Our Story : Mendadak Sekantor

Our Story : Mendadak Sekantor
S2 Bab 43 – Rindu Ribut-ribut


"Papa rindu, Nak."


Indra kini duduk di sisi kosong ranjang, menatap sendu pada Viani yang terbaring di depannya setelah berjuang melewati masa koma yang membuat hati setiap orang was was setiap harinya.


Dengan perlahan, lelaki itu menunduk dan mengecup kening anaknya lembut. "Papa bersyukur kamu sudah sadar."


Perasaan lega pada lelaki paruh baya itu tidak terdeskripsikan. Setelah hampir depresi karena merasa bersalah pada Gemma dan Viani sejak hubungan Vincent dan Viani ketahuan, kini Indra merasa terlepas dari beban hatinya. Vincent begitu mencintai Viani, keluarga besarnya menganggap anaknya bagai anak sendiri---yang di mana, hal itu tidak terjadi pada Gemma dulu.


Melihat Indra dan Gemma berada di kedua sisinya beserta juga Gala, Viani merasa jadi anak yang paling beruntung. Punya dua ayah dan satu ibu yang sangat menyayanginya.


Jangan lupakan Mama Erika yang selalu standby setiap siang menggantikan Gemma, dan Papa Niko yang tak pernah absen mengunjunginya setiap hari.


"Ngelihat lo pada damai, Viani jadi cepat sembuhnya, kan?" sindir Indra pada Niko dan Gala yang saat ini sedang main gaple. Dia pun mengambil posisi ingin bermain juga.


Sementara Vincent sedang pergi ke ruang bayi, menyaksikan anaknya sedang diseka sore itu, dan bajunya digantikan dengan yang baru.


...***...


Berminggu-minggu kemudian...


“Giliran gue!”


“Guelah! Udah jadi kakek-kakek peot aja masih childish, egois!”


“Yee! Perasaan dari tadi elo yang gendong, nggak mau bagi-bagi! Dasar aki-aki pelit! Udah ompong aja masih nggak ingat umur!”


Gala melotot saat mendengar Niko berujar seperti itu. Yang dipelototi terkekeh dan menyeringai licik. Sedangkan di ujung sana, Gemma menutup wajahnya dari tatapan menghujam Gala saat ketahuan bahwa semua informasi itu berasal dari mulutnya sendiri. Rahasia suaminya yang memalukan.


“Tega lo, Gem!” Gala pura-pura merajuk pada istrinya dan bahkan semakin mempererat pelukannya pada sang cucu yang terlihat tertidur, tidak terusik pada perdebatan para sesepuh yang memperebutkan dirinya.


“Minggir lo pada! Cucu gue mau nete!”


Erika melerai dan segera mengambil makhluk imut itu untuk segera dikembalikan pada Viani yang kini tengah duduk di sofa L, tak jauh dari posisi duduk para orang tua yang masih berdebat siapa yang habis ini menggendong sang bayi.


Indra, Diana dan Febri turut hadir di rumah itu diundang langsung oleh Gala untuk merayakan kesembuhan Viani dan cucu mereka.


Tersedia berbagai menu makanan yang menggugah selera buatan chef Jamie dan juga Bu Marni. Mereka bagi tugas untuk memasak makanan western dan lokal dengan gaya masing-masing.


Tak peduli dengan keributan itu, Febri yang perutnya semakin buncit malah asyik makan sendiri di ruang makan dengan lahap.


"Eh?" Febri mengerutkan kening pada bakwan jagung yang dia makan. "Kok asin, Bu Marni mo nikah nih!"


Sedangkan sang istri sedang dipusingkan dengan Blue yang menarik roknya sampai robek. Marni yang salah tingkah langsung pergi.


"Eng... anu, saya ambilin rok lain buat Bu Diana deng." katanya takut jadi bahan roasting.


"Shoo! Pergi, Blue!" usir Bu Marni sambil membawakan rok milik Gemma yang sekiranya akan muat di tubuh Diana.


“Dor!”


Tiba-tiba suara pekikan itu membuat sang bayi langsung terkejut dan menangis kencang. Penjahat kecil yang menjadi pelakunya terkekeh geli.


“GERALDOOOOOOO!!” teriak Gemma yang kesal pada sang anak yang menodongkan mainan pistol-pistolan pada keponakan bayinya yang belum mengerti apa-apa. Geraldo langsung kabur ke belakang untuk bergabung bersama Gemini pura-pura bermain Barbie.


Di tengah kericuhan yang terjadi, Viani hanya mengulum senyum. Dia rindu ribut-ribut seperti ini setelah berbulan-bulan merasakan tensi yang tak mengenakkan.


Melihat Gala yang sering kali termenung dan Vincent yang tidak terlalu bersemangat saat membahas keluarga, sudah membuat Viani cukup kepikiran.


Diakuinya memang, selama hamil, dia sempat stres. Mungkin itu juga yang jadi pemicu pre eklamsia terjadi padanya. Seringkali Niko minta maaf padanya, tetapi Viani mengatakan bahwa sekarang Niko tak perlu minta maaf.


Melihat orang tua dan mertuanya berbaikan, itu sudah menjadi hal yang menyenangkan dan membuat Viani cepat sembuh.


Meski dia jadi sulit istirahat karena mereka terus-terusan mengobrol, Viaini kini sudah merasa lega.


“Ayo masuk ke dalam kamar, ” ajak Vincent yang baru saja mengambilkan Viani susu untuk ibu menyusui.


Saat Viani koma, dengan bantuan tenaga medis, wanita itu masih bisa menghasilkan ASI yang dapat diberikan pada anaknya. Dia bahagia saat mengetahui dia tetap dapat menyusui walaupun dalam keadaan tidak berdaya.


Dengan sabar, Vincent membimbing istrinya menuju kamar mereka sambil membawa susu, diikuti Erika yang menggendong bayi mereka. Kedua pasangan itu lalu ditinggalkan Erika untuk memberi mereka privasi.


Vincent membantu membukakan kemeja piyama Viani yang menutupi dadanya, serta bra yang menutupi kedua asetnya yang membesar, dan terlihat penuh. Memperhatikan bayinya melahap habis ASI yang keluar dari benda kembar tersebut, yang merupakan ca1ran cinta dari sang ibu untuk anaknya.


Bulat dan penuh, tempat cairan manis itu mengalir. Membuat sesuatu dalam diri Vincent mulai bereaksi.


Bayangkan saja, makhluk kecil tanpa daya itu malah punya kuasa yang begitu besar untuk mendominasi istrinya dari ujung kaki hingga ujung kepala. Dia tidak kebagian.


Viani yang sedang asyik memandangi sang bayi langsung mengangkat wajahnya, melihat raut wajah Vincent yang aneh. “Kamu kenapa?”


“Nggak pa-pa,” jawab Vincent singkat seraya berlalu ke kamar mandi.


Tanpa menaruh curiga, Viani yang sudah kuat duduk maupun berjalan tersebut mengabaikan tingkah sang suami.


Seketika Viani yang tadinya lambat konek, kini mengerti apa yang terjadi.


Setelah baby V kenyang, diletakkannya bayi yang telah tertidur damai itu perlahan ke dalam box bayinya. Dengan langkah mengendap-endap, wanita itu pergi menuju kamar mandi. Hanya untuk mendengar suara-suara aneh dari depan pintu toilet.


***


Mau tamat.


Kiss kiss emmuuaaahhh