Our Story : Mendadak Sekantor

Our Story : Mendadak Sekantor
S2 Bab 25 – Sidang


Rahang Gala mengetat sepanjang pagi itu. Subuh tadi, mereka telah sampai di rumah setelah melewati 6 jam di pesawat, di mana mereka sempat tidur nyenyak. Kembali ke rumah untuk tidur lagi, sebelum bangun kembali pukul setengah 8 untuk bersiap menuju apartemen Viani.


Dipandanginya ponselnya, pada layar yang menampilkan pintu sebuah apartemen. Lalu jemarinya beralih pada pesan-pesan chat yang terkirim padanya, tapi baru bisa diterimanya setelah turun dari pesawat.


“Sayang, kamu kenapa?” tanya Gemma yang telah bersiap-siap ke apartemen Viani. “Ada masalah?”


Gala menggeleng canggung. “Nggak pa-pa Sayang. Udah siap?”


“Udah. Tinggal tunggu Gemini dan Geraldo—“


“Mereka nggak usah ikut.” Gala bersiap berdiri tanpa memandang Gemma langsung di matanya.


“Kenapa?” tanya Gemma bingung.


“Kita aja. Viani bisa bertemu dengan mereka nanti.”


“Oh … oke?” Gemma mengangkat sebelah alisnya, tetapi tidak berusaha bertanya lebih jauh.


Untuk selanjutnya, Gemma menghubungi Indra agar bersama-sama bertemu di apartemen Viani. Seperti rencana awal mereka, memberi kejutan pada anak satu-satunya di pernikahan mereka.


Sesampainya di sana, Gemma menyusuri apartemen 120 meter persegi yang diawali oleh dapur mewah itu, melewati meja makan, berbelok menuju ruang tengah dengan sofa L yang besar. Untuk selanjutnya mengarah pada salah satu pintu kamar yang sering dipakai Viani tidur.


Wanita itu meletakkan kue yang dibelinya di coffee table. Apartemen itu tampak sunyi, mungkin Viani masih tidur.


Sebuah senyum terpasang di bibirnya kala ia mengingat sang anak yang kini sudah sangat dewasa. Di umur ke 27, Viani bahkan sepertinya sudah siap berumah tangga. Tapi mau seberapa besarnya Viani, dia tetaplah bayi kecil di mata Gemma, meski anak itu lahir dalam pernikahan paksa yang tidak diinginkannya.


Namun pemandangan itu berubah saat dia membuka pintu kamar.


“Viani bangun—“ Gemma menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Matanya terbelalak dan tubuhnya gemetar.


Jantungnya seakan berhenti berdetak selama beberapa detik. Seluruh panca inderanya lumpuh dan lidahnya mendadak kelu seakan pemandangan itu merasuk dan merusak jiwanya. Tak ingin percaya, tapi ini bukanlah mimpi.


Gemma syok seketika.


***


Melihat sang istri berdiri mematung di sana, Gala mendatanginya dan melihat apa yang terjadi.


Vincent dan Viani, berada dalam satu ranjang yang sama. Baju-baju mereka berserakan di mana-mana dan tampilan mereka sangat acak-acakan. Sudah pasti di balik selimut itu, mereka tak mengenakan sehelai benang pun.


Hati orang tua mana yang tak teriris melihat anak gadisnya—yang telah mati-matian mereka jaga—terlibat dalam hubungan di luar nikah dan sudah melangkah terlalu jauh seperti ini? Apalagi bersama dengan anak sahabat mereka, yang dikira akan menjaga kehormatan gadis itu.


Lelaki yang merupakan anak sahabatnya itu memucat setelah mereka ketahuan. “O-om?”


Viani yang baru sadar, langsung menutup tubuhnya dengan selimut hingga ke leher. Wajahnya tak kalah terkejutnya dengan Vincent.


Dia malu, sangat malu karena orang tuanya pasti tahu kalau dirinya sedang dalam keadaan tanpa pakaian sama sekali, bersama pria yang bukan suaminya. “Papa …”


Gala menatap Vincent datar, ekspresinya tak terbaca sama sekali. Namun, aura yang ada dalam diri Papa sambung Viani itu begitu gelap dan menakutkan.


“Kenakan baju kalian. Saya tunggu diluar.”


Gala menutup pintu kamar itu dan mengantarkan Gemma duduk.


Gemma tak mampu berpikir lagi. Dia pun menghubungi Niko untuk segera datang ke mari.


***


Vincent dan Viani langsung mengenakan pakaian mereka lagi. Untuk detik yang lama, mereka duduk dan terdiam di atas ranjang.


Viani meremas rambutnya dengan kasar. Meski malam tadi dia lepas kontrol dan berubah jadi gadis binal, dia masih ingat semua garis besar yang terjadi.


Bagaimana Vincent menyentuhnya dan bagaimana semua berlanjut ke tahap yang lebih jauh.


"Maafin aku, Vin. Semua gara-gara aku!"


Vincent menghela napasnya. Dia pun ikut ambil andil di sini. Seandainya dia bisa mengontrol diri, bukannya mengurung diri mereka masing-masing di kamar berbeda? Semua pengandaian itu sudah berlalu dan sia-sia.


Setelah ini Viani tak tahu apa yang akan terjadi. Mungkinkah dia akan disidang, ditampar, dimarahi, atau mungkin dicoret dari kartu keluarga, lalu diasingkan dari keluarga Aditya dan keluarga Suteja?


Di tengah pikirannya yang berkecamuk, Vincent menjulurkan tangannya, menggenggam tangan Viani dengan erat dan mengajaknya berdiri menuju pintu. Tatapan pria itu sama tegangnya dengan Viani sekarang, bahkan elusan lembut di lengan Viani dari Vincent tak dapat menenangkannya sama sekali.


Mereka bagai di ujung tanduk, antara hidup dan mati.


Pria itu mendaratkan kecupan di puncak kepala Viani sekilas. “Aku nggak akan lari. Kita hadapi sama-sama, ya?”


“Gimana kalau seandainya kita diusir? Dari keluarga kamu ataupun keluargaku nggak ada yang mau terima?”


“Kita hadapi bersama, aku nggak akan pergi sekalipun keluarga kita nggak ada yang mau akui kita.”


Viani tak merespon, tetapi dia mengeratkan genggamannya di tangan Vincent. Ketakutan itu jelas tersirat di wajah Viani, dan dapat dirasakan Vincent.


Mereka pun melangkah keluar dari pintu yang sama dengan pakaian lengkap.


***


Saat ini, Agus dan Damar berjaga di luar sambil memegang kartu akses, dan mempersilakan Indra yang telah tiba itu masuk. Seketika suasana langsung berubah. Dari riang, jadi senyap penuh amarah.


Gala dan Indra sedang berdiri menghadap kaca  besar yang menampilkan jalanan ibukota dekat meja makan. Sorot mata kedua pria itu tajam, seperti hendak memukul kaca besar itu sampai pecah.


Di sofa, Gemma terduduk dengan pandangan yang hampa. Teringat pada kenangan buruk yang pernah menimpanya puluhan tahun lalu.


Sesuatu yang sudah dia wanti-wanti dari awal agar Viani tak pernah terlibat dalam hubungan sejauh itu. Dia tidak ingin anaknya memiliki trauma yang sama dengannya. Tapi sekarang?


Ketiga orang itu tak bicara sama sekali, semuanya hening. Terlalu hening.


Ketika anak mereka keluar, semua orang tua tersebut mengangkat kepalanya, menatap lurus pada Viani dan Vincent.


Gala mulai bernapas dengan berat. Dia hendak maju, namun Indra sudah mendahuluinya mencapai Viani. Langkahnya tak terkendali, dan profilnya benar-benar gelap.


Bugh!


“B*JINGAN! BERANI-BERANINYA KAMU MENYENTUH ANAK SAYA!” Indra berteriak dan hendak menerjang Vincent untuk kedua kalinya, tetapi Gala langsung maju menahan. “Apa-apaan? Lepaskan saya!”


“Tahan emosi kamu, Ndra,” ucap Gala geram.


“Tidakkah kamu lihat apa yang b*jingan ini lakukan pada anak saya?”


“Saya melihat dan saya marah, Ndra!!”


“Mana yang katanya pasang CCTV di depan apartemen Viani? Omong kosong kamu, Gala! Pengawalanmu percuma! Lihat anak saya!”


“Vianj juga anak saya, sialan!”


Tak peduli peringatan suami Gemma itu, Indra melepaskan diri dari Gala dan kembali ingin menyerang Vincent. Tapi langkahnya terhenti saat Viani memasang badan di depan kekasihnya.


Dada Indra kembang kempis, ditatapnya Viani dengan bayangan murka. “Minggir kamu, Vi! Saya mau bunuh dia!”


Viani ketakutan, tetapi dia menggeleng dan tak mau minggir.


“Vi, biarkan Papa kamu pukul aku. Minggir, Vi ...”


Viani menggeleng lagi pada Vincent dan tetap bergeming, dia mundur sampai berada tepar di depan tubuh Vincent yang tinggi menjulang.


“MINGGIR!” Indra semakin naik pitam.


“Apapun yang Vincent lakukan, itu semua karena Viani yang bersalah, Pa … bukan salah Vincent. Viani yang ke klub, Vincent menyeret Viani dari sana ... saat ..." Viani menunduk dan berbisik, "saat ada orang yang mencampur obat pada minuman Viani ..."


Gemma mulai meneteskan air mata dan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. “Ya, Tuhan … Viani …” dirinya kehabisan kata-kata.  Kecewa, sedih, dan marah menjadi satu memilin hatinya yang telah rapuh. Luka yang lama dia tutupi dan harusnya sudah sembuh, kembali terbuka paksa oleh anaknya sendiri.


Gala langsung datang memeluk sang istri dengan erat. Dia masih belum mau bicara apa-apa, karena saat ini adalah ranah Indra dan Gemma. Mereka yang lebih berhak untuk mencecar dan menyidang anak-anak itu.


Melihat keadaan Viani tadi, Gala juga jadi teringat rasa bersalahnya untuk Gemma dan betapa sulitnya menjaga anak perempuan dari pergaulan seperti ini.


Lelaki itu jadi teringat Gemini dan matanya mulai berkaca-kaca. Kejadian pagi ini membuatnya berpikiran yang tidak-tidak terhadap anak bungsunya.


“Pasti kamu yang cekokin anak saya, kan?!” Indra mengangkat tangannya lagi untuk menampar Vincent.


Tetapi Viani langsung menahan sang ayah dengan begitu memohon. “Pa! Itu nggak benar!! Viani mohon, jangan pukul Vincent lagi …”


“Vi, biarkan aja,” ucap Vincent yang seakan sangat pasrah untuk menerima semua kemarahan dari kedua ayah kekasihnya. “Aku yang salah. Aku pantas terima.”


“Nggak bisa gitu, Vin! Ini bukan salah kamu!”


“Apa karena hal itu lantas kamu langsung membawa anak saya dan mengambil kesempatan dalam kesempitan saat anak saya tidak berdaya?” Indra menatap tajam pada Viani.


“Apa pergaulan kalian sudah seperti ini, Vi? Atau jangan-jangan kalian memang sudah begini dari awal? Beginikah kamu di belakang kami, HAH?!"


Tubuh Viani gemetaran saat menerima kemarahan dari Indra. Wajahnya menunduk dan dia tak berani menatap ketiga orang tuanya yang saat ini memandangnya dengan ekspresi yang hampir sama. Tapi kalau seandainya Viani tidak melindungi Vincent saat ini juga, Indra akan lepas kontrol.


Benar saja, Indra sudah kembali dan menyingkirkan Viani sampai gadis itu terjatuh demi menerjang Vincent.


Sayangnya, satu pukulan kembali mendarat ke pipi Vincent, lelaki itu kembali terjungkal akibat kerasnya hantaman Indra. Vincent tidak berniat menghindar saat Indra bersiap untuk kembali memukulnya.


“Papa!” pekik Viani tepat saat Gala datang dengan sigap mencegah dan mengunci tubuh pria itu dan membawanya ke sofa di dekat Gemma, berdiri berseberangan dengan Viani dan Vincent.


Napas Indra sudah hancur berantakan, emosinya tak terkendali dan dia hampir kesetanan menghajar Vincent. Hasrat dirinya yang paling primitif benar-benar ingin melenyapkan anak itu karena sudah merusak putri kecil yang sangat disayanginya.


Tiba-tiba Indra merosot, terduduk di samping Gemma dan menangis terisak sambil menutup wajahnya. Kini, dia terlihat seperti seorang ayah yang hatinya hancur, rapuh, dan tak berdaya.


Gala sampai tak tega melihatnya. Dia hanya bisa menunduk, tak sanggup menatap kondisi Indra yang tengah pilu. Sampai akhirnya Indra berhenti menangis dan membuang wajahnya, tak ingin menatap Vincent dan Viani.


Viani pun maju dengan takut-takut, berdiri tepat di hadapan ketiga orang tuanya. “Papa, Mama, ijinkan Viani jelaskan sekali lagi … Vincent nggak salah. Saat aku ke klub, seseorang mencampur minumanku dengan obat.


Saat melihat ada orang yang mau celakain aku, Vincent seret aku dari sana. Dan kami baru sadar ketika sampai di apartemen, ternyata aku dan Vincent menunjukkan reaksi yang sama sesaat setelah kami minum dari botol air mineral, yang aku bawa dari klub.”


Bagaimana pun Viani mencoba menjelaskan, tidak ada bedanya. Semua ekspresi yang ada di sana hanyalah kecewa, syok dan marah, serta rasa bersalah.


Beberapa menit semuanya terdiam di tempat.


Di tengah keheningan itu, Vincent menetapkan hati, melangkah untuk dengan berani menghadapi ketiga orang tua Viani. Dia berlutut di hadapan mereka.


“Tante Gemma, Om Gala dan Om Indra … saya minta maaf atas semua ini. Ini murni kesalahan saya. Tolong, jangan hukum Viani, biar saya yang menanggungnya.”


Tidak ada yang bicara lagi. Gemma tidak mau merespon kata-kata Vincent. Dari jauh, Gala datang mendekat, perlahan-lahan seperti singa yang mau menerkam mangsanya.


Satu tamparan melayang di pipi Vincent yang telah lebam. Lelaki itu samar-samar mencium bau anyir dan rasa besi, keluar dari salah satu sudut bibirnya yang robek dan berdarah.


Meski mendapat hantaman lagi, Vincent kembali berlutut dan memperbaiki posisinya. “Saya akan terima semua pukulan dari kalian … saya tau, maaf tak akan ada gunanya lagi sekarang. Saya siap bertanggung jawab.”


Gemma dan Gala sontak mengangkat wajahnya menatap tajam pada Vincent.


"Kamu dokter kan? Kamu dokter dan seharusnya kamu tau bagaimana cara mengatasinya!!" Gala menunjuk-nunjuk wajah Vincent dan berteriak di depannya. "Kamu sudah menodai anak kami!! KAMU SEHARUSNYA MENJAGA DIA!"


Semua sumpah serapah dan makian, Gala sebutkan pada Vincent pada pagi itu. Vincent hanya tertunduk pasrah, menerima semua kemarahan Gala yang memuncak.


“Kamu tahu apa yang bikin saya nggak setuju sama kamu dulu, saat kalian SMA dan menunjukkan rasa saling suka?”


Vincent dan Viani mengangkat kepalanya, sementara Gemma memandang sang suami dengan kening berkerut.


“Kamu tau bagaimana ayahmu menikahi ibumu dulu seperti apa? Kamu tau seberapa besar ketakutan saya, kalau-kalau kamu akan melakukan hal yang sama seperti yang ayah dan ibumu dulu?”


“GALA!” Gemma menegur sang suami. “Jangan bawa-bawa masa la—“


“Tapi itu memang benar adanya, Gem!! Aku memang teman Niko, tapi aku adalah ayah yang waspada … dan sekarang, ketakutanku jadi kenyataan!! Buah jatuh nggak jauh dari pohonnya, lihat, Gem! Aku nggak mau apa yang terjadi sama kamu, terulang lagi sama Viani!"


“Ooh … Jadi karena itu, elo nggak mau Vincent dekat-dekat sama Viani? Karena gue orang tua mesum yang mengajarkan anak gue pergaulan bebas, begitu?”


Semua kepala sontak menoleh ke arah suara. Di mana Niko berdiri di sana, menatap Gala dengan tajam.


...****************...