
Hidup Gala berubah total setelah kepergian Gemma yang benar-benar menghilang tanpa jejak.
Persahabatan, cinta, hidup, semuanya berantakan karena ulahnya sendiri. Andai waktu bisa diulang, dia pasti akan bersama dengan Febri dan tidak akan membiarkan Gemma pergi tanpa pamit seperti ini.
Kabarnya, Mitha berhasil menemukan Gemma, tetapi perempuan itu menolak tegas dugaan Erika yang mengatakan kalau dia, kemungkinan besar telah terjadi sesuatu yang buruk.
Mitha bahkan memperlihatkan bukti CCTV di hotel tersebut, yang menunjukkan kalau Gemma diseret paksa oleh pria yang kini jadi suaminya itu masuk ke salah satu kamar hotel di Bogor, sesuai informasi Erika dan Niko yang melihat mereka di sana tempo hari.
Tetapi anehnya, Gemma malah membela sang suami dan bahkan memohon Mitha untuk menghentikan jalur hukum yang ia ingin tempuh untuk mengeluarkan gadis itu dari jerat lelaki tersebut.
Dan kabarnya, pria itu kini malah melarang pertemuannya dengan ibunya lagi. Dan Gemma hanya pasrah tanpa melawan. Bukankah bertemu dengan ibunya adalah sebuah kesempatan yang selalu ditunggu-tunggu? Kenapa sekarang berubah?
Seluruh pertanyaan itu membuat Gala frustrasi dan semakin membuatnya kehilangan arah. Hanya dalam satu bulan, fisik Gala jadi kurus, wajahnya tirus, pakaian-pakaian yang dia miliki semua melonggar, dan dia seperti mayat hidup.
Semua karena dia tidak bisa menghubungi atau menemukan di mana Gemma berada.
“Ayo ikut, jadwalnya ke psikolog!” perintah Mona yang segera menarik Gala yang terlihat menurut saja menuju praktek psikolog yang biasa dipakai keluarganya. Gala ingat, dia pernah ke sini setelah kematian Mama mereka.
“Selamat datang Mas Gala,” ucap Farah Nafira, sang psikolog yang sudah menangani dan menjadi teman keluarga Aditya bertahun-tahun.
Sesi demi sesi dilakukan Gala hari itu, dan hasilnya cukup membuat lega.
“Gimana saya selama ini? Kalo nggak ada peningkatan, apa perlu minum obat?” tanya Gala yang memaksakan diri untuk bertanya dengan wajah datarnya.
“Terapi cukup kok. Asal ikut jadwal teratur. Dan ingat, ini juga dari diri kamu sendiri, Gala… kamu juga punya kuasa atas emosi kamu sendiri. Saya yakin, kamu pasti bisa melewati semua ini. Dan kamu itu nggak sendiri, ada saya, Mona, teman-teman kamu. Jangan dorong mereka menjauh. Kamu butuh mereka.”
Membutuhkan mereka, dan Gemma, batin Gala yang keluar dari ruang Farah tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Cowok itu pun keluar dari ruangan Farah dengan langkah tanpa tenaga. Dia menatap nanar pada tempat praktek Farah yang juga merangkap sebagai tempat tinggal psikolog paruh baya itu.
Tak banyak orang yang ke sini. Selain karena cukup mahal, beliau juga memang tidak menerima banyak pasien karena saat ini, dia juga merangkap jadi dosen di sebuah kampus di Jakarta.
Langkahnya pelan menyusuri koridor pendek itu, tetapi kemudian terhenti. Saat matanya jatuh pada sesosok manusia yang berjalan masuk koridor yang sama, sendirian.
Seketika seluruh kesedihannya runtuh, dinding yang dia pasang telah dia rubuhkan semuanya tanpa menyisakan satu jengkal pun.
“Kamu ngapain di sini?” tanya Gemma yang sama terkejutnya dengan Gala.
“Kamu yang ngapain di sini?” tanya Gala dengan mata yang masih menyorot Gemma.
“Aku mau ketemu Bu Farah.”
“Untuk apa kamu mau ketemu beliau?”
“Bukan urusan kamu!” jawab Gemma menghindari tatapan Gala.
“Kenapa, Gem? Apa suami kamu suka main tangan sama kamu?”
Belum sempat Gemma merespon, kaki lelaki itu bergerak melangkah tanpa diperintah untuk merengkuh tubuh kurus, berwajah tirus dengan mata hijau itu.
Oh, betapa Gala merindukannya!
“Gala … lepasin aku!”
...***...
“Jawab aku, apa dia suka main kasar sama kamu? Sampai kamu harus pergi ke psikolog segala?”
Gala membawa Gemma ke gudang yang ada tepat di gedung belakang rumah Farah, yang bisa ditempuh melalui koridor yang sama.
“Itu bukan urusan kamu!”
“Pasti dia udah nyakitin kamu, kan? Aku bisa lihat dari mata kamu… you’re a bad liar, honey.”
“Kamu belum jawab!”
“Nggak usah tanya-tanya hal pribadi aku!” desis Gemma tidak suka.
“Berarti benar. Kamu udah disakitin oleh dia! Tinggalin dia, Gem! Aku bisa bikin kamu bahagia!”
“Berhenti!” ujar Gemma sambil mendorong Gala sebelum dia terhanyut lebih dalam.
Gala melepaskan tangannya dari Gemma yang menatapnya dengan ekspresi rumit.
“Kenapa sekarang kamu minta aku lepasin kamu? Bukannya dulu kamu mohon-mohon?"
“Aku udah jadi istri orang! Kamu gila kalau kamu pikir aku masih suka sama kamu!” desis Gemma meninggi, menahan suaranya agar jangan sampai kedengaran orang yang mungkin saja ada di luar saat ini.
“Kamu memang masih sayang kan sama aku? Aku yakin itu. Mata kamu nggak bisa bohong!”
Gemma terlihat kelimpungan. Saat akal sehatnya kembali, dia mencoba melepaskan diri dan mendorong Gala menjauh hingga dia termundur selangkah.
Dan dia tiba-tiba menangis.
“Please … aku nggak bisa … aku mohon jauhi aku!”
Melihat tangisan memohon dari Gemma, Gala memundurkan tubuhnya, menatap Gemma dengan tajam.
“Sekarang kamu pura-pura nggak mau. Mau kamu apa sih?”
Dengan punggung tangannya, Gemma menghapus air mata sialan yang membanjir. “Kamu mau tau, dulu mauku apa?! Waktu aku dengar Ayah mau jodohin aku sama orang lain, aku langsung lari ke kamu.
Bahkan aku nggak peduli lagi kalau masa depan aku berantakan, yang penting aku sama kamu! Aku udah coba tetap bertahan di samping kamu dengan semua sikap kamu yang berubah. Tapi kamu terus ngedorong aku ngejauh tanpa kasih aku kesempatan untuk ceritakan semua beban aku …”
Gemma menghela napas dalam dan menghembuskannya perlahan. “Tapi itu udah berlalu … udah jadi masa lalu … nggak pantas diingat-ingat lagi!”
Gala terdiam sejenak mendengar. Ada secercah rasa sesal yang kembali merasuk. “Apa yang buat kita nggak bisa bersama lagi, hah?!”
“Aku udah nikah, Gala. Terima aja hal itu!”
Gala menyeringai lalu terkekeh pelan, dia masih menganggap remeh pernikahan Gemma. “Masih bisa cerai, kan?”
Gemma menatapnya pilu. Air matanya menetes semakin deras tanpa mengurai tatapan merindunya pada Gala. “Kamu pikir itu mudah?”
Wajah Gala berubah mengeras dan begitu percaya diri. Dia menggenggam tangan Gemma.
“Mudah! Tinggalin dia, ikut aku ke Aussie! Kita bisa mulai hidup baru di sana. Kita bisa sama-sama kuliah, bekerja, hidup berdua! Aku bisa kasih apa yang dia nggak bisa kasih ke kamu!
Atau kamu mau kita nikah? Apa pun itu… asal…” Gala meneguk ludahnya. Memikirkan semua yang ia ingin katakan, sementara sisi egosentrisnya itu selalu menariknya untuk kembali.
“Asal kamu nggak ninggalin aku lagi.”
Hati Gemma berdenyut hebat. Dia tidak menyangka Gala akan memohon seperti ini, tetapi kenyataan begitu kuat menamparnya dan mengembalikannya ke kenyataan.
Dengan berat, terpaksa dia meninggalkan semua mimpinya akan masa depannya, dan juga kebersamaannya dengan cowok ini.
“Gala … kalau dulu, mungkin aku bisa bersama kamu. Tapi sekarang aku nggak bisa.”
“Apa yang bikin kamu nggak bisa?! Aku kurang apa? Aku ini kaya, Gem! Semua cewek-cewek di sekolah, bisa kupacarin semua kalau aku tembak mereka! Bilang! Bilang sama aku apa yang kurang dari ak—“
“Aku hamil … tiga minggu …”
...****************...