
Hari ini, Gala pergi ke kantor seperti biasanya. Namun dari wajah yang biasa itu sebenarnya tersimpan perasaan yang campur aduk.
Gemma melihat keberadaan Leticia semalam yang ingin pergi ke apartemennya. Dia telah mengirim chat pada wanita itu. Sayangnya, hanya ada dua centang biru, tanpa balasan.
“Halo?” katanya saat ada telepon masuk yang tak dia perhatikan lagi dari siapa.
“Oi… Kemana lo, nggak ada ke rumah?!” bentak Febri yang tak ada basa-basi sama sekali.
Gala baru ingat kalau dia tak pernah berkunjung ke rumah Febri dan Diana. Padahal mereka sudah datang lebih dulu menemuinya setelah mendengar kalau Gala akhirnya pulang.
“Sori, Bro. Ada kerjaan gue.”
“Sibuk banget lo sekarang ya… Ngomong-ngomong, besok reuni, lo ikut kan? Awas lo nggak ikut!”
“Ikutlah! Gue sama Niko dateng kok nanti."
Tiba-tiba suara Febri berganti jadi suara wanita. “Gala!” Diana langsung merebut ponsel itu dari suaminya.
“Napa, Di? Kangen gue?”
“Idih, nggaklah! Gue cuma penasaran, Gemma ikut nggak ya nanti? Abis dia ditelepon nggak pernah angkat.”
Gala menghela napasnya dalam-dalam. “Gue juga nggak tau, Di. Gue kira juga dia nggak mau datang. Telepon lo aja nggak direspon apalagi gue. Chat gue nggak pernah dibalas lagi sama dia.”
“Gue cuma kangen berat aja sama Gemma. Udah lama kita nggak ketemu... Eng… kalo kita jemput paksa gimana, Gala?”
“Lo kira kita masih SMA tahun pake diseret-seret segala dari rumah buat jalan?”
“Ya juga sih …” gumam Diana menyerah.
“Ya udah, gue mo kerja. Ntar kalo gue mau ke rumah lo pada, gue kabarin. Kalo sekarang gue masih agak sibuk, Di … Bilang sama Febri jangan ngambek, tar Om beliin permen kaki.”
“Sialan lo, Lapet*,” maki Febri pada Gala yang sudah tau apa artinya.
“Selow… Mending dimakan Lapetnya daripada lo maki-maki. Hahahha. Dah ah mo kerja gue,” ujar Gala langsung memutuskan panggilan itu.
Pagi ini, di ruangan Purchasing, Gala sudah duduk manis di sana mengerjakan semua dokumen yang harus dia selesaikan.
Selama ini, PO yang telah dikeluarkan untuk beberapa perusahaan, tak ada satu pun yang mencurigakan. Semua perusahaan itu adalah perusahaan nyata, bukan fiktif.
Sebenarnya Gala sudah muak berada di sini. Entah sampai kapan dia harus terus berpura-pura dan menipu semua orang tentang identitas aslinya. Dan untungnya, selama berhari-hari dia di sini, Bambang belum pernah masuk kantor. Pria itu benar-benar pemalas.
Bukan rahasia lagi kalau perusahaan keluarga itu memang selalu menggunakan asas nepotisme yang tinggi terutama kalau sudah menyinggung jabatan direksi.
Ada yang rajin, ada yang tidak. Ada pula yang tak pernah datang bekerja dan menerima uang gajinya saja. Benar-benar keterlaluan. Bambang adalah salah satu orang yang memanfaatkan jabatannya dengan buruk.
Tak masalah sebenarnya kalau perusahaan ini memang milik sendiri dengan saham yang tidak dipublikasikan. Toh, memang dari awal, semua perusahaan milik keluarganya itu menunjukkan keuangan yang sehat.
Tapi kenyataannya sekarang lebih buruk. Rapidash Express terlihat pucat dan Gala jamin, sebentar lagi, akan ada permintaan suntikan dana dari anak perusahaan lain.
[ Felix : Tadi Om Bambang ke sini. ]
[Me : Mau apa dia? ]
[ Felix : Guess what… Rapidash Express minta dana ke kita. ]
Sudut bibir Gala tertarik membentuk senyuman ketus saat prediksinya benar. Tanpa diketahui Bambang, kalau dia datang pada orang yang salah.
[ Me : Jangan langsung kasih. Bikin ribet dulu dikit. ]
[ Felix : Siap, Bos. ]
Gala meletakkan ponsel butut itu di atas meja kubikelnya seraya kembali pada pekerjaannya di layar komputer.
Dari celah pintu, Gala sudah bisa melihat Daniar melangkah dengan ceria masuk ke dalam membawakan satu goodie bag besar bertuliskan “L” di ujungnya. Saat Daniar berhenti di depan mejanya, di saat itu juga Gala tahu kalau tas itu ditujukan untuknya.
“Nah, bener… Cuci dulu, Senin ini langsung pake ya. Senin kita pake abu-abu, Selasa hijau, Rabu dan Kamis merah, Jumat warna cokelat. Tapi untuk Jumat, karena kita pegawai kantor dan bukan front office, pakaian kita bebas pantas aja. Di dalam situ ada kok jadwal pakainya.”
Gala mengambil pakaian itu, mengamatinya sebentar dengan alis menukik.
“Kenapa, Gala? Ada yang salah? Atau lo mau yang XL sekalian?” tanya Daniar saat menatap ekspresi rumit rekan kerjanya itu.
“Oh… Enggak, Mbak. Cuma bingung aja kenapa jadi dapat seragam. Bukannya saya masih pegawai training sampai tiga bulan ke depan?”
“Ah, itu formalitas doang! Lo kan ponakannya Pak Eko. Masa nggak dikasih fasilitas walau cuma seragam?”
Dalam logika Gala, fasilitas pakaian seragam bukanlah sesuatu yang harus dipermasalahkan. Yang jadi masalah adalah dari detik pertama dia menyentuh seragam itu, ada sesuatu yang benar-benar menggelitik jemarinya.
Namun dia masih belum tahu hal apa yang terjadi. Meski ragu, Gala tetap menerimanya dan meletakkannya di bawah mejanya. “Makasih Mbak Daniar.”
“Oh, ya. Nanti bisa minta tolong nggak?”
“Apa tuh, Mbak?”
“Tolong bantuin aku susun salinan PO di file arsip sesuai tanggalnya ya. Soalnya, admin yang lama nyusunnya tahun ini berantakan banget. Eng… Sebenarnya itu emang tugas lo sih, Hehehe… Tapi kerjainnya pas ada waktu luang aja. Nggak perlu buru-buru.”
“Kalo emang tugas saya, saya siap terima perintah, kok,” ucap Gala agar wanita itu terhindar dari perasaan tak nyaman karena sudah menyebut ‘tolong bantuin aku’. “No hard feelings…”
Daniar memiringkan kepalanya mendengar penuturan Gala barusan. “What did you say?”
“Hah?” Gala sejenak bingung. Namun akhirnya akal sehatnya menamparnya dengan kenyataan kalau dia baru saja menggunakan Bahasa Inggris dengan baik, malah dengan sedikit ‘logat’.
“Bahasa Inggris lo…?”
“Ah, saya emang bisa bahasa Inggris little-little. Saya juga baru diajarin Pak Eko kata-kata baru, Mbak. Emang yang saya bilang tadi bener?” tanya Gala dengan wajah pura-pura polos dan logat bahasa Indonesia yang sok english.
“Gue baru tau kalo Pak Eko jago English…” kata Daniar yang tak berhenti memasang raut wajah rumit padanya.
Seketika Gala menjadi canggung. “Ah… Iya… Om saya emang jarang ngomong pake Bahasa Inggris. Emang bahasa Inggris saya tadi bagus, Mbak?”
“Bukan bagus lagi, tapi tepat… Ah… Sudahlah…” Daniar kembali ke depan meja Gala dan meletakkan satu buah file arsip hitam besar dan tebal yang amat penuh bertuliskan 2020-2021 di punggungnya. Dia tak ingin membahas bahasa tadi dan segera kembali pada pekerjaannya saja.
Namun Gala tahu, wanita itu menaruh curiga padanya. Dia pun kini harus berhati-hati. Matanya yang sipit itu terus melirik tajam pada Daniar. Untungnya, wanita itu tidak sadar kalau diperhatikan oleh Gala.
Berjam-jam kemudian, akhirnya Gala bisa ada waktu sedikit luang untuk bisa menyusun arsip tersebut. Satu per satu, dia susun dengan rapi.
Namun pergerakan tangannya terhenti pada beberapa lembar PO pembelian seragam tahun ini. Yang kalau ditotal-total, mencapai angka milyaran.
Saat semua orang lengah, Gala diam-diam mengambil arsip tahun-tahun sebelumnya. Dia menemukan nama garmen yang memproduksi pakaian itu tetap sama dan tak berubah dari tahun 2017 hingga sekarang. Di tahun yang sama, nama Indra Suteja pun tertulis sebagai Manager Procurement.
Sepulangnya dari pekerjaannya hari ini, dia dan Felix segera pergi ke sebuah garmen, yang jadi langganan Rumah Sakit Aryaditya milik keluarga Gala. Gala menyerahkan seragam itu pada sang pemilik Garmen.
“Ini sih kain Drill biasa. Paling murah malah."
“Yakin, Pak?” tanya Felix memastikan.
“Iya. Saya juga sering bikin ini kok, untuk seragam pegawai Aryaditya Hospital. Satu stel pakaian ini kalo sama saya, biasanya antara 325-450ribu, Pak Felix. Tergantung desainnya sulit atau tidak,” jelas pemilik garmen.
Mata Gala memperhatikan tulisan 1 juta per stel pada rincian PO tersebut. Kalau satu orang mendapat 3 stel, maka total harga per orang adalah 3juta. Kalikan dengan total karyawan Rapidash seluruh Indonesia. Yasalaam...
"Ini namanya sentralisasi..." ujar Felix setelah mereka pulang dari garmen tersebut. "Harusnya cabang daerah nggak perlu datangin seragam dari pusat. Berat di ongkir ini namanya."
"Mark up harga,” gumam Gala pada Felix.
“Ini kalo dilakukan bertahun-tahun, orangnya auto kaya!”
...****************...