Our Story : Mendadak Sekantor

Our Story : Mendadak Sekantor
74. You Did Good


Gala kini tengah berdiri di depan kaca besar ruangannya yang berada di lantai 6. Gedung Diverto Music and Management tidaklah terlalu tinggi menjulang. Terdiri dari 8 lantai dengan lapangan parkir yang cukup luas, membuat kantor ini terkesan nyaman. Ini bukan seperti kantor perusahaan pada umumnya.


Gedung kantor ini sebenarnya biasa saja, tetapi sudah banyak band dan penyanyi yang di bawah naungan mereka yang benar-benar jadi terkenal. Tangan dingin almarhum ibunda Gala adalah dalang dibalik kesuksesan label ini.


Awalnya, beliau sempat was-was karena Mona—si anak sulung—sama sekali tidak menunjukkan ketertarikannya pada dunia musik. Untunglah ada Gala, si bungsu yang ‘nyambung’ dengan visi misi perusahaan rekaman ini.


“Dah beres, Bos?” tanya Felix saat mendatangi Gala di ruangannya.


Kedua pria itu tak pernah pakai jas dan celana kain. Kesehariannya hanya menggunakan kaos dan celana jeans, kadang yang sobek-sobek malah.


Pakaian paling formal yang pernah Gala pakai adalah saat dia berada di kantor Rapidash Express, atau ketika sedang bertemu dengan rekanan bisnis lainnya. Itu juga masih menggunakan celana jeans tapi yang tidak robek.


“Lix, lo rasa ini semua cepet banget nggak?” tanya Gala tanpa menoleh pada Felix.


Sepupunya itu maju mendekati Gala dan memandang ke titik yang sama. “Ya, semua berjalan cepet banget. Bambang, Zahra, Dimas, Agus, semua ketangkap kurang dari sebulan. Tapi, kasian banget si Ranita.”


Singkat cerita, dari informasi yang didapat Gala dari saudaranya Febri yang kebetulan seorang polisi, Happy menelepon pihak berwajib dan mencoba bernegosiasi.


Hukuman akan diringankan, lalu uang 2 milyar itu jadi barang bukti. Happy bisa kembali ke keluarganya begitu Bambang dan Ranita ditangkap. Alasan dia melaporkan Bambang dan Zahra karena dia ketakutan kalau dikait-kaitkan pembunuhan terhadap Ranita, mengingat hal itu adalah pembunuhan berencana yang hukumannya tak main-main. Dua nyawa melayang sekaligus di tangan wanita yang Bambang kira berhati malaikat.


Happy ketakutan saat menyadari dia satu rumah dengan seorang psycho.


Menelepon polisi juga adalah satu tindakannya yang tanpa pemikiran panjang. Tetapi setidaknya, dia akan aman. Tentunya ancaman hukuman yang akan diterimanya akan jauh lebih ringan.


Tak lama kemudian, pihak berwajib juga mengendus keberadaan Dimas dan Agus di Singapura. Dengan perjanjian ekstradisi yang baru-baru ini disahkan, mereka akhirnya berhasil dibawa pulang ke tanah air untuk diadili atas kasus proyek fiktif.


Sedangkan Anas—mantan COO—sudah bekerja sama dari awal dengan pihak berwajib, dan Gala menjamin kalau hukuman Anas tidak akan lama.


Kembali ke Gala saat ini. Pria itu hanya bisa menghela napas dan menghembuskannya perlahan dengan perasaan yang begitu campur aduk.


“Gue ngerasa bersalah sama apa yang terjadi sama dia. Apa gue terlalu kejam?”


“Ya nggaklah! Mereka dah bikin Rapidash hampir pailit loh. Korupsi gila-gilaan dan nggak tanggung-tanggung. Tunjangan karyawan pada dipotong, gajian pada nggak jelas sampe minjam ke kita.


Mereka itu nggak nyangka kalo lo tiba-tiba ada di sini buat mantau mereka. Karena selama ini, RE emang di luar perhatian kita. Kita juga sih yang salah, nggak pernah ngecek, taunya kalo perusahaan untung, ya udah. Seandainya lo nggak masuk ke sana, kita nggak bakal pernah tau gimana bobroknya perusahaan itu.”


Gala tak menjawab.


“Udah, Gala. Lo tenang aja. Semua udah balik ke semula.”


“Minggu depan, lo atur jadwal meeting internal sama dewan direksi yang masih tersisa. Rapidash nggak bisa dibiarin lama-lama sendiri. Kita harus tunjuk PLT sampai lo benar-benar siap ambil jabatan itu.”


“Ini, seriusan? Secepat ini?”


“Ya, terus apa lagi?”


Felix tersenyum lebar. Gala sudah melarang dirinya mengucapkan terima kasih, maka dia saat ini hanya diam saja. Memajukan Rapidash Express adalah ungkapan terima kasih yang lebih valid bagi sepupunya itu.


“Gue mo pergi dulu, dokumen dah selesai gue cek semua,” kata Gala yang menyambar kunci mobil di meja kerjanya dan sebuah paperbag berlogo galeri perhiasan ternama.


“Nge-date mulu kerjaan lo, dasar bucin!”


***


Melihat Viani yang begitu syok mendengar Ranita meninggal dunia, Gala menanyai anak itu, apa yang hendak dilakukannya.


Saat Viani berkata ingin ke Bandung dan mengikuti prosesi pemakaman Ranita, Gala tak berpikir dua kali untuk mengantar anak itu sendiri, bersama dengan Gemma.


Setelah hubungan antara Gala dan Gemma kembali menghangat, pria itu tak henti-hentinya memberinya perhatian yang nyata. Meskipun Viani masih melancarkan silent treatment padanya, itu tak jadi soal yang besar untuk pria itu.


Belakangan ini, Gala memulai suatu hal yang belum pernah dilakukannya. Yaitu, berusaha mengambil hati Viani secara terang-terangan.


Sore itu, Gala menjemput Gemma dari Instrumize Music Course, salah satu kursus musik terbesar di Jakarta, masih tak terlalu jauh dari rumah Gemma.


Wanita itu telah diterima sebagai salah satu tutor di sana untuk instrumen gitar dan piano klasik. Dengan jam kerja cukup flexibel, yaitu mulai jam 3 sore hingga jam 8 malam setiap hari kerja dan mulai pagi sampai sore pada hari sabtu.


Dia menerima bayaran yang sangat layak. Tentu saja sang pemilik tak menolak Gemma yang merupakan anak dari almarhum rekan satu band-nya.


Pada sore ini, Gemma diizinkan pulang jam 6, karena anak yang seharusnya akan diajari jam 7 ini rupanya sedang sakit.


“Hai Bu Tutor,” Pria itu membukakan pintu untuk Gemma. “Gimana hari pertama?”


Gemma menghela napas lelah. “Sebenarnya rada-rada lupa sih sama cara baca partitur.”


Gala duduk di belakang kemudi, menurunkan tuas handrem dan menderu mobilnya menuju jalan raya. Pria itu tersenyum.


“Nanti aku ajarin. Ini buat kamu,” Gala menyerahkan paperbag yang dia taruh di kursi belakang tadi pada Gemma.


“Apa nih?”


“Bukanya nanti. Pakainya nanti juga, pas kita ada waktu jalan.”


“Makasih…”


Gala tak merespon, lalu hening.


Gemma merasa Gala agak diam hari ini. “Kamu kenapa?”


Sudahlah, Gala harus melepaskan beban ini. “Aku benar-benar pengen serius sama kamu, Gem. Tapi… Kamu rasa, Viani bakal terima aku nggak nanti?”


Gemma sendiri terperangah saat mendengar pertanyaan Gala. Selama ini, dia pikir kalau pria itu hanya akan mencintainya saja secara egois dan tak mau menerima Viani.


Bukan dia terlalu percaya diri pada cintanya Gala. Ada di malam-malam tertentu, dia memikirkan bagaimana jika Gala mengajaknya menikah. Bagaimana nasib Viani nanti? Kalau mau jujur, Viani adalah segalanya.


Dia bahkan siap jika Viani menyuruhnya meninggalkan Gala. Tapi, itu bukan berarti dia rela dan sanggup. Maka dengan pertanyaan ini, penasaran Gemma juga akhirnya terbayarkan.


“Memang sulit sebenarnya,” Gemma tak mau bohong. “Dia perlu waktu. Kamu tau kan, kalo Viani itu dimanja sama Papanya?”


Benar juga. Gala saja untuk akrab dengan orang baru itu sangat sulit. Apalagi buat Viani, menerima orang baru yang sewaktu-waktu bisa saja menggantikan Papanya, pasti akan membuat hidupnya jungkir balik.


Siapa sangka, wajah tampan rupawan dengan kekayaan melimpah seperti Gala, yang digandrungi banyak wanita dan pandai bermain musik dengan begitu seksi jadi ciut di hadapan seorang anak remaja labil usia 14 tahun yang memasang tampang jauh lebih garang daripada guru Matematika mereka saat SMA.


Ngomong-ngomong soal Matematika, saat mereka sampai di rumah Gemma, Gala memperhatikan anak itu yang sedang duduk di kursi menghadap meja makan, berkutat dengan sebuah buku tulis dan buku pelajaran yang didominasi angka.


Tanpa basa-basi, Gala mengambil nasi kotak yang dia dan Gemma tadi beli, meletakkannya di atas meja makan. Anak itu langsung mengangkat kepalanya saat melihat Gala.


“Ngapain Om di sini?”


“Makan dulu yuk,” ajak Gala. “Udahan kerjain PR-nya. Kamu harus isi tenaga. Nanti bisa lanjut lagi.”


Mereka langsung makan begitu Gemma bergabung bersama mereka. Tak banyak interaksi antara Gala dan Viani. Gala canggung, Viani kalem, sampai makan malam itu selesai.


Viani tak beranjak dari posisinya di meja makan tadi. Dia kembali berkutat dengan PR Matematikanya sendirian. Gala beberapa kali mencoba membuat percakapan, tetapi respon paling banyak dari Viani hanya sampai 3 kata saja seperti ‘ya’, ‘nggak juga’ atau ‘Viani nggak tau’. Sementara itu, Gemma duduk selonjoran di ruang tengah sambil memperhatikan mereka berdua.


Menyerah karena tak diacuhkan, Gala berdiri, lalu duduk di sofa tunggal. “Anakmu, masih belum mau terlalu banyak ngomong sama aku.”


“Sabar. Pelan-pelan, oke?”


Tangan Gemma terulur untuk menggenggam tangan Gala. Pria itu kemudian melirik Viani lagi. Melihat anak itu dari tadi menggaruk kepalanya dan seperti terlihat lelah, kaki Gala melangkah tanpa diperintah untuk kembali pada anak itu.


“Vi…”


“Hm?”


“Ada yang sulit?”


“Nggak ada!”


“Mau Om bantuin?” tanya Gala sambil melihat buku pelajaran tebal itu, lalu mulai tahu kesulitan anak tersebut di mana. “Om pinter Matematika loh.”


“Pede!” Viani mengambil buku itu sebelum Gala mencapainya. “Aku nanti dibantuin temen aja!”


“Tapi ini kan PR, Vi. Nggak boleh dikerjain di sekolah.”


“Siapa juga yang mau ngerjain di sekolah?! Viani mau video call temen.”


“Nggak perlu. Kan ada Om. Sini Om bantuin.”


“Nggak mau!”


“Vi…” panggilan itu spontan membuat Viani menoleh. Gemma memberi kode anggukan pelan. Akhirnya Viani membiarkan Gala membantunya.


Awalnya dia tak begitu memperhatikan. Tetapi penjelasan Gala yang lebih gampang dicerna daripada sang guru di sekolah membuatnya tertarik. PR itu akhirnya selesai juga kurang dari 1 jam.


“Udah ngerti kan?”


“Udah. Makasih.”


“Kapan-kapan kalo kamu susah, hubungin Om. Entar Om ajarin lagi.”


Viani mengangguk. “Viani mau istirahat. Permisi…”


Gala menatap punggung anak itu yang lambat laun menghilang dari pandangannya sambil mendesah lega. Ada sensasi aneh di keningnya karena kelamaan mengernyit ketika menghadapi mood remaja yang kadang naik dan kadang turun itu, mirip menggerakkan mesin jahit tanpa dinamo.


Di tempatnya berdiri, Gemma yang telah mengganti pakaiannya dengan baju rumah itu mendatangi pria tersebut dan mengelus lengannya.


“Gala…”


“Hm?”


“You did good. Itu udah awal yang bagus.”


“Semoga dia cepat nerima aku, supaya aku sama kamu bisa lekas married.”


Gemma berdecak. “Nggak sabaran amat!”


...****************...