
Rinto mengantarkan Viani hingga sampai ke sebuah mal yang tak jauh dari Trisinar.
Pria itu menurut pada larangan Viani untuk mengikutinya setelah memberi sesajen berupa segelas Cappucino mahal, satu kotak nasi dari sebuah restoran dan kentang goreng—plus jus alpukat, jika menu-menu itu masih kurang bagi si Badak Afrika.
Vincent sendiri menyusul dengan mobilnya setelah Viani menolak pergi bersama-sama. Ya sudahlah, baginya tidak apa-apa. Dikasih kesempatan begini saja sudah sujud syukur.
Mereka sampai di sebuah restoran masakan Chinese yang cukup enak, favorit Viani.
“Kamu masih suka Chinese food rupanya.” Vincent memperhatikan pesanan Viani seraya mengembalikan buku menu itu pada waiter setelah selesai memesan.
“Kamu di sini bukan untuk komentarin selera makan aku, Vin,” Perkataan bernada ketus itu pun terlontar.
“Sorry …” Vincent pun diam.
“Kamu nggak boleh ngomong sampai makanan kita datang dan kita selesai makan!” Titah Viani lagi.
Vincent tersenyum, memberi gestur mengunci mulutnya dan duduk manis di sana sambil memandangi Viani. Perhatiannya baru teralih ketika makanan pesanan mereka datang dan mereka makan dengan tenang. Semoga saja pria itu tetap sabar pada tingkah Viani.
Dua puluh menit kemudian pun berlalu dalam hening. Setelah makanan datang, bahkan saat mereka makan bersama.
“So … bisakah kita bicara? Makanan kita udah habis,” Vincent meletakkan sendok dan garpunya secara terbalik dan menghabiskan air minumnya.
“Kita nggak ngobrol di sini,” ujar Viani kaku.
“Lalu kita ke mana?”
Viani berdiri, sementara Vincent mengikuti dari belakang. Begitu Vincent hendak membayar, Viani langsung menyebut, “Split bill, Mbak!”
“Vi, biarin aku bayar—“
Viani menepuk tangan Vincent saat dia hendak menjulurkan kartu kreditnya, “Ini bukan kencan, Vin!”
Sudahlah, Vincent langsung mengalah. Mereka membayar masing-masing lalu dia mengikuti Viani menuju ke sebuah coffee shop yang berada terpisah dari mal. Mereka harus berjalan hampir seratus meter untuk sampai ke tempat itu.
Kini, mereka sudah duduk berhadapan, dengan masing-masing segelas minuman di depan mereka. Kalau Vincent memilih Coffee Latte, Viani hanya sanggup menikmati Hot Chocolate karena tak tahan dengan kopi.
Ada jeda dua menit di antara mereka. Viani buang muka dengan rahang menegang, sedangkan Vincent masih tertunduk lesu dengan punggung tersandar di kursi. Karena setiap gestur Vincent semuanya salah, maka kini dia hanya menunggu komando dari gadis itu, kapan mereka akan memulai.
“Aku pengen kamu tau, kalau aku ada di sini bukan untuk apa-apa. Aku hanya beri kesempatan yang kamu mau agar berhenti stalking aku. Dan asal kamu tau, apapun yang kamu katakan malam ini, nggak akan mengubah sedikit pun yang terjadi di antara kita. Ngerti?”
Vincent mengangguk paham. Lelaki itu tertunduk pasrah pada kalimat Viani yang langsung dia muntahkan. Dengan sabar, dia mendengarkan setiap kata demi kata yang keluar dari bibir gadis itu, berusaha untuk tidak membantah.
“Saat kamu mutusin aku, aku bener-bener bingung salahku apa. Dalam satu malam, kamu tiba-tiba berubah. Chat aku nggak dibalas, telepon aku nggak diangkat. Nggak sampai 24 jam kamu ngaku kalau kamu punya cewek lain setelah bikin aku baper sebulanan …"
"Vi--"
"Kamu tau nggak sih sakitnya ditinggalin kayak gitu caranya? Pedih! Dan waktu Mama aku putusin aku buat pindah sekolah, aku ngikut tanpa menolak. Karena kupikir, dengan satu sekolah sama kamu, pendidikan aku bisa berantakan.”
“Viani—“
“Motong mulu ih! Jangan potong, kenapa? Kamu harus tahan dengernya, Vin!” Viani mengontrol nada bicaranya lalu melanjutkan. “Dan kini kamu datang, muncul dari antah berantah kayak teori abiogenesis, dan baru aja mau berniat jelasin semuanya! Padahal kamu tau, kalau semua itu percuma!”
Curahan hatinya itu membuat nada suara Viani meninggi. Dadanya kembang kemis karena luapan emosi tertahan yang dia kubur selama bertahun-tahun.
Sadar kalau dia bisa saja menampar Vincent di depan umum, Viani mencoba mengatur segala emosi yang tadi sempat menguasainya, sebelum dia akan mempermalukan mereka berdua.
Walaupun di depan telah ada cokelat hangat, tapi Viani lebih memilih meminum air mineral yang tersimpan di dalam tasnya. Berharap beberapa teguk dari air yang suhunya lebih rendah dari cokelat itu dapat meredam kemarahan yang sempat mendidih.
“Sekarang, kamu boleh bicara,” kata Viani dengan suara yang sudah lebih rendah.
“Apa kabar kamu—“
“Langsung aja pada intinya. Nggak usah basa-basi!” Jelas sekali kalau Viani tidak ingin bertele-tele sama sekali dan menginginkan semua ini cepat selesai.
“Vi … Sepuluh tahun lalu, waktu kamu tanya sama aku kamu salah apa, aku cuma mau confirm ke kamu kalau kamu nggak bersalah apa-apa dalam hubungan kita.”
“Apa aku harus selebrasi pada masalah yang udah basi?”
“Ini semua murni kesalahan aku.”
Viani melipat bibir dan menunduk, memberi kode pada Vincent untuk meneruskan penjelasannya.
Walaupun Viani membuang muka, namun telinganya terbuka dan benar-benar menangkap seluruh penjelasan Vincent padanya. Terhadap Gala yang memperingatkan lelaki itu sepuluh tahun yang lalu, saat terakhir mereka bertemu pada makan malam para orang tua mereka. Tak ada satu hal pun yang Vincent tutupi.
“Saat itu, pikiran aku terlalu pendek untuk mencerna apa maksud Om Gala. Pekerjaan Papaku dan aku memang lumayan bergengsi, dan kami nggak berkekurangan sama sekali.
Tapi dengan status kamu, aku jelas langsung merasa rendah diri dan ngerasa nggak pantas buat kamu. Di tambah lagi ancaman beliau tentang pertemanan orang tua kita. Aku nggak mau hubungan kita bikin orang tua kita pada berantem, Vi.”
“Seharusnya kamu bisa cari alternatif, Vin. Bukan malah bikin aku sakit hati.”
“Vi. Waktu itu aku baru 16 tahun. Menurutmu, alternatif apa yang bisa aku pikirin selain jauhin kamu?"
“Itu alasan klise, Vin, buat orang yang nggak mau berjuang.”
“Aku memang bersalah sama kamu dan membuat kamu sakit hati. Aku benar-benar minta maaf.”
Mata Viani mulai berembun, namun cepat-cepat dia mengerjap untuk menghilangkan cairan yang hampir keluar dari matanya itu secepatnya.
Lalu Viani menatap Vincent dengan penasaran. “Apa kamu bener-bener ada cewek lain?”
“Lantas kenapa baru sekarang?”
“Karena aku pikir, aku sudah bisa lupain kamu. Setelah ketemu kamu di klub itu, ternyata aku enggak lupa sama sekali. Sepuluh tahun, aku dihukum rasa bersalah.”
“Rasanya gimana?”
Vincent mengedip dan tersenyum pahit. “Sakit, Vi …”
Viani mengangguk puas. “Baguslah ...”
Menanggapi komentar Viani, Vincent hanya kembali tersenyum tipis.
“Aku juga mau mengaku kalau aku nggak nyesal membawa kenangan kita selama ini. Kita jadi dewasa karena itu. Dari kamu aku belajar tentang iklas mengucap selamat tinggal. Ya… walau awalnya aku harus terluka ... Setidaknya, masih ada hal dari kamu yang aku pelajari dan layak aku bawa sampai sekarang.
Andai kita paksakan juga hubungan kita, belum tentu semua berakhir bahagia. Hidup kita bukan seperti Cinderella atau Snow White yang mendapat Prince Charming dan semudah itu happily ever after. Meski begitu, ada satu hal yang membuat kita berbeda, Vin.”
“Apa itu …”
“Usaha.”
Vincent terdiam. Dia teringat pada hari-hari pertama mereka putus. Viani nekat datang ke rumahnya diam-diam tanpa Erika dan Niko ketahui. Dan saat di sekolah, tak peduli pada orang-orang yang menatap gadis itu dengan pandangan kasihan, Viani terus mengikuti dirinya dan mencoba bicara. Gadis itu terus berusaha memperbaiki.
Tetapi Vincent membuat usaha itu bertepuk sebelah tangan. Dia mengakui, dirinya memang pengecut untuk memperjuangkan Viani. Sampai seminggu kemudian, Vincent tak lagi melihat Viani di sekolah, dan dia mendapat kabar kalau gadis itu pindah sekolah.
“Semua usaha yang aku lakukan itu nggak cuma memberi jam tangan buat nyenangin pasangan.”
“Maafkan aku,” dengan berani, mata sipit cokelat itu menatap Viani. Seakan sudah siap jikalau gadis itu tak ingin memberinya pengampunan. “Sekalipun kamu nggak beri aku maaf, aku akan tetap terus minta maaf.”
Viani balas menatapnya, dan menimbang sebentar. Dia tidak ingin membuat Vincent besar kepala dengan marah-marah padanya. Hal itu akan membuatnya terlihat bodoh dan menunjukkan kalau rasa itu masih ada.
“Aku maafin kamu kok. Nggak ada alasan buat simpan kesalahan kamu terus-terusan. Jadi kamu nggak perlu merangkak dan berlutut di depan aku untuk minta maaf.”
Pelan-pelan, Vincent mengangkat kedua tangannya di atas meja dan menatap lurus pada mata itu. “Bisakah kita memulai dari awal, Vi?”
“Aku nggak ada niat untuk memulai hubungan apa-apa sama kamu, Vin.”
“Nggak lebih dari teman kok. I promise.”
Vincent menunggu, memperhatikan wajah tirus dengan hidung mancung itu, berusaha membaca ekspresi datar gadis tersebut walaupun tidak mudah. Saat marah, Viani memang seperti Gemma, wajahnya terlampau sulit untuk ditebak.
Gadis itu mencoba berpikir sejenak, pada semua yang pernah terjadi di antara mereka. Dan mengingat orang tua mereka juga bersahabat, tidak mungkin rasanya mereka sebagai anak malah bermusuhan. Apa ini sudah saatnya untuk rekonsiliasi?
Entahlah. Godaan berteman dengan Vincent juga begitu kuat. Apalagi dengan wajah yang semakin tampan itu.
Maka Viani mencoba untuk memulai sesuatu. “Aku nggak janji kalau kita bisa temenan. Tapi aku bakal buka blokiran kamu.”
Senyum Vincent melebar, mempelihatkan jejeran gigi rapi yang membuat kadar ketampanannya semakin bertambah. “Thank you, Viani.”
...***...
“Bang Rinto, maaf jadinya Abang hari ini lembur banget,” ucap Viani saat turun dari mobilnya.
“Nggak pa-pa, Neng. Makasih juga udah traktir saya makan. Mayan, buat hemat. Hehehe.”
“Bundanya Abang masih sakit?”
“Iya, Neng … makanya uang makan Abang jadi berkurang, Abang banyak kirim ke kampung buat pengobatan Ibu.”
Viani mengangguk pada masalah pribadi Rinto. “Ya udah, Cepet sembut buat Bundanya Abang!”
Setelah menyapa orang tuanya, Rinto pulang dan Viani naik ke kamarnya dengan langkah gontai. Tubuhnya terasa sangat lelah dan dia belum mandi.
“Udah makan, Vi?” tanya Gemma saat melihat anaknya akan naik ke lantai 2.
O-oh! Viani berusaha menjawab sebenar-benarnya, meski gugup, “Sudah, Ma. Tadi sedikit lembur.” Kan? Dia memang ada lemburnya.
“Oh gitu. Ya udah, langsung ke atas aja istirahat.”
Untung saja Gemma tak banyak bertanya. Kalau dulu Gala melarang hubungannya dengan Vincent, maka sekarang pertemuannya dengan Vincent mungkin harus ‘tidak-perlu-untuk-diberi-tahukan’ pada siapa-siapa sampai Viani bisa memastikan kalau situasinya sudah kondusif.
Setelah mandi, piyama sutera warna pink pun dipilihnya untuk menemaninya tidur. Dia berbaring di ranjangnya dan menatap langit-langit. Teringat pada semua kata-kata yang Vincent utarakan tadi.
Akal sehatnya terus mengetuk, memberitahunya kalau mereka mungkin pada saat itu memang tidak seharusnya bersama—pada saat itu.
Namun bagaimana dengan kini? Tapi Viani juga bingung, apa hanya itu alasan Gala tak memberi izin pada Vincent untuk tetap berhubungan dengannya?
Viani jadi penasaran. Dia kembali turun dari tempat tidurnya, dan berjalan menuju ruang kerja Gala. Lelaki itu masih lembur pada pekerjaannya karena kini Aryaditya sudah jadi tanggung jawabnya sejak Mona memutuskan untuk ikut suaminya di Busan.
“Papa?”
“Ah! Saya nggak mau tau, emailnya malam ini saya tunggu—Eh? Ada apa, Vi?” Gala terlihat sedang marah-marah di telepon.
Melihat aura Gala yang terasa gelap, Viani mengurungkan niatnya. “Nggak jadi deh, Pa.”
Buru-buru Viani masuk ke kamarnya dan langsung merebahkan diri.
...****************...