu jam kemudian, di kediaman Bambang Hanggara.


Siska telah selesai meniup lilin dan memotong kue yang dilanjutkan dengan makan malam. Gadis itu tampak begitu elegan dan sangat anggun dengan dress seharga 100 juta.


Beberapa teman-teman hedon-nya turut datang memberinya hadiah. Gala tak banyak mengenal orang di sana. Hanya keluarga inti Bambang yang dikenalnya. Sisanya mungkin adalah keluarga dari istri pria tersebut.


"Happy birthday, Siska!" ujar teman-temannya riuh.


Tim fotografer terlihat bekerja tanpa lelah mengabadikan momen satu kali seumur hidup gadis yang hari ini resmi menyentuh umur 21.


Meski katanya sederhana dan hanya makan malam saja, tampaknya semuanya tidak sesederhana pikiran Gala. Fotografer yang disewa adalah fotografer dengan biaya tujuh puluh lima juta per jam.


Makanan yang disediakan juga dari restoran bintang 5, berikut dengan outfit dan aksesoris masing-masing keluarga inti yang kalau digabung, paling tidak sudah menyentuh angka satu milyar. Sungguh pemborosan luar biasa untuk sebuah makan malam sederhana.


Bambang, pria berkumis dengan perut buncit yang merupakan ayah Siska itu langsung membawa orang-orang dewasa menuju ruang baca untuk bercengkerama di sana, sementara para ibu-ibu lain tetap di meja makan untuk bergosip.


“Siapa ini, Lix?” tanya Bambang saat pantat besarnya telah mendarat di sofa tunggal kulit berwarna marun.


“Om lupa? Ini anaknya Om Bobby. Adiknya Kak Mona.”


“Astaga! Kamu anaknya Bobby yang di Aussie itu?” tanya Bambang yang langsung memajukan tubuhnya menatap Gala lebih dekat. “Lama sekali kita nggak ketemu, ya! Terakhir kali saya lihat kamu di pemakaman ibumu. Kamu masih kecil sekali rasanya.”


Rahang Gala mengetat mendengar perkataan dari mulut ular Bambang yang mengungkit sang ibu yang sudah dimakamkan hampir 20 tahun lalu. ‘I was 14 back there, not a child anymore! And where the hell were you waktu Papa dikubur? Tidur sama pelacur?’ maki Gala dalam hati.


Bukan rahasia lagi kalau Bambang memang suka bermain wanita. Sang istri, Sherina, sudah tidak peduli lagi pada sang suami. Dia hanya peduli pada berlian dan perkumpulan sosialitanya saja.


Para pelacur yang mau dengan Bambang itu pasti dibayar sangat mahal. Kalau tidak, mana mungkin mereka mau tidur dengan pria bertampang jorok itu.


“Kamu … Putra kan?"


“Ya, saya Putra, Om!” dan lucu sekali, pria tua ini hanya ingat nama tengahnya saja. Gala membiarkan saja pria itu berpendapat sendiri tentangnya atau tentang namanya.


Dia bisa menyebut Gala sesuka hatinya. Keberadaan Gala di kantor tersebut memang hanyalah sebuah kamuflase, dan ada baiknya saat dia tidak diingat dengan identitas yang semestinya.


Mereka mengobrol sampai pukul 9 malam. Gala yang sudah kelelahan memohon izin pada Bambang karena besok, dia juga harus bekerja. Pria itu pun turun dari singgasananya, mengantar Felix dan Gala menuju parkiran.


“Nanti kapan-kapan, kita bisa makan malam bersama lagi. Yang lebih santai dan nggak pake acara-acaraan,” ajak Bambang dengan antusias.


Gala mengangguk. “Kalau begitu, kami pamit pulang dulu, Om.”


“Hati-hati di jalan.”


Siska dan Sherina berdiri di belakang Bambang dan turut mengucapkan terima kasih padanya.


Langkah Gala terhenti sebentar pada siluet cahaya yang masuk ke dalam matanya. Dia melirik sedikit pada pintu garasi yang terbuka dengan lampu menyala di dalamnya tanpa menghentikan langkahnya.


Setelah berada di dalam mobil Felix, dia menyipit memperhatikan benda yang ada di dalam sana sampai akhirnya dia tahu benda macam apa itu.


Bukankah itu, sebuah Rolls Royce Phantom?


“Lix, kayaknya permainan kita bakal tambah seru!”


Felix menoleh pada Gala yang saat ini terlihat menampilkan seringaiannya yang mencekam. Tak pernah Felix melihat sepupunya itu begini mengerikan seumur hidupnya. “Ke-kenapa emang, Bos?”


Tanpa menjawab Felix, Gala langsung memerintahkan Pak Hasan. “Jalan, Pak!”


...****************...