
...***...
“Vin …” Erika menggenggam tangan Vincent dengan lembut. “Coba cerita sama Mama, kenapa jadi bisa begini? Bukannya Mama lihat kamu tiap malam ngerjain tugas?”
Vincent hanya menunduk malu.
“Gara-gara mikirin Viani ya?”
Vincent mengangkat kepalanya, menatap pada wajah lembut sang Bunda. Wanita itu tak banyak bicara, dia hanya tersenyum dan tak marah sama sekali pada putra sulungnya yang terlihat tampan dan semakin mirip dengan dirinya.
“Cinta pertama emang bikin kita susah move on, Sayang. Tapi kalau kamu begini, kamu sendiri yang rugi. Viani belum tentu juga mikirin kamu.”
“Yang kemarin emang salah Vincent, Ma.”
“Mama tau … Sudahi rasa bersalah kamu ya? Kalau Viani juga sayang sama kamu, dia harusnya bisa maafin kamu dan tau kalau apa yang kamu lakukan itu bukan semata karena kamu player ... Cinta itu saling memahami dan mengampuni, Sayang.”
Vincent menunduk. “Maafin Vincent ya, Ma. Please jangan bilang Papa.”
“Mama ngerti … Ya udah, Mama jalan dulu. Mau ke bakery. Kamu belajar yang rajin ya!”
...***...
“Kumpulin sekarang, woi!” teriak Rizki, sang ketua kelas yang terkenal galak dan berambut cepak.
Teman-temannya pun mengumpulkan seluruh tugas satu per satu padanya yang kini berdiri tegak di depan dengan ekspresi sok berkuasa--dengan kerah terkancing, dasi rapi, lambang merah putih di dada dan emblem Paskibra di lengannya.
Viani menyusul dengan mengumpulkan tugas Biologi miliknya dan segera kembali duduk. Dia pun mengikuti pelajaran seperti biasanya dan kembali bersinar penuh percaya diri, menjawab setiap pertanyaan yang dilemparkan guru padanya.
Namun ada yang aneh. Kata-kata ‘sok pintar’ tak lagi dimuntahkan Rianti padanya, ketika dia menjawab pertanyaan guru mereka. Gadis itu terlihat biasa saja, tak memedulikan Vini dan bahkan terkesan tak acuh.
Pun ketika istirahat berlangsung. Bisik-bisik para siswa itu menandakan ada satu hal besar yang terjadi di angkatan mereka. Pertanyaannya: gosip apa?
“Har, apa yang terjadi?” tanya Viani yang sedang makan sarapannya di depan Harry.
Lelaki itu mengangkat bahunya, tak mengetahui apa yang terjadi. “Aku kudet soal gosip, Vi.”
Sejenak, makan pagi mereka berlangsung begitu tenang dan damai. Tapi ini terlalu damai sih. Sampai ada seseorang datang untuk memutus kegiatan mereka.
“Viani, lo dipanggil ke ruang kepala sekolah!” panggil Rizki padanya.
“Kenapa emang? Ada urusan apa?”
“Gue nggak tau. Yang pasti, Nadia ada di sana juga.” Rizki pun berlalu pergi setelah memastikan Viani berdiri dari kursinya.
“Ada apa lagi sih tuh anak,” keluh Harry. Lelaki itu meninggalkan sarapannya guna mengantar Viani sampai ke depan pintu ruangan kepala sekolah. “Kamu nggak pa-pa kalo kutinggal?”
Pada embusan napas lelah itu, Viani mengangguk dan meninggalkan Harry di luar.
Begitu Viani masuk, pemandangan pertama yang dia lihat adalah Nadia yang duduk di kursi di samping seorang pria bertubuh besar. Viani menebak kalau beliau adalah orang tua Nadia.
“Viani udah datang ... Masuk, Vi … sini!”
Whoa, ada angin apa kepala sekolah tiba-tiba bicara padanya dengan begitu ramah saat menyuruhnya masuk?? Demikian saat mempersilakan Viani duduk, beliau seperti kerbau yang dicucuk hidungnya yang mempersilakan seorang tuan putri untuk menempati singgasananya.
Sang kepala sekolah mulai menerangkan maksudnya memanggil Viani perihal perundungan yang dilakukan Nadia dan kawan-kawan.
Ayah Nadia meminta maaf langsung pada Viani sebelum menyuruh slash memaksa anaknya melakukan hal yang sama. “Lakukan, Nadia!”
Nadia menunduk malu, dia berdiri gentar mendekati Viani. “Gue … minta maaf Vi … atas … kelakuan buruk gue ke elo …”
“NADIA!” sang Ayah di sampingnya membentak sang anak dengan nada setengah berteriak.
Tangis Nadia langsung menetes deras. “Gue janji nggak akan ganggu elo lagi, Vi. Dan gue mohon, bilang sama bokap lo, jangan tarik sahamnya dari rumah sakit bokap gue. Please! Jangan tarik saham elo juga … Please banget, I beg you …” ujar gadis itu memohon dengan putus asa pada Viani.
...***...
Harry dan Viani sedang menikmati yogurt Sour Sally sebelum mereka masuk ke bioskop. Saat itu mereka sedang bercerita tentang apa saja yang terjadi di sekolah dan yang menjadi isu hangat belakangan ini. Viani juga menceritakan hal yang terjadi tadi siang padanya.
Harry mengerjap-ngerjapkan matanya tak percaya dengan apa yang dia dengar. Viani dan keluarganya punya saham di rumah sakit milik ayah Nadia? Well, seharusnya Viani dari awal punya pengaruh yang jauh lebih besar dari geng jamet tersebut.
“Terus, kepala sekolah kita kenapa tiba-tiba baik sama kamu?”
“Aku baru tau kalo Papaku adalah donatur terbesar di sekolah kita,” kata Viani yang sebenarnya sudah kehilangan minat ketika membicarakan kepala sekolah itu.
Seandainya beliau diminta menjilat pantat ayahnya, pasti akan dia lakukan selama uang yang mereka terima selalu di luar batas ambang kewajaran.
“Aku kaget dengernya,” komentar Harry.
“Apalagi aku yang satu rumah dan hari-hari diantar Papaku … ngomong-ngomong, aku bakal berhenti bersikap dingin sama Hana.”
“Emangnya dia udah keluar dari geng jamet?”
“Kayaknya gitu … ternyata dia yang cepu ke Papaku.”
“Lah …” Harry lebih kaget lagi mendengarnya sampai sendok yogurt miliknya hampir terlepas dari tangannya.
“Kamu aja kaget, apalagi aku … Hana niat banget minta maaf sama gue. Pantesan Papaku jutek dari kemarin kayak nenek lagi PMS. Tapi doi nggak ngomong kalo ternyata masalahnya tuh ini.”
“Mungkin supaya kamunya nggak ngerasa malu kali, Vi … supaya kamu nggak dicap tukang ngadu dan anak papi."
Satu sendok yogurt masuk dalam mulut Viani, "Bisa jadi ..."
"Anyway, kamu udah bikin aku kaget kan? Sekarang giliran aku …”
Viani memicingkan matanya menatap Harry curiga, “Ada apa neh?”
“Yang ngerjain PR kamu selama ini tuh Vincent, Vi …”
“Ooh …”
Tampang Viani terlihat biasa saja, datar tanpa ekspresi. Harry gagal mengejutkan Viani.
“Vi, kok muka triplek sih? Emang nggak kaget?”
“Aku udah curiga tadi … tapi nggak sempat nyari tau punya siapa tulisan itu. Dan aku sempat lihat dia dihukum nggak boleh masuk kelas karena nggak bawa tugas Biologi pagi tadi. Sedangkan tugas Biologiku ada, tapi beda tulisan. Dan aku tau kalo itu bukan tulisan kamu.”
Cup yogurt Harry telah habis dimakan oleh lelaki itu. Dia terkekeh saat mendengar kelakuan absurd Vincent. “Dia pasti suka banget sama kamu, Vi …”
“Ck! Jangan asal nebak!” Viani berdecak jengkel.
“Itu misi bunuh diri loh, jangan sepelein! Lebih dari tiga kali dia dihukum gara-gara ngubah nama di tugas yang dia capek-capek bikin pake nama kamu."
Viani meletakkan cup yogurtnya yang belum habis. “Kita nggak usah ngomongin Vincent.”
“Aku tuh tau kalo kamu juga suka sama Vincent, Vi …”
Viani cepat-cepat menepis tudingan itu. “Ngarang!”
“Buktinya kamu selalu CPCP* sama Vincent loh! Aku nih cowok, Vi. Aku ngerti apa arti pandangan itu. Saran aku, kamu jangan nutup hati kamu. Beri dia kesempatan kedua, coba denger penjelasan dia.
Coba dibalik kalo kamu yang berbuat salah dan nggak ada orang yang mau kasih kamu kesempatan, gimana coba? Kalo kamu sayang, kamu pasti bisa mengampuni. Kalo kamu sayang, rasa memahami kamu tuh jauh lebih besar ketimbang rasa marah kamu.”
“Jangan ngomong di sini seakan-akan aku yang jahat di sini, Har! Kamu nih gimana sih?"
“Aku nggak bermaksud begitu. Aku ngomong begini buat negur kamu sebagai sahabat, daripada kamu nanti nyesal.”
Viani memandang tajam pada titik random apa saja yang dia lihat, tak mau kontak mata dengan Harry yang sudah membuatnya kesal. “Kamu pasti udah baikan sama Hana, kan? Tapi nggak bilang-bilang aku?”
Sudut bibir Harry tertarik begitu saja mendengar tebakan Viani.
Sesaat hati Viani sedikit tercubit. Dia sempat mengira kalau Harry menaruh rasa padanya dan dia hampir saja dia jatuh hati. Tapi nyatanya sampai sekarang Viani tetap menganggap Harry teman, meski kadang sekali-sekali, sikap manis laki-laki itu bikin Viani tersentuh.
“Nonton yuk. Udah jamnya nih …”
Mereka berdua pun berjalan menuju bioskop, membelli pop corn dan minuman sebelum mengantri masuk ke studio. Viani berjalan mendahului Harry menuju kursi.
Sampai di deretan D, dia langsung mencari kursi mereka. Pantatnya sudah tertancap sempurna pada kursi nomor 7. Viani menempatkan minumannya dalam soket gelas di kursi, meletakkan tas tote bag-nya di pangkuannya seraya merasakan kalau cahaya bioskop menggelap dan suara Dol*by menghentak di gendang telinga semua orang, termasuk dirinya.
Lelaki yang mengikutinya pun duduk dengan manis di kursi nomor 8. Semua berjalan lancar sampai hidungnya menangkap bau hotdog yang begitu kentara.
"Perasaan nggak beli hotdog tadi?" gumamnya.
Dia menoleh pada kursi itu, pada tempat di mana di seharusnya melihat Harry.
Yang wujudnya digantikan oleh Vincent.
...****************...
*CPCP : curi pandang cari perhatian
Gimana? Dimaafin gak ya si Vincent ini??